
Noah tak muncul di pertemuan-pertemuan untuk membahas persiapan Ulang Tahun. Setiap pertemuan berlangsung, mata Terang menyelidik ke semua orang yang datang. Noah tidak ada di sana. Noah muncul seminggu sebelum acara ulang tahun Teknik Industri. Kemeja hitam, jeans hitam, sepatu hitam, dan kamera yang menggelantung di lehernya. Dia berdiri di luar lingkaran saat semua orang duduk dan mendengarkan Gema.
“Apa aku aja yang ngerasa, tapi kukira tidak. Kamu harus lihat sendiri. Aku pikir dia selalu melihatmu,” Kayla berbisik lirih di dekat telinga Terang. Terang mengernyitkan kening, tak mengerti. “Noah, dia selalu melihatmu. Dia menyukaimu?”
Terang terhenyak, memandang Kayla. Kayla tak menunjukkan tanda-tanda becanda. Terang ingin sekali memutar kepalanya sekarang, mencari tahu kebenaran. Tetapi, ia urung melakukannya. Jadi ia memilih untuk menunduk, pura-pura memperhatikan rundown acara yang tadi dibagikan oleh Janaka. Dadanya mendadak bergemuruh, dan ia sangat penasaran dengan ucapan Kayla.
“Dia sekarang duduk di belakangmu,” bisik Kayla lagi.
Terang benar-benar penasaran. Dia memutar kepalanya. Tepat di belakangnya, Noah sedang duduk tegak dengan muka datar melihatnya. “Apa yang kamu lihat?” tanya Terang dengan nada tinggi. Noah tidak menjawab. Terang memutar kepalanya lagi, lalu pura-pura menunduk, dan kembali memutar kepalanya ke belakang. “Apa yang kamu lihat?”
Noah hanya terkekeh kecil, lalu kembali sibuk dengan kameranya.
# # #
Pertemuan persiapan ulang tahun Teknik Indutri telah selesai. Noah tidak ada rencana untuk melakukan apapun. Dia bisa saja pergi ke Bundaran UGM untuk memotret, atau pergi ke Warnet 00.01. Ia sedang tak ingin melakukan keduanya..
Noah melihat Terang dari kejauhan. Gadis itu sedang menuntun sepedanya keluar dari parkiran, lalu menaikinya. Tasnya tampak penuh di punggung, seolah ia sedang kembali dari perang. Ia lebih mirip kura-kura sedang naik sepeda daripada seorang mahasiswi dari universitas ternama.
Noah menaiki vespanya, jauh di belakang Terang.
Rambut Terang tampak lucu terayun-ayun, dan itu benar-benar mirip ekor kuda. Laju sepedanya sangat lambat. Beberapa kali Terang tampak turun dari sepedanya dan memperbaiki rantainya yang lepas.
Tiga kali. Noah menghitungnya.
Rantai sepeda Terang bahkan sudah lepas enam kali ketika Noah belum keluar dari Fakultas Teknik. Saat sudah ada di Jalan Kesehatan di depan RS Sardjito, laju sepedanya tampak lebih kencang.
Vespa Noah tetap mengikutinya sambil terus berhitung. Dua puluh enam kali.
Sepeda itu berhenti di depan gedung dengan plang Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di dekat Stadion Mandala Krida, di Kota Baru. Terang memarkirkan sepeda, lalu ia masuk ke dalam gedung bercat biru. Vespa Noah berhenti di seberang jalan, di dekat gerobak penjual batagor dan es buah. Noah memesan sepiring batagor dan semangkuk es buah, dan menikmati keduanya di atas vespa. Matanya masih awas menatap gedung LBB.
Hampir satu setengah jam Noah menunggu sambil bermain PSP, akhirnya Terang keluar. Ia melambai kepada anak-anak SMP yang sedang dijemput oleh orang tuanya. Senyumnya tak pernah padam. Setelah semua orang dijemput, gadis itu kembali masuk ke gedung. Tak berapa lama keluar lagi dengan tas besar yang menggelayut di punggungnya. Dia mengendarai sepedanya lagi.
Noah kembali melihat adegan Terang turun dari sepeda dan memperbaiki rantainya yang lepas. Kali ini dua puluh tujuh kali hingga sampai ke depan sebuah warung di Pogung. Sepeda itu masuk ke tempat parkir, lalu Terang keluar dengan hanya memakai kaus. Dia menyapa orang di dalam warung burjo dengan sebutan Bunda.
