Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 10}



👑


Aleta berjalan di koridor sekolah. Ia sudah bisa masuk sekolah hari ini karena keadaan kakinya sudah baik. Aleta melangkah ke kelasnya yang ada di lantai dua.


Aleta memasuki kelasnya, Iris yang pertama kali menyadari kedatangan Aleta langsung berlari memeluk Aleta, "akhirnya lo sekolah juga. Keadaan lo udah beneran baik kan Ta?" tanya Iris.


Aleta tersenyum, "aku udah baik-baik aja Ris," jawab Aleta. Sisil dan Icha ikut memeluk Aleta, "kita kangen banget sama lo," sahut Icha.


"Gue juga mau dong dipeluk gitu," sahut Dimas. Ia berdiri di depan Aleta, Dimas merentangkan tangannya, "ayo peluk gue Ta," ucap Dimas tersenyum lebar.


Aleta melirik Nata yang ada di belakang Dimas, Nata menoyor kepala Dimas dan melewatinya begitu saja. Aleta fikir Nata akan menyapanya, tapi dugaannya salah.


Aleta melirik Nata yang duduk di tempatnya, "hai Ta, kaki lo udah baikan?" tanya Julian yang berdiri di samping Dimas. Aleta tersenyum tipis, "aku udah gak papa," jawab Aleta.


"Ayo duduk Ta," ucap Iris. Aleta melangkah bersama Iris ke tempat duduknya, sedangkan Sisil dan Icha tadi meminta ijin untuk ke wc terlebih dulu.


"Ada yang mau gue ceritain sama lo," ucap Iris ketika mereka sudah duduk. Aleta mengerutkan kening, sepertinya yang ingin Iris bicarakan masalah serius, "apa?" tanya Aleta.


"Diva. Dia anak kelas IPS, dia suka sama Nata sejak kelas sepuluh. Dia baru pulang dari luar negeri, hari ini dia masuk sekolah. Gue takut kalau dia tahu lo cewek yang lagi deket sama Nata, dia bakal nyakitin lo," jelas Iris.


Iris sangat cemas akan hal itu. Ia sangat tahu Diva orang yang seperti apa. Diva sangat menyukai Nata, dia bisa saja mencelakai Aleta kalau tahu Aleta dekat dengan Nata.


Aleta menggenggam tangan Iris, "jangan khawatir, dia gak bakal nyakitin aku," ucap Aleta. Aleta senang karena Iris menghawatirkannya. Aleta memeluk Iris, "makasih karena kamu udah khawatirin aku," lirih Aleta.


Iris tersenyum, ia membalas pelukan Aleta, "lo temen gue. Jadi, wajar kalau gue khawatirin lo," jelas Iris.


"NATA!" panggil Diva yang sudah berdiri di depan pintu kelas. Aleta melirik Diva, "itu Diva," bisik Iris.


Aleta melihat penampilan Diva. Ia menggunakan baju yang sangat ketat sampai lekukan tubuhnya terlihat. Ia juga membiarkan satu kancing atas seragmanya yang terbuka, dan roknya juga sangat pendek. Seragamnya tidak dimasukan, tapi ia memiliki wajah yang sangat cantik.


Diva memiliki wajah blasteran Indonesia dan Jerman. Ia memiliki rambut yang hitam dan bergelombang, Aleta sadar kalau Diva jauh lebih cantik darinya. Apakah Nata menyukai Diva? Sepertinya laki-laki akan menyukai Diva karena parasnya yang sangat cantik.


"Nata gak bakal mau dipeluk sama lo, mending peluk gue aja sini," sahut Julian tersenyum. Diva menoyor kepala Julian, "males banget," cetus Diva.


"Julian duduk di tempat lain dulu sana. Gue mau ngobrol sama Nata. Sana pergi," usir Diva sambil menarik-narik tangan Julian. Julian berdiri, ia duduk di depan bersama Dimas, "tuh cabe masih aja ngejar-ngejar Nata," ucap Dimas.


Diva duduk bersebelahan dengan Nata. Ia menyenderkan kepalanya di pundak Nata, "aku kangen sama kamu Nat. Waktu aku di Jerman aku selalu mikirin kamu, kamu mikirin aku juga gak? Pasti mikirin kan ya," oceh Diva.


Nata menjauhkan kepala Diva dari pundaknya, ia berdiri, "gue gak kangen sama lo. Jadi cewek jangan terlalu geer deh, jijik gue," sinis Nata.


Diva ikut berdiri, ia tidak perduli dengan apa yang Nata katakan tadi. Tanpa diduga Diva mencium pipi Nata begitu saja, "itu kecupan rasa kangen aku ke kamu Nat," ucap Diva.


Nata sangat kesal. Berani sekali Diva tiba-tiba mencium pipinya? Apa maksudnya? Ia sama sekali tidak suka. Nata memandang Diva dengan tatapan yang seperti ingin membunuh, "lo udah gila!" bentak Nata.


Dimas dan Julian melirik ke arah Nata. Mereka bingung kenapa tiba-tiba Nata membentak Diva, tidak biasanya Nata sampai membentak cewek seperti itu. Julian dan Dimas mendekati Nata, "ada apa sih Nat?" tanya Dimas.


Aleta dan Iris sudah memperhatikan Diva dan Nata sejak Diva duduk di sebelah Nata. Iris menggelang-gelengkan kepalanya, "si Diva emang gila, apaan coba dia nyium pipi Nata gitu. Pantes aja kalau dia dibentak Nata gitu," gumam Iris.


"Cewek gila ini berani nyium pipi gue," tunjuk Nata pada Diva. Diva memang baru kali ini berani mencium pipi Nata, sebelumnya, Diva tidak pernah seberani itu sampai mencium pipi Nata.


Dimas dan Julian saling bertatapan, mereka tidak menyangka Diva berani melakukan hal seperti itu. Pantas saja Diva dibentak oleh Nata, itu wajar. Karena, sebelumnya Nata tidak pernah dicium oleh seseorang dan Diva orang pertama yang berani mencium pipi Nata.


"Harusnya kamu seneng Nat, karena kamu dapet kecupan dari orang secantik aku. Aku sayang kamu Nat," ucap Diva tersenyum lebar. Diva sama sekali tidak takut dengan raut wajah Nata yang terlihat sangat marah padanya.


Nata menendang kursi di sampingnya, ia langsung melangkah keluar kelas. Nata butuh mendinginkan kepalanya. Diva benar-benar membuat amarahnya memuncak.


Aleta berdiri, "aku mau nyusul Nata," ucap Aleta. Iris mengangguk. Aleta berlari menyusuri koridor mencari keberadaan Nata, ia menanyai salah satu siswa yang kebetulan lewat di depannya, "kamu lihat Nata gak?" tanya Aleta.


"Gak lihat," jawab siswa itu. Aleta kembali melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia menabrak tubuh seseorang, orang itu tersenyum padanya, "hai Aleta," sapa orang itu.


👑