
Terang menarik nafas dalam, memastikan bahwa ia tak lagi menangis. Ia tak pernah menangis untuk ayahnya. Tetapi, ia selalu menangis setiap hal-hal yang menyakiti Bunda. Bunda adalah tumpuan hidup. Seseorang yang dengan tegar merawatnya seorang diri sejak ayahnya pergi menikah dengan orang lain. Bunda bukan orang yang buruk, Bunda bahkan sangat mencintai ayah. Yang ia dengar dari Bunda, ayahnya adalah orang yang baik dan penyayang keluarga. Namun, ayahnyalah yang pergi dan bilang bahwa hidupnya tidak berkembang dengan Bunda. Dia menemukan penyemangat hidup yang lain, lalu bergerak bersama orang lain meninggalkan Bunda.
Bunda tak pernah menikah lagi. Karena ia masih percaya bahwa suatu saat ayahnya akan kembali. Bunda mencintai ayahnya hingga detik ini. Suatu hari Terang mengetahui bahwa teman Bunda, Lik Ilham, yang kini membantu keluarga mereka, terlihat mencintai Bunda. Terang merasa beliau mencintai Bunda sejak SMA. Terang bisa merasakan adanya benih-benih yang lama tersimpan dan mencuat kembali saat Lik Ilham menatap Bunda.
Suatu malam, Terang pernah bilang ke Bunda bahwa dia telah siap menerima siapa pun yang akan menikahi Bunda nanti. Dia bilang bahwa Lik Ilham mencintai Bunda. Meskipun jauh di lubuk hatinya, ia tak pernah siap jika Bunda kemudian lebih fokus kepada orang lain, lalu melupakannya.
Orang-orang mungkin tak tahu bahwa cinta Bunda untuk suaminya terlalu besar, hingga beliau mengorbankan perasaannya hingga sekarang. Dicibir, dicaci, digosipkan, adalah kata-kata yang sudah sering Bunda nikmati. Tetapi, Bunda selalu mengajarkan untuk tersenyum sepahit apapun keadaan.
Terang menyeka air matanya yang kembali menetes. Sudah lama ia tak menangis. Namun, mendengar Bara menyebutnya anak haram, lalu menyebut Bundanya yang suka menggoda Lik Ilham, hatinya mendadak rapuh seperti kertas putih yang terbakar.
“Akhirnya....aku, Noah...menemukanmu di sini, kukira kamu pulang.” Noah tahu-tahu sudah berdiri di depan gang tempat favoritnya.
Sontak Terang berdiri dari duduk. Ia berjalan ke arah Noah. “Kamu nggak papa? Apakah kamu mendapatkan masalah?” Mata Terang menyalak. Dia mendekati Noah. Baju kuningnya ada bercak merah di beberapa tempat. Kemudian ia berkata, “Mas Bara adalah kakak angkatan kita, dan pasti dia nggak akan tinggal diam. Aku minta maaf, ini semua gara-gara aku. Aku tadi nggak melihatmu memukulinya, tetapi aku mendengarnya dari Kayla. Bara berdarah, dan kamu masih memukulinya.”
“Mengapa kamu ada di sini?” tanya Noah, tanpa menghiraukan serbuah kata dari Terang tadi. Dia duduk di bangku, kakinya diangkat ke atas. “Untung saja penerangan di sini cukup baik.” Noah melihat sekeliling.
Terang kembali duduk di kursi. “Aku tadi mencarimu, tapi kata Kayla kamu dibawa ke ruang HMTI. Jadi aku ke sini karena aku tahu kamu akan ke sini nantinya.”
“Ini sudah tengah malam, kamu nggak berniat untuk pulang?”
Terang tak menjawab pertanyaan Noah. “Apa kamu mendapatkan masalah?” ia justru bertanya.
Noah terkekeh. “Dia pantas mendapatkannya. Anak-anak HMTI nggak menyalahkanku sepenuhnya. Meskipun Gema sempat membentak karena aku terlalu gegabah. Tapi, aku puas. Aku puas melakukannya. Aku benci ketika Bara mengatakannya tadi.”
