MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 33



Jangan merayuku.


Noah mendengus kecil. Aku tidak merayumu, kamu yang menarikku. Terang semacam menjaga jarak, tetapi masih memberikan pesona-pesona yang membuat Noah merasa ingin selalu ada di dekatnya. Misalnya, semacam pertanyaan sederhana ‘apakah kamu sudah mengerjakan tugas’. Bagaimana ia bisa melakukan itu dan berharap aku tidak merayunya. 


“Lo harus kasih jarak dulu. Tapi yakinkan dia bahwa lo akan selalu ada.” Begitu saran Maleo kepada Noah suatu sore sehabis main futsal.


Keringat terus menetes dari rambut Noah dan dia meneguk air seliter tanpa sisa.


“Lo minum semuanya?” Maleo geleng-geleng kepala. “Gue heran ginjal dan kandung kemih lo bisa bertahan.


“Gue haus. Bukannya kita disarankan untuk minum air putih yang banyak.”


“Nggak ada yang baik kalau berlebihan, Nyet. Seperti juga cinta. Lo benar-benar kacau untuk urusan cinta. Dengarin gue.” Maleo memutar tubuh Noah sambil memandang sok serius. “Ada satu istilah di dunia kita para laki-laki, yaitu jurus layang-layang. Tapi jangan PHP. Lakukan itu, gue yakin pasti berhasil.”


Noah menuruti saran Maleo si maestro urusan percintaan dengan wanita. Pria itu benar-benar sangat ahli. Ia tidak lebih tampan dari siapa pun dari orang-orang tertampan di Teknik Industri, tapi dia bisa dengan mudah berganti pacar. Putus dengan si A, sebulan kemudian sudah menggandeng B, lalu tak lama bisa bersama C, dan kemudian dia bisa pacaran lagi dengan A, padahal Noah tahu bahwa dia sedang dekat dengan D.


Namun, saran itu gagal total. Bukannya semakin mendekat, Terang malah ‘menghilang’ selama seminggu. Justru Noahlah yang belingsatan kehilangan wanita itu.


Suatu sore di pelataran KPTU yang ramai, Noah bersama Maleo dan Gema sedang mengerjakan presentasi untuk tugas Sistem Produksi yang harus dikumpulkan lusa. Seperti biasa, Noah kebagian membuat presentasi, Gema yang bertugas berpikir, dan Maleo hanya sebagai penggembira membawakan makanan yang banyak dan berakhir dengan mengeprint tugas itu lalu mengumpulkannya.


Noah langsung memprotes Maleo yang tidak akurat memberikan saran untuknya.


“Noah, dengarin gue. Si makhluk Venus itu memang unik. Kita sebagai makhluk Mars yang sangat menjaga ego nggak punya satu rumus yang pasti untuk menaklukkan mereka. Coba lo gunain saranku yang lainnya,” ujar Maleo. Kemudian dia melirik Gema yang sibuk membaca makalah. “Dan elo orang Suroboyo yang gahar dan sangat pandai orasi dan presentasi, tapi sangat melempem kalo sudah ada di hadapan wanita, lo juga harus mendengarkan gue jika ingin mendapatkan hati Kayla.”


“Kayla?” tanya Noah, mengubah topik pembicaraan.


Maleo menoyor kepala Noah. “Elo sebagai teman dekat tidak peka kalo sahaba lo ini lagi jatuh cinta juga. Oh tidak, tidak, lo juga kan lagi ada masalah urusan hati, jadi lo pasti nggak peduli.” Maleo berdiri di tempatnya. “Kalian dengarkan sang maestro saat berbicara. Untuk urusan apapun, ada dua cara agar kita bisa berhasil. Ini juga berlaku dalam bisnis dan percintaan. Pertama, kalian belajar sendiri mati-matian. Ini memerlukan proses yang sangat lama.” Lalu dia menunjuk ke dadanya.”atau kedua, belajarlah dari maestro, maha guru, orang ahli kayak gue.” Dia tertawa.


“Omonganmu ngelantur, ***.” Gema tak berminat mendengarkan Maleo.


“Heh, Cak ***, lo boleh lebih hebat untuk urusan mimpin angkatan atau orasi, tapi untuk urusan hati, lo masih kalah ama gue, kan?” Maleo membusungkan dadanya. “Jadi, dengarkan saran ini. Jadilah orang yang paling pertama ‘mendengarkan’ saat dia membutuhkan bantuan, jadilah pendengar yang baik, bukan pencerita yang baik. Si venus itu adalah pencerita, kita pendengar. Jangan kebalik. Dengarkan, sambil tatap matanya.”


