
20 April 2016. Tujuh hari sebelum ulang tahun Teknik Industri ke-18.
Aku masih hidup dalam bayang-bayang kata-katanya, meskipun kini aku telah berstatus menjadi tunangan orang. Tapi kata-katanya menjadi salah satu hal yang kuingat dan menyemangati ketika aku berada di titik terendah.
Selamanya mimpi akan menggantung di langit jika kamu tidak mewujudkannya. Tapi setidaknya jika kamu melukisnya di langit, kamu akan melihatnya setiap hari.
Aku masih bisa merasakan deru nafas Noah sore itu, mukanya yang pucat, udara Bogor yang dingin. Kuikuti saja lukisan-lukisan langitku, lalu kuwujudkan satu-satu.
Kini di sinilah aku. Di salah satu meja di ruangan dosen di Teknik Industri 2016. Saat aku sudah menyandang gelar S2, dewi fortuna sedang mengikuti langkahku. Sebulan setelah aku kembali ke Indonesia, di TI UGM sedang menerima pendaftaran dosen muda, aku mengikuti seleksinya dan diterima. Kini sudah lebih dari satu tahun aku bergabung.
Masih ada beberapa lukisan yang masi menggantung saja di langit. Lukisan di langit masih ada yang ingin kuwujudkan. Salah satunya, aku ingin menyandang gelar Ph.D di belakang namaku. Selain itu, aku ingin menikah tahun ini dengan tunanganku.
Hari ini begitu melelahkan. Aku baru saja melakukan bimbingan skripsi untuk mahasiswa bimbinganku. Rasanya baru kemarin aku dibimbing oleh Pak Budi, tapi mulai semester ini aku sudah memegang beberapa mahasiswa.
Kututup laptopku, aku ingin pulang. Aku mengambil tumbler pemberian Noah yang masih baus, meneguk isinya tandas. Seorang mahasiswi masuk, membawa setumpuk tugas kepadaku.
“Bu Terang, saya mau minta maaf, tapi...,” ujarnya. Mahasiswa tingkat satu yang memakai baju warna merah terang, jeans, dan rambut yang dikuncir kuda.
Aku mengerutkan kening. “Tapi?”
“Tapi...ada satu orang yang tidak mengumpulkan tugas. Tidak, aku sudah mencarinya, Bu. Tapi aku tidak menemukannya.”
“Ceria, kamu sudah tahu kan peraturannya? Jika tidak ada satu mahasiswa yang tidak mengumpulkan, maka satu angkatan...”
“Saya tahu, saya tahu. Tapi aku tidak menemukannya. Entahlah, aku tidak tahu wajahnya. Dia aneh, tidak ada yang tahu. Pasti dia mahasiswa menyebalkan yang tidak niat kuliah. Dia bisa dibunuh satu angkatan tentu saja.”
Aku tersenyum. “Kamu harus tetap mencarinya, kan?” aku mengerlingkan mata.
Ceria tampak menyerah bernegosiasi denganku. Dia kemudian permisi untuk pergi. Aku mengulum senyum.
Tadi tunanganku sudah menelepon, mengajak pulang. Kucek ponselku. Ada banyak notifikasi di group alumni TI angkatanku.
Gema : Hai, kita reuni yuk pas ultah TI.
Aisyah : Eh, boleh juga tuh. Udah kangen kalian.
Puteri : Ayok Ma, dibikin acaranya. Kamu kan punya EO, bikin yang kerenlah.
Gerry : Nebeng acara ultah TI aja hehehe...
Bulan : Sekalian ngisi kuliah tamu gimana? *kedip-kedip*
Amira : Cie yang baru saja diangkat jadi manager Oil and Gas
Gema : Ya udah, aku bikinin acara yah...kalian ke Jogja semua
Puteri : Aku sih oke. Bisa minta cuti.
Maleo : Wah gw telat, ada apa ini ada apa ini?
Puteri : Ihii, yang sekarang jadi youtubers, subcribernya banyak. Sombong si Maleo jadi artis sekarang mah. Gw ngikutin youtube dan IG kamu lho.
