
Ujian mid berlangsung tenang. Kampus JTMI mendadak damai. Para pemburu nilai mulai mengejar catatan dari orang-orang yang rajin mencatat. Tempat fotokopi di Jalan Kaliurang selalu penuh oleh mahasiswa-mahasiswa yang mengopi materi ujian. KPTU tidak mati selama 24 jam. Ada juga yang belajar kebut semalam di kosan-kosan teman. Antrian belajar mengular. Semua mengejar nilai sempurna.
Terang mulai melupakan masalah bindernya.
Dia sibuk belajar dengan beberapa teman, bahkan jadwal tidurnya mulai berkurang. Ia benar-benar penuh semangat. Ia boleh saja terbatas dalam hal dana, kalah dengan teman-temannya yang memiliki fasilitas lengkap di kampus. Bagi Terang, keterbatasannyalah yang membuatnya lebih bersemangat. Hal itu yang diajarkan oleh Bunda sejak kecil. Kata Bunda, tidak ada batas-batas dalam hal mencari ilmu. Semua orang punya kesempatan yang sama.
Bunda pernah bilang bahwa ada dua tipe orang yang lahir ke dunia. Orang yang lahir beruntung dan orang yang harus bekerja lebih keras agar mendapatkan keberuntungan. Dua-duanya memiliki ujian masing-masing, kepanikan masing-masing, masalah masing-masing. Terang kebetulan lahir sebagai nomer dua, sehingga ia harus bekerja lebih keras.
Terang mengikuti ujian dengan baik. Minggu depan tinggal satu ujian lagi, yaitu Logika Pemrograman. Mata kuliah itu mempertemukannya dengan Noah. Kelas dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok diminta untuk membuat logika program Pascal sederhana untuk ujian mid. Satu kelompok mendapat satu soal pertanyaan yang harus dipecahkan. Soal mid semester akan berhubungan dengan tugas itu.
Saat ujian Logika Pemrograman hendak dimulai, Terang terpaksa kumpul satu kelompok di KPTU memecahkan soal pemrograman yang diberikan. Soal itu harus dipraktekkan nanti di komputer di laboratorium komputer. Satu orang akan mendapatkan satu komputer.
Soal itu sangat sulit. Di luar dugaan Terang, Noah justru yang kali pertama membuat programnya bisa di-RUN. Semua anggota kelompok meminta diajari olehnya. Hanya Terang yang masih berusaha seorang diri memecahkannya.
“Butuh bantuan?” tanya Noah sambil mengamati laptop Terang yang masih salah logikanya. Terang menggeleng. “Sebagai permintaan maaf,” kata Noah sambil tersenyum.
“Baiklah,” kata Terang, menyerah. “Tapi ini belum sepadan dengan kasus binder.”
# # #
“Kamu kenapa?” tanya teman kelompok Noah.
Noah tampak meringis memegangi perutnya. “Entahlah.” Noah tak tahan dengan perutnya yang berontak. Ia teringat tadi malam dia begadang main games sampai jam empat pagi. Dia hanya tidur dua jam. Pagi-pagi Maleo membangunkannya. Noah terpaksa meminum kopi untuk mengusir kantuk, tapi sepertinya kopi membuat perutnya sakit pagi ini.
Ujian akan berlangsung 30 menit lagi. Para asisten dosen sudah masuk ke ruangan dan memeriksa para mahasiswa. Tidak ada yang boleh membawa catatan. Soal diberikan, mereka diminta memecahkan kodenya dan mencoba terlebih dahulu di komputer masing-masing.
Noah berlari ke toilet. Perutnya hampir meledak. Hampir sepuluh menit dia ada di dalam toilet. Saat ia keluar, ia melihat Terang berdiri di depan toilet.
# # #
Saat ujian berlangsung. Semua orang tampak sibuk dengan soal di depan mejanya masing-masing. Soal yang diberikan dua buah. Satu soal mirip dengan yang mereka pecahkan bersama kelompok mereka, satu lagi soal yang benar-benar baru. Terang tampak memutar otak untuk memecahkan soal itu.
Satu jam berlalu. Kelas tampak hening. Semua orang sibuk menatap layar komputernya. Mencoba me-running program yang mereka tulis. Belum ada yang berhasil. Waktu tinggal 30 menit.
“Periksa pekerjaan kalian sebelum meminta asisten untuk memeriksanya,” kata asdos. Seseorang menarik kursinya. “Ada yang sudah selesai rupanya.”
Semua mata beralih dari layar komputer ke asisten dosen, lalu ke arah kursi yang berbunyi. Terang menoleh karena menyadari bahwa Noahlah yang menarik kursinya.
Asisten mendekati Noah. “Sudah selesai?”
“Periksalah dengan cepat biar gue bisa cepat keluar.”
Asisten gantian duduk di depan komputer Noah. Matanya tajam mengoreksi setiap kode yang ditulis oleh Noah. Ketika asisten memencet tombil RUN, program itu dengan cepat bekerja. “Kamu sudah selesai. Silakan meninggalkan kelas.”
Mata Terang mengekor punggung Noah yang berlari keluar dari Laboratorium Komputer.
# # #