MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 5



“Kuberi waktu hingga besok jam 9, Terang. Jangan diulangi lagi. Toleransi ini aku kasih ya...karena kemarin kamu udah bantuin ngumpulin tugas. Tapi lain kali, nggak ada ampun,” Suara Mbak Anin tadi sore masih mengorek telinga Terang.


Terang mengutuk dirinya sendiri yang ceroboh. Perjalanan sore itu terasa sangat menyebalkan. Ia seperti terlempar ke Gumuk Pasir di Parangtritis, kemudian bersepeda dengan rantai berkarat di sana.


Meski pun begitu, Terang tetap berdendang lirih sepanjang Jalan Grafika Teknik menuju Pogung Kidul. Nyanyiannya sangat random layaknya permainan mengambil boneka sapi di Pasar Malam. Ia bersemangat ketika melantunkan ‘Kosong’ dari Pure Saturday di dalam hati, namun dengan mulut komat-kamit. Atau justru mendayu saat harus meniru Andre Hehanusa di lagu ‘Karena Ku Tahu Engkau Begitu’. Mukanya berubah-ubah seperti pemain ketoprak.


Terang tinggal bersama Bunda di Pogung Kidul, salah satu kawasan kos anak-anak UGM, di utara Fakultas Teknik. Rumahnya kecil berdampingan dengan delapan kamar kos milik teman Bunda. Bunda bertugas menjaga kos-kosan itu. Sebenarnya rumah itu tidak pantas disebut rumah. Hanya ada tiga ruangan kecil: kamar Terang, kamar Bunda yang menyatu dengan tempat makan, dan dapur yang lebih mirip dengan gudang barang. Ada pintu kecil yang cukup untuk mengeluarkan satu motor sport dan menghubungkan kos-kosan dengan jalan kecil di depannya.


Sepeda Terang sampai di depan Warung Burjo dengan atap seng. Warung itu terletak di seberang pintu masuk ke kos-kosan. Dinding depan warung hanya setengah, setengah lagi adalah anyaman kawat dengan lubang-lubang besar berbentuk ketupat. Setiap orang yang lewat di depannya pasti bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam warung itu. Ada spanduk warna kuning yang menempel di dinding bagian bawah dan bertuliskan macam-macam menu andalan warung itu. Aroma masakan menyerbak setiap masuk ke warung. Meski pun sedikit panas, tapi orang-orang betah ada di sana. Satu-satunya sumber angin adalah kipas angin yang menggantung di dinding.


“Sudah pulang kamu rupanya. Duduklah, Bunda akan siapkan minum.” Seorang ibu bertubuh kurus dengan rambut digelung kecil keluar dari pintu yang menghubungkan dengan dapur kecil.


Terang meletakkan tasnya di kursi. “Bun, malam ini warung tetap buka?”


“Ini minumlah.” Bunda menyodorkan segelas es teh manis ke depan Terang.


“Terang pikir Bunda harus istirahat.” Terang mencium pipi kanan Bunda.


“Kamu mikirin apa sih? Kamu pikir, Bunda bakal dapat uang darimana kalo warungnya tutup. Kamu lebih baik mandi sono dan bantu Bunda di sini. Setelah Sholat Maghrib, pasti anak-anak kos keluar untuk makan. Oh iya, Bunda tadi beli sesuatu untukmu.” Bunda masuk ke dalam dapur lagi, lalu keluar dengan piring berisi ayam geprek sambal bawang, favorit Terang. “Makanlah. Kupikir-pikir, kamu sudah mulai kurus. Ini sangat pedas, favoritmu, tadi Bunda pesen cabai 10.”


“Makanlah denganku, Bun. Terang kesepian lho kalo makan sendirian kayak gini.”


Bunda tak menghiraukan ucapan Terang. Ia sibuk melayani seorang mahasiswa yang memesan mie goreng telor. Ruang kerja Bunda adalah ruang kecil yang dikelilingi oleh meja sedada orang dewasa berbentuk setengah kotak. Tamu-tamu yang membeli duduk di depan meja itu sambil bisa melihat Bunda yang sedang membuat es teh, mie goreng, atau apapun.


Karena tidak mendapat tanggapan, Terang menambahi ucapannya. “Bun, kayaknya Terang nggak bisa bantu jagain warung deh malam ini.” Bunda menoleh ke arah Terang, matanya memicing. “Terang nggak akan pergi ke manapun,” lanjutnya, seolah tahu Bunda pasti akan tanya macam-macam. Lanjutnya, “Malam ini Terang ada jadwal ngajar dan ada tugas yang harus dikumpul besok. Jadi, Terang nggak bisa membantu. Tapi, Bunda tutup aja warungnya. Bunda harus istirahat, atau nggak...Bunda bisa nemenin aku.”


