MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 17



Noah sedang menyepi di gang antara Kantin dan Lab Sistem Produksi. Telinganya tersumpal headset warna hitamnya. Matanya terpejam, seolah ada sesuatu yang sedang tergambar dalam layar hitam di dalamnya. Di dekatnya, ada sebotol air mineral satu meter yang sudah tinggal separo.


Sore itu, Jogja tampak redup. Cuaca tidak menentu beberapa tahun terakhir ini. Sepertinya efek pemanasan global telah meluas begitu cepat, merebak seperti racun ubur-ubur yang ganas. Mengigit di ujung kaki, lalu timbul nanah di paha dan betis.


Nafas Noah tampak pendek-pendek, ia kelelahan seperti habis dikejar angsa. Semalam dia bermain futsal hingga pukul sebelas malam. Lalu dia diajak Maleo untuk pergi main games di 00.01 hingga pukul 3 pagi. Dia baru bangun pukul 10 dan melewatkan satu mata kuliah pagi, tetapi dia harus pergi ke kampus karena ada kuliah jam satu siang. Dia sebenarnya tidak ingin pergi, dia ingin tidur, badannya serasa mau lepas satu-satu. Tetapi ia ingat, ada kuis Pengantar Teknik Industri yang harus ia ikuti.


Ponselnya berdering. Dari Maleo.


“Nggak bisa, kemarin kita baru aja futsal.” Dia mengambil botol minumannya, lalu meneguknya. Tenggorokannya menjelma menjadi padang pasir di timur tengah. Pantas saja suaranya terdengar parau dan kering.


“Tandingnya nggak hari ini, Noah. Tapi lusa. Hari Sabtu pagi. Lo pengen angkatan kita kalah sama angkatan 2006?”


“Apalagi pagi, gue kan jarang bangun pagi.”


“Gue yang akan jadi pawangnya, gue bangunin.”


“Masih banyak orang yang lebih jago.”


“Ayolah. Gue dan Gema sepakat kalo lo harus ikut.” Maleo masih membujuk.


Noah menghela nafas kecil. “Baiklah. Tapi aku cadangan,” katanya kemudian.


“Sip. Tak ada masalah, yang penting lo datang dulu.”


Noah menutup teleponnya, ia beranjak dari duduknya. Ia putuskan untuk kembali ke kosan dan tidur. Ia benar-benar sangat lelah. Tetapi, saat di parkiran, dia melihat Terang sedang berdiri seorang diri di dekat sepedanya.


Pasti rantainya rusak lagi, pikir Noah.


# # #


 


 


Sore itu, tampak syahdu saat Terang ada di jok belakang vespa Noah, menembus Jalan Kesehatan, Jalan Kaliurang, lalu menuju Kota Baru yang penuh dengan pohon-pohon rindang. Janaka sedang ada rapat HMTI, dan Kayla sedang pulang ke Bandung karena neneknya sakit. Mengharapkan sepedanya untuk mengantarkan sampai Kota Baru? Terang menghela nafas kecewa. Jadi sore ini, ia terpaksa menerima tawaran Noah karena dia tak ingin terlambat bertemu dengan murid-muridnya di LBB.


Vespa Noah membelah jalan di depan gerbang UGM. Di belakangnya, berdiri dengan gagah Merapi yang tampak sedikit tertutup awan sore yang menghitam.


“Kamu nggak capek setelah seharin kuliah, dan lanjut ngajar?” tanya Noah iseng. Vespanya berhenti di perempatan Sudirman, di depan mereka berdiri toko buku Gramedia.


“Justru aku selalu semangat setiap bertemu mereka. Mereka seperti doping. Sesuatu yang selalu membuatku semangat.”


Terang tak meminta Noah untuk menungguinya sampai dia selesai mengajar. Namun, pria itu sudah ada di parkiran lagi saat dia keluar dari gedung LBB malam harinya. Masih mengenakan pakaian yang sama. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Terang.


“Menunggumu,” jawab Noah datar. “Aku lapar. Kamu nggak lapar?” tanyanya masih dengan nada datar.


“Aku harus pulang, aku lelah dan sedikit pusing.”


“Lapar memang selalu membuat lelah dan pusing. Jadi, pakailah ini!” Noah memberikan helm warna putih bergaris hitam kepada Terang. Terang menerimanya. “Nggak akan lebih dari satu jam untuk makan. Lekas naik.”


Terang tersenyum sambil membuang muka. Dia naik ke jok belakang vespa Noah.


“Tapi aku nentuin kita makan apa,” kata Terang. Noah setuju.


