
Tidak biasanya Noah bangun sepagi ini. Pukul lima lebih tiga puluh menit. Padahal dia tidur sangat pagi. Jam tiga lebih beberapa menit. Ia tidur dalam gelisah, beberapa kali ia terjaga. Tepat pukul lima lebih tiga puluh menit, dia duduk di atas kasur sambil mengucek mata. Ia memutuskan untuk tidak merebahkan badan lagi. Ada satu suntikan semangat pagi ini yang membuatnya bergegas bangun dan segera berbenah untuk pergi.
Pukul tujuh lebih, dia sudah siap di depan gerbang kosan. Vespanya sudah ia panaskan. Rambutnya disisir rapi. Kaus warna putih polos dipadukan dengan celana tiga perempat dan Converse warna hitam putih. Jaket hitamnya menggantung di kemudi vespa. Pagi itu, ia mandi dan memakai Montblanc. Sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Terang menghampirinya beberapa menit kemudian. Dia memilih kaus warna kuning terang yang dipadukan dengan jeans panjang dan sepatu kets. Rambutnya masih dikucir kuda agak menyamping, tetapi lebih rapi.
“Kamu lebih fresh hari ini,” kata Noah melihat penampilan Terang.
Terang mengangkat bahu, dia tersenyum sedikit dipuji demikian. “Aku selalu menyenangkan, kamu tahu itu.” Dia tertawa. “Kamu juga,” katanya. Dia menarik nafas, harum maskulin dari tubuh Noah sempat membuat jantungnya memacu lebih kencang.
Sepanjang perjalanan, Terang lebih banyak bicara. Mereka melintasi jalan lingkar barat Jogja, menghindari lewat tengah kota yang padat di hari Sabtu. Di jalan lingkar barat, biasanya lebih sepi. Terang kadang bernyanyi, atau kadang bilang bahwa Noah harus lebih cepat mengendarai vespanya. Noah memang sengaja memperlambat.
Noah baru menyadari bahwa jenis suara Terang adalah tipe nyaring. Tidak terlalu nyaring, tetapi nyaring yang renyah. Bagaimana mungkin suara nyaring renyah itu bisa berubah menjadi sangat bagus ketika menyanyi. Gadis itu tak pernah berhenti bicara, selalu bicara apa saja yang dilihatnya. Noah melupakan perasaannya tadi malam, kegundahan, dan kebingungannya.
Vespa Noah membelah Jalan Bantul yang rindang. Pohon-pohon mahoni besar tumbuh di kanan kiri jalan, membatasi dengan jalur lambat. Noah merasa angin-angin merasuki tubuhnya hingga membuat damai. Damai yang tak bisa digambarkan saat ini. Dia tersenyum. Dia mulai bisa merangkak dari sumur dalam yang digambarkan oleh Naoko kepada Watanabe2. Sumur yang entah di mana letaknya, sangat misterius. Tetapi, Haruki Murakami bisa menggambarkannya dengan detail yang jelas. Noah bisa mengingatnya, membayangkannya. Karena bertahun-tahun, dia terjebak di dalamnya. Hanya melihat ke atas, namun tak bisa untuk merangkak naik. Tetapi kini, ia bisa melakukannya. Tak lagi ia melihat padang rumput, ilalang, dan semak di sekitar sumur misterius itu. Tetapi dia melihat padang bunga indah, di dekat pantai.
Sebelum melewati jembatan Kretek yang membelah sungai Opak dan berlatar belakang Pegunungan Seribu yang hijau memanjang, Terang meminta berhenti. Dia meminta ijin pada Noah untuk berdiri di step belakang vespa. Dia ingin berdiri sambil merentangkan tangan. Dia bilang, “Ini sangat menyenangkan, suatu saat kamu harus mencobanya.” Noah tidak mengijinkan karena terlalu berbahaya. Tetapi Terang tak peduli dan melakukannya. Dia merentakan tangan, lalu menghirup udara panjang-panjang.
“Aku menyukainya.”
“Dasar keras kepala,” kata Noah, meskipun dia ingin juga melakukannya. Sepertinya menyenangkan berdiri, menghirup udara segar sepuasnya, dan merasakan kebebasan. Tidak peduli dengan orang-orang di sekitar, tidak peduli ke mana arah hidupnya, dan tidak peduli apa pun yang akan terjadi.
# # #
Sore hari, Terang mengajak Noah ke gumuk pasir di belakang rumah Lik Giyono. Sebenarnya kalimat ‘di belakang rumah’ itu adalah hiperbola. Mereka sebenarnya harus berjalan kira-kira lima ratus meter. Tetapi, anak-anak kampung sini selalu bilang gumuk pasir belakang rumah. Acara di Lik Giyono sudah selesai sejam sebelumnya, dan sekarang mereka bebas melakukan apapun. Gumuk itu masih sama seperti saat ditinggalkan. Rumput-rumput Lari yang kering, lepas dari batangnya, saling mengejar di atas pasir.