Bunda tersenyum kecil. Ia sudah selesai melayani mahasiswa tadi. “Kamu pikir kamu anak SD yang harus ditemani setiap ngerjain tugas?” Bunda mendekat dan duduk di samping Terang. “Ini Bunda punya hadiah untukmu,”


Terang melihat barang yang disodorkan Bunda. Dibungkus dengan kertas koran. Terang membukanya dengan muka berbinar. Tetapi binar mukanya berubah masam setelah apa yang ia lihat. “Batik lagi?” ia bertanya. “Bun, kan dua minggu lalu baru dikasih baju.” Terang bersungut-sungut mengingat dia selalu mengganti Baju batiknya dengan celana jeans dan kaos kalo sampai di kampus.


“Ini beda, Terang. Lihat.” Bunda melebarkan setelan baju dan rok di depan Terang. “Modelnya lebih modern. Ini rok pendek. Cantik, kan? Kamu pasti cantik kalo pake ini. Percayalah. Pasti langsung dapat pacar...Itu siapa Janaka, pasti tambah klepek-klepek...”


“Bunda...apaan sih, Janaka kan cuma teman...”


“Ntar juga demen...atau siapa itu yang ngekos di sini juga...Mas Bara...Nah itu...”


“Bun, nggak lucu ih...”


“Udah dicoba dulu roknya, cantik wes...”


“Nggak ah, batik terus...”


“Dicoba dulu...Ndak bakal rugi” Bunda tetap maksa.


Bunda memang selalu terobsesi memiliki toko batik seperti Danar Hadi atau minimal yang ada di emperan Malioboro. Jadi setiap ada kesempatan membeli kain batik, beliau akan membeli sebanyak mungkin lalu menjadikan Terang sebagai mannequin berjalan.


“Ah...Terang nggak mau, Bun,” kata Terang bersungut-sungut. “Bunda aja yang pakai biar terlihat lebih cantik. Coba lihat...” Terang memutar wajah Bunda. “Siapa coba yang akan ngelirik Bunda dengan dandanan macam gini? Sangat buruk. Lebih buruk dari ibu tiri Cinderela.”


“Jadi kamu pikir Bunda itu ibu tiri Cinderala yang jahat?” Bunda tertawa lebar mendengar ucapan puteri semata wayangnya. Terang tahu Bunda pasti tak akan menghiraukan ucapannya. Bagi hidupnya, semua adalah tentang Terang. Semua untuk Terang. Bukan untuk dirinya lagi. Diusianya yang sekarang ia hanya ingin melihat Terang menjadi seorang dewasa yang bahagia.


“Bunda kangen jahit lagi, ya?” tanya Terang, mengingat mesin jahit di dalam rumah yang beberapa kali rusak. Hanya sesekali saja bisa digunakan untuk menjahit, tak banyak. Hanya satu dua potong. Seperti ketika Bunda menjahitkan baju batik Terang.


Bunda tersenyum. Keningnya sedikit berkerut sehingga alisnya yang tebal tampak sedikit bergerak. Alis itu tak pernah tersapu pensil alis, tetapi tetap jadi semut yang jalan beriringan.


Bunda teringat saat dulu di Jakarta, saat ia membuka jasa jahit baju-baju seragam, baju kondangan, juga stelan kemeja pria. Mesin jahit hadiah suaminya kini masih ada, selalu ia bawa. Tak pernah ia berniat untuk menjualnya karena itulah satu-satu kenangan yang masih ia simpan rapat. Justru Terang yang selalu meminta agar Bunda tidak menjahit lagi, agar beliau melupakan ayah.


“Bunda kan pengen lihat Bu Dosen tambah cantik.” Bunda memeluk Terang dari samping. Ia menghirup wangi shampo yang masih menempel di rambut kelam Terang.


Terang balas mendekap Bundanya. Ia menyayangi Bunda melebihi apapun. Mereka saling berpandangan, Terang melihat mata bunda sedikit kelelahan tapi masih menyiratkan sinarnya.  Ia pernah melihat foto Bunda saat muda dengan rambutnya yang panjang terurai berwarna hitam. Hidungnya ramping dan panjang. Bunda yang tidak terlalu tinggi mewarisi semua itu kepada Terang.


Bunda menyapu pipi Terang. “Lihat dirimu sekarang, jerawatan dan mukanya  mengkilap seperti ini. Kamu ndak pernah cuci muka, heh?” Bunda tampak tertawa, membuat pipinya sedikit melebar. Rambut-rambut yang jatuh di sana menempel di pipi. Rambut yang dulu sempat indah, hitam, dan lembut itu kini tampak lepek seperti habis tercelup sisa minyak di penggorengan.