Vespa Noah melaju ke arah UGM kembali, lalu berbelok ke arah Gejayan. Tepat di satu sudut Fakultar Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), di ujung gang yang hanya muat satu mobil, vespa itu berhenti. Ada tenda tempat makan yang sangat ramai di sana. Tempatnya hanya di pinggiran jalan, tampak sumpek, tetapi motor yang parkir di sana berjajar banyak. Ada spanduk dominan warna hijau dengan tulisan besar-besar dan langsung bisa terbaca: SPESIAL SAMBAL BAWANG ‘MAS KOBIS’.


“Ayo, kita harus cepat karena pasti nggak dapat tempat duduk,” ajak Terang. Dia sudah duluan masuk ke dalam warung makan itu, disusul oleh Noah.


Terang memesan ayam geprek dan sambal bawang dengan capai 25.


“25 biji?” tanya Noah dengan muka membelalak. “Nggak sakit perut?”


“Kenapa? Kamu mau juga?” Noah menggeleng. Lanjut Terang, “Aku sudah pengalaman, jadi sekarang selalu ada obat sakit perut di tasku.”


Noah membolak-balik menu. Kemudian dia berkata kepada pelayannya. “Apa yang spesial di sini?”


“Ayam gepreknya Mas.”


“Di sini yang spesial sambal bawang. Nggak mau coba?”


“Aku mesen yang jarang dipesan orang,” kata Noah sedikit ketus. Lanjutnya, “Cabainya satu saja.”


“Satu aja?” tanya petugas, seolah tidak yakin. Noah menyatukan alisnya. Petugas itu kemudian pura-pura menulis. “Minumnya?”


“Jus strawberry. Ada yogurt nggak? Campurkan jika ada.”


Pelayan menggeleng. “Jus strawberry aja ya berarti.”


Terang tertawa saat Noah mengaku bahwa sejak kecil dia tidak bisa makan pedas. Mukanya bisa mendadak menjadi merah dan berkeringat jika kepedasan.


Terang memaksa Noah untuk mencoba sambal bawang satu cabai, karena menurutnya sambal bawang Mas Kobis yang paling enak se-Jogja. Noah hanya menyentuh dengan ujung sendok, lalu mencicipinya.


“Mukamu sungguh lucu,” kata Terang tertawa melihat muka merah Noah.


“Kamu sering ke sini?” tanya Noah.


Terang mengangguk mantap. Ini memang tempat favoritnya.


Pukul delapan mereka pulang. Vespa Terang menjelajah jalan UGM yang berkaving blok rapi.


“Noah, sabtu ini ada acara?” tanya Terang. Noah belum menjawab. Lanjut Terang. “Bunda dan aku ingin ke rumah di Parangtritis. Bunda berangkat besok. Aku biasanya berangkat hari Sabtu pagi-pagi. Biasanya juga ada Janaka jemput, tapi dia lagi nggak bisa. Jadi, kamu bisa menemaniku?”


# # #


 


 


Noah menghentikan vespanya. Terang sempat ingin terjengkal, spontan dia menarik jaket hitam Noah, tetapi karena kurang kuat tarikannya dia memegang pinggang Noah. Noah memutar kepala, memandang Terang yang masih tampak kaget.


“Menemanimu ke Bantul?” tanya Noah dengan wajah sumringah.


“Tentu saja. Kamu belum pernah ke sana, kan?”


Noah menggeleng. Dia tentu saja ingin ke sana, apalagi Terang yang mengajak. Tetapi cahaya mukanya mendadak meredup karena ia ingat janjinya dengan Maleo tadi sore.


“Tapi kayaknya aku nggak bisa,” kata Noah kemudian. Dia berkata pelan dan datar seperti biasa. Noah membalikkan badan, hendak menjalankan vespanya lagi.


Terang tidak menanggapi jawaban Noah tadi.


Noah berbalik lagi memandanginya. “Harus pagi-pagi berangkatnya?”


“Tentu. Agar tidak terlalu siang sampai di sana. Lagian udara pagi di sana sangat bersih.”


“Baiklah.”


“Baiklah?” alis mata Terang terangkat.


“Iya, baiklah. Noah ikut.”


“Tapi tadi kamu bilang nggak bisa.”


Noah mematung, lalu tersenyum. “Angin malam telah mengaburkan pendengaranmu, Anak Muda. Tenang saja, aku bisa mengatasi semuanya.” Dia tersenyum, kemudian lanjutnya. “Tetapi, ada satu syarat.”


# # #