MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 13



Kantin JMTI terletak di belakang gedung. Di depannya tumbuh pohon-pohon ketapang yang tinggi. Daun-daunnya yang kuning setiap hari mengotori halaman kantin yang cukup luas. Biasanya halaman itu dipakai untuk IKI (Inisiasi Kampus Industri) untuk mahasiswa baru. IKI itu semacam OSPEK Program Studi. Biasanya terjadwal satu minggu.


Sore ini, halaman kantin telah berubah. Tak ada lagi daun-daun ketapang yang berserakan, berganti menjadi lampu-lampu indah berwarna kuning yang menjadi ciri khas Teknik Industri UGM. Lampu-lampu itu ada yang menggantung di dahan-dahan pohon, ada yang berbentuk obor dan ditata rapi di samping kanan kiri panggung. Panggung berukuran 4 x 5 membujur di depan kantin berlapis karpet warna hitam. Alat-alat band lengkap terjajar rapi di atasnya. Di belakang panggung, ada backdrop besar bertuliskan dengan huruf tebal “10 TAHUN IEGMUBETTER UNTUK INDONESIA”. Iegmubetter merupakan kependekan dari Industrian Engineering Gadjah Mada University Better. Satu kalimat yang nantinya akan selalu diingat semua alumni saat lulus. Kursi-kursi dari kreasi ban dan kaleng minyak yang sudah dicat kuning tersebar acak di depan panggung.


Saat langit telah menjelma menghitam, lampu-lampu yang menyala mengesankan suasana elegan dan romantis.


Sejak sore, panitia telah sibuk mempersiapkan acara. Setelah sholat maghrib, mahasiswa dan dosen mulai berdatangan menggunakan pakaian jeans yang dipadukan kemeja kuning.


Noah dan Maleo telah bekerja, mengabadikan momen-momen indah. Noah bertugas memotret, sementara Maleo mengambil video.


Dosen-dosen duduk membaur dengan para mahasiswa. Mahasiswa semua angkatan datang dengan tawa senang. Malam itu, semua semangat bercampur menjadi satu.


Noah menunggu malam semakin larut, ia berharap acara segera selesai. Ia tak peduli dengan sambutan dari Pak Bagyo yang menjadi Ketua Prodi, ia tak terlalu mendengarkan saat Pak Budi yang didaulat menjadi Ketua Pembimbing acara ini menyampaikan terima kasih pada panitia, atau ia tak terlalu bersemangat mendengarkan Janaka berpidato panjang, meskipun kedengarannya lelaki itu sangat pandai berpidato, ia juga tidak menikmati games-games dari MC. Ia bahkan tak mendengarkan ketika ada alumni yang datang kemudian berbagi kisah suksesnya setelah lulus dari TI UGM. Telinga Noah tersumpal headset kecil yang kabelnya tersembunyi di balik kemejanya. Matanya awas membidik, mencoba menangkap momen-momen yang tak datang dua kali.


Aku menunggu suaramu bernyanyi malam ini. Noah tersenyum jahil. Apakah ini keterlaluan? Tidak, ia merasa ini tidak keterlaluan. Mungkin gadis itu telah berlatih keras. Mengubah suaranya menjadi suara yang pantas untuk didengar. Noah tertawa dalam hati.


Saat nama Terang dan Gema dipanggil oleh MC, dan semua orang bertepuk tangan, Noah menurunkan kameranya. Ia terpaku melihat Terang naik ke atas panggung dengan gaun putih selutut yang anggun.


Lampu-lampu warna kuning tiba-tiba mati, menyisakan lampu sorot warna putih di atas panggung. Membuat Terang dan Gema menjadi pusat perhatian sesaat.


Mata Noah tak berkedip sesaat. Tangannya reflek menyopot headset yang menempel di telinga.


# # #


 


 


Terang seperti sedang naik di atas kuda yang sedang berpacu meninggalkan lawannya. Jantungnya seperti ingin lepas. Semua mata memandang dirinya dan Gema.


Mengapa lampu-lampu harus mati, dan hanya lampu sorot putih ini yang menyala? Apakah mereka pikir ini adalah konser megah seorang diva? Terang sedang mengontol dirinya.


Terang sama sekali belum pernah tampil di manapun. Ia memang senang menyanyi, tapi cukup hanya dia saja yang mendengarkan. Mungkin satu-satunya orang yang bisa mendengarkan adalah Bunda. Bunda sering menyanyi sambil menjahit, suaranya lembut saat menyanyikan lagu-lagu yang beliau suka. Saat Terang bilang bahwa teman-teman di kampus meminta dirinya untuk tampil di ulang tahun kampus, Bunda jelas-jelas sangat bersemangat dan sumringah. Beliau mendadak menjadi seorang mentor setiap malam ketika Gema dan Terang berlatih di warung burjo. Bunda menyarankan sebuah lagu, dan Terang menyetujuinya karena memang nada dan liriknya bagus. Gema pun setuju, meskipun ia harus menghafal kembali kunci gitar lagu tersebut. Mereka sepakat untuk membawakannya secara akustik.


“Bunda yakin ini sangat keren. Nggak-enggak, ini sangat istimewa. Bunda akan bikin baju untuk kalian agar serasi dan pas,” kata Bunda malam itu selesai melatih mereka.