 


 


Kesempatan itu ada untuk Noah.


Sebulan sebelum ujian akhir semester empat, prodi Teknik Industri angkatan Noah mengadakan study tour ke salah satu produsen mie terbesar di Indonesia yang berada di kota Malang. Kesempatan itu datang tatkala bus yang membawa mereka keluar dari parkiran pabrik dan menuju ke Batu, Malang. Semua orang sibuk membicarakan tentang proses produksi di perusahaan itu. Orang yang menyukai mata kuliah Perencanaan Produksi akan diskusi tentang bagaimana Material Requirement Planning (MRP) di perusahaan itu. Apakah memang benar-benar digunakan, atau tidak. Ada juga yang diskusi tentang analisis biaya perusahaan. Bagaimana keuntungan perusahaan bisa menutupi opex yang sangat besar? Atau ada juga yang iseng bicara tentang inovasi dari mie yang legendaris itu.


Saat bus sedang menikung di pintu gerbang, berbelok ke jalan utama, seseorang menyeletuk tentang tugas Statistika Teknik Industri. Kabarnya ada beberapa orang yang memiliki nilai presentasi sangat rendah dan tidak bisa mengikuti ujian akhir karena sekalipun mengikuti ujian akhir nilainya akan tetap E atau D. Semua orang di dalam bus bertanya ‘siapa’.


Noah menganggap dirinya ada di daftar orang yang tidak perlu mengikuti ujian. Itu adalah kesempatan langka, meskipun ia harus belajar untuk remidi atau mengulang di tahun berikutnya. Namun, ternyata bukan dia. Ternyata ada nama Terang Azzahra di dalamnya.


Noah pikir itu bercanda, tapi Gema mengamini kabar itu. Saat Gema keluar dari ruang dosen, ia mendengar asdos Statistika sedang mengobrol dengan dosen tentang nilai tugas akhir. Gema sempat mendengar memang ada nama-nama mahasiswa yang tidak perlu mengikuti ujian. Tapi Gema tidak tahu lebih rinci.


Noah melirik Terang yang duduk berseberangan dengannya. Gadis itu kemudian tak banyak bicara. Bahkan ketika mereka sudah sampai di Batu Night Spectaculer (BNS) dan semua orang bahkan melupakan tentang kuliah. Noah menghampiri Terang.


“Ke mana Kayla?” tanya Noah.


Terang menggeleng kecil. “Tadi dia sedang ke toilet. Tapi entahlah,” katanya tak bersemangat. Kemudian ia berkata, “Kamu mau menemaniku naik sepeda udara?”


Tiga puluh menit kemudian, Noah dan Terang berada di sepeda udara yang meluncur mengelilingi BNS. Rel kereta dipasang di atas sebuah tiang tinggi. Mereka bisa melihat keseluruhan wahana yang ada di BNS. Sebenarnya wahana itu cukup mengerikan dan memacu adrenalin, tetapi sikap Terang yang mendadak sayu justru yang lebih mengerikan.


“Noah...aku gagal,” kata Terang, dia menangis sambil menelungkupkan tangannya ke muka.


Noah paham arah pembicaraan Terang. Mungkin untuk orang seperti Terang, mendapatkan nilai E adalah sesuatu yang sangat buruk.


Terang mengusap air matanya. “Aku nggak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Aku benar-benar mengerjakan tugas sebaik mungkin, saat ujian tengah semester aku juga  bisa mengerjakan semua soal. Aku sudah berusaha, tapi ini gagal.”


Noah ingat dengan perkataan Maleo. Lalu dia mencoba mengelus rambut Terang dengan lembut, lalu tangisan Terang semakin kencang.


“Ini benar-benar buruk. Aku nggak tahu harus berkata apa pada Bunda. Aku nggak pernah mimpi akan mengulang Statistika. Aku pikir aku akan lulus kurang dari empat tahun, lalu akan mengejar beasiswa untuk pergi ke GT. Tapi semuanya hancur, Noah.”


Dengarkan dia, jadilah pendengar yang baik. Tapi, bagaimana dia bisa segalau itu hanya karena sekali ini mendapatkan nilai E. Sekali ini saja. Aku saja yang masih ada beberapa nilai D tampak santai saja. Noah bicara sendiri di dalam hati.


“Apa yang akan terjadi?” Terang membuka kedua tangannya, lalu menatap Noah. “Apakah aku akan gagal pergi ke GT? Kamu tahu, aku benar-benar menginginkannya sekarang. Semuanya mendadak menguap karena berita tadi.”


