
Ujian akhir semester empat telah berakhir dan liburan menyambut mereka. Noah pulang ke Jakarta saat liburan, katanya dia kangen dengan Kakeknya. Terang sendiri memilih untuk pergi ke Parangtritis dan membantu Lik Giyono di tokonya. Saat liburan berakhir, dia mendapatkan ‘upah pengganti lelah’ yang lumayan dari Pak Lik-nya.
Semester lima telah menyambut para mahasiswa. Seperti tahun yang terus berulang, mahasiswa-mahasiswa baru telah datang, mahasiswa lama mulai memasuki kelas baru dengan mata kuliah yang semakin kompleks. Di semester lima, angkatan Terang mulai mengikuti praktikum-praktikum di laboratorium. Terang sadar bahwa semester ini akan banyak sekali dana yang ia butuhkan. Tabungan dari hasil mengajar di LBB semakin menipis, dan ia sendiri tidak mungkin menceritakan masalah keungannya pada Bunda. Bunda baru saja memberitahunya bahwa Lik Ilham melamarnya dan Bunda menyetujui untuk menikah tahun depan. Terang tak ingin membunuh kebahagian Bunda dengan urusan keuangan.
Pada suatu siang saat suasana KRS-an sedang berlangsung, saat para mahasiswa baru sedang sibuk mengikuti ospek di KPTU, Terang berjalan seorang diri di lorong kampus. Ia melewati papan mading anak-anak Persma yang masih kosong. Di sampingnya, papan pengumuman jurusan yang memuat beberapa informasi. Terang menelusuri satu-satu. Informasi tentang beasiswa, tentang test toefl, nilai-nilai semester lalu yang masih tertempel. Terang sudah tidak bisa mengikuti beasiswa mana pun karena ia terikat pada peraturan universitas yang mengatakan bahwa semua mahasiswa yang berasal dari PBUTM tidak diperbolehkan untuk mengikuti beasiswa.
Salah satu yang menarik adalah informasi tentang pencarian asisten pribadi dosen.
DICARI MAHASISWA/I YANG PENUH SEMANGAT UNTUK MEMBANTU SAYA DALAM PROYEK.
Syaratnya : mahasiswa/i yang aktif di kegiatan kampus, memiliki IPK diatas 3, mau belajar dan bekerja keras.
Tugasnya: sebagai petugas administrasi proyek
Kompensasi: bisa dibicarakan dengan saya pribadi
Ttd,
Andi Sudiarso.
# # #
Seminggu sebelum perkuliahan semester lima dimulai.
Suatu siang yang terik di bulan September tahun 2009, hujan belum menunjukkan tanda-tanda ingin menyapa tanah Yogyakarta. Terang keluar dari gedung LBB sesaat setelah mengajar anak-anak SD yang baru saja masuk kelas 6. Ada SMS masuk di Nokianya. Dari nomer yang belum ia simpan di kontak. Isinya sederhana saja. Bisa menemui saya di ruangan Gedung B, lantai 2. Andi Sudiarso. Terang langsung mengambil sepedanya, lalu meluncur ke JTMI dengan semangat.
Pak Andi menerimanya menjadi asisten proyek selama satu tahun ke depan. Berarti Terang harus memiliki strategi untuk mengatur semua waktunya. Praktikum, mengajar di LBB, menjadi asisten Pak Andi, dan dia berniat untuk menjadi asdos untuk satu mata kuliah.
Satu-satunya orang yang ingin Terang telepon adalah Noah. Satu hari sebelum ia memasukkan semua dokumen persyaratan ke Pak Andi, Noah meneleponnya. Tepat sekali kamu meneleponku, kata Terang malam itu saat ia sedang duduk di atas atap. Aku kangen, kata Noah. Kamu tak bosan merayuku, kata Terang. Tak akan bosan, ujar Noah pelan.
Terang menceritakan tentang keinginannya menjadi asisten Pak Andi dengan semangat. Bagaimana ia mendadak gugup malam itu karena ia tak tahu apa yang harus dilakukannya besok saat wawancara.
“Kamu hebat, kamu pasti bisa,” ucap Noah sedikit pelan.
“Kamu baik-baik saja, kan? Nggak sedang sakit?” nada suara Terang khawatir.
“Aku baik-baik saja. Kamu yang harus jaga kesehatan. Semester ini, banyak sekali kegiatan. Apakah darah rendahmu masih suka kumat?” tanya Noah kemudian.
“Enggak, kurasa aku sudah lama nggak pusing mendadak. Aku hanya butuh jaga makan. Jangan sampai lupa saja.”
“Kamu harus semangat.”
“Tentu saja.”
“Jangan lupa makan.”
“Aku akan terus mengingatnya.”
