
Lelaki itu menutup Macbook Air-nya. Kisah itu ditulis dengan indah. Ia juga baru tahu bahwa Noah bisa menulisnya. Dia mewarisi keahlian dari kakeknya yang suka menulis diary.
Suasana coffee shop masih sangat ramai. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam. Tapi dia harus segera kembali ke rumah dan menyelesaikan misi pertamanya. Misi yang ia terima dua hari sebelum kematiannya, saat dengan perlahan dia menyerahkan sebuah flash disk berisi cerita hidupnya. Saat kali pertama, Noah memanggilnya ‘Papi’.
Siang itu, ia menerima SMS dari Noah. Apakah bisa datang menemuiku? Noah sedang dirawat intensif di salah satu Rumah Sakit di Jakarta Pusat. Lelaki itu datang seorang diri, tanpa diketahui oleh istrinya. Aku ingin papi datang sendiri. Begitu yang Noah minta kepadanya. Melihat tulisan itu, ia sebenarnya ingin sekali menangis. Setelah bertahun-tahun terjadi jurang pemisah yang begitu lebar, ia merasakan di atas jurang itu mulai dibangun jembatan perlahan-lahan. Jadi dia menemuinya seorang diri.
“Kita tak pernah bicara sedekat ini,” Noah mengawali percakapannya malam itu. “Tapi aku sadar bahwa papi ingin selalu dekat denganku. Malam ini aku hanya bilang...” Noah menatap Baskara dengan sendu. “Maafkan aku.”
Baskara mengangguk-angguk. “Maafkan papi juga. Papi tak pernah berniat merebut papimu dari hatimu, Nak.”
“Aku mau minta bantuan Papi.” Ia menyerahkan sebuah amplop dan flashdisk berwarna hitam bergaris putih. “Aku menulis semuanya dalam flashdisk itu. Perasaanku. Cintaku. Hidupku. Aku punya teman-teman yang baik untuk membuat rencana ini berjalan lancar. Ada Maleo, Gema, dan Kayla. Mereka punya keahlian masing-masing dan akan membantu Papi.”
Baskara melihat amplop putih yang ia pegang. “Dan ini...”
Noah tersenyum kecil. “Itu misi pertamanya.”
# # #
Baskara menghampiri istrinya yang sedang mamatut diri di depan cermin. Dia melepas jasnya dan menaruhnya di atas tempat tidur. Setelahnya, dia berjalan, memeluk istrinya dari belakang, lalu kemudian mencium pipi istrinya.
“Apa yang telah kamu lakukan?” tanya Nindi, curiga.
“Tidak, aku hanya merindukanmu setelah seharian meeting.”
“Kamu tidak biasa seperti ini,”
“Untukmu.” Baskara menyerahkan sebuah surat kepada istrinya.
“Surat cerai?”
“Apakah kamu mengharapkan suamimu ini pergi?” tanya Baskara, sambil mengerlingkan matanya. “Aku akan meninggalkanmu.” Dia mengecup pipi istrinya.
“Dari siapa?” tanya Nindi.
# # #
Nindi membuka perlahan amplop putih yang diserahkan oleh Baskara. Satu lembar kertas putih dengan ketikan di atasnya.
Untuk : Mami
Aku sebenarnya tak ingin mengatakan banyak hal. Tentu saja. Karena memang tak banyak yang bisa kuceritakan di sini. Aku akan memulainya dengan satu kalimat pendek ‘Aku membenci mami karena berbohong tentang papi.’ Itu saja. Mungkin mami tak mengerti betapa aku sangat sedih ketika kehilangan papi. Aku sendirian, Mi. Mami bahkan tidak peduli denganku. Setahun kemudian, mami menikah dengan orang lain kemudian dikaruniai Mussa. Aku benar-benar sangat kehilangan segalanya. Hanya kakek tempatku untuk berpegangan saat itu.
Aku benar-benar membenci mami. Namun, kakek selalu memarahiku jika aku melakukan itu.
Mami hanya selalu menuntut. Tidak pernah mau mendengarkan aku sedikit pun.
Saat aku mulai terbiasa hidup tanpa kasih sayang mami, aku justru jatuh cinta dengan seorang wanita yang ternyata adalah puteri dari suami mami. Aku benar-benar saat terpukul. Mengapa Tuhan begitu jahat padaku? Memberiku hal yang pasti tidak pernah akan kumiliki nantinya. Memberiku pilihan yang sulit? Namun, gara-gara gadis itulah aku kembali menemukan hidupku kembali saat aku mengetahui bahwa hidupku tak lama lagi karena aku hanya memiliki satu ginjal.
Bahkan saat sakit ginjal pun, mami hanya menuntut aku, melarang ini, melarang itu. Jujur, aku sangat membenci mami. Namun, aku sadar kakek benar. Betapa pun aku membenci mami, mami tetaplah ibu yang melahirkanku ke dunia. Benar kata kakek, aku tak boleh membenci mami.
Mami, jauh di lubuk hatiku, aku benar-benar sangat ingin dekat denganmu tanpa harus ada embel-embel ‘Noah, kamu harus...Noah, kamu itu...’. Aku hanya ingin mami ada saat aku sedih, saat aku membutuhkanmu. Itu saja.
Aku tahu aku pun salah. Namun aku hanya ingin bilang bahwa aku sayang mami. Itu saja.
With Love, Noah.