Terang tak pernah sempat berias di depan kaca setiap pergi ke kampus. Ia bergantian dengan Bunda jaga warung setiap malam. Terang mendapatkan jatah jaga setiap jam 12 malam hingga jam 5 pagi, waktu Bunda gantian untuk tidur. Jam 5 pagi, Terang harus mencuci pakaiannya dan bersiap untuk ke kampus jika ada kelas pagi. Apakah mungkin dia masih berpikir untuk menyisir rambutnya, atau mengusir rona hitam di pipinya?


Langit sore mulai sedikit menghitam saat Terang sudah siap pergi mengajar di Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di daerah Kota Baru. Ia menunggu Janaka menjemputnya. Setengah jam menunggu, Janaka datang.


“Maaf tadi motor mogok. Kamu udah siap? Ayo, lekas naik,” ucap Janaka, sahabat Terang sejak kecil. Terang naik ke motor. Tubuh Janaka yang kurus tinggi menutupi tubuh Terang.


“Aku sudah bilang, kamu nggak perlu report-repot nganterin aku.”


“Aku sudah janji, Anak Keras Kepala. Kamu pikir aku akan ingkar janji. Dan ingat, kita akan ngerjain tugas Fisika bareng di KPTU karena tugasmu hilang. Udah ketemu belum bindermu?”


“Beluuum,” kata Terang dengan suara dibuat-buat, seolah mau nangis.


Janaka tertawa kecil, sambil mengacak rambut Terang yang dikucir kuda.


# # #


 


 


“Ngapain sih kita harus nongkrong di KPTU, Noah?” tanya Maleo yang duduk berseberangan dengan Noah. “Seharusnya kita pergi ke cafe atau tempat makan yang banyak cewek-cewek cantik, bukan cewek Teknik. Lo tahu kan maksud gue apaan.”


Noah tak menjawab. Sore tadi, ia mendengar bahwa Terang akan ke KPTU malam ini untuk mengerjakan tugas Fisika 1. Noah berpikir bahwa ia akan menemui gadis itu dan mengembalikan catatan dan tugasnya yang sebelumnya telah ia foto kopi.


“Kita harus ngerjain tugas di sini.” Noah mengeluarkan buku tulis yang sudah lecek dari tasnya dan sebuah binder warna biru muda.


“Gue pikir lo nggak akan serius kuliah?” tanya Maleo dengan tawa yang sudah menjadi teman Noah sejak SMA.


Noah hanya menyeringai. “Lo pikir gue serius?” Noah balik bertanya dengan raut muka tanpa senyum.


“Padahal yah, lo tinggal nglanjutin perusahaan Papi lo, itu cukup,”


Noah masih diam memandangi binder di depannya.


“Lo masih berpikir mau jadi fotografer?”


Noah mengangkat bahu.


“Lalu, buat apa kuliah jauh-jauh ke Yogya, tapi tidak pernah berangkat? Lihat nih.” Maleo memutar tubuh Noah. “Kurus, kering, mata pucat kebanyakan main games, rambut acak-acakan nggak pernah keramas,” ujar Maleo.


Noah menoyornya, tetapi tidak berkomentar. “Lo pikir lo kayak apa, sama kayak gue. Kurus, kering, mata pucat kebanyakan ngedit video, dan lebih sering jadi kameraman berjalan daripada kuliah di kelas.”


“Gue kan hanya akan ikut mata kuliah yang ada hubungannya dengan bisnis, bukan Kimia atau Fisika. Lagian gue nggak mau bikin jembatan, ngerti?” Lanjut Maleo, “Gue akan lebih cepat ******* dengan benda ini.” Maleo memperlihatkan kamera DSLR yang biasa ia bawa untuk merekam video. Dia tertawa.


Noah tak peduli. “Ngapain lo nggak kuliah di IKJ, atau ISI aja?”


“Gue kan pengen belajar bisnis dan proses produksi. Hobi video ini kemampuan dasar yang bisa gue pelajari dari internet. Tapi kalo ilmu bisnis, gue butuh di bangku pendidikan formal. Lagian ya, gue sekarang juga udah gabung di BEM, di Fiagra, tempat anak-anak yang hobi foto dan video. Lo mau join juga?”


Noah menggeleng. “Lo kan tahu gue nggak demen kumpul-kumpul gitu.”


“Dan gue rasa, pertanyaan tadi juga harus lo tanyain ke diri lo sendiri. Ngapain coba nggak kuliah di fotografi?”


Noah tak menjawab.


Lanjut Maleo, “Jika gue jadi elo yah, gue tinggal duduk manis nikmatin kekayaan mami lo. Nggak usah peduliin suaminya. Lo pasti akan tetap jadi nomer satu. Jadi pewaris tunggal, masih bisa motret pula.” Maleo tertawa. “Lo masih benci sama dia, ya?” tanya Maleo. “Maksud gue, suami mami lo?”