“Bunda, tapi bukan batik,” kata Terang.


“Oh, ya?” Bunda memandang Gema, dan Gema tertawa.


Sekarang Terang dan Gema berdiri di tengah panggung. Gema sangat tinggi dan Terang hanya sepantaran dengan lengan Gema. Saat mereka membungkuk, memberi salam, sontak semua orang bertepuk tangan riuh.


Aku harus bisa. Terang memberi aba-aba pada Gema yang sudah duduk di kursi. Gema memetik gitarnya pelan. Gadis-gadis yang duduk di depan berteriak, meneriakkan nama Gema dan Terang bersamaan. Lalu hening. Gema memulainya dengan sebuah intro, dan semua orang sontak kembali bertepuk tangan. Intro mengalun lembut. Sangat lembut. Saat suara Terang masuk, semua orang terdiam.


# # #


 


 


Noah mengangkat kameranya kembali. Matanya membidik dengan sangat hati-hati. Dia memutar zoom dan di lensanya hanya terlihat wajah Terang yang sedang bernyanyi. Dengan latar belakang hitam gelap dan gaun yang putih, membuat Terang tampak bersinar. Beberapa kali, Noah menekan tombol kameranya.


Terang tersenyum. Noah memotretnya.


Mata Terang berbinar. Noah kembali memotretnya.


Saat lagu itu selesai, semua orang berdiri dan bertepuk tangan. Noah melihat Terang membungkuk memberi salam. Gadis itu tersenyum.


Saat Noah mengamati beberapa foto Terang, ia tersentak. Dia melihat seseorang yang sangat ia kenal. Mata itu. Hidung itu. Noah menelan ludah. Tapi entah mengapa rasa benci kepada orang itu melebur karena senyuman Terang.


Malam ini, dia jatuh cinta.


# # #


 


 


Bagi Terang, malam ini berakhir sempurna. Semua orang memuji penampilannya. Dia hanya bisa membalas dengan senyuman. Acara ulang tahun berakhir pukul 10 malam. Orang-orang masih saja berkeliaran di sekitar kampur. Saling bercerita, menghabiskan malam minggu ini sebelum hari Senin bertemu dengan dosen-dosen kembali.


Jam sudah menunjuk ke angka 11 lebih, saat Janaka mengumpulkan semua anak panitia di depan panggung. Dengan lantang dia mengucapkan terima kasih atas kerja sama saat persiapan dan hari ini. Janaka bilang bahwa semua dosen yang hadir sangat gembira. Dia secara khusus mengucapkan terima kasih untuk Terang yang sudah mau menggantikan Sheila.


Tetapi, hidup memang tak pernah ada yang sempurna. Tak ada pesta yang usai.


Semua panitia masih berkumpul di depan panggung, ketika Bara datang di tengah-tengah mereka. Jika ada orang yang berdiri di samping cowok itu, pasti dia akan langsung mencium aroma alkohol yang menyentak hidung.


“Pasti kalian semuanya....semuanya...gembira..gem...bi...ra, karena acaranya telah selesai dan sukses.” Langkah Bara limbung, tubuhnya tidak seimbang. “Acara romantis memuakkan dan ditutup dengan penampilan yang sangat luar biasa dari gadis pujaanku, gadis pujaan hatiku, Terang Azzahra, My Sweet Heart. Aku tahu, aku tahu suaramu begitu indah. Tapi...” Bara mendekat ke Terang. Ada beberapa mahasiswa yang mencoba membantu tubuh Bara yang seperti ingin jatuh melayang, namun tangan Bara mengibaskannya. “kalian tahu nggak sih, kalo My Sweet Heart, Terang Azzahra yang manis, adalah anak haram? Ayahnya nggak ada yang tahu. Ibunya sekarang hidup merana seorang diri di Pogung dan berjualan Burjo. Ibunya menggoda pemilik kos-kosan, seorang lelaki tua yang belum beristri. Dia...” Bara menunjuk wajah Terang dengan telunjuk. “sangat menyedihkan hidupnya.”


Terang berdiri kaku. Seperti ada ribuan jarum pentul yang mendadak menusuki semua bagian tubuhnya. Ada yang besar menusuk ubun-ubun, ada yang kecil yang mengobrak-abrik perutnya. Ia merasakan nyeri yang sangat dalam. Senyumnya memudar. Mata mengering seperti telaga di musim kemarau karena tak berkedip. Air matanya mengeras, namun sebenarnya ia ingin sekali menangis. Tetapi, ia tak bisa menangis. Dia hanya terpaku di tempat. Tangannya mencengkeram tangan Kayla, ia mencari penyangga tubuhnya yang semakin ringan.


Terang tak tahu apa yang kemudian terjadi. Matanya mengabur. Ia merasakan mulutnya kering, kemudian ada rasa asin yang menyusup.


Detik kemudian, ia melihat Noah berlari cepat ke dekat Bara dan menghantamkan kepalan tangan ke muka cowok itu. Saat tubuh Bara limbung ke conblock, Noah menjejakkan sepatunya di dada Bara. Noah menghujani tubuh Bara dengan tendangan bertubi-tubi. Darah muncrat ke mana-mana.


Terang tak ingin melihat itu. Dia berlari menjauh dari kerumunan orang yang berusaha menarik Noah.


# # #