Gerry : Cie Puteri yang dari semester 1 ngarep jadian ama Maleo.
Maleo : Iya\, Put\, nanti kita ngedate yah di Jogja *senyum genit*
Puteri : NGGAK JADI DATENG.
Sita : Kemarin aku liat Maleo di TV, gile keren aja. Kerjanya bikin vlog.
Gibran : Lo pernah diendors Fuji ya?
Gema : Heh, kunyuk, bikinin video dong yang keren. Diputer pas reuni.
Fathan : Pernah diendorse ****** nggak\, Yo? *Kabooor*
Maleo : Bayar ya kalo foto sama gue... Eh reuni? Boljug, nanti gue bikinin video keren deh, masuk youtube.
Amira : Aku sih yess..
Gerry : Aku iya.
Lanang : Si Kayla mana nih, biasanya dia yang paling duluan urusan beginian.
Maleo : si Bu Dosen Terang mana jg.
Gerry : Ah, dia pasti lagi marah-marah ke mahasiswa
Gema : Kayla lagi sibuk memasarkan novel-novel remaja. Nggak pernah pulang
Puteri : Cie, Gema cemburu, calon istrinya sibuk...
Gema : Kita Udah nikah woi...
Amira : Ups...
Kayla : Eh aku telat, mau reunian? Ayukkkk....
Aku tersenyum sendiri membaca group chat WA teman-teman angkatanku. Reunian?
# # #
Reuni itu benar-benar terjadi. Sehari setelah group chat itu, Gema menginfokan di group bahwa ia telah mendapatkan ijin untuk membuat acara di kampus. Ada beberapa alumni juga yang diminta untuk mengisi kuliah umum.
Satu hari sebelum acara reuni yang bertepatan dengan ulang tahun TI, aku menerima sebuah email yang membuatku menahan nafas cukup lama. Sore itu, aku baru saja kelar mengajar kelas Sistem Produksi untuk 3 SKS. Kelas siang memang sangat melelahkan, namun aku selalu bersemangat saat bertemu dengan para mahasiswa.
Aku memiliki kebiasaan untuk memeriksa email sebelum pulang ke rumah. Ada empat email baru yang masuk ke email kantor dan enam email ke email pribadi. Aku tak membaca semuanya, karena email yang teratas membuat seluruh dinding di ruangan dosen runtuh ke tanah.
Aku merasa jantungku berhenti berdetak, dalam artian benar-benar berhenti. Aku melayang, mungkin mati. Saat kakiku kurasakan kembali menginjak bumi, aku kembali membaca email itu.
Ditulis dengan subjek yang sangat sederhana. Hanya dua kata dan sebuah titik. Hi. Tapi dua kata itu membuat kerongkonganku tercekat, kemasukan es lilin berdiameter tiga centimeter.
Email itu dari maheswara.ns@gmail.com. Kulihat hari dan jam email itu. Aku menelan ludah besar. Tidak, ini tidak mungkin. Aku mengeklik email itu dengan tangan gemeteran hebat.
Dari : maheswara.ns@gmail.com
Subjek : Hi.
Hi, Gadis Pelukis Langit.
Apa kabar? Jangan terkejut, ini benaran aku yang menulis. Aku tidak meminta siapa pun untuk menulisnya karena aku hanya ingin menulisnya sendiri. Untukmu. Sebelumnya aku akan menebak beberapa hal. Pertama, ini adalah satu hari sebelum acara reunian. Kedua, kamu mungkin sudah jadi dosen. Ketiga, kamu akan menangis nantinya. Aku membiarkannya, asal aku tidak melihatnya. Aku tak pernah tahan melihatmu menangis.
Jangan pernah beranggapan aku masih ada. Tidak, aku benar-benar sudah tidak ada sekarang. Jadi kutulis surat ini, karena pada saat aku menulisnya, aku sangat merindukanmu. Aku menulisnya tepat saat malam hari aku merasa bahwa tubuhku mulai sekarat dan aku mendadak sangat merindukanmu. Tapi aku sadar, sebentar lagi aku akan kehilanganmu. Jadi aku menulisnya.