Noah tak berniat untuk menjawabnya. Karena ia tak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Mungkin dia masih membencinya. Tidak, ia memang masih membencinya. Sejak kecil dia selalu membencinya. Maleo tahu itu karena dialah satu-satunya orang yang ia beritahu. Dulu waktu SMA dia sering kabur ke rumah Maleo.


“Gue rasa ya, lo harus biarin mami lo bahagia dengan pria itu,” ujar Maleo.


“Sudah. Tapi....” Noah menarik nafas. “entahlah, udah nggak perlu dibahas,” ucapan Noah mengambang di udara.


Maleo tak melanjutkan obrolan itu. Topik berganti menjadi permainan dota atau Point Blank. Sebenarnya, Maleo yang paling banyak berbicara. Noah hanya menimpali sesekali karena ia sibuk dengan binder di depannya.


Noah membuka halaman demi halaman binder Terang tanpa sepengetahuan Maleo. Tulisan di dalamnya rapi. Semua catatan diberi stabilo warna biru muda untuk bagian-bagian yang penting. Terang menulis tugas Fisika 1-nya dengan rapi juga. Angka-angka hitungan tampak berjejer dengan indah.


Di halaman depan ada sebuah puisi, atau lirik lagu. Entahlah, Noah tak tahu pasti. Noah membacanya perlahan.


Coba untuk ulangi, apa yang terjadi. Harapkan datang lagi, Bersama alam menempuh malam. Walau tak pernah ada kesempatan. Terjebak dalam jerat mengikat. Namun tekad nyatakan bebas.


Tangan Noah berhenti di bagian tengah. Kertas itu tampak berbeda dari kertas yang lain. Lebih lecek, terlihat lipatan-lipatan di semua permukaannya. Seperti pernah dibuang kemudian diambil kembali. Di tengah-tengahnya ada tulisan berwarna hitam yang sudah ditimpa dengan tinta lagi. Tapi masih terbaca. Masih terlihat.


Ayah, aku merindukanmu.


Noah tertegun.


“Noah, Permata masih sering kontak elo?” tanya Maleo.


Noah terpekur karena ia tak mendengar apapun yang diucapkan Maleo. “Maksudnya?” tanya Noah.


“Permata... masih sering kontak elo, nggak?”


Noah menggeleng pelan. Meskipun jawaban yang seharusnya adalah kebalikkannya. Tapi ia tak ingin membahasnya.


Ayah, aku merindukanmu.


Tulisan itu penuh dengan asumsi dan emosi. Tinta yang menimpa tulisannya tak cukup sempurna menutup, tetapi cukup menggambarkan bagaimana ujung pulpennya terasa terdesak dan terpojok.


Apa yang ia pikirkan? Noah bertanya pada dirinya sendiri. Dia menutup binder itu dan berniat untuk mengembalikannya ke Terang. Ia cukup berhenti di tulisan tadi. Ia tak ingin membuka lebih banyak ke belakang.


Langit telah berubah rupa. Berbaju warna gelap. Lampu-lampu di KPTU menyala sempurna. Orang-orang melingkar di satu pojokan, saling berdiskusi. Ada yang hanya berdua di meja, seorang laki-laki dan perempuan. Si laki-laki memakai headset, terpekur pada layar laptop di depannya. Si perempuan asyik membaca buku. Ada juga yang sendiri tanpa peduli dengan siapa pun.


Noah masih bersama Maleo. Binder Terang masih ada di atas meja.


Di halaman terakhir, Noah menemukan sebuah foto keluarga. Seorang ibu, ayah, dan anak kecil berambut model pop. Yang menarik adalah foto sang ayah yang mukanya sedikit dicoret-coret, tapi masih terlihat mukanya.


Noah menelan ludah. Dia mengenal wajah itu. Dia mengambil botol mineral di atas meja, meminumnya hingga habis.


Mata Noah lurus menatap ke arah Tugu Teknik. Dari kejauhan, motor bebek dengan lampu sudah menyala masuk ke pelataran KPTU. Berjalan pelan. Noah hampir saja tak mempedulikan motor itu. Saat ia tahu bahwa ada Terang di belakang si pengemudi motor, tertawa lebar, mata Noah tak berhenti mengikuti motor itu hingga ke tempat parkir.


Noah memasukkan binder Terang ke dalam tas. Tak berniat untuk mengembalikannya malam ini. Dia menyumpalkan headset warna hitam ke telinganya, sementara Maleo terus berbicara. Entah mengapa, ia tak ingin mendengar apa pun saat itu.


# # #