Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 22}



👑


Aleta mondar-mandir di kamarnya dengan ponsel yang berada di genggamannya. Aleta bingung kenapa Nata tiba-tiba mematikan sambungan telponnya setelah berucap kata-kata manis yang mampu membuat jantungnya berdebar sangat kencang.


Aleta melirik ponselnya. Ia mencoba kembali menelpon Nat, ponsel Nata aktif, tapi kenapa Nata tidak mau menjawab telponnya?


TOK TOK TOK


Aleta melirik pintu kamarnya. Aleta melangkah untuk membuka pintu kamarnya, "Iris," ucap Aleta saat melihat Iris ada di depan pintu kamarnya.


Iris tersenyum tipis, "hai. Maaf ya karena gue gak ngasih tau lo dulu kalau gue mau main ke rumah lo Ta," ujar Iris.


Aleta mangangguk, "gak papa Kok. Yuk masuk Ris," Aleta menarik tangan Iris untuk masuk ke dalam kamarnya. Aleta mempersilahkan Iris untuk duduk di manapun yang dia mau.


"Aku ambil cemilan sama minuman dulu ya buat kamu," jelas Aleta. Ia melangkahkan kakinya ke dapur dan meninggalkan Iris sendirian di kamarnya.


Iris duduk di atas kasur Aleta, ia menatap sekeliling kamar Aleta. Kamar Aleta bernuansa warna biru dicampur dengan warna putih. Kamar Aleta sangat rapih, Aleta begitu pintar menata barang-barangnya.


Iris melirik nakas Aleta yang terdapat beberapa bingkai foto. Iris mengamati bingkai foto itu satu-persatu. Iris tertarik dengan salah satu foto yang ada di nakas itu. Ia mengambil bingkai foto itu. Di foto itu, ada Aleta dan seorang laki-laki yang tampan. Aleta dan laki-laki itu terlihat sangat bahagia.


Tanpa sengaja Iris membalikan bingkai foto itu. Ia membaca tulisan tangan seseorang di balik bingkai foto itu. Kata-kata di belakang bingkai foto itu sangat manis.


Aku akan selalu mencintaimu sampai maut memisahkan kita. Aku ingin melihatmu selalu bahagia Sayang, dan aku ingin ada di samping kamu disaat kamu sedang bahagia. Agar aku bisa melihat wajah bahagiamu yang dapat membuatku juga ikut bahagia. I Love You wanita tercantik ku.


Kata-kata itu begitu manis sampai mampu membuat Iris tersenyum. Siapa laki-laki yang ada di dalam foto itu? Apakah itu pacar Aleta? Ia yakin tulisan tangan itu adalah tulisan tangan laki-laki yang ada di dalam foto itu.


Aleta tidak pernah bercerita tentang laki-laki yang ada di dalam foto itu. Ia hanya tahu kalau Aleta menyukai Nata.


Aleta kembali masuk ke kamarnya dengan membawa minuman dingin dan juga cemilan. Aleta menaruh minuman dan cemilan itu di atas karpet yang ada di kamarnya.


Aleta duduk di karpet itu, "sini Ris," ujar Aleta. Iris mengangguk, ia berdiri dan duduk di karpet yang kebetulan ada di samping tempat tidur Aleta.


Aleta melirik bingkai foto yang dipegang oleh Iris, "kamu megang bingkai foto apa?" tanya Aleta yang matanya masih terarah pada bingkai foto itu.


Iris menyodorkan bingkai foto itu pada Aleta, "lo harus jelasin tentang foto ini ke gue, cowok di dalem foto ini siapa?" tanya Iris.


Aleta tersenyum tipis, "duduk dulu Ris. Aku bakal ceritain kok," Iris menurut. Ia duduk di depan Aleta. Iris sudah sangat penasaran dengan penjelasan yang akan Aleta berikan.


"Dia orang pertama yang ngenalin aku pada kebahagiaan. Dulu, dia selalu ada disaat aku bener-bener rapuh. Tapi sekarang, itu gak mungkin. Karena dia udah gak ada di dunia ini lagi," jelas Aleta.


Iris mengernyit bingung, "maksudnya gak ada di dunia ini gimana Ta? Gue gak ngerti," ungkap Iris.


Aleta menghembuskan napas pelan, "dia udah meninggal. Ninggalin aku untuk selama-lamanya. Padahal aku sayang banget sama dia, tapi kenapa ya Tuhan ngambil dia secepat ini," lirih Aleta.


Iris mulai mengerti. Sepertinya laki-laki yang ada di dalem foto itu sangat berharga bagi Aleta. Iris bisa melihat ada kesedihan di mata Aleta, sepertinya Aleta merasa sangat kehilangan sosok laki-laki di dalem foto ini.