“Kamu masih punya sejuta kesempatan, Terang. Aku tahu kamu bisa. Ini bukan akhir dari segalanya. Dan ketahuilah, aku akan selalu di sampingmu apapun yang terjadi padamu.”


Terang tampak terdiam, seperti seorang anak kecil yang terjatuh lalu mendapatkan permen cokelat. Dia masih sesegukan, tapi tak seheboh tadi.


Noah percaya bahwa segala hal keromantisan di dunia ini, didukung oleh semua hal yang ada di sekitarnya. Malam penuh bintang, musik meskipun terdengar hingar bingar di bawah tetapi tidak mengganggu, lampion-lampion menyala cantik semakin mengukuhkan bahwa malam ini begitu sempurna. Noah merogoh Blackberry-nya dari saku, lalu memutar musik. Satu-satunya musik yang tersisa di pemutar musik: Kosong. Tentu saja.


“Aku tahu suaraku jelek, tapi aku ingin menyanyi.” Lalu dia menyanyi. “Coba untuk ulangi apa yang terjadi. Harap 'kan datang lagi. Semua yang pernah terlalui. Bersama alam menempuh malam. Walau tak pernah ada kesempatan...”


“Suaramu buruk, Noah. Hentikan itu.”


Noah justru semakin keras bernyanyi dengan suara yang dibuat-buat. Waktu refrain dia mengubah lagu itu menjadi sedikit dangdut. Jadi saat ia mengatakan ‘jalan panjang semakin lapang’, kata panjang ia buat jadi panjaaaaang dengan cengkok khas melayu. Tapi itu gagal. Terang malah tertawa mendengarkan suara aneh Noah.


“Stop, Noah. Aku nggak bisa berhenti tertawa.”


Noah tak berhenti.


“Biarkan aku saja yang menyanyi.” Terang membungkam mulut Noah dengan tangan kirinya. Kemudian dia melanjutkan lagunya, sampai selesai.


Mulai malam ini, Terang jadi melupakan kalimat ‘jangan merayuku lagi’.


# # #


 


 


Saat siang harinya, ketika mereka dalam perjalanan ke Wisata Bahari Lamongan—tujuan terakhir dari Study Tour—Maleo menghampiri Terang yang kini duduk di samping Noah.


“Terang, gue dengar berita yang kemarin itu nggak bener. Ternyata itu bukan elo yang nggak bisa ikut ujian. Tapi elo memang benar-benar nggak perlu ikut ujian karena nilai lo sangat sempurna. Ada lima orang yang nggak perlu ikut ujian akhir Statistika, tapi kalian harus bikin satu artikel dengan topik yang sudah ditetapkan.” Maleo menjelaskan dengan panjang lebar. Mata Noah mendelik, lalu dia memberi kode ke Maleo, tapi Maleo tidak sadar dengan kode itu dan justru melanjutkan ucapannya. “Gue juga nggak percaya kalo orang secerdas elo bisa mendapatkan nilai E. Itu sangat kecil kemungkinannya.”


Noah melongo. Kesempatannya untuk kembali dekat dengan Terang menguap.


Maleo memandang Noah dan menyadari kesalahannya. “Gue pergi dulu.”


“Duduklah.”


“Gue mual. Ini muntah sekarang. Gue mau cari plastik hitam.”


“Duduklah Maestro Percintaan.”


Maleo meringis dan bersiap menerima konsekuensinya.


# # #


 


 


Angkatan 2007 sudah sampai di Wisata Bahari Lamongan.


Noah merapat dengan Gema dan Maleo, serta merelakan Terang yang memilih untuk pergi bersama Kayla dan Janaka. Orang-orang mulai menyebar, menikmati wahana permainan di mini Dufan itu. Di penghujung acara, ketika semua orang mulai satu persatu merapat ke kolam air, Noah berjalan seorang diri di pinggir pantai. Langit sedang cerah sehingga gumpalan-gumpalan awan tampak sangat putih. Lukisan langit yang sempurna dipadukan oleh gulungan ombak di laut lepas.


“Terima kasih kemarin.”


Noah menoleh dan melihat Terang sedang berjalan ke arahnya. “Sudah baikkan?” Noah membiarkan kakinya diterjang oleh ombak.


Terang mengikuti Noah. Dia mengenakan kaus putih, celana pendek, dan rambut yang dibiarkan tergerai, Noah tak kuasa untuk bilang bahwa Terang sangat cantik. Dia membiarkan kalimat itu menggantung di hatinya. “Apakah Noah boleh merayumu?”


