
Liburan semester telah tiba. Bagi Terang itu sangat menyenangkan. Karena ia bisa dengan bebas mengatur waktu untuk mengajar, belajar TOEFL, dan melakukan kegiatan yang selama ini tak ia lakukan: misal menonton DVD sepuasnya dengan Kayla tanpa menghiraukan tugas dan kuis. Ia tetap membantu Bunda berjaga di warung burjo dan kadang ia membiarkan dirinya seharian menjaganya. Bunda hanya perlu menyiapkan beberapa masakan saja, dan Terang meminta Bunda untuk istirahat atau menjahit.
Dua minggu Noah menghilang dari kosan. Tepat tiga minggu kemudian, Noah kembali di kosannya dengan muka yang sangat berantakan. Dia belum bercukur dan rambutnya sangat kusut. Dia juga terlihat kurus.
“Aku ikut kejuaraan Dota bareng Maleo,” katanya sore itu, padahal Terang tak menanyakannya. “Dua minggu kami berlatih, kami perlu persiapan sebaik mungkin.”
Seminggu kemudian, Noah tiba-tiba memberitahu bahwa dia akan balik ke Jakarta. Adiknya sakit, katanya. Malam hari sebelum ia balik, Noah menghampiri Terang yang sedang duduk di balkon seorang diri. Terang sedang mendengarkan musik, kakinya berayun di udara. Noah duduk di sebelahnya, headset melingkar di lehernya.
“Jadi masih tetap nggak ada lagu di headset itu?” tanya Terang mengejek Noah.
Noah melepas headset-nya, lalu memasangkannya di telinga Terang. Terang mendengarkan sambil mengangguk. “Wah, kamu sudah resmi jadi Pure People rupanya.”
Noah ia mencopot headset dari telinga Terang dan memasangnya di telinganya sendiri.
Terang memandang Noah dengan tatapan lembut. “Kosong adalah salah satu lagu yang selalu aku nyanyikan setiap hari. Liriknya lugas dan penuh arti. Aku suka lirik-lirik yang seperti itu, penuh tafsir. Setiap orang punya arti masing-masing tentang lagunya, dan itulah yang membuatku suka dengan satu lagu. Bagiku liriknya ngegambarin kodrat kita sebagai manusia. Kita hanya bisa mengingat kenangan, tanpa bisa mengembalikannya. Semua mati, kemudian hilang. Aku suka setiap liriknya. Dan itu....”
“Mengingatkanmu pada seseorang?” tanya Noah.
Terang mengangguk. “Pada ayahku, seperti yang pernah kuceritakan padamu.” Terang membuang muka, menatap proyek jembatan di depannya yang menggusur hijaunya sawah-sawah di sana. Jembatan yang akan mempermudah akses dari UGM ke Jalan Monjali. Kadang harus ada yang dikorbankan untuk sesuatu hal, bukan?
“Kamu beruntung, ayahmu masih hidup, meskipun dia sudah tidak di sini,”
“Aku sudah menganggapnya nggak. Aku membencinya sekarang, meskipun aku merindukannya. Tugasku sekarang hanya membuat Bunda tersenyum bahagia.”
Noah tersentak, dia seperti menemukan sisi lain dari Terang. Gadis yang biasanya sangat periang dan tak pernah rapuh itu, mendadak menjadi sangat melankolis malam ini. Noah membenci saat melihat Terang menjadi seperti sekarang. Jadi, dia tak menanggapinya. “Kamu sudah mengenalkanku pada Pure Saturday, kamu juga harus berkenalan dengan Murakami. Tidak, kamu harus berkenalan dengan Norwegian Wood.”
“Pinjamkan padaku.”
“Baiklah Tuan Muda,” kata Terang, kembali menjadi Terang yang seperti biasanya. “Ada lagi, Tuan?”
“Mau nonton?” tanya Noah. “Batman and Dark Knight adalah salah satu film yang kutunggu tahun ini. Aku penggemarnya. Hari pertama Noah pulang dari Jakarta, mau menemaniku nonton, kan?”
Terang sangat jarang nonton di bioskop karena dia memang tidak ingin mengeluarkan uang untuk hal lain, selain kuliah. Jika pun dia harus menonton, dia akan menabung terlebih dahulu. “Ditraktir, kan?” tanya Terang sambil nyengir. “Kamu tahu kan aku nggak punya uang banyak?” Terang tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi dan putih.
Noah mendengus. “Kamu pengen menghinaku sebagai seorang pria? Tentu saja aku yang traktir. Tapi, uang parkir kamu, ya?” Dia tertawa.
“Siap, Bos.” Terang berlagak hormat.
“Tunggu.” Noah menatap langit, lalu menulis sesuatu di sana menggunakan telunjuknya. Bintang-bintang di langit menjadi latarnya.
“Kamu melukis langit?” tanya Terang.
Noah mengangguk. “Biar Noah nggak lupa.” Dia menoleh ke arah Terang. “Kamu nggak pengen menulisnya?”
Terang menggeleng. Karena dia tak perlu menutupi lukisannya yang sudah mengambang di langit. Satu lukisan yang selalu ia ingat, bahkan sejak pertama kali kuliah dulu. “Aku sudah menulis yang lain.” Terang menarik tangannya ke atas, lalu menulis dengan telunjuknya. GT University.
# # #