Aleta tersenyum tipis. Aleta membalas pelukan Iris, ia sangat beruntung mempunyai teman seperti Iris yang selalu mengerti tentang perasaannya, "makasih Ris. Aku seneng banget bisa punya temen kaya kamu yang selalu ngerti tentang perasaan aku," ungkap Aleta.


👑


Putra melepas gesper yang sedang ia pakai. Nata sudah tidak berdaya, tubuhnya sangat lemas. Putra memukulinya tanpa ampun dan tidak ada rasa kasihan sedikitpun dari Putra saat melihat Nata yang sudah babak belur olehnya.


Putra mengijak perut Nata dengan kaki kanannya, "Papa gak bakal ngampunin kamu Nata! Kamu harus dihukum karena berani melukai Arsen!" ujar Putra.


Putra menyibak baju Nata. Ia melirik perut Nata yang membiru karena ulahnya. Putra tidak peduli, ia tidak merasa kasihan sedikitpun pada Nata. Emosi yang memuncak sudah menyelimuti dirinya.


Nata memejamkan matanya saat Putra mencambuk perutnya menggunakan gesper. Nata berusaha sekuat tenaga agar ia tidak merintih kesakitan. Seluruh sarafnya berteriak kesakitan.


Putra sudah mencambuk Nata sebanyak dua puluh kali sampai perut Nata mengeluarkan darah segar, "sak-it Pa," lirih Nata pelan.


Nata merasakan seperti ada yang meremas jantungnya. Rasanya sungguh menyakitkan. Putra membalikan tubuh Nata dengan kakinya. Saat Nata dalam posisi tengkurap, Putra mulai mencambuk punggung Nata.


"Makanya, jangan berani-berani mukulin Arsen lagi! Ini balasannya untuk kamu!" tegas Putra.


Rina dan Arsen hanya menonton Putra yang sedang menyiksa Nata dari jauh. Mereka tidak mau repot-repot menghentikan amukan Putra, memang dari awal rencana mereka adalah membuat hidup Nata tersiksa oleh Putra.


Arsen menyeringai, ia sangat senang saat melihat Nata yang terlihat tidak berdaya, "makanya jangan berani nyari masalah sama gue. Rasain lo, mampus aja lo sekalian," batin Arsen.


"Pa, aku moh-on ber-henti. Sak-it Pa," lirih Nata. Putra tidak berhenti, ia tetap mencambuk punggung Nata sampai mengeluarkan darah segar. Putra tidak peduli walaupun Nata terus memintanya untuk berhenti.


"Bun-da, sak-it," gumam Nata. Tanpa ia duga air matanya menetes begitu saja.


"Bangun kamu!" perintah Putra sambil menendang kaki Nata. Putra kesal karena Nata tidak mau menuruti perintahnya. Putra kembali membalikan tubuh Nata sampai tubuh Nata terlentang.


Putra menarik kerah baju Nata dengan kasar, "BERDIRI! KAMU TULI YA!" murka Putra. Dengan sekuat tenaga, Nata mencoba untuk berdiri. Metika Nata sudah berdiri, Putra langsung menarik tangan Nata.


Rina dan Arsen mengikuti langkah Putra dari belakang. Mereka ingin menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Nata.


Putra membawa Nata ke dalam wc yang ada di dekat gudang. Wc itu jarang digunakan karena disetiap kamar sudah memiliki wc masing-masing. Putra mendorong tubuh Nata dengan kasar sampai kepala Nata terbentur dinding, "kamu bakal Papa kurung di sini! Jangan berani kabur!" tegas Putra.


Nata menyentuh tangan Putra, "aku moh-on Pa, ja-ngan kur-ung aku di sini Pa," pinta Nata. Putra menepis tangan Nata kasar, "ini hukuman buat kamu! Kamu harus menerimanya!" ujar Putra.


Sebelum Nata kembali berucap, Putra sudah lebih dulu menutup pintu wc itu dari luar dan langsung menguncinya. Nata terduduk lemas, ia tidak sanggup menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Nata merasakan dinginnya lantai wc. Ia menyenderkan kepalanya di dinding, Nata memejamkan matanya, "Bunda, aku takut. Aku bertahan di rumah ini karena pengen selalu deket sama Papa. Papa sayang sama aku kan Bunda? Papa pasti sayang sama aku. Papa bersikap kaya gini karena dia sayang sama aku, aku yakin itu Bunda," gumam Nata.


"Seburuk apapun perlakuan Papa sama aku, aku bakal tetap menyayangi Papa. Bunda, Aku sayang sama Papa, aku gak bakal biarin siapapun nyakitin Papa. Aku gak akan pergi ninggalin Papa, karena aku sayang banget sama Papa. Papa satu-satunya keluarga yang aku punya saat ini," lanjut Nata.


👑