MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 40



Terang tak menyadari bahwa Noah sudah berdiri di belakangnya beberapa saat. Ini adalah malam ketujuh setelah hari pertengkaran itu. Malam ketujuh pula Terang tak bisa menghubungi Noah. Ponsel pria itu mati. Noah benar-benar ditelan sumur.


Ada earphone yang terpasang di telinga Terang, tapi ia bisa mendengar saat Noah duduk di sampingnya. Kakinya ikut terayun di udara.


Terang melepas earphone-nya, tersentak kaget melihat Noah yang tampak pucat. Ia harusnya sudah menyadari sejak lama perubahan wajah itu. Noah bukan lebih putih, tapi dia memang sedang pucat. Bibirnya yang biasa memerah, menjadi sedikit merah muda. Noah yang selalu memakai sweater beberapa hari ini.


“Saat itu aku sedang kelas satu SMA, saat aku mengetahuinya.” Noah menggenggam tangan Terang, meremasnya. Seolah dia membutuhkan aliran tenaga untuk memulai ceritanya. “Kakek tak pernah menceritakan padaku, tapi dia menulisnya di buku diary. Terselip pula di buku itu artikel-artikel tentang cara bertahan hidup dengan ginjal satu. Itu sangat mungkin. Jika tidak orang-orang, tidak menjual ginjalnya dan hidup dengan satu ginjal saja.”


Terang menggigit bibirnya. Dadanya sesak oleh udara.


“Aku tak pernah memilikinya sepasang. Sejak aku lahir. Kakek juga mengetahuinya saat aku berumur delapan tahun dan aku sakit cukup lama. Kakek menulisnya di diary dengan rapi. Merahasiakannya dariku. Merahasiakan dari mami.


Dia yang memaksaku untuk bermain games online, membelikanku komputer dengan spesifikasi games terbaik, agar aku mau duduk di rumah. Bermain games. Agar aku tidak tertarik untuk berlarian mengejar bola. Atau kata kakek, agar aku menguranginya.


Ayah mengetahuinya juga, tapi dia tidak memberitahu mami karena ia tak ingin mami sedih. Jadi dia berjanji padaku untuk membelikanku kamera. Agar aku belajar memotret saja, supaya aku tidak kelelahan. Beliau yang memintaku untuk belajar foto human interest agar aku bisa memahami masih banyak orang-orang di sekitar kita yang lebih kurang beruntung.


Coba kamu bayangkan, Terang. Kita pernah belajar ini saat praktikum Sistem Produksi. Misalnya sebuah lini produksi seharusnya memiliki dua mesin. Mesin utama dan cadangan. Jika mesin utama berhenti bekerja, atau sedang di-maintenance, maka mesin cadanganlah yang akan bekerja agar produksi tetap berlangsung. Agar tidak ada bottleneck. Tapi di satu lini produksi yang lain, sejak awal hanya memiliki satu mesin. Mesin yang bekerja terus menerus, diperlakukan seperti lini lain yang memiliki dua mesin. Diberi bahan baku yang sama, harus menghasilkan produk dengan jumlah yang sama.”


Terang menyambung kalimat Noah. “Lama kelamaan mesin itu akan rusak sendirinya.”


Noah mengangguk. “Kakek adalah petugas di lini produksi itu, dia yang bertugas untuk menjaga agar umur mesin itu semakin lama. Dia yang mengontrol semua. Dia pula yang selalu ada di samping mesin, memberinya oli, merawatnya.”


Mata Noah tampak berkaca-kaca. Terang meremas tangan Noah.


“Kakek memaksaku untuk membaca ‘The Old Man and The Sea’, tapi aku menolak dan justru memilih ‘Norwegian Wood’. Ia memintaku bukan karena aku memang harus membaca, tapi ia berharap aku akan menemukan hidupku kembali jika suatu saat aku mengetahui tentang penyakitku. Malam setelah kakek menceritakan ‘The Old Man and The Sea’, aku berniat untuk membacanya. Saat kakek sedang pergi ke kebun pagi harinya, aku masuk ke ruang perpustakaan kakek dan mencari karya Hemingway itu. Aku menemukannya, sekaligus menemukan diary kakek.


Diary bersampul hitam itu kukira hanyalah catatan biasa. Namun, di sana banyak sekali cerita-cerita kakek tentangku. Ada juga beberapa pengetahuan kedokteran tentang cara merawat seseorang yang memiliki satu ginjal sejak lahir. Kakek menulis dengan gaya Murakami, metafora yang ia pilih justru membuatku menangis. Aku melihatnya menjelma menjadi sebatang pohon tanpa akar-akar, namun terus tumbuh. Hujan menyiraminya berlebihan, tapi akarnya tidak terlalu kuat.”