“Jaga kesehatanmu, aku nggak ingin kamu kenapa-kenapa.”
“I do.”
Untuk pertama kalinya, Terang mengatakan hal yang sama. “Aku juga.” Dia kemudian ingin memeluk Noah.
Siang itu, setelah ia keluar dari ruangan Pak Andi, Terang menelepon Noah. Sebelum gadis itu menceritakan semuanya, Noah bilang bahwa dia sudah ada di Jogja. Aku akan menjemputmu di kampus, kata Noah mengakhiri telepon.
Saat makan siang, Noah sudah ada di kampus. Sudah hampir sebulan Terang tidak bertemu dengan Noah.
“Ini adalah waktu terlamamu di Jakarta saat liburan. Biasanya kamu memilih tinggal di sini,” kata Terang.
Noah tak menanggapi, dia meminta Terang naik ke vespa lalu keduanya meluncur ke Mas Kobis. Siang itu Mas Kobis cukup padat. Motor-motor terparkir rapi di pinggir jalan, udara terasa panas saat mereka masuk ke dalam tenda, namun harum ayam greprek dari wajan Mas Kubis mengalahkan rasa panas itu. Noah bilang bahwa rasa rindunya kepada Mas Kobis sama besarnya dengan rasa rindu kepada Terang. Jadi mereka tetap memesan tempat.
“Jadi ada apa kamu menelepon dengan semangat? Apakah kamu ingin mengatakan hal yang sama. Aku kangen kamu?” kata Noah.
“Tidak, bukan itu. Tapi mungkin itu juga. Tapi bukan itu yang sejujurnya menjadi topik utama. Aku diterima jadi salah satu asisten Pak Andi. Ada dua orang yang diterima, Hendra teman kita dan aku.”
“Sungguh?”
Terang mengangguk-angguk. “Ini berita yang menggembirakan untuk mengawali semester ini.”
Terang kemudian bercerita tentang proses wawancara dengan Pak Andi yang sangat menyenangkan. Lebih seperti mengobrol tentang kegiatan sehari-hari saja. Ia kemudian menceritakan tentang rencana Bunda yang semakin sering menjahit dan bernyanyi. Ia tak lagi membuat baju-baju batik kebesaran yang ia cobakan untuk Terang. Lik Ilham menghadiahinya sebuah buku model-model baju terkini yang lebih trendi. Bunda dengan cepat membuatnya. Ia juga banyak sekali menerima order. Warung burjo ditutup, diganti dengan beberapa mesin jahit. Bunda sekarang punya satu orang yang membantu karena banyak sekali orderan yang berdatangan. Bunda tak perlu tidur larut, lalu bangun pagi-pagi. Terang tak perlu bergantian jaga.
Noah hanya diam mendengarkan, ia kadang-kadang menimpali sedikit.
“Kamu kembali seperti saat kali pertama bertemu denganku. Kamu lebih banyak diam hari ini, Noah.”
“I’m listening.” Dia tersenyum. “Apakah kamu ingin berita menggembirakan lainnya?”
“Apa?”
“Aku merindukanmu. Sangat.”
“Aku sudah tahu. Jadi itu bukan berita yang baru. Kamu sudah mengatakannya.”
“Apa kita bisa jalan-jalan keliling Jogja nanti saat libur tengah semester? Mungkin kita bisa creambath bareng, atau duduk-duduk saja di pinggir pantai, atau ke bukit bintang. Kita bisa ke kafe mengobrol tentang apa saja, minum kopi, lalu berjalan lagi, mengobrol di lobi kampus. Aku ingin berdua saja denganmu satu hari.” Ini adalah penjelasan terpanjang Noah sore itu.
“Itu mirip adegan Naoko dan Watanabe yang suka berjalan berdua.”
“Kita bisa berdiskusi tentang Norwegian Wood di pinggir pantai. Aku Watanabe yang kesepian, kamu Naoko. Atau kita mencari sumur seperti yang mereka lakukan.”
“Aku tidak mau menjadi Naoko, karena dia terlalu aneh. Kupikir aku lebih mirip dengan Midori.”
“Jadi kita akan melakukan adegan yang sama seperti mereka.” Noah mengerlingkan matanya.
“Adegan mana yang kamu maksud?” Terang pura-pura cemberut. Ia tahu adegan mana yang Noah maksud.
“Jangan berpikir yang enggak-enggak. Ada banyak adegan di Norwegian Wood. Tapi aku akan memilih satu. Aku akan menciummu.”
“Tak akan kuijinkan.”
“Aku akan menciummu di salah satu ruangan kelas, lalu kuputar lagu Kosong untuk mengiringinya.”
“Kamu bisa lebih romantis lagi nggak sih, Noah?”