
Sore hari ketika kelas Bahan Teknik telah selesai.
Terang pernah bilang pada Bunda bahwa beliau tak perlu membuatkan rok untuknya. Itu mempersulit gerak saat mengendarai sepeda mini yang rantainya mulai berkarat. Namun, Bunda selalu berkilah bahwa Terang harus tampil anggun.
Bunda sendiri, kenapa nggak anggun?
Perdebatan kecil itu selalu muncul saat Terang akan berangkat ke kampus hanya mengenakan jeans dan kaus polo.
“Rambutmu nggak digerai?”
“Aku naik sepeda, Bun. Angin di Pogung bisa ngerusak rambutku jika tidak dikuncir kayak gini.”
“Kamu sangat keras kepala, persis kayak ayahmu,”
“Jangan nyamain Terang sama dia. Lagian, aku lebih suka kayak gini.
“Kamu harus selalu tampil menawan. Calon dosen kan harus menawan dan cantik. Jangan keras kepala.”
Terang tak perlu menanggapinya, karena Bunda tak butuh jawaban. Bunda akan membantah tentang semua alasan perihal penampilannya. Tetapi ia tak memberikan contoh yang baik tentang bagaimana cara berpenampilan.
Kata Bunda, jualan mie goreng di Warung Burjo tak perlu dandan cantik. Mahasiswa kalau lapar tak perlu melihat yang jualan cantik atau tidak. Abang-abang yang jaga warung Burjo di Pogung Kidul tetap saja laris. Kadang-kadang Bunda memaksa Terang memakai rok. Bukan jenis rok simpel yang bisa dipakai naik sepeda dengan santai, tetapi jenis rok rumbai dengan banyak lipatan dan berkibar-kibar jika tertiup angin.
Sore ini, rok itu jadi masalah (lagi) buatnya. Tadi dia sudah mengganti celana jeans dengan rok buatan Bunda sebelum pulang. Ketika sepedanya menanjak di tanjakan Fakultas Teknik tepat sebelum gerbang keluar, bagian ujung roknya masuk ke rantai sepeda. Rantainya terlepas dan terpaksa dia harus memperbaikinya.
Sebuah mobil sedan berhenti tepat di samping sepeda Terang. Kaca depan samping kiri membuka perlahan.
Seorang lelaki tak lebih dari setengah abad dengan rambut klimis membuka kaca mata hitamnya. Dia tersenyum kepada Terang. Senyum yang tak pernah Terang harapkan. Meskipun sebelum ia lahir, orang itu telah berjuang di rahim Bunda.
Terang pernah bertemu dengannya enam bulan lalu, tepat sehari sebelum ia harus menyelesaikan semua admistrasi sebelum masuk UGM. Seminggu sebelumnya, ia bahkan tidak tahu apakah ia akan melanjutkan beasiswa delapan semester dari UGM atau justru ia buang. Bunda selalu meyakinkan bahwa jika ia benar-benar berniat untuk mencari ilmu, materi bukanlah hambatan. Seminggu sebelumnya pula, ayahnya datang menawarkan bantuan.
Ke mana saja dua belas tahun ini?
Siang ini, dia datang lagi. Terang pikir bahwa dia akan menyombongkan mobilnya yang kini sudah lebih mentereng. Jadi dari tadi dia sudah menunggu di luar Jurusan? Menguntitku? Terang berkata dalam hati dengan nada tinggi.
“Ayah bisa ngobrol sebentar?” tanya ayahnya.
Terang ingin menggeleng kuat. Alih-alih menjawab, dia justru ingin menangis. Untung saja, angin Jogja berhempus pelan, menerbangkan daun-daun di pelataran KPTU (Kantor Pusat Tata Usaha) Fakultas Teknik. Mengaburkan tangisnya yang ingin turun. Segera ia ingat semangat-semangat yang selalu Bunda bilang setiap harinya dulu. Ketika waktu kecil ia meringkuk sendirian di kontrakan kecil di daerah Tanjung Priok bersama Bunda. Ketika ia mulai kehilangan kehangatan dari sosok di depannya ini.
Ia tahu pasti tangisnya akan pecah, tetapi ia memilih untuk memperbaiki sepedanya dan tak menjawab. Kurasa itu sebuah jawaban yang tepat untuk rasa yang terkumpul di dada Bunda selama ini. Setelah Baskara, ayahnya, meninggalkannya saat usianya lima tahun.
# # #
Hanya ada satu orang yang benar-benar berani menyentuh peralatan games Noah, dan itu adalah Mussa.