Noah memarkirkan vespanya tak jauh dari warung itu. Dia bersembunyi di warung bakso yang tak jauh dari tempat itu. Langit malam tampak sendu, berlatar suara binatang-binatang malam. Nyamuk-nyamuk liar lapar, hinggap di tangan. Gigitannya kecil, namun menusuk hingga dalam. Suaranya berdenging di telinga, tapi tak cukup mengganggu mata Noah yang terus mengawasi gadis di dalam warung burjo yang sibuk membantu ibunya. Gadis itu kadang tertawa. Kadang ia bercakap riang dengan ibunya.
Satu kali Terang hanya duduk sambil mengucapkan beberapa vocabulary yang cukup keras. Kadang ibunya menimpali, menanyakan artinya. Si gadis menjelaskan. Lalu, dia berdiri, berlagak seperti seorang dosen yang sedang memberi mata kuliah di depan kelas. Kadang gadis itu berdendang kecil. Lagu yang tak Noah mengerti, tetapi sepertinya ia pernah mendengarnya di radio.
Malam semakin larut. Noah masih saja di tempatnya. Gadis itu kini sendiri. Ibunya masuk ke komplek kos-kosan. Terang tampak menguap beberapa kali, tetapi buru-buru ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir kantuk. Ia tersenyum, seolah menyemangati dirinya sendiri.
# # #
Tadi malam, aku seperti melihatnya.
Terang merenung di lobi kampus. Sejak pagi tadi, ia kepikiran terus. Mungkin tadi malam, rasa kantuk telah merasukinya, mencipta pikiran-pikiran aneh.
Ia terus melihatmu, apakah dia menyukaimu? Ucapan Kayla menjelma menjadi kalimat pendek yang terus bersemayam di pikirannya. Kalimat yang berjalan-jalan pelan di semua saraf otaknya. Tadi pagi, ia berharap pikiran itu sudah hilang karena lagi-lagi rasa lelah yang mendera. Namun, percuma. Saat di kampus, dan ia berpapasan dengan Noah di parkiran, ia lagi-lagi dapat mengingatnya dengan jelas.
Aku seperti melihatnya, bersama vespanya. Aku yakin, atau ini hanya pikiran-pikiranku sendiri. Terang menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin ini efek kelelahan setelah dua minggu menghadapi ujian mid semester.
Suasana hati Terang sedang tidak baik hari ini. Ia benar-benar sangat lelah dan mengantuk. Hari ini juga ‘hari pertamanya’.
Ia baru tidur dua jam dan nanti sore dia harus pergi mengajar. Belum lagi, hari ini ada meeting persiapan terakhir untuk ulang tahun TI. Membayangkan aktivitas hari ini, membuatnya ingin terbang saja ke awan, lalu duduk seorang diri. Mendengarkan lagu-lagu ‘Pure Saturday’ di telinganya. Hatinya akan kembali dingin, dan ia bisa tidur di awan yang lembut. Membayangkannya saja, membuat Terang bertambah mengantuk.
Suasana hati yang buruk itu, ditambah semakin buruk karena kehadiran Bara. Ia sebenarnya tak pernah benar-benar benci dengan Bara. Ia tahu, Bara sedang berusaha membuatnya tertawa, berbagi cerita, atau mengisi hari-harinya. Ia tahu seberapa berusahanya pria itu setiap waktu, bahkan sejak kali pertama mereka bertemu. Saat Terang datang di kos-kosan beberapa bulan lalu. Dia tidak bisa menolak setiap orang yang berusaha mendekatinya. Ia tidak pernah akan menolak, karena menurut Bunda sebagai seorang wanita kita harus menerima siapa pun yang ingin mendekati kita.
Bara pernah mengajaknya pergi menonton di Empire XXI, dan ia tidak menolaknya. Tetapi, di kencan pertamanya itu, pria itu sudah membuat Terang sangat tidak ingin di dekati.
Bara menggandeng tangan Terang setelah membeli tiket, atau mencoba untuk memegang tangannya saat di dalam bioskop. Terang sesekali mencoba berjalan menjauh, atau mendekap tangannya di dada.
“Filmya editingnya nggak terlalu bagus. Lihat animasinya.” Bara menoleh ke arah Terang yang tampak serius melihat film animasi di depannya. “Mengapa ada sutradara yang bisa bikin cerita kayak gini?”
Teramg hanya menoleh, tanpa koemntar apa-apa.
