MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 32



Terang sebenarnya tak ingin bertemu dengan Noah. Ia bahkan tidak mengiyakan saat kemarin Noah mengajaknya jalan-jalan, meskipun sebenarnya Mussalah yang memintanya. Namun saat malam hari di atap rumah, dan ia sedang mendengarkan beberapa pronunciation yang ia unduh di kosan Kayla, beberapa kali ia melirik ponsel Nokianya. Ponselnya tak juga berdering. Saat jam sembilan malam, dan ia sudah puluhan kali melirik ponselnya sementara kata yang ia hafal hanya lima (padahal biasanya ia bisa menghafal 10 kata dan membuat kalimat), ia menyerah. Terang mengganti mp3-nya dengan lagu.


Kemudian ponselnya berbunyi. Sebuah SMS. Bsok kujemput jam 8, sebenarnya ak ingin menjemputmu jam 5.30, tp hri ini ak lgi ngedit foto, jdi pasti ak tdk bgun pgi.


Terang tersenyum kecil, lalu dia pura-pura cemberut padahal tak ada yang melihat. Dia tersenyum lagi. Ia tak tahu apakah besok ia ingin pergi, tapi ia ingin pergi. Jadi ia langsung masuk kamar dan memilih pakaiannya. Ia memutuskan untuk memakai memakai kaus warna biru muda dan jeans.


Noah benar-benar menjemputnya pukul delapan menggunakan mobil Kijang model kotak.


“Kakakku hanya bisa nyewa mobil ini dari tabungannya,” kata Mussa sambil membenarkan kacamata yang berframe tebal. “Ini sangat kuno. Tapi aku menyukainya,” katanya yang sudah pindah duduk di belakang.


Terang mencoba untuk protes, tapi ia menurut saja dan masuk ke tempat duduk depan. Mussa banyak bicara di mobil sambil bermain PSP.


“Hanya aku yang mengijinkan dia main seharian, di rumah dia nggak bisa seperti itu. Dia sibuk dengan buku matematika dan les. Kamu tahu, dia bahkan punya guru-guru yang datang ke rumah untuk mengajarinya. Setiap hari. Mussa benar-benar mirip denganmu.”


“Kecuali hari minggu,” sambung Mussa. “Ini bentengnya diapain sih, Kak?” tanyanya, tapi sebenarnya ia tak mengharapkan jawaban. Kemudian dia kembali ke PSP-nya, sambil sesekali mengeluarkan jeritan karena ia salah melakukan strategi.


“Jadi dia sangat suka kalo lagi liburan di sini.”


“Kamu mengajarinya untuk melanggar aturan?” tanya Terang. Mobil sudah berjalan melewati perempatan Jalan Kaliurang. “Kita mau ke mana sih?”


“Seperti biasa kamu banyak bertanya ya, Bu Dosen. Jawaban pertama, mungkin bagi Bu Dosen yang nggak pernah melanggar aturan, itu mungkin terdengar janggal. Jawaban kedua, kita akan jalan-jalan.”


“Kita mau kemana sih, Kak?” tanya Mussa, matanya tak beralih dari PSP-nya.


“Kalian benar-benar mirip,” kata Noah sambil melirik ke Terang yang cemberut.


# # #


 


 


Mobil Kijang melewati Gerbang Kaliurang, lalu berbelok ke kiri di Patung Udang. Terang menurunkan kaca mobil yang masih manual, ia melongokkan kepala menatap bangunan di samping kirinya. Ia seperti mengenalinya.


“Angkatan kita bukankah pernah menginap di sini?” tanya Terang, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia tanyakan itu jawabannya ‘iya’. Noah hanya bertanya ‘Oh, ya?’. Lanjut Terang, “Saat malam Inisiasi Kampus Industri. Iya, aku ingat sekali.”


“Inisiasi apa?”


