MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 34



Sabtu hari yang cerah, seminggu setelah study tour, Terang melihat Lik Ilham sedang ada di belakang rumahnya. Lik Ilham memiliki kebiasaan memandikan burung-burung kesayangannya setiap pagi sebelum berangkat mengajar di salah satu SMA. Burung-burung itu senang sekali mendapatkan semprotan air, mereka menjadi penari balet yang show tunggal di sangkarnya masing-masing.


Terang mendatangi Lik Ilham sambil berbasa-basi tentang burung-burung itu. Ia tak mengerti sedikit pun tentang burung-burung peliharaan. Jadi, malam sebelumnya Terang menelepon Kayla dan meminta gadis itu mencari informasi tentang burung peliharaan di internet. Setelah berlama-lama berbicara tentang burung—Lik Ilham bahkan yakin Terang memiliki bakat untuk memelihara burung, kemudian Terang mengakhiri topik tentang burung-burung—Terang mengatakan tujuan utamanya.


“Apa Lik Ilham akan terus menerus malam mingguan dengan burung-burung ini?” tanya Terang sambil menunjuk satu-satu sarang yang ada di depannya. “Ada seorang wanita cantik di depan sana sedang jagain warung, dan kurasa dia lebih menyenangkan sebagai teman malam mingguan. Maksudku bukan malam mingguan di warung burjo, tapi mungkin ke Malioboro, atau bukit bintang, atau angkringan di Tugu.”


Lik Ilham terdiam menatap Terang.


Lanjut Terang. “Aku hanya berpesan, jangan biarkan dia kedinginan nanti saat jalan-jalan.” Dia kemudian pergi meninggalkan Lik Ilham. Ada air mata yang menggenang di sudut matanya.


Lik Ilham berdiri, lalu berkata, “Tentu saja, aku punya jaket tebal untuknya.”


# # #


 


 


Sore hari. Bunda sedang menjahit, Terang mendatanginya. Ia kemudian mengatakan bahwa ia mengijinkan Bunda untuk ‘bebas seperti burung merpati’. Terang ingin menangis saat melihat mata Bunda berbinar. Keduanya kemudian berpelukan.


“Bunda nggak akan pernah berniat meninggalkanmu, Sayang. Kamu adalah satu-satunya orang yang akan terus aku jaga, aku cintai, aku sayangi sampai nanti. Bagaimana Bunda bisa meninggalkanmu setelah semua hal yang kita lewati bersama-sama selama ini.”


Terang menahan tangisnya. “Aku bahagia untuk hal ini, Bun.” Terang tak bisa menangis di hadapan Bunda, karena ia memang sudah memiliki tekad tidak akan pernah menangis lagi untuk Bunda sejak umur delapan tahun lalu. “Bunda, mesin jahit yang rusak bisa diganti yang baru, begitu juga untuk urusan perasaan, kan. Aku nggak bermaksud mengajari, tapi Terang hanya ingin Bunda bahagia.”


Bunda tersenyum. “Kamu selalu berkorban untuk, Bunda.”


“Bunda yang selalu ada untukku.”


“Kamu selalu berusaha membuat Bundamu bangga,” ucapnya di tengah sesegukan. “Apakah kamu masih membawa jeans dan baju polo warna kuning ke kampus? Lalu mengganti baju batik yang Bunda buatkan?” Bunda tertawa menyeringai.


“Bunda itu yang mengandungmu sembilan bulan.” Bunda mengacak rambut Terang. “Bunda pernah menemukan polo itu di tasmu, tapi Bunda sih diam saja.”


Terang memeluk Bunda erat. “Bunda yang terbaik. Tapi benar deh Bun, Terang nggak suka ih dibuat-buatin baju gitu. Mending uangnya ditabung. Terang bakal pakai, tapi bukan ke kampus. Ribet tauk, kegiatan Terang banyak. Jadi harus gesit. Nanti kupakai kalau ke kondangan nikahan. Modalnya bagus kok. Kayla aja suka.”


“Iya, Bunda tahu kok. Cerewet sekali anak Bunda satu ini.”


“Aku sayang Bunda.”


“Jadi kamu sekarang yakin membiarkan Bunda menikah lagi?”


Terang mengangguk kuat. “Seperti kataku, mesin jahit yang rusak bisa diganti baru.”


Bunda mencubit pipi Terang. “Tapi ingat, mesin yang rusak sekali pun masih bisa di kenang nantinya.”


 


 


Malam harinya.


Terang pergi ke kosan Kayla, dan ia menangis di sana. Ia sebenarnya ingin pergi ke tempat Noah, lalu menceritakan bahwa ia sudah mengijinkan Bunda untuk menikah dengan Lik Ilham. Namun, ia tak ingin Noah melihatnya menangis tersedu-sedu. Ia tak bisa leluasa mengeluarkan semua emosinya di hadapan Noah. Jadi dia memilih pergi ke kosan Kayla.


“Kamu sudah melakukan dengan benar, Rang,” kata Kayla. Mereka berpelukan di kamar Kayla. Puluhan tisu sudah tersebar di lantai.