Terang sebenarnya memiliki banyak cerita untuk dibagi pada Bara. Ia sedang ingin membicarakan musik, masa kecilnya, apa yang ia suka, mengapa ia memilih program studi Teknik Industri. Namun, Bara justru selalu berkata ‘kalau aku...’, ‘aku juga pernah seperti itu’.
Terang menarik diri pelan-pelan dirinya. Ia tak pernah melupakan senyum setiap bertemu, tetapi ia juga ingin menunjukkan bahwa ‘aku sedang tidak ingin bertemu denganmu’. Ia akan tertawa kecil yang dipaksakan, dan ia berharap Bara akan mengetahui bahwa ia memaksakan tawanya, saat Bara melemparkan humor yang mungkin sebenarnya lucu. Tetapi Terang menganggap itu tidak lucu. Bara memamerkan motor sportnya yang baru, dan Terang tidak peduli. Bara menyukai makanan jepang di Malioboro Mall, dan Terang langsung mengatakan bahwa seleranya terlalu buruk.
Yang paling penting dari semua itu, mata Bara selalu terlihat berbinar saat melihat wanita lain. Padahal ada Terang di sampingnya. Jadi Terang memutuskan, Bara bukan siapa-siapa. Kecuali, dia hanyalah salah satu penghuni kos-kosan. Tak lebih.
Siang ini, di saat suasana hati Terang sedang benar-benar tidak baik, Bara datang dan langsung saja berbicara di samping Terang. Dia baru saja ujian Praktek Praktikum Sistem Produksi, dan ia menganggap bahwa praktek itu buang-buang waktu. Mahasiswa diminta untuk mengukur waktu pembuatan Tamiya, berpura-pura jadi vendor. Semua asistennya berubah menjadi srigala, dan Bara pikir itu terlalu dibuat-buat.
“Jadi tadi aku dapat tugas megang stopwatch, dan aku nggak konsen. Praktikum yang aneh, seharusnya para asdos bikin yang lebih menarik.” Bara masih bercerita tentang Praktikum Sistem Produksi. “Oh iya, malam minggu mau nonton bareng nggak?”
Terang menoleh dan memandang dengan wajah malas. “Ada persiapan untuk acara ulang tahun TI.”
“Hari Rabu?”
“Minggu depannya?
“Pengen sih, Mas, tapi maaf aku sudah ada janji dengan Kayla. Apak Mas Bara nggak mau ngajak yang lain aja?”
“Ehm, enggak, aku sedang pengen pergi sama kamu. Tapi kalo kamu sibuk, ya udah aku akan menunggu.” Bara tersenyum. Dia memegang tangan Terang. “Ke kantin yuk, aku traktir jus mangga,” Bara berdiri sambil menarik tangan Terang, membuat Terang ikutan berdiri.
Terang mengibaskan tangannya, muncul warna merah di kulitnya yang bersih. “Kamu nggak bisa ya lebih....lebih....sopan,” Terang membelalakkan mata, suaranya sedikit keras.
Beberapa mahasiswa yang ada di lobi menoleh.
“Oh maaf. Tapi pelankan suaramu, kamu bikin orang ngelihat kita.”
“Aku sengaja biar mereka denger. Pergilah, aku sedang ingin sendirian,” ucap Terang dengan nada ketus. Ia tahu ia sangat keterlaluan, mungkin ini efek ‘hari pertama’. Tapi, ia tetap melakukannya dengan sadar.
Bara memandang Terang dengan wajah memerah. Terang kembali duduk di kursi.
# # #
Noah keluar dari pintu perpustakaan yang langsung bertemu dengan lobi kampus. Ia baru saja membuat kartu perpustakaan, dan seharusnya ia tak membuatnya. Namun, di minggu pertama kuliahnya setelah ujian mid semester, Pak Bagyo memberikan tugas untuk mereview paper. Paper itu hanya ada di perpustakaan. Setiap mahasiswa tidak boleh menggunakan paper yang sama. Noah langsung berdoa agar semester ini segera berlalu.
“Kamu nggak bisa ya lebih....lebih....sopan...”
Noah mendongakkan kepalanya, melihat Terang sedang berdiri dengan wajah merah. Wajahnya tampak sangat kelelahan. Terang sempat melihat Noah berdiri mematung di depan perpustakaan. Noah membuang muka. Ia mengambil headset yang menggantung di lehernya, lalu memasangnya di kedua telinga.
# # #
Benar-benar hari yang buruk. Terang memejamkan matanya di tengah-tengah rapat persiapan ulang tahun Teknik Industri.