Terang menunduk, mencoba mengingat apa yang dikatakan oleh Bara.
“Noah tanya lagi, kamu nggak berniat untuk pulang?” Noah memandang Terang. “Noah bisa nganterin kamu.”
Terang menggeleng. “Aku nggak ingin Bunda lihat aku kayak gini. Ini menyedihkan.” Dia menghela nafas pendek. “Kamu mau...kamu mau menemaniku ke suatu tempat?”
“Tentu,”
“Tapi...dengan satu syarat, kamu nggak boleh banyak tanya.”
# # #
“Kamu mau...kamu mau menemaniku ke suatu tempat?”
Tadi Noah sempat tak percaya pertanyaan itu keluar dari mulut tipis Terang yang lipstik merahnya sudah mulai sedikit menghilang. Dia tak menjawab, hanya mengangguk kecil. Kini mereka berdua berada di jalanan malam kota ini. Noah tak tahu kemana Terang akan membawanya. Terang tak banyak bicara selama perjalanan, dia hanya menunjukkan jalan.
Di depan ke kiri. Nanti perempatan lampu merah lurus saja.
Saat melewati Tugu Yogyakarta dari arah Jalan Sudirman, vespa Noah belok ke kiri. Masuk ke Jalan Godean. Terus melaju ke barat hingga perempatan Demak Ijo. Kemudian mereka ke kiri, masuk ke jalur lambat di Jalan Ring Road Barat.
“Sebelum jembatan, ada jalan turun. Kita ikuti jalan itu, Noah.” Suara Terang berdesakan dengan desiran angin malam. Noah hanya mengangguk. Setelah itu, Noah mendengar Terang bernyanyi, lirik dan nada yang tak ia kenal.
“Coba untuk ulangi apa yang terjadi. Harap 'kan datang lagi. Semua yang pernah terlalui. Bersama alam menempuh malam. Walau tak pernah ada kesempatan. Terjebak dalam jerat mengikat. Namun tekad nyatakan bebas. Setelah menuruni jalan yang terjal, mereka bertemu rel kereta api.” Nyanyian Terang berbaur dengan angin malam.
Vespa Noah berhenti tak jauh dari jembatan, tepat di samping beberapa motor yang terparkir di depan angkringan. Angkringan itu terletak di bawah jempatan, berada di panggung beton luas, di samping rel kereta. Ada tangga lebar di belakang orang-orang yang sedang duduk di atas tikar. Beberapa orang ada juga yang duduk di tangga tersebut. Terang mengajak Noah duduk di salah satu anak tangga. Sebelumnya, gadis itu telah memesan nasi kucing teri, sate usus, ceker ayam, mendoan, tahu bakar, dan wedhang jahe. Terang memesan yang sama, dengan porsi yang lebih sedikit dari Terang.
“Kamu kelaparan mesen sebanyak itu?” tanya Noah melihat nafsu makan Terang yang mendadak sangat banyak.
“Inget perjanjian di awal. Jangan memanfaatkan kelonggaran yang kuberikan dengan mencoba mendekatiku.”
Noah untuk kali pertama tertawa. “Noah...nggak mendekatimu, kamu yang meminta tadi.” Dia menyeruput minumannya. “Kamu benar-benar aneh.”
“Noah?”
“Iya apa...”
“Noah?” Terang mengulanginya. “Kamu sadar kan memanggil dirimu sendiri setiap ngomong ‘aku’?”
Noah tertegun. Lalu dia membuang muka. “Nggak...nggak perlu dibahas. Ngerti kan?”
Terang tersenyum kecil melihat tingkah Noah. “Aneh.”
“Kamu lebih aneh.”