“Iniasi Kampus Industri? IKI? Kamu nggak ingat?” Terang mengalihkan pandangannya pada Noah. Kening Noah tampak mengerut. Mobil masih melaju ke utara. “Atau kamu nggak ikut?”


Noah mengangguk kecil. “Sepertinya.” Pandangannya tidak beralih dari depan.


Terang baru menyadari sekarang bahwa ia tak banyak mengerti tentang Noah. Pantas saja, ia tak mudah untuk mengenali Noah saat mengumpulkan tugas dulu. Waktu itu ia baru sadar bahwa ada orang bernama ‘Noah’ di angkatannya.


“Aku mungkin nggak terlalu populer dan aku kurang menyukai ikut kegiatan seperti itu.”


“Jadi kamu nggak ikut saat angkatan kita menonton film horor Thailand di aula? Aku masih ingat semua orang ketakutan, dan aku menjerit sangat keras.”


“Aku nggak suka film horor. Aku hanya suka satu hal. Kamu mau tahu, nggak?”


“Enggak. Tentu saja jawabannya enggak. Ah, kamu payah, kenapa nggak ikut. Itu akan menjadi cerita tanpa akhir saat kita tua nanti. Tak akan bisa diulang.”


“Aku punya banyak hal yang bisa kuingat, terutama bersamamu.”


“Kita sudah sampai?” tanya Mussa memotong obrolan kedua kakaknya.


Mobil Kijang kotak itu berhenti di depan Museum Ullen Sentalu, di Lereng Merapi. Mussa turun terlebih dahulu, lalu pergi seorang diri ke pintu masuk. Ia membeli tiket.


“Tenang dia memang seperti itu. Suka bertingkah sendiri. Baru kemarin aku sadar kalo kamu dan dia sangat mirip. Dia rajin belajar sepertimu. Dia sangat patuh pada mami.”


Terang berdiri di tempatnya. Memandang bocah sepuluh tahun yang kini sedang berdiri di depan pintu masuk sambil memegang kamera. Terang seperti melihat dirinya di sana. Rambut Mussa yang lembut dan menutupi telinga tampak berkibar tertiup angin, wajahnya yang tak terlalu putih, dan matanya yang sedikit sipit seperti Noah.


Dia benar-benar mewarisi garis wajah ayah, pikir Terang. Mukanya seperti Terang waktu kecil, namun lebih putih dan berhidung lebih mancung. Hanya matanya saja yang berbeda, Mussa sedikit lebih sipit karena faktor ibunya yang keturunan Korea.


“Kamu akan diam terus di situ?” tanya Noah. Terang terkesiap. “Kamu sangat lucu hari ini,” ujarnya kemudian. Terang mengernyitkan kening. Lanjut Noah, “Enggak, kurasa bukan lucu.” Dia menarik kameranya, lalu menjepret dengan cepat. “Kamu sangat cantik.”


“Jangan coba-coba merayuku. Itu sangat tidak mempan sekarang.” Terang berjalan mendahului Noah.


“Noah nggak merayu. Itu fakta. Lihatlah mukamu di kamera ini, ini luar biasa, kan?”


“Berhentilah membuatku merasa tersanjung.”


“Kamu tersanjung?”


“Berhentilah membuatku ingin selalu di dekatmu, Noah.”


“Jadi kamu selalu ingin di dekatku.”


Terang berhenti mendadak, Noah pun mengikutinya. “Astaga, kamu itu nggak pernah ngerti apa yang sudah terjadi antara kita dan ayah kita, ya?”


“Dia bukan ayahku.”


“Terserah.”


“Kamu semakin cantik kalo seperti ini.”


