
Happy Reading ❤
👑
Julian dan Dimas datang di tengah kerumunan orang-orang yang mengelilingi Nata dan Arsen. Mereka mendekati Nata, "Nat, lo gak papa?" tanya Julian.
"Gue gak papa," jawab Nata.
Diam-diam Aleta menjauh dari Nata. Ia merutuki dirinya sendiri karena tadi memeluk Nata, harusnya ia biarkan saja Nata terus berantem dengan Arsen. Ia harus menjauhi Nata.
"Nat, mending kita pergi sebelum ada guru yang ngeliat lo berantem sama Arsen. Lo juga harus obatin luka lo," sahut Dimas.
Nata mengangguk. Mereka membelah kerumunan orang-orang untuk pergi. Nata melirik sekelilingnya untuk mencari keberadaan Aleta, kenapa Aleta tiba-tiba pergi?
Orang-orang masih menatap Arsen yang terbaring di lantai. Arsen tidak sadarkan diri.
Zahra membelah kerumunan siswa-siswi itu, ia membulatkan matanya saat melihat Arsen yang pingsan, "astaghfirullah, kenapa kalian diem aja. Bawa Arsen ke UKS!" tegas Zahra.
Zidan dan Bagas segera membawa Arsen ke UKS. Zahra menatap murid-muridnya satu persatu, "kenapa kalian diem aja! Harusnya kalian nolongin Arsen! Siapa yang udah buat Arsen babak belur sampe pingsan gitu?!" tanya Zahra dengan intonasi yang tinggi.
Siswa-siswi menunduk mendengar bentakan Zahra. Mereka hanya diam, "jawab!" tegas Zahra.
"Nata Bu," jawab seorang siswi yang berdiri tidak jauh dari Zahra. Zahra memijat pelipisnya, ia merasa pusing. Kenapa Nata selalu membuat masalah.
"Kembali ke kelas kalian masing-masing!" tegas Zahra. Bel masuk memang sudah berbunyi dari lima menit yang lalu. Siswa-siswi itu langsung pergi menuju ke kelas mereka masing-masing.
Arsen membuka matanya. Ia melirik sekelilingnya yang tidak ada orang. Ia sedang berada di UKS. Ia menegakan tubuhnya lalu tersenyum lebar, "syukur deh kalau mereka gak ada yang tau kalau gue cuma pura-pura pingsan. Lihat aja lo Nata, lo bakal dapet masalah yang besar," gumam Arsen.
Aleta mondar-mandir di depan kelas. Untung saja guru yang harusnya mengajar di kelasnya tidak masuk. Jadi, ia bisa keluar kelas.
Ia memegang obat merah dan kapas di kedua tangannya. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa berpikiran untuk mengobati luka Nata, padahal seharusnya ia menjauhi Nata.
Aleta tersentak ketika melihat Nata, Julian dan Dimas menuju ke arahnya. Aleta refleks menyembunyikan obat merah dan kapas tadi di belakang badannya.
"Ngapain lo berdiri di sini?" tanya Julian.
Aleta tersenyum, "di dalem panas, jadi aku keluar aja buat cari angin," jelas Aleta berbohong. Aleta melirik wajah Nata yang masih terdapat darah di ujung bibir dan pelipisnya.
Dimas tersenyum menggoda ketika tahu Aleta melirik Nata, "tadi, kita udah maksa Nata buat obatin lukanya. Tapi, dia gak mau. Katanya dia cuma mau diobatin sama lo Ta," jelas Dimas.
Nata langsung melotot ke arah Dimas, "itu gak bener!" tegas Nata.
Julian tersenyum tipis, "ke kelas yuk Dim, gue gak mau ganggu orang yang mau mesra-mesraan," sahut Julian. Julian menyeret tangan Dimas untuk masuk kelas.
Sebelum memasuki kelas, Julian menepuk pelan pundak Aleta, "obatin Nata ya Ta," bisik Julian.
