MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 41



Noah harus menjalani cuci darah. Tubuhnya semakin memburuk kondisinya. Suatu sore selesai praktikum simulasi—praktikum yang sangat ia cintai, dan ia memaksa untuk masuk—dia terjatuh di parkiran motor. Dia dibawa ke RS Sarjito menggunakan mobil Maleo. Noah tak sadarkan diri selama dua hari. Di hari pertama, Nindi dan Baskara datang. Nindi langsung mengisolasi Noah. Noah dipindahkan ke RS di Singapura pada hari kedua.


Terang belum sempat mengucapkan apa-apa.


Setelah hari itu, Terang tak melihat Noah lagi. Suatu pagi hari yang cerah, ia mendapatkan kabar bahwa Noah telah pergi. Saat semua cita-citanya ingin ia perjuangkan bersama lelaki itu.


Sehari sebelum peristiwa itu, Noah datang ke kosannya. Dia bilang bahwa mungkin dia akan pindah ke Jakarta, karena dia merasakan tubuhnya semakin tidak mendukung. Mami belum tahu keadaannya, setelah pertengkaran malam itu, Noah menghilang. Dia hanya bilang bahwa dia butuh waktu.


Hari itu, Noah semakin terlihat pucat. Namun dia masih bisa mengendari vespanya.


“Terang, kabulkanlah permintaanku.”


Noah meminta Terang membawanya ke salon untuk creambath bareng. Dia tak sedikit pun menyinggung tentang penyakitnya. Dia justru bercanda dengan mbak-mbak salon.


“Ini mungkin terakhir kalinya aku creambath,” kata Noah.


“Aduh Mas Noah kan sudah jadi pelanggan tetap. Memangnya mau kemana?” tanya Mbak Salon dengan genit.


“Dia melarangku, katanya aku kurang jantan kalo sudah keluar dari sini.”


Setelah Noah mengatakan itu, mbak yang memegang kepala Terang mendadak memijit dengan keras. Terang sempat kesakitan, tapi Noah justru tertawa. Noah, dia memang menjadi favorit di salon ini.


Setelah itu, dia meminta dibelikan jus strawberry yang sudah dicampur oleh yogurt. Terang melarangnya. Semenjak tahu Noah sakit, Terang mendadak keranjingan mencari tahu tentang penyakit ginjal. Begitu juga dengan semua pantangan makanan dan minuman.


“Aku tak akan mengijinkanmu mimum sembarangan. Dan kamu memintaku untuk menambahkan yogurt? Kamu gila.”


“Terang sayang, ginjalku sudah sekarat. Ibarat mesin itu sudah tidak akan berfungsi.”


“Ketika kamu meminum yogurt berarti kamu mempercepat ginjalmu untuk rusak.”


“Ini sudah rusak. Kamu tahu itu.”


Terang tak bisa melarang lagi. Pun ketika Noah mengajaknya untuk ke Mas Kobis, dia juga tidak bisa mencegah.


“Aku akan bahagia jika kamu mengabulkannya.”


Hari itu, adalah hari terakhir mereka bersama-sama. Noah meminta Terang untuk mengajaknya ke atas atap. Di sana mereka duduk saja tanpa bicara. Noah memasang earphone di telinganya, lalu Terang melepasnya satu dan memasang di telinganya.


“Karena kamu sama dengan Watanabe sama-sama terobsesi oleh sumur.”


Noah menggeleng. “Aku hanya terobsesi olehmu, kamu tahu itu.” Dia tersenyum. “Cobalah menebaknya.”


“Banyak adegan sex?”


Noah tertawa. “Itu salah satunya. Kadang aku membayangkannya bisa melakukannya bersamamu.”


Terang memukul lengan Noah pelan. “Apakah itu obsesimu?”


“Aku bercanda.”


“Jadi apa alasannya?”


Noah menatap langit yang mulai menghitam. Harum oseng-osen mercon dari restoran yang berada di seberang rumah Lik Ilham tampak menggirukan. “Karena kisah itu tidak selesai. Sebagai pembaca kita diberi keleluasaan untuk melanjutkan cerita itu versi kita. Karena aku sebenarnya ingin kisahku tidak pernah usai.” Noah terdiam. Ia melanjutkan, “Terang, aku ingin membuat kesepakatan padamu.”


“Mengapa kamu jadi semakin melankolis?”


“Dengarkan aku.” Dia memutar tubuhnya. “Jika aku sudah tidak ada di sampingmu...”


“Noah...”


Noah menempelkan telunjuknya ke bibir Terang. “Jika aku sudah tidak ada di sampingmu, tetaplah menjadi Terang yang seperti ini. Selalu semangat mengejar cita-cita. Aku ingin kamu nanti datang ke makamku sambil cerita bahwa kamu telah S2 di GT.”


“Noah...” kata Terang sedikit terpekik.


“Dan berjanjilah untuk mencintaku. Meski pun aku akan berhenti mencintaimu.”


# # #