# # #


 


 


Noah menikmati keheningan di Ullen Sentalu hingga ia melupakan Terang yang lebih memilih berdiskusi dengan Mussa daripada menemaninya. Meskipun di dalam museum dilarang memotret, Noah tidak mempermasalahkan itu. Padahal banyak sekali obyek-obyek menarik di sana, misalnya lukisan Gusti Nurul yang berparas cantik, seorang putri bangsawan Jawa yang anti poligami. Dia menikmati setiap elemen-elemen di dalam museum vernakular itu. Tak ada suara-suara berisik yang mengganggunya. Ia pun tidak perlu menempelkan headset yang menggantung di lehernya untuk mengusir suara-suara yang tak ingin ia dengar.


Noah sangat menghargai Ibnu Al-Haytham yang telah mempelopori orang-orang untuk menjadikan foto sebagai alat untuk mencipta kenangan. Kakeknyalah yang telah menceritakan ilmuwan Iraq itu jauh sebelum beliau mengajari tentang focus, diafragma, ISO, atau bahkan komposisi. Namun, Museum Ullen Sentalu memiliki pandangan lain tentang foto. Menurut salah satu pemandu museum siang itu, foto hanya bisa menggambarkan sedikit pengalaman dalam mengunjungi museum. Jadi sebuah foto yang bagus sekalipun tak akan bisa menggantikan pengalaman saat menikmatinya.


“Tapi setidaknya, foto bisa mengembalikan kenangan kita. Meski pun sedikit,” begitu kata Kakek saat itu.


Saat di luar museum, suasananya tampak asri dan sejuk karena pohon-pohon hijau besar yang menaungi halaman-halaman yang ditata secara apik. Noah berkeliling-keliling halaman sambil mengambil beberapa foto. Saat di luar, dia bisa dengan leluasa memotret di mana saja.


“Kak Noah, kamu tahu hal ini?” Mussa tahu-tahu sudah ada di samping Noah. “Museum ini adalah salah satu living museum. Artinya, museum ini berubah-ubah setiap waktu karena petugas-petugas di sini yang secara rutin melakukan rotasi. Jadi, aku sudah memutuskan bahwa setiap Jogja, aku akan ke sini untuk mengalami setiap perubahannya.”


“Kamu terlalu banyak bicara dengan Kakakmu,” kata Noah tanpa mengalihkan pandangan dari kameranya.


“Maksud Kak Noah, aku terlalu banyak bicara denganmu?” Mussa terkikik. “Itu nggak mungkin. Karena Kakak hanya mengajiku games dan kamera yang nggak kuminati. Kakak pernah mengajakku diskusi hal lain?”


Noah memandang adiknya yang pipinya mulai memerah kepanasan. Dia tersenyum kecil. “Tidak, maksud Kak Noah, bukan aku. Tapi kakakmu yang di sana.” Noah menunjuk Terang yang sedang berjalan sambil membawa minuman. “Kamu boleh menganggapnya kakakmu sekarang.”


“Karena dia pacar Kak Noah?”


“Dia belum jadi pacar Kak Noah.”


“Lalu kenapa Mussa harus menganggapnya kakak?”


“Kamu terlalu banyak bertanya, Kerbau.”


Terang datang lalu menyerahkan jus mangga kepada Mussa dan jus strawberry kepada Noah. Lalu Noah berkata, “Kamu selalu tahu apa kesukaanku, Terang. Tapi ini kurang sempurna karena nggak dicampur yakult. ” Kemudian Terang mengeluarkan yakult dari dalam tas ranselnya dan mengulurkannya kepada Noah.


Noah terkesiap melihat yakult yang ada di tangannya kini. “Dan kamu pengen aku nggak ngerayu sekarang?”


Terang mendelik ke arah Noah.


# # #


 


 


Selesai dari Museum Ullen Setalu, Kijang kotak naik terus ke lereng Merapi dan menuju Kali Kuning yang letaknya seperti di antara dua bukit yang hijau. Mobil harus diparkirkan di atas, lalu mereka berjalan menuruni bukit untuk menuju Kali Kuning. Pohon-pohon menjulang tinggi mengawal perjalanan mereka. Sungai yang jernih dan berair dingin menyambut mereka bertiga.