“Kamu lebih sangat aneh, 1000 aneh, manusia yang jarang tersenyum. Baiklah, malam ini aku akan berdamai denganmu. Jadi berdamailah dengan indah.” Terang menyeruput wedhang jahe pelang-pelan. Air hangat itu menjalar perlahan ke tubuhnya, menghangatkan dan menetramkan jiwanya. Aromanya menenangkan hatinya. “Harus kuakui, thanks, Noah. Untuk malam ini. Aku berharap, kamu tidak berpikir yang macam-macam tentang apa yang diucapkan Bara tadi.”
“Maksudmu? Noah...maksudnya aku....sungguh nggak mengerti.”
“Ini tentang ibuku....”
# # #
Suara kereta mengaburkan suara Terang untuk beberapa detik. Ia masih saja bercerita tentang Bunda kepada Noah, dan ia tak tahu mengapa ia melakukannya. Mengalir saja. Seperti air segar yang mengalir di sungai pegunungan. Mirip dengan hujan yang datang tanpa penghalang.
“Bunda nggak pernah menikah lagi setelah itu, Noah. Aku bahkan sudah bilang kepadanya bahwa...aku rela Bunda menikah lagi. Setiap saat Bunda selalu berkata bahwa beliau masih mencintai ayah. Yang jelas-jelas sudah meninggalkannya bertahun-tahun lalu.” Terang mencoba tersenyum, meskipun saat bercerita tadi dadanya mengempis beberapa saat. “Walaupun aku sebenarnya...aku nggak pernah rela Bunda nikah lagi. Aku takut kehilangan dia, seperti saat aku kehilangan ayah dulu. Aku tak ingin kesepian.”
“Tapi kulihat kamu nggak pernah merasa kesepian. Kamu selalu bersama Kayla, tertawa, menghafal vocabularry.”
“Kamu selalu memperhatikanku ternyata.” Terang tertawa. “Enggak, aku mungkin....menutupi semua kegelisahanku dengan semangat dan tertawa. Itu yang Bunda ajarkan kepadaku.”
Terang meletakkan gelas wedhang jahe-nya. “Maaf, aku jadi banyak bercerita. Aku nggak pernah cerita masalah ini kepada siapa pun, kecuali pada Kayla dan Janaka. Malam ini, aku benar-benar sedang tidak dalam kondisi baik. Aku nggak tahu, mengapa aku menceritakan ini padamu. Tapi...” Terang menghela nafas panjang. “dadaku lega setelah mengatakannya.”
“Noah nggak masalah mendengarkannya.” Noah tersenyum kecil.
Terang baru sadar bahwa jika di luar kelas rambut Noah tampak lebih panjang menutupi telinga. Harus Terang akui, cowok di depannya ini berwajah manis. Kulitnya putih bersih, bahkan ia kalah dengannya. Dia tidak memiliki jerawat sedikitpun, sementara Terang ada beberapa bintik-bintik jerawat dan bekas jerawat yang tersebar di pipi. Hidungnya mancung, alisnya tebal, bibirnya merah. Terang pikir seharusnya Noah bisa saja jadi artis korea. Seperti di film-film yang sering dilihat Kayla.
“Kita akan di sini sampai pagi?” tanya Noah kemudian.
Terang melihat langit timur yang masih gelap. Ia sudah mengirim SMS ijin kepada Bunda. Melihat Bunda hanya akan membuatnya menangis. Jadi dia putuskan untuk berbohong kepada beliau. Ia bilang bahwa ia masih ada di kampus bersama teman-teman panitia. Menghabiskan sisa malam minggu dan sisa liburan sebelum sibuk dengan kuliah lagi.
“Kamu kedinginan?” tanya Noah membuyarkan lamunan Terang.
Terang menggeleng, namun tangannya semakin erat bersedekap di depan dada.
Noah tertawa kecil, ia melepas jaket tebalnya lalu memberikannya ke Terang. “Pakailah. Kulit wanita lebih tipis dari pria. Jadi gampang kedinginan. Noah nggak mau ya nanti di jalan kamu bersin-bersin lalu masuk angin.”