Setelah selesai kuliah, Noah berharap akan menghabiskan waktu di depan komputer yang tertata rapi di kamar kosnya. Bahan Teknik benar-benar sangat membosankan. Jadi ia pikir, ia akan bersantai di kos setelah tenaganya terkuras saat futsal dan kuliah. Ia bisa melepas bajunya, tersisa boxer tipis, lalu ia akan leha-leha mengedit foto atau bermain games.
Noah telah banyak menghabiskan angan-angan selama mengendari Vespan menuju kosan. Ia mengira kehidupannya akan sempurna sore ini, sampai ia menemukan sepatu sneakers berukuran 38 ada di depan kamar kos.
“Kamu ngapain, Kerbau?” Noah mengacak rambut Mussa. Dia menggeser tangan kecil Mussa yang sedang memegang mouse.
“Ah, Kakak nihh. Mati kan jadinya....Aku hampir saja menang.” Mussa marah-marah kepada Noah. “Ganggu aja deh.” Mulutnya monyong ke depan, mirip ikan mas koki.
“Itu karena Kak Noah sayang sama kamu, Kerbau.” Noah selalu memanggil Mussa dengan sebutan seperti itu, karena tubuh Mussa yang berisi cenderung gendut. Noah melempar tasnya ke kasur, lalu rebahan. “Ke mana yang lain?” Ia tahu, Mussa pasti tak datang sendirian.
Maminya datang tak lama kemudian membawa beberapa plastik berisi buah-buahan, makanan ringan, dan susu kotak seliteran. Noah memiliki separuh wajah ibunya, tetapi tidak dengan postur tubuhnya. Posturnya mewarisi kakeknya yang jangkung.
“Kamarmu nggak bisa lebih baik dari ini?” suara itu terdengar anggun dan berwibawa untuk ukurang seorang wanita. Mami Noah datang dengan stelan baju yang sangat necis, sepatu dengan hak 12 cm yang mengkilap warna keemasan, rambut yang disanggul kecil rapi.
Noah selalu benci dengan pertanyaan itu. Noah nyaman dengan kamarnya yang terdapat kaus di lantai, sepatu yang berserakan di depan pintu, atau gantungan baju yang penuh, aroma kamarnya yang khas campuran antara asap rokok, keringat, dan pengharum ruangan. Toh, ia masih memiliki bagian terfavorit yang rapi, dua meter meja panjang yang dilengkapi dengan 2 PC dan CPU rakitannya sendiri. Satu-satunya tempat yang rapi di kamar ini.
Sewaktu SMP dulu, kakeknya membiarkan Noah memiliki kamar seperti itu. Dulu bahkan lebih parah. Siapa pun yang masuk, bisa saja menemukan kulit pisang yang sudah membusuk di pojokkan kamar. Tetapi sejak ia kembali tinggal dengan maminya saat SMA, itu tak pernah lagi terjadi. Kamarnya selalu dikontrol setiap hari.
“Ini kandang ayam, Noah. Memangnya kamu bisa belajar kayak gini? Dan itu lihat, Mami nggak pernah sekalipun ngasih uang untuk beli peralatan games macam itu.” Nindi meletakkan barang-barangnya di kulkas. “Dan astaga ini kulkasmu, banyak sekali makanan busuk.” Dia menggeleng-gelengkan kepala.
“Seharusnya Mami ngga usah pegang kunci cadangan.” Noah beranggapan bahwa semua kamar laki-laki remaja di dunia ini akan seperti kamarnya. Definisi ‘kandang ayam’ versi mamanya adalah kamar ‘bersih’ versi laki-laki pada umumnya.
“Kamu pikir mami akan setuju?”
Noah melepas kausnya dan menyisakan tubuhnya yang berisi namun kering menonjolkan otot-ototnya. Ia rebahan di sofa deket tempat Mussa bermain games tanpa mempedulikan Maminya yang sedang bergerilya memunguti benda-benda di lantai di kamarnya.
“Ke mana dia?” tanya Noah.
Tak ada jawaban. Maminya masih sibuk merapikan barang-barang. Telinganya hanya menangkap samar-samar Mami yang terus mengoceh tentang ini dan itu. Tentang mengapa di kamar mandinya banyak odol berceceran. Atau mengapa ada banyak pakaian menumpuk di keranjang cucian.
“Dan apa ini?” tanya maminya.
Noah menoleh dan menyadari maminya menemukan sesuatu. Dia menghela nafas kecil.
“Noah....”
“Aku dengar,”
“Kamu ini...kamu tidak pernah dengar apa kata Mami, hah? Mami selalu memenuhi permintaanmu, kecuali yang satu ini.” Mami mengangkat tangan kirinya yang menjinjing tas kamera.
“Aku dengar, dan aku tahu.”
“Lantas? Apa ini?” Maminya membanting tas kameranya di kasur.
Alih-alih menjawab, otak Noah malah mengembara