Mussa langsung turun ke sungai dan menyusuri batu-batu besar. Terang mengikutinya. Noah memilih untuk berdiam di sebuah batu besar, lalu memotret. Mussa dan Terang iseng menciprati Noah, lalu mereka berdua berlari. Noah mengejar mereka berdua sambil berteriak-teriak kencang seolah sedang mengejar dua kawanan penjahat.


Mereka turun dari lereng Merapi sebelum matahari sempat menghilangkan bayangan, kemudian mereka singgah ke Jejamuran di Jalan Magelang untuk santap siang. Terang dan Mussa memesan menu andalan tempat ini, yaitu sate jamur.


“Aku pesan...” Noah menggantungkan kalimatnya. Dia melihat-lihat menu. Pelayan masih menunggu.


Kata pelayan. “Yang spesial adalah sate jamur Mas.”


“Aku nggak pengen yang spesial,” ujar Noah. Kemudian ia menyerahkan menu ke pelayan. “Aku pesan dadar shitake aja.” Dia tersenyum.


Selain itu Terang juga telah memesan lumpia isi jamur dan jamur goreng tepung. Terang menyarankan Mussa dan Noah untuk memesan wedhang jejamuran yang spesial. Tapi Noah lebih memilih jus strawberry.


Selama menunggu pesanan, Noah mengamati hasil jepretannya. Sementara Mussa mengajak Terang untuk pergi ke halaman belakang restoran itu. Terang mulai setuju dengan pernyataan Noah bahwa Mussa sedikit mirip dengannya. Bocah itu seperti dirinya versi laki-laki dan lebih muda. Dia juga sangat ingin tahu tentang apapun.


“Jadi jamur apa saja yang digunakan?” tanyanya kepada Terang.


Terang melihat ke sekeliling. Tampak beberapa baglog yang sudah ditumbuhi jamur-jamur ukuran besar dan kecil. Lalu ia berkata kepada Mussa, “Jamur tiram, jamur Lingzhie,”


“Lingsi?”


“Itu yang warna cokelat dan keras,” ucap Terang sambil menunjuk satu baglog berisi jamur Lingzhie yang besar. Ia mulai menerangkan satu-satu tentang jamur sesuai yang ia tahu. Kemudian datang seorang pemandu yang lebih mengerti dan menjelaskan semua yang Mussa tanyakan. Bocah itu benar-benar haus pengetahuan.


Terang mengamati tak jauh dari tempat Mussa berdiri. Ia seperti melihat dirinya waktu kecil saat ia masih hidup di daerah Tanjung Priok bersama ayahnya. Lompatan ingatan itu melintas begitu saja. Saat ini, ia mendadak ingin sekali memeluk Mussa dan mengatakan bahwa ‘kita memiliki ayah yang sama’. Namun, menyadari hal itu, dia juga merasa harus melawan apa yang kini ia rasakan. Di hatinya. Sesuatu yang beberapa bulan ini ingin memberontak.


Tak lama Noah memberitahu bahwa makanan mereka telah datang. Terang mengajak Mussa untuk mencuci tangan karena tadi anak itu sempat memegang beberapa baglog.


“Mussa suka tempat ini,” kata Mussa. “Ini unik. Terima kasih sudah membawaku ke sini.”


“Tentu saja, Mussa.”


“Kamu suka Kak Noah?” tanyanya kemudian membuat Terang menoleh dan memandang anak itu. “Kamu menyukai kakakku?” tanya lagi.


Terang mengelap tangannya dengan tisu. “Aku nggak tahu,” jawabnya pendek.


“Kukira Kak Terang pacar Kak Noah. Aku punya teman di sekolah dan dia sudah punya pacar dengan temanku yang lain. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Apakah menyenangkan?”


“Kamu akan merasakannya nanti. Sekarang lebih baik kamu belajar yang rajin.”


