
Hari itu, Pak Waziz tak sedang tampak baik. Sejak masuk ke ruang M2, mukanya sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa kelas Mekanika Teknik akan lebih lama dan membosankan. Tiga SKS akan terasa setengah abad. Kelas A pasti semakin muak karena setelah makan siang, mereka harus bertemu lagi dengan beliau di kelas Matematika 2 dan ada kuis. Teknik Industri musim ini masih seperti musim lalu. Kelas didominasi oleh mata kuliah dasar Teknik. Mungkin, Kimia sudah tak mereka temui lagi. Tetapi, Mekanika Teknik, Matematika 2, dan Bahan Teknik adalah kelas-kelas yang dihindari mahasiswa seperti Noah.
Noah pikir bahwa dia salah masuk jurusan. Ia tidak yakin apakah semester ini, ia masih bisa menyelamatkan IP-nya atau justru harus mengambil 18 SKS lagi atau bahkan kurang. Ia hanya berharap, ia selalu gampang mengelabuhi mami.
Noah menyandarkan punggung di kursi kayu yang keras. Matanya masih menatap PSP di tangannya.
Kursi di samping Noah ditarik seseorang. Suaranya menimpulkan getar di hati yang tidak mengenakkan. Sebuah tas digelantungkan di sandaran kursi. Seseorang duduk di sebelah Noah. Noah menoleh dan mendapati Terang ada di sana.
Wajah Terang menelungkup di meja kecil yang menyatu dengan kursi. Wajahnya menghadap Noah. Mata gadis itu terpejam, tetapi mulutnya komat-kamit, seperti sedang mengucapkan sesuatu. Terdengar lirih, tetapi Noah masih bisa mendengarnya.
Damage. Destruction. Declare.
Noah menyipitkan matanya, menajamkan pendengaran. Mencoba mencerna apa yang sedang diucapkan oleh Terang.
Mendadak, seperti petir di langit, mata Terang membuka. Noah tertegun memandang gadis itu. Gadis itu menyernyitkan kening. Ia memegangi perutnya.
# # #
Terang keluar dari toilet wanita dengan muka meringis. Ini sudah ketiga kalinya ia masuk toilet. Ia memegangi perutnya yang melilit-lilit. Sesuatu sedang berontak di dalamnya. Jangan salahkan aku kalau perutmu sakit. Terang teringat kata-kata Kayla tadi malam.
Terang memegangi perutnya yang masih melilit. Dia memejamkan mata, mencoba meredam rasa sakit di perutnya. Di luar toilet, Terang melihat Noah sedang bersandar di dinding sambil merokok. Cowok itu hanya meliriknya sekilas.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Noah. Terang mendongak, Noah sudah berdiri di depannya. “Kamu butuh bantuan?”
Terang menggeleng. “Nggak,” jawabnya. Dia merasakan perutnya mulai melilit lagi, kemudian dia kembali ke dalam toilet lagi untuk waktu yang lama. Saat ia keluar, ia masih melihat Noah masih berada di di luar toilet.
“Mau minum?” tanya Noah sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Terang menggeleng. “Thanks. Sudah mendingan.” Dia berniat untuk kembali ke kelas. Setelah selangkah, dia memutar tubuhnya. “Kamu nggak ikut kelas Pak Waziz?” tanyanya. Terang melirik jam tangannya. Kelas Pak Waziz sudah mulai sepuluh menit lalu.
Noah membuang puntung rokoknya, lalu bergerak mendekat. “Aku akan ke kelas setelah mengembalikan ini. Aku tahu ini kurang pantas karena aku mengembalikannya di depan toilet.” Noah mengambil binder dari tasnya lalu menyerahkannya kepada Terang. “Aku ingin berdamai. Kupikir aku harus mengembalikannya padamu.” Noah menyerahkan binder Terang. “Aku tidak mengambilnya. Aku menemukannya.”
Terang menatap nanar ke binder berwarna biru terang di hadapannya. Ia mengenal binder itu. Sangat mengenalnya. “Kamu mengambilnya?” matanya melotot, ia bahkan lupa dengan sakit perutnya.
“Sudah kukatakan, aku menemukannya.”
“Aku sudah kehilangan binder ini cukup lama dan mengapa kamu baru mengembalikannya sekarang?”
“Kurasa kita harus berdamai. Tidak, kukira aku harus minta maaf padamu. Aku menemukan ini di lobi kampus. Sungguh aku berniat untuk mengembalikannya.”
“Aku juga yang menaruh peralatan gambar di motormu. Aku pengen minta maaf padamu karena binder ini jadi kubelikan peralatan gambar teknik.”
“Kamu ini....” Muka Terang merah padam. “Kamu tidak hanya menyusahkan orang karena selalu telat mengumpulkan tugas, tetapi juga..aneh.” Terang berusaha merebut binder dari tangan Noah, tetapi Noah tak mengijinkannya.
“Aku ingin minta maaf.”
Terang tak mengatakan apa-apa. Dia merebut binder dari tangan Noah dan kali ini berhasil.
# # #
Di kantin JTMI setelah kelas Mekanika Teknik.
“Kamu baik-baik saja kan, Rang?” tanya Janaka dengan suara seperti biasa, menentramkan. Dia duduk di samping Terang, sementara Kayla di depannya. Saat duduk seperti sekarang, Janaka dan Terang terlihat sejajar matanya.
Terang mengangguk kecil.
“Kupikir kepalamu harus didinginkan sebelum ujian mid nanti. Kamu udah belajar mati-matian akhir-akhir ini. Atau kita nonton dulu siang ini? Aku yang traktir. Minggu depan kan minggu tenang ujian, kita masih punya waktu seminggu untuk persiapan mid. Tak ada salahnya nonton sebentar.”
Kayla menyenggol sikut Terang. “Tuh, diajak nonton.”
“Yaudah, boleh deh. Gimana, Kay?” tanya Terang pada Kayla.
“Kenapa jadi ngajak aku. Kamu dikasih kode, nggak tanggap nih.” Kayla mengacak rambut Terang sambil melirik ke arah Janaka.
Terang tak menanggapi perkataan Kayla. Dia asyik terpaku pada wajah Noah yang duduk beberapa meja dari tempatnya. Cowok itu sedang mengobrol dengan Gema. Terang memasukkan tempe terakhir ke mulutnya dengan paksa. Matanya masih mengekor Noah. Mengapa dia menyembunyikan binderku? Apakah dia membaca semuanya? Atau, apakah aku harus berterima kasih kepadanya?” pertanyaan itu berputar-putar di kepala Terang.
Terang menatap Noah tak berkedip. Seolah Noah adalah anak ayam kecil yang sedang menangis mencari induknya di tengah hutan. Terang tentu saja adalah macan lapar yang berdiri tak jauh darinya. Anak ayam itu seperti mengejek macan, dengan menari-nari senang. Berputar-putar, sepertinya ia telah menemukan induknya. Ia bernyanyi keras: macan, ayo ke sinilah, makan aku, makan aku, tangkap saja aku. Si macan geram, sangat geram. Ia menggertak-gertak giginya dengan ganas. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena di depannya adalah sungai dengan air yang mengalir deras.
Selain suka nyusahin orang, kamu ternyata menyebalkan, kata Terang dalam hati. Masih sakit hati karena masalah bindernya. Ia berjanji tidak akan berurusan lagi dengan Noah. Tapi masih ingatkan bahwa kadang alam suka mengamini apa yang tidak kita kehendaki? Mungkin karena justru pikiran itu berputar-putar kuat di kepala kita.
# # #