MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 28



Meski pun Terang tahu bahwa Noah sedang sakit, tetapi dia berusaha untuk mengontrol dirinya agar ia tak memikirkan lelaki itu. Jadi dia melakukan semua kegiatan seperti biasa ke kampus. Dia memilih untuk tidak terlibat kegiatan yang memerlukan jalan yang lama, atau berdiri yang lama agar ia tidak ada kesempatan untuk berpikir tentang Noah. Kakinya sudah sembuh, meski pun dia harus jalan pelan-pelan.


Dia pergi ke perpustakaan, mencoba untuk membaca, atau bermain internet di komputer perpustakaan, mencerna skripsi-skrip tebal yang bisa dipinjam, atau belajar TOEFL dengan Kayla (meskipun ditinggal membaca novel) atau Janaka (yang tak mungkin meninggalkannya).


“Kita sudah lama nggak seperti ini,” kata Janaka, siang itu, saat ia hanya duduk di samping Terang sedangkan Terang membaca skripsi salah satu kakak angkatannya yang berjudul ‘Analisis Perbandingan Metode Survei Tradisional dan Analisis Konjoin untuk Memahami Kebutuhan Konsumen’. Skripsi itu adalah pilihan Janaka yang memang tertarik di dunia marketing, lalu Terang mencoba membacanya.


Terang menutup skripsi bersampul biru tebal di depannya. “Membaca skripsi?” tanya Terang dengan nada pelan.


“Bukan,” Janaka merapatkan tubuhnya ke arah Terang, lalu berbisik lirih. “Berdiskusi denganmu. Kamu terlalu sibuk dengan...”


“Aku lapar,” kata Terang, memotong. Dia memang benar-benar lapar. Meski pun alasan sebenarnya, dia tak ingin membahas apa-apa dengan Janaka. “Kita bisa melanjutkan obrolan ini di kantin, kan?”


Janaka mengangguk. “Sekalian aku mau mengkopi catatan ini,” kata Janaka sambil mengacungkan sebuah catatan kuliah Analisis Biaya. Catatan dari Fandy yang rapi. Terang jadi ingat bahwa ia juga membutuhkan catatan itu karena minggu kemarin dia terpaksa tidak masuk ke kelas karena kakinya masih sakit.


Di tempat fotokopian yang letaknya di samping kantin, Terang mengeluarkan catatannya lalu menyodorkan pada Janaka. “Kopikan catatan itu satu untukku dan tambah ini.”


Janaka mengerutkan kening, tetapi tak bertanya apa-apa. Seorang gadis semester satu dengan rambut lurus sepundak dan mata sedikit lebar menghampiri Janaka. Dia mengobrol sebentar dengan Janaka, Terang tak terlalu peduli karena dia sibuk melihat-lihat catatan Analisis Biaya yang ternyata banyak. Setelah gadis itu pergi, Terang mendongak memandang Janaka. “Penggemarmu?” tanyanya dengan senyum jahil.


“Anak semester satu, minta diajarin Fisika 1,” jawab Janaka.


“Asisten dosen yang baik,” kata Terang. Dia sendiri sebenarnya juga melakukan hal yang sama untuk mahasiswa-mahasiswa Matematika 1 yang meminta diajari karena dia adalah asdosnya.


“Mau makan siang bareng nanti?” tanya Janaka.


Terang berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Aku ada keperluan sebentar. Kamu bisa makan dengan Kayla, nanti aku nyusul.”


“Nanti aku nyusul adalah sebuah kata pengganti untuk kalimat ‘maaf aku nggak bisa’,” kata Janaka dengan muka datar, lalu dia tersenyum. “Tak masalah. Lain kali aku akan menagihnya. Mau pergi ke mana?”


Terang menggeleng. “Nggak baik terlalu posesif padaku,” katanya sambil tertawa. Karena ia memang tak ingin mengatakan ke mana siang ini ia akan pergi. Tahu-tahu, Terang sudah melingkarkan tangannya di lengan Janaka. Ia tak menyadari gejolak perasaan yang mendadak muncul di dada Janaka.