Terang tertawa sambil membuang muka. Saat ia kembali menatap Noah, laki-laki itu tersenyum. “Langit sedang sangat cerah. Aku selalu percaya jika kita melukis langit saat cerah, lukisan kita akan dikabulkan. Mau melukis langit denganku?”


Noah mengangguk. Kemudian ia berkata lirih saat. “Aku nggak bisa membendungnya untuk mengatakan ini. Aku tertarik ke dalam kecantikanmu.”


“Kamu terlalu lama membaca Norwegian Wood, Noah. Perhatikan kata-katamu.”


“Sungguh.”


“Apakah kita bisa mulai saja sekarang?” Tanpa menunggu jawaban Noah, Terang mengarahkan telunjuknya ke langit. Lalu dia menuliskan sesuatu. Noah mengikutinya. Terang berkata, “Apa yang kamu lukis?”


“Sebuah pameran foto tunggal. Di Kemang, atau di Kota Tua. Aku belum memutuskan. Tapi kurasa di Kemang karena semua teman-temanku di sana. Jadi aku ingin semua orang melihatnya. Apakah kamu mau melihatnya nanti?”


“Tentu saja. Asal tiket ke Jakarta, kamu yang bayari.”


“Kamu nggak perlu mengeluarkan uang sedikitpun. Lalu, apa yang kamu lukis?”


“Mimpiku, aku selalu melukis hal yang sama. Universitas GT, lalu gedung JTMI kita. Aku ingin sekali bisa mengajar di sana nanti setelah aku menyelesaikan S2, kemudian aku akan sekolah S3 lagi.”


“Kamu benar-benar ingin ke GT?”


“Tentu saja. Siapa yang nggak ingin ke sana. Kamu juga ingin membuat pameran foto tunggal, kan?”


Noah mengangguk. “Tentu saja.”


Terang memejamkan mata. Ia menarik nafas panjang-panjang. Rambutnya tampak berkibar-kibar.


Noah menoleh. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya.


Terang mengangguk kecil. Lalu dia membuka mata lagi, kemudian mengarahkan tangannya ke langit. Dia kembali melukis, cukup lama sekali. Sambil tersenyum kecil.


“Kamu melukis lagi?”


“Aku melukis Bunda yang sedang tersenyum, Noah. Hanya dialah satu-satunya alasan di dunia ini mengapa aku selalu bersemangat pergi ke kampus. Hanya dia.” Ada air yang menggenang di sudut kelopak Terang. “Jadi kemarin, aku sangat takut jika aku benar-benar mendapatkan nilai E karena hal itu pasti akan membuatnya kecewa.”


“Bunda pasti nggak akan pernah kecewa memiliki puteri yang penuh semangat sepertimu. Percayalah.”


“Aku sangat menyayangi Bunda. Aku nggak pengen kehilangan dia. Tapi, aku juga ingin membuatnya bahagia. Maksudku, aku ingin sekali melihatnya bersama orang yang ia cintai tanpa harus sembunyi dariku. Melihatnya pergi berdua ke Pasar Sekaten di Alun-alun Utara. Aku pernah melihatnya pergi dengan Lik Ilham ke Pasar Beringharjo tanpa sepengetahuanku. Itu sangat menyakitkan bagiku, karena aku seolah-olah menghalangi kebahagiannya. Aku memang sangat takut kehilangan dia. Aku sangat egois sekali, kan?”


“Apakah sekarang kamu sudah siap?”


“Entahlah.” Terang menarik nafas panjang.


# # #


 


 


Selalu ada yang tersakiti untuk sebuah cerita cinta. Selalu ada yang merasa kehilangan.


Langit cerah, ombak putih bergulung-gulung, dan kecerian siang itu ternyata tidak mampu menghapus kesedihan yang terpancar dari dua orang laki-laki yang duduk saling berjauhan.


Ada Gema yang baru saja mati kutu karena jus buah yang sengaja ia beli untuk Kayla ditolak oleh gadis itu. Kemudian Maleo datang, menasehati bahwa apapun yang terjadi, Gema harus tetap datang kepada Kayla.


Lalu ada seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat Noah dan Terang. Kedua tangannya mengepal keras. Dia kemudian berbalik, menjauh dari pantai. Menghindari perasaan di dadanya yang meletup-letup. Sudah berbulan-bulan ia merasakan ada yang salah, tapi ia hanya menduga-duga. Tapi siang itu, ia merasa yakin bahwa dirinya sudah jauh tertinggal di belakang.


Janaka merasa seperti seorang prajurit yang harus pulang ke rumah sebelum berperang.


# # #