Semburat warna jingga mulai mengubah warna biru di langit. Menimbulkan efek keemasan yang cantik. Matahari masih berani menampakkan diri, berbentuk bulat dengan warna jingga memudar. Tidak terlalu bagus, tetapi tetap menarik untuk dipandang.
Terang sudah ganti dengan celana pendek dan sandal Swallow biru. Noah pun mengganti Converse-nya dengan sandal yang ia pinjam dari Terang. Mereka duduk di atas gundukan pasir yang paling tinggi, tempat yang biasa digunakan untuk Manasik Haji anak-anak sekolah di Jogja. Dari tempat itu, mereka bisa melihat gulungan-gulungan ombak di pantai.
Mereka duduk berdampingan, berjarak beberapa centi. Tangan mereka yang memisahkan tubuh. Seperti dua orang remaja SMA yang duduk bersama, dan malu-malu untuk memegang tangan lawan duduknya.
“Noah, aku sangat penasaran. Apa lagu yang kamu dengarkan? Kamu selalu membawa headset ke mana pun kamu pergi,” kata Terang setelah mereka duduk berdua dan selesai membahas acara tujuh bulanan anak kedua Pak Lik Giyono. Noah baru pertama kali ikut acara adat tujuh bulanan di desa. Kata dia, itu seru.
“Lagu?” dia mengernyitkan kening. Arah mata Terang memandang headset yang melingkar di lehernya. “Oh, ini.” Noah tersenyum.
Baiklah, mari membahas terlebih dahulu senyuman Noah yang beberapa hari ini selalu terlintas di mimpi Terang. Terang tak mengharapkan senyum itu tiba-tiba ada di mimpinya. Bibir Noah memang sedikit tebal dan merah. Kadang Noah suka mengerucutkan bibir itu, meski hanya sedikit. Lucu sekali. Jenis bibir yang selalu ingin dicium oleh wanita manapun. Ranum, merah, kenyal, dan menggemaskan. Senyum bibirnya semakin manis setelah dipadukan dengan lesung pipinya yang sangat samar, dan belahan dagunya yang tajam.
Noah menatap Terang.
Sekarang, mari membahas matanya. Bulu mata Noah lentik, menjulang ke atas. Terang juga heran mengapa Noah memiliki bulu selentik itu. Matanya hitam gelap, dinaungi oleh alis yang tebal memanjang. Sekali tatap, dia seperti Samudera Atlantik Utara yang menenggelamkan Titanic tahun 1912 dulu.
“Ini nggak ada musiknya,” kata Noah dengan suaranya yang bulat dan besar.
Jadi, sekarang mari membahas suaranya. Dia memiliki jenis suara yang disukai oleh wanita mana pun. Tak terlalu banyak bicara yang menandakan maskulinitas yang ia miliki. Dia memiliki suara yang berseberangan dengan Terang. Noah bersuara seperti George Clooney. Dalam dan rendah.
“Nggak ada musik gimana maksudnya?” tanya Terang, bingung.
Noah melepas headset-nya. “Lihat ini.” Terang menarik kabel yang menjuntai, ujungnya tidak menancap di alat pemutar musik apapun.
“Beneran?”
Noah mengangguk. “Iya, aku nggak pernah mendengarkan apapun. Jika kamu ngeliat Noah pake headset ini berarti aku sedang ingin tenggelam dari dunia di sekitarku.”
“Kamu aneh.”
“Kamu yang lebih aneh. Suka nyanyi-nyanyi sendiri.” Noah mengacak rambut Terang yang sudah cukup berantakan oleh angin sore. “Cobalah. Kamu pasang di telinga, lalu pejamkan mata. Bayangkan kamu ada di tengah gumuk pasir ini seorang diri. Kamu akan merasa damai.”
Terang mencobanya. Lalu dia membuka mata dan menatap Noah. “Ini seru.”
“Kamu sendiri, apa yang kamu dengarkan?”
“Aku? Banyak. Aku menyukai semua musik yang ada. Kata Bunda, musik itu memberi warna dan semangat. Dia sering bernyanyi saat menjahit, dan menurutnya itu membuatnya lebih bersemangat. Kamu bayangkan dunia tanpa musik, kesepian.”
“Tapi kadang kamu membutuhkannya, Terang. Damai, sendirian.”
“Ya, sekali-kali. Aku juga mungkin membutuhkannya.” Terang memandangi lautan luas di depannya.
“Aku suka musik-musik lama, tapi aku lebih suka musik-musik indie yang syahdu. Liriknya lebih lugas dan jujur. Nadanya kompleks dan menentramkan. Suatu kali coba dengarkan Pure Saturday,”
“Belum pernah dengar lagunya.”