Noah menitikkan air mata. Setelah sekian lama mengenal pria itu, kali pertama Terang melihatnya menangis. Terang merapatkan tubuhnya ke lengan Noah.


“Aku tidak pernah marah pada kakek. Aku justru menuruti semua kemauannya, termasuk menyayangi mami. Saat kakek meninggal, aku kembali kehilangan tempat berpegangan. Tapi di hari kematian kakek, aku sudah berjanji padanya agar tidak mempermasalahkan penyakitku. Aku akan baik-baik saja.


Saat ada kakek aku baik-baik saja. Tapi setelah kepergiannya, aku seperti kehilangan jiwaku. Aku tak hanya kehilangan satu ginjal, tapi aku kehilangan hidup. Arah. Aku tak menemukan ikan Marlinku. Aku mulai meninggalkan dunia fotografi, aku hanya hidup dengan janjiku pada kakek bahwa aku akan menuruti kemauan mami.”


Noah menahan isak tangisnya. Suaranya parau. Terang mengelus pundaknya.


“Saat aku menemukanmu, aku seperti menjadi sebatang pohon yang berakar lagi. Aku tumbuh, Terang. Meski pun aku tahu, aku tak bisa terus tumbuh. Namun, pertanyaanmu saat di pantai Depok dulu seperti menampar diriku sendiri. Aku masih ingat pertanyaan itu, Apa yang kamu lakukan jika kamu tahu bahwa umurmu tak akan lama lagi? Misalnya, kamu divonis akan hidup sebulan lagi.”


Terang menoleh. “Dan aku menjawab ‘Aku akan membahagiakan orang-orang di sekitarku. Aku akan melakukan yang terbaik selama yang aku bisa, sampai mati.”


“Dan aku ingin membahagiakanmu selama sisa hidupku.”


“Noah.” Terang memeluk lengan Noah semakin erat. “Kamu akan baik-baik saja. Asalkan kamu menjaga kesehatanmu, kamu akan baik-baik saja. Behentilah bermain futsal agar kamu tidak cepat kelelahan, berhentilah...”


Noah tersenyum samar, menoleh ke arah Terang. “Semester ini, saat mengikuti semua kegiatan di praktikum, aku kembali merasakan sakit. Aku sering kelelahan. Tubuhku mulai tidak bisa diajak kompromi. Aku meminta Permata untuk menanyakan pada dokter kenalannya. Aku diminta untuk cek. Keadaanku memburuk. Ginjalku mulai tidak berfungsi dan aku harus cuci darah dua minggu sekali.”


Terang menutup mulutnya.


“Permata menyuruhku untuk membaca beberapa buku tentang penyakit ginjal, makanya dia yang memaksaku pergi ke Gramedia waktu itu.”


“Noah.”


“Kali ini aku benar-benar takut, Terang. Aku benar-benar takut. Untuk pertama kalinya aku takut dengan penyakit ini. Karena aku...karena aku...masih ingin seperti yang lain. Aku masih ingin di dekatmu.”


Noah menangis di lengan Terang. Terang perlahan membelai kepala Noah, lembut.


“Kamu akan baik-baik saja.”


“Aku takut kehilangan kamu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu.” Isaknya terdengar keras, tubuhnya tergoncang hebat.


Air mata di ujung kelopak Terang meleleh, membasahi pipinya. Bersatu dengan dinginnya malam. Terang menyadari bahwa di tengah badai kesakitan yang sedang menggerogoti, ada emosi di dada Noah yang membuat pria itu berbicara lebih banyak beberapa minggu terakhir.


Noah lebih banyak membicarakan tentang hidupnya, cintanya, persahabatannya. Seolah-olah ia akan meninggalkan dunia ini. Terang tak pernah menyadarinya.


“Terang apakah kamu ingin melukis langit malam ini?” tanya Noah di tengah tangisnya malam itu. Terang mengangguk. Noah mengarahkan tangannya ke langit, lalu ia menggambar.


Terang pun mengarahkan tangannya. “Apa yang kamu gambar, Noah?”


“Apa yang kamu gambar?”


“Aku menggambar dirimu.”


“Aku juga menggambar dirimu,” ucapnya sambil terisak. “Terang...”


“Hem...”


“Jika ada sesuatu yang bisa memisahkan kita, itu bukan karena mami, bukan karena ayahmu menikah dengan mamiku, bukan karena orang lain. Bukan. Kita tidak perlu memikirkan pikiran-pikiran dan kepentingan-kepentingan orang. Cukup aku. Kamu. Aku mencintaimu. Kamu mencintaku.” Noah mengelap ingusnya yang mulai keluar. “Jika ada sesuatu yang bisa memisahkan kita, maka itu adalah Tuhan. Dan kematian.”


# # #