Sekarang, hanya ada Aleta dan Nata di koridor kelas 12. Aleta merasa kasihan pada Nata saat melihat wajah Nata yang banyak terdapat lebam dan darah, "mau aku obatin?" tawar Aleta.
"Sini," Nata menepuk pelan kursi kosong yang ada di sebelahnya. Ia menyuruh Aleta untuk duduk di sampingnya.
Aleta mendekati Nata dan duduk di samping Nata. Jantungnya mulai berpacu dengan cepat. Nata melirik obat merah dan kapas yang ada di tangan Aleta, "sejak kapan lo megang obat merah sama kapas?" tanya Nata.
"Sejak tadi," Aleta meneteskan obat merah itu ke kapas. Aleta meringis melihat luka-luka Nata dari dekat, "pasti sakit ya Nat," lirih Aleta.
"Sakit ini gak seberapa dibandingkan gue ngeliat lo dicium sama Arsen dengan mata kepala gue sendiri Ta," batin Nata. Tidak mungkin ia menyuarakan isi hatinya pada Aleta.
"Maaf ya kalau sakit," Aleta menyentuh pelan ujung bibir Nata dengan kapas yang sudah ia tetesi dengan obat merah, "tadi pagi kenapa kamu udah luka-luka Nat?" tanya Aleta.
"Gue berantem sama preman," jawab Nata. Aleta mengerutkan keningnya, "kenapa bisa brantem sama preman?" tanya Aleta bingung.
Tatapan mata Nata tertuju ke depan. Ia tidak bisa menceritakan hal ini pada Aleta, "lo gak perlu tau," jawab Nata.
Aleta mengerti kalau Nata tidak bisa menjawab pertanyaannya. Menurutnya, Nata adalah cowok yang paling misterius. Karena, Nata tidak pernah mau menceritakan tentang kisah hidupnya pada ia maupun teman-temannya.
"Terus, kenapa tadi kamu tiba-tiba mukul Arsen?" tanya Aleta.
Nata melirik Aleta yang fokus mengobati luka-lukanya, "itu semua karena lo. Gue gak rela lo dekat sama cowok lain selain gue," lirih Nata.
"Lo ngomong apa Nat?" Aleta mendongakkan kepalanya, matanya bertemu dengan tatapan mata Nata. Mereka saling pandang selama beberapa detik sebelum Aleta mengalihkan tatapan matanya.
"Jangan deket-deket sama Arsen. Dia cowok berengsek," jelas Nata. Aleta mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Nata.
Aleta sudah selesai mengobati luka Nata. Aleta membuang kapas yang tadi ia sudah pakai untuk mengobati luka Nata ke tong sampah yang ada di dekatnya.
"Nata!" panggil Rina. Rina menatap Nata dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, Aleta merasakan hawa yang tidak enak.
Rina mendekati Nata, "ikut saya ke ruangan saya!" tegas Rina dengan intonasi yang tinggi.
Nata hanya diam tidak menyahuti ucapan Rina, ia tahu apa yang akan Rina bicarakan di ruangannya. Nata menggenggam tangan Aleta, "ikut saya Nata! Kamu tuli!" kesal Rina.
Aleta merasakan cengkraman tangan Nata yang menguat, "saya gak ada urusan sama anda," Nata berdiri dan menarik tangan Aleta untuk pergi menjauh dari Rina.
Aleta memberhentikan langkahnya ketika di ujung tangga, ia menarik tangan Nata untuk berhenti. Nata memberhentikan langkahnya, ia melirik Aleta, "kamu gak boleh lari dari masalah Nat. Ada aku, aku bakal nemenin kamu ke ruangan Ibu kamu. Aku gak bakal pergi apapun yang terjadi," ungkap Aleta, serius.
Nata tersenyum tipis. Ia mengelus rambut Aleta, "makasih Ta," ucap Nata, tulus.
"Gue gak pernah menduga cewek kaya lo bisa buat gue jatuh cinta sampe sedalem ini," batin Nata.
👑
Makasih udah mau mampir ❤