“Coba nanti kamu dengarkan, lalu ceritakan padaku, mulailah dengan lagu ‘Kosong’.” Kali ini, giliran Terang yang tersenyum. “Jadi, sekarang apa ceritamu, Noah?”
Noah memandang Terang. “Ceritaku? Tak ada yang menarik dari hidupku.”
“Aku tahu itu. Membosankan.” Terang tertawa keras. “Apa hobimu?”
“Nge-games.”
Terang pura-pura cemberut. “Apakah ada yang lain? Yang lebih bermanfaat.”
“Games itu bermanfaat lho. Aku banyak belajar tentang strategi, logika, dan juga bahasa inggris dari sana.”
“Baiklah, tapi aku tak ingin jawaban itu. Yang lain. Musik, makanan, traveling.”
“Foto,” jawabnya pendek.
Kata Terang, “Jadi mengapa kamu kuliah di Teknik Industri?”
“Kamu sendiri?”
“Ya, karena aku ingin menjadi dosen Teknik Industri. Kupikir ilmu Teknik Industri itu adalah ilmu yang seru dan sangat visioner. Kita mempelajari banyak hal, dari semua aspek ilmu. Teknik, manajemen, ekonomi, marketing. Aku suka itu. Aku sangat menyukainya. Makanya, aku belajar sangat giat karena aku pengen jadi dosen nantinya. Karena aku bersemangat untuk mengejar cita-citaku. Kamu?”
“Bagiku semua ilmu baik. Kebetulan aku diterima di Teknik Industri karena kupikir saat mendaftar dulu, passing grade TI di UGM cukup tinggi setelah fakultas kedokteran. Noah nggak pengen jadi dokter, sebenarnya aku takut jadi dokter. Kadang dia harus menentukan hidup dan mati seseorang, jadi aku tak ingin jadi dokter. Aku memilih TI.”
Mendengar kata ‘fakultas kedokteran’, Terang sempat tersentak sedikit di dalam dada. Mimpi yang dulu ingin ia raih. Mimpi yang dulu sempat tumbuh di dadanya, kemudian hancur perlahan-lahan karena dirinya sendiri. “Kamu sangat aneh. Aku baru tahu ada orang yang memilih jurusan dengan tendensi seperti itu, Noah. Kamu nggak suka?”
Noah menggeleng. “Kamu menyukainya?”
Terang terdiam. Dia tak mungkin bilang bahwa dia menyukainya, karena dulu ia hanya menyukai dunia kedokteran. “Aku mencoba menyukainya, dan ketika aku sudah mencoba. Aku akan melakukan yang terbaik semampu yang aku bisa. Hidup adalah perjalanan, kan? Kadang kita merubah arah tujuan di tengah-tengah.” Terang menerawang langit, lau mengalihkan padangan pada Noah. “Kamu nggak berusaha melakukan yang terbaik?”
Noah mengangkat bahu.
“Baiklah, ceritakan yang lain. Ceritamu yang barusan tidak menarik.”
“Apa?”
“Traveling, keluargamu, hobi yang lain selain games dan...” Terang memicingkan mata, “creambath?” dia tertawa. Lanjutnya, “atau mungkin buku, kamu membaca buku?”
“Tentu. Novel.”
“Novel? Astaga Noah. Nggak tertebak.” Terang tertawa. “Aku sendiri jarang baca novel, hanya sesekali.”
“Noah hanya membaca...satu novel selama hidupku. Ya satu novel saja.”
“Satu novel? Sungguh? Apa? Tentang apa?”
“Kamu harus membacanya nanti. Judulnya, Norwegian Wood karya Haruki Murakami.”
Noah mengenal Murakami saat di Bogor. Novel itu ada di meja kerja kakeknya, bersamaan dengan buku-buku yang lain. Novel berbahasa inggris. Saat itu, Noah masih duduk di kelas 1 SMP. Dia tertarik karena nama pengarangnya yang keren. Jadi saat dia kelas 3 SMP, dia membaca novel itu diam-diam. Dia menyukainya cara Murakami memulai ceritanya, perjalanan hidup yang digambarkan dengan metafora-metafora yang pas, dan juga akhir cerita yang mengambang. Dia menyukai semua hal di buku itu. Meski pun sebenarnya yang terjadi, dia menyukai kemisteriusan yang Murakami ciptakan.
“Bukankah itu salah satu judul lagu The Beatles?”
“Kamu akan tahu mengapa judulnya itu jika sudah membacanya.”
“Oke, baiklah. Kita saling membuat kesepakatan. Aku akan membaca novel itu, dan kamu akan mendengarkan Pure Saturday. Setuju?”
Noah memandang Terang, lalu mengangguk. “Tak ada masalah.” Dan dia tak tahu mengapa ia menyetujuinya. Hari itu, dia merasa dadanya penuh kedamaian.
# # #