Untuk urusan perasaannya ini, Janaka tak pernah bisa menang melawan dirinya sendiri.


# # #


 


 


Noah meringkuk di atas kasur tipis di atas lantai. Selimut tebal membungkus tubuhnya, mirip seperti lemper yang baru akan dimasukkan ke pengukus. Kamera kesayangannya tergolek begitu saja, layarnya masih menyala menampilkan hasil jepretannya. Mungkin kameranyalah yang menjadi penghiburannya saat ini. Ia pernah mencoba untuk bermain games, tetapi tangannya tak setangkas saat ia sehat. Jadi dia memborbardir benteng lawannya tanpa logika, dan itu bunuh diri. Mendengarkan musik adalah pilihan yang buruk, karena setiap apapun yang ia putar, ia justru mendengar suara Terang sedang bernyanyi.


Lalu ia menutup telinga, dan mengalihkan pandangan pada foto-fotonya yang ternyata membuatnya damai. Ia melupakan suara Terang.


Namun, dia lupa bahwa efek samping dari sakit adalah halusinasi, atau ia tak bisa membedakan mana yang nyata. Jadi saat pintu kamar kos Maleo terbuka, kemudian muncul wajah Terang dengan rambut dikuncir kuda dan kaus polo warna kuning, Noah menyipitkan mata. Seolah ia merasakan hal yang sama seperti saat ia mendengarkan lagu. Halusinasi. Ia membenamkan matanya di dalam bantal.


Pintu terbuka perlahan, lalu Terang masuk. Dia berkata lirih, apakah aku boleh masuk. Noah membuka bantalnya, ia menyadari bahwa ini adalah kenyataan. Bukan Halusinasi.


Noah beringsut ke dalam selimutnya, ia bahkan tak tahu mengapa ia bersikap demikian. Padahal selama ia sakit, ia merindukan orang di depannya ini.


“Aku pulang,” kata Terang kemudian.


“Tunggu,” ujar Noah dengan nada keras. “Apa yang kamu lakukan di sini?”


Terang berhenti, menoleh ke arah Noah. “Mengantarkan materi kuliah, kan?”


“Itu saja?”


Terang mengangguk. “Aku sudah selesai. Kukira kamu juga butuh istirahat.”


Noah mendadak berdiri, lalu menghampiri Terang dengan cepat. Tangannya mencegah Terang yang ingin keluar. Ia menutup pintu dengan sigap, lalu menghalangi Terang dengan tangan kanannya. Matanya menatap Terang, seperti mata seekor kucing di malam hari.


“Noah, aku nggak suka dengan ini. Aku sudah selesai, dan aku ingin pulang.”


“Kamu sengaja menggodaku dan membuatku jatuh cinta, lalu sekarang kamu melakukan ini semua? Kenapa kamu harus datang mengantarkan materi kuliah? Kamu peduli padaku?”


“Apa yang kamu katakan?” Terang membentak kecil. “Ini sudah cukup. Kamu yang telah berbohong padaku, kan?”


“Aku nggak pernah berbohong. Aku hanya butuh waktu yang tepat untuk mengatakannya.”


“Cukup Noah. Aku ingin pulang.” Terang kembali membentak. “Kuharap kamu bisa segera keluar dari guamu ini, dan menjadi orang-orang normal. Ini seperti....Joker. Sangat anti sosial dan tidak punya hati nurani karena memperlakukan seorang wanita seperti ini.”


“Kamu yang membuatku seperti ini, kan?” Tangan Noah mengendur. “Kamu egois. Kamu yang membiarkan aku jatuh cinta pada. Atau kamu sengaja menggodaku?”


“Aku nggak pernah menggoda Noah...”


“Pulanglah.”


“...sedikitpun.”


“Pulanglah.” Noah kembali ke atas tempat tidur, duduk saja. Dia mengambil selimut lalu membungkus tubuhnya.


Terang berdiri di ambang pintu, tak bergeming. Kemudian dia pergi.


# # #