“Aku sudah setiap hari belajar rajin karena mami pasti akan memarahiku jika aku malas-malasan. Papi selalu membelaku dan itu sangat menyenangkan. Papi seperti pahlawan. Tapi, Kak Noah nggak pernah menyukainya. Dia selalu bilang kepadaku seperti itu. Aku tahu...” Dia tersenyum. “karena papi kami berbeda. Kurasa dia sudah menceritakannya padamu.” Mussa tersenyum.


Terang mengangguk. Ada perasaan iri yang menyelinap di dadanya.


“Suatu saat Kak Terang harus bertemu papi. Papiku menyenangkan.”


Mata Terang memanas, lalu dia berpaling karena tak ingin mata itu memproduksi air yang asin. “Kamu sudah selesai?” tanyanya pada Mussa. Mussa mengangguk.


# # #


 


 


Matahari sudah beralih ke barat beberapa derajat, saat Kijang kotak yang mereka tumpangi keluar dari Jalan Magelang menuju Malioboro. Noah hendak mencari lensa untuk kameranya, sedangkan Terang akan menemani Mussa mencari beberapa souvenir untuk oleh-oleh teman-temannya di Jakarta. Mereka berdua mengunjungi Mirota Batik dan berjalan-jalan di emperan Malioboro.


Sore hari mereka bertiga berjalan-jalan di depan Museum Vrederburg yang berada di seberang Gedung Agung yang merupakan satu dari tujuh istana kepresidenan. Mereka duduk di salah satu bangku berwarna hijau di seberang jalan. Noah sibuk mengotak-atik kamera dan lensa barunya, sesekali dia mengarahkan lensanya ke jalan.


“Mau kubelikan sesuatu?” tanya Terang.


“Air mineral,” jawab Noah.


“Es Krim,” jawab Mussa.


Noah menoleh ke arah Mussa. “Kak Noah nggak mau disalahin mami karena kamu minum es krim, Kerbau. Kamu biasanya akan langsung pilek.”


“Tapi aku pengen Kak. Sekali ini. Lihat itu.” Mussa menunjuk seorang penjaja es krim lokal yang berada di dekat pintu masuk museum. “Warnanya menggiurkan banget, kan. Lagian aku bukan anak TK lagi.”


“Apalagi es krim yang ada di pinggir jalan kayak gitu.” Noah menoleh ke arah Terang dan berkata, “Belilah yang lain, Terang.”


“Tapi aku menginginkannya,” ujar Mussa.


Terang pergi, lalu kembali dengan membawa dua botol air mineral dan es krim yang diinginkan Mussa. Terang memberikan satu botol mineral pada Noah dan es krim kepada Mussa.


“Minumlah,” kata Terang.


“Terang, apa yang kamu lakukan? Aku bisa jadi sasaran kemarahan mami kalau si Kerbau ini sampai sakit.”


Mussa tampak tertawa penuh kemenangan. “Aku jarang makan es krim. Percayalah Mussa akan baik-baik saja.”


Noah memandang Terang. “Jadi sekarang sekarang kamu suka melanggar aturan?”


Terang duduk di samping Noah. “Dia menginginkannya. Ketika kamu menginginkan sesuatu, ya lakukan saja apapun itu. Tetapi yang perlu diingat adalah kamu tahu sendiri konsekuensi yang akan kamu dapatkan.”


“Tapi...”


“Sudahlah, dia adikku juga.” Terang menatap Mussa, lalu menarik kepala anak itu ke dalam pelukannya.


Noah menghela nafas pendek. “Kalian berdua benar-benar sangat menyebalkan. Jika kamu nggak cantik, pasti aku akan memarahimu.”


Terang mencubit pipi Noah. “Sudah kubilang, jangan merayuku.”


“Aku nggak merayu. Aku hanya bilang, kamu cantik.”


Terang kembali mencubit pipi Noah. “Jangan merayuku, Kerbau.”


# # #