Sebelumnya, aku akan menjelaskan mengapa aku bisa menulis ini dan kamu bisa membacanya pada tanggal 26 April 2016. Berarti sudah hampir tujuh tahun kita tidak bertemu. Tentunya kamu masih ingat saat ujian praktik Logika Pemrograman, saat aku bisa menyelesaikan ujian tepat waktu. Dan Logpro mendapatkan nilai A semester itu, dan satu-satunya. Kamu juga pasti ingat bahwa aku sukanya nge-games, main komputer. Hal itu membuatku suka sekali otak-atik komputer, pemrograman, dan hal-hal yang berbau IT. Lalu aku menemukan cara untuk mengirimkan email dengan setting waktu yang telah kutentukan.
Aku menulisnya malam itu, tepat saat aku sangat merindukanmu (sengaja kuulang-ulang kalimat ini, karena aku ingin kamu membacanya tak hanya sekali), dan mengirimkannya agar kamu bisa membacanya 7 tahun kemudian.
Terang, aku tak bermaksud mengusik kehidupanmu sekarang. Tak pernah. Aku tak memintamu untuk selalu memikirkanku, meskipun aku juga pernah memintamu tidak melupakanku. Aku hanya ingin jadi bayang-bayang masa lalumu yang kamu kenang di masa depanmu. Itu saja. Aku akan gembira jika nanti kamu membalas email ini dan bilang bahwa ‘Noah, aku belum melupakanmu. Noah, aku ingin memberitahu bahwa aku sudah jadi dosen. Noah, aku merindukanmu juga.’
Aku mengirim pesan ini setelah waktu yang lama karena :
1. Kamu (tentu) sudah jadi dosen
2. Aku yang meminta agar reuni itu diadakan saat sudah lama teman-teman kita tak bertemu. Momen reuni setelah sekian lama akan menyenangkan, bukan?
Pertama, jangan lupakan aku.
Kedua, tetaplah bersemangat meraih mimpi-mimpimu. Tapi ingat, jangan hanya menggantungkannya di langit, tapi wujudkanlah. Hiduplah dengan mimpi dan semangatmu. Jaga kesehatanmu, jangan sampai darah rendah menghapus lukisan langitmu. Jangan makan telat. Aku tahu, kamu akan pusing jika telat makan.
Ketiga, bernyanyilah untukku.
Aku tak ingin menulis banyak. Karena sejujurnya aku tidak pandai berkata-kata. Tapi malam hari saat aku sangat kesepian di kamar kakek, aku hanya dihibur oleh diary kakek. Aku membacanya berulang. Lalu aku tersadar, aku pun bisa menulis hidupku. Jadi aku menulis kisah hidupku. Bagaimana aku kehilangan ayah, kehilangan kakek, betapa aku sebenarnya mencintai mami tapi aku membencinya. Dan terakhir, kisahku saat aku jatuh cinta padamu. Itu penting. Jadi kutulis dengan segenap hatiku. Di blog.
Aku pernah bilang bahwa aku punya blog. Satu blog untuk memajang foto-fotoku. Satu lagi untuk menulis kisahku ini.
Terang, aku juga ingin bilang bahwa aku telah berdamai dengan ayahmu. Tidak sepantasnya aku membencinya. Saat aku melihatnya datang bersamamu di Bogor waktu itu, aku sadar, dia orang baik. Jadi, aku meminta bantuan kepadanya.
Pertama, aku menulis surat untuk mami dan aku memintanya untuk menyerahkannya.
Kedua, aku memintanya untuk mengelola blogku, membagikan kisah-kisahku satu persatu, lalu membalas komen-komen dari pembaca hanya dengan kaliamat pendek ‘Terima kasih, aku senang kamu membaca kisah ini. Ini sangat spesial.’ Kamu pun bisa membacanya sekarang. Klik saja link ini.