Ia menghela nafas berulang kali, mencoba menenangkan hatinya. Dia membayangkan gumuk pasir di belakang rumahnya di Parangtritis, suara desiran pasir yang berjalan melambat, angin sore yang membelai kulitnya. Dia mencoba menyanyikan Kosong-nya Pure Saturday dalam hati. Ia berdendang lirih di dalam hati.
Aku harus semangat. Aku selalu semangat. Hari ini menyenangkan. Hari ini sangat menyenangkan. Ia mengkonversikan nada suara di hati menjadi semangat membara yang menjalar perlahan ke darahnya. Ia teringat dengan buku The Secret. Apa yang kamu katakan, akan terjadi. Alam akan berkonspirasi untuk mendukung, hal-hal yang kamu pikirkan berulang-ulang.
Dia membuka mata perlahan dan tersenyum.
“Oh Terang, kamu menyetujuinya?” tanya Janaka yang duduk di depan kelas di ruang M6. Suaranya yang berat, berwibawa, dan khas menggelegar, membunuh angin dan desiran pasir yang bernyanyi di telinga Terang. “Ah, kamu tersenyum. Jadi kamu pasti setuju. Akhirnya kita nggak pusing lagi cari pengganti Sheila. Aku sempat pusing cari pengganti dia. Lalu aku teringat kamu,”
“Eh, apa, tunggu. Aku nggak mengerti.” Terang menatap Kayla, meminta bantuan.
Janaka mendekati Terang. “Sheila nggak bisa ngisi acara besok karena tadi siang dia kecelakaan. Untungnya dia nggak papa, hanya saja ia nggak bisa jalan untuk beberapa hari. Kita kehilangan orang yang mendampingi pemain gitar handal kita, Tuan Gema.”
Terang mengernyitkan kening. “Lalu?”
Gema, ketua Angkatan, ikutan berdiri dan mendekati Janaka. “Dan lalu, ketua acara kita yang handal ini,” Gema merangkul tubuh Janaka yang duduk tak jauh dari Terang.”bilang bahwa suaramu sangat indah. Dan yes, aku setuju. Kamu tahu kan, aku mengenalmu dengan baik. Lalu kita semua yang ada di ruangan ini setuju, kamu yang menggantikan Sheila.”
Mata Terang yang mengantuk tampak ingin keluar dari kelopaknya. “Menggantikan...mengggantikan Sheila? Menggantikan gimana maksudnya?”
“Nyanyi,” jawab Janaka.
“Kayla membenarkan kata-kataku tadi,” ujar Gema.
“Kayla?” Terang menoleh ke arah Kayla, menyatukan alis matanya.
“Jadi kamu setuju, kan? Latihannya bisa hari ini atau ndak besok, nanti jadwalnya kita atur sendiri aja. Minggu depan, aku harap kamu udah ready.” Gema dengan suara Suroboyonya bersemangat. Terang tampak terdiam di tempatnya. “Oke karena kamu diam, kita anggap jawabane ‘Ya’. Baik teman-teman semua mari kita lanjutkan rapat sore ini.”
Terang memejamkan mata dan berteriak dalam hati. Ia menoleh ke arah Kayla yang tersenyum jahil, dan ia benar-benar ingin membunuh gadis penikmat novel itu.
# # #
Noah memandang Terang yang sedang kebingungan menghadapi rekan-rekan di panitia Ulang Tahun Teknik Industri. Noah tertawa dalam hati. Apa kata orang-orang tadi? Suaranya bagus. Noah jadi teringat siang itu, ketika ia mendengar suara Terang dan ia berniat untuk tak mendengarkannya lagi. Semua orang tak sempurna. Terang membuktikannya. Ia cerdas, mungkin, tapi tidak dengan suaranya. Cih, mengapa aku jadi peduli?
“Noah, kamu setuju, kan?” suara khas Gema menggema, membuyarkan lamunan Noah.
Noah mendongak, semua mata kini terpusat padanya. “Apa?”
“Kamu setuju, kan?” Gema mendekat. “Bahwa suara Terang cukup oke dan bisa ngisi acara puncak Ultah TI nanti?”
Noah tak sempat berpikir apa-apa untuk menjawabnya. Dia menoleh ke arah Terang, kemudian tersenyum kecil. “Ya, kurasa...” Noah ingin tertawa dalam hati sebenarnya, tapi ia mencoba untuk tenang. “kurasa semua orang akan menyukainya.”
# # #