Terang mengamati jaket berwarna hitam dengan tulisan kecil huruf ‘N’ di dada kirinya. Udara semakin menusuk kulit, dan Terang terpaksa mengenakan jaket itu.
“Thanks...”
“You’re welcome. Noah...maksudnya aku senang melihatmu tersenyum lagi.”
Terang tersenyum kecil.
“Kenapa?” tanya Noah.
Terang menggeleng. “Kamu lucu karena mengganti kata aku jadi Noah. Kayak anak kecil. Aku tak pernah mendengarnya. Dan malam ini, kamu ternyata banyak bicara.”
“Sudahlah...”
“Kamu lebih baik bicara banyak.”
“Nggak usah dibahas.”
“Jadi Noah nggak mau bahas...utuk-utuk anak manis...” Terang tertawa.
“Terang....nggak lucu...”
“Noah nggak suka ya?”
“Terang...”
“Noah.”
Terang menggeleng. Lalu mengacak rambut Terang.
Terang menghindar. “Ah...Terang nggak suka kamu melakukannya.”Terang ikut-ikutan mengganti kata ganti ‘aku’ menjadi namanya.
“Terang...stop it.”
# # #
Pukul dua lebih, vespa Noah kembali melintasi jalanan kota yang masing lengang. Lampu jalan masih menyala. Tetapi aktivitas kota masih tertidur pulas. Mereka berdua menuju kosan Kayla, menjemput gadis itu yang sejam sebelumnya sudah ditelepon oleh Terang. Terang meminta bantuan gadis itu untuk berpura-pura menemaninya. Bunda pasti sangat kaget saat ia pulang diantar oleh seorang laki-laki yang bukan Janaka. Padahal saat ijin tadi, dia sudah bilang bahwa dia bersama Janaka juga.
Bunda masih ada di warung saat mereka datang. Kayla langsung menyalami, pura-pura bercerita bahwa acara setelah ulang tahun TI sangat menyenangkan. Panitia berkumpul dan bercerita, sambil bermain gitar. Tentu saja, itu ia karang-karang saja. Tak sia-sia dia sering membaca novel-novel.
“Bunda, ini Noah. Dia panitia juga. Tadi sepeda Terang rusak lagi rantainya, jadi aku tinggal di kampus. Janaka langsung pulang, aku nggak enak kalo harus minta dia ngantar ke sini. Rumah dia jauh di Parangtritis, kan?” Terang mengenalkan Noah dengan sedikit berbohong.
“Noah tinggal di daerah sini?”
Noah tersenyum ramah. “Iya, Tante. Saya kos di Gejayan. Rencananya sih pengen pindah juga di Pogung biar dekat ke kampusnya.”
“Panggil aja Tante itu Bunda, kayak yang lain. Bunda senang punya anak banyak.” Bunda menepuk pundak Noah. “Duduklah. Kalian pasti lapar. Bunda bikinin mie goreng.”
Terang langsung memotong ucapan Bunda. “Tak perlu kan, Noah?” Dia memandang Noah. Lalu kembali melihat Bunda. “Noah mau pulang Bunda. Sudah hampir pagi.” Terang melotot ke arah Noah, memberi kode.
Noah pura-pura melihat langit di luar. “Sebentar lagi pagi. Nggak ada salahnya coba mie goreng Bunda, kan?”
Terang tak percaya dengan ucapan Noah yang spontan itu. Saat Noah ke kamar mandi untuk buang air kecil dan diantar oleh Kayla, Terang langsung pergi ke dapur warung. “Bun, kok Bunda bikinin mie sih. Jangan biarkan dia di sini lama-lama.”
“Kamu ini gimana tho. Dia sudah baik-baik nganterin kamu pagi-pagi buta. Lagian Kayla juga pasti lapar. Kalian tentu belum makan sejak tadi malam. Sudah lebih baik kamu bantuain Bunda masak mienya biar cepat.”
“Ogah.”
“Jangan keras kepala.”
Terang bersungut-sungut sambil merobek plastik pembungkus mie.
# # #