Ketiga, aku memintanya untuk menghubungi teman-temanku. Gema yang tentu saja jago mengorganisasi sebuah acara, si Maleo yang jago videografi, dan Kayla yang pintar marketing. Aku ingin dibuatkan pameran tunggal tepat di hari ulang tahun TI UGM di tahun 2016.
Kamu pernah berjanji akan datang di pameran tunggalku, kan?
Terang, aku tak ingin bercerita panjang lebar. Aku hanya ingin tahu bahwa kamu telah mewujudkan lukisan-lukisan langitmu. Aku akan gembira mendengarnya.
Tapi, ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu. Terang, aku sangat beruntung pernah memilikimu. Mencintaimu. Tetaplah bersemangat. Aku tahu kamu hebat.
Kini, bernyanyilah untukku.
*/ Jalan panjang semakin lapang / Hanya dahan kering yang terpanggang / Tak ada teman telah terpencar / Namun waktu terus berputar / Peduli apa terjadi / Terus berlari tak terhenti / Untuk raih harapan / Di dalam tangis atau tawa //
Yang merindukanmu,
Noah.*
Aku merasakan getaran hebat di tubuhku. Kurasakan tubuhku limbung. Mataku panas, seperti terbakar matahari. Aku terpejam, dalam genangan air kulihat Noah tersenyum padaku sambil pergi menjauh.
Kubuka link blognya. Tak banyak ornamen-ornamen tambahan di blognya. Hanya layar putih bergaris hitam. Headline blog adalah nama blognya. Heswara. Noah menulis artinya di bagian ‘about’. Kata dia, kata itu seperti bilang He & Swara (suara). Atau kalo cepat akan terdengar seperti ‘his suara’ yang diseret. Foto adalah ‘suara’nya untuk menangkap momen.
Aku melihat semua fotonya, kemudian semua kenangan tentangnya berlompatan. Lalu aku menangis sejadi-jadinya.
# # #
Hari ini, pagi hari, 27 April 2016.
Angkatan 07 akhirnya bisa berkumpul di ulang tahun TI UGM. Kami ikutan memotong tumpeng di halaman depan kantin. Ingatanku mengembara saat acara ulang tahun pertama yang kuikuti, ketika aku diminta menyanyi. Waktu terasa berlari, saling mengejar dengan masa depan, meninggalkan masa lalu dalam balutan kenangan. Setelah mengikuti rangkaian acara perayaan, kami dibawa oleh Gema menyusuri satu persatu ruangan-ruangan yang sempat menjadi kenangan. Kami berhenti di M1 hingga M6, lalu bercerita, berkelakar. Membicarakan Thermodinamika, Menggambar Teknik, Matematika 2, Sistem Produksi, PPIC, Manajemen Strategi, OR, Analisis Biaya.
Aku merasakan tubuhku kembali ke sana. Tersedot ke putaran waktu. Ada Noah yang kemudian berputar-putar dalam pikiranku sendiri. Aku teringat setiap detail kejadian dengan Noah. Noah, aku sudah berjanji tidak akan melupakanmu.
Siang harinya, Gema membawa kami ke Selasar Barat Gedung KPTU. Tak ada lagi meja-meja yang biasa dipakai oleh mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Kini berganti menjadi sebuah pameran. Biasanya di sana dipakai untuk pameran-pameran produk inovasi dari tugas akhir mata kuliah Pengembangan Produk, atau pameran Proyek Terpadu di akhir semester 7. Aku ingat pernah membuat pameran bertema ‘sepeda innovasi’ untuk tugas Pengembangan Produk, dan tema ‘mainan tradisional’ untuk Proyek terpadu.
Tapi siang itu, aku melihat bingkai-bingkai foto besar yang menempel pada panel-panel hitam yang membujur dari barat ke timur.
Ruangan tak berdinding dengan pilar-pilar besar itu tampak penuh. Orang-orang berdatangan melihat pameran foto yang sebagian besar berwarna hitam putih itu. Aku berdiri kaku di pilar paling ujung.
“Kamu sudah melihatnya sekarang,” kata ayah yang tiba-tiba ada di sampingku. Aku menoleh, lalu kupeluk erat lengannya. “Dia yang meminta ayah untuk melakukan ini. Gema yang membantu menyiapkan semuanya. Noah sendiri yang memilih foto-foto ini, ayah tinggal mencetaknya.”
Aku mengangguk. Kutelusuri satu persatu foto yang berframe hitam itu. Semuanya hitam dan putih. Tak ada warna lain. Kulihat foto-foto yang diambil saat Noah masih kuliah. Ada yang diambil saat mereka di pantai, di jembatan layang, di lereng Merapi.
Yang menarik perhatianku adalah dua foto yang menjadi pusat perhatian orang, letaknya di tengah sebelum panggung utama. Yang pertama adalah foto jalanan yang memisahkan gumuk pasir dan pantai. Jalan itu sangat panjang. Ada seorang gadis yang mengacungkan Rumput Lari, seolah menantang matahari, berjalan seorang diri. Foto itu dibuat hitam putih. Tapi aku masih bisa mengenali gadis itu. Gadis itu adalah aku. Judul foto itu adalah Monochrome in Lonely Road.
Foto yang kedua lebih nyata. Satu-satunya yang full color dari 40 foto yang dipamerkan. Fotoku lagi. Sedang bernyanyi di ulang tahun TI UGM dulu. Aku yang sedang memegang microphone dengan senyum lebar dan mata yang memantulkan cahaya. Latarnya adalah pendaran lampu berwarna emas. Aku cantik.
Aku mundur beberapa langkah. Judul di foto itu mengabur.
Warna Terang di Hidupku, dan Satu-satunya.
Aku melangkah mundur, semakin mundur. Semua kenangan tentang Noah tiba-tiba berloncatan, telingaku mendengar sayu lagu Kosong. *T*idak, aku tidak ingin mendengarnya. Mataku memanas.
Kurasakan ada tubuh seseorang yang menabrakku. Dia memegang pundakku, aku menoleh. “Kamu baik-baik saja?” tanya Mas Satria.
Aku terpaku. Aku mengangguk. Mas Satria tersenyum. Senyum yang justru semakin ingin membuatku menangis.
“Tak ada salahnya mengenang seseorang, kan?” katanya. “Bagian dari hidup. Tenang, aku tidak cemburu, Sayang.” Mas Satria merengkuh pundakku, lalu dia menghapus air mata yang meleleh di pipiku.
Aku teringat saat kali pertama datang ke Atlanta dan Mas Satrialah yang setia menemaniku. Dia sedang menyelesaikan gelar Doctornya di sana. Dia pula yang mengenalkanku dengan kelurga Bapak Setyo, keluarga yang kemudian menawariku sebuah flat dan aku bisa tinggal di sana. Mas Satria pula yang kemudian membuatku merasa memiliki keluarga saat harus hidup jauh dari Indonesia.
Dia yang mengenalkanku pada Payung Teduh di tahun 2012. Aku masih ingat saat itu dia memang sedang berusaha untuk ‘dekat’. Tapi, hatiku masih saja belum bisa membuka untuk siapa pun, meskipun aku telah berjanji untuk berusaha.
Malam terakhir sebelum dia pulang ke Indonesia, dia mengajakku jalan-jalan.
“Terang, kamu suka musik indie ya? Sekarang ada group indie lumayan oke, Payung Teduh. Kamu sudah tahu?”
Aku menggeleng.
“Lagunya sangat keren. Kamu coba dengerin deh.”
Aku hanya mengangguk, sebenarnya tak berminat juga. Aku sedang dalam pengaruh ‘Kosong’ saat itu.
Kemudian dia menatapku. “Kamu tahu kan salah satu album-nya Pure Saturday yang Time for a Change..Time to Move On saat mereka ditinggal vokalisnya?”
Aku mengangguk, tak mengerti dengan arah pembicaraannya.
“Tidak baik larut dalam kenangan terus menerus. Boleh saja, tapi bukankah hidup akan terus berjalan terus?” Dia tersenyum memandangku. Dia menyerahkan satu CD Payung Teduh kepadaku. “Salah satu lagu-nya Payung Teduh di album ini berjudul ‘Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan’, aku...” Dia menelan ludahnya. “Aku mau kamu yang jadi perempuan itu untukku.”
Tidak mudah untukku menerima orang lain, selain Noah. Tapi aku teringat perkataan Pak Budi waktu setelah sidang skripsi.
Tidak baik larut dalam selebrasi yang berlebihan. Jadi mungkin itu benar.
Aku mulai berangsur mendengarkan ‘Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan’, kemudian ‘Di Ujung Malam’, lalu ‘Resah’ dan yang lainnya. Tepat satu setengah tahun lalu saat aku kembali ke Indonesia, aku menerima Mas Satria menjadi pelengkap hidupku.
Mas Satria mencubit pipiku. “Yuk, gabung dengan yang lain,” ajaknya.
Aku tersadar dari lamunan panjang. Aku dan Mas Satria bergabung dengan teman-teman angkatanku yang sudah duduk di depan panggung kecil. Ada Maleo di atas panggung yang memegang microphone.
“Hai, semua. Kenalkan aku Youtubers,” ucapnya. Semua mencibir dengan ucapan huuuu. “Stop haters, aku tak peduli.” Dia tertawa. “Hari ini, mungkin udah hampir 5 tahun kita nggak duduk bareng seperti ini. Hari ini juga, aku punya sesuatu yang spesial untuk kalian. Semoga video ini bisa membawa kenangan kita ke masa-masa indah dulu.”
Layar proyektor besar di pinggir panggung menampilkan video yang diambil oleh Maleo sejak kuliah. Potongan-potongan gambar kami saat di kelas, di lobi, muka-muka culun, saat melihat hasil ujian, dan banyak cerita lain yang tergambar di sana. Semuanya terpampang jelas di sana.
Aku ingat Maleo memang suka membawa kamera untuk merekam di kampus.
Aku melihat Noah di video. Hatiku bergetar. Aku menelan ludah.
Mas Satria menggenggam tanganku, dia melihatku sambil tersenyum. “Tidak ada salahnya mengenang masa lalu. Aku tentunya juga punya masa lalu. Aku menerimamu bukan karena masa lalumu, tapi karena masa depan kita.” Dia merangkul pundakku.
Aku tertawa, sambil menangis. Kudengar teman-temanku juga sama. Tertawa. Sambil menangis.
Setelah video itu selesai, muncul Pure Saturday di hadapan kami. Langsung menyanyi lagu ‘Kosong’. Mulutku ternganga, gembira sekaligus ingin menangis. Kami bernyanyi bersama.
“Noah yang memintanya,” kata Mas Satria, lalu dia bernyanyi bersamaku.
Noah, aku tak akan mengingkari janjiku padamu, ucapku dalam hati. Aku tak akan melupakanmu. Tapi, aku akan melanjutkan hidupku. Seperti katamu juga. Aku akan penuh semangat meraih lukisan-lukisan langitku. Tentu saja kini bersama dengan Satria Pamungkas. Apakah kamu tahu, apa arti ‘pamungkas’ itu? Pamungkas itu berarti ‘yang terakhir’.
Noah, aku juga tak akan melupakan janjiku yang ketiga. Aku akan bernyanyi. Tapi bukan lagu Kosong lagi. Aku meminta Pure Saturday menyanyikan lagu ‘Pagi’. Karena aku ingin kembali memulai hariku. Noah, kamu adalah kenanganku. Aku ingin selalu mengenangmu. Aku akan bernyanyi untukmu.
Kutau tempat yang kutuju / semua cerita bersatu / berganti nyanyian pagi / sejukan hati bekukan waktu //
Semua yang kucari / berganti nyanyian pagi / tangisan dan tawanya / sejukan hati bekukan waktu //
Aku bernyanyi hanya untukmu, karena aku tak pernah menyesal pernah memilikimu. Tapi, aku akan melanjutkan hidupku, Noah. Seperti katamu, janjiku yang kedua, aku akan melanjutkan hidup meraih lukisan-lukisan langitku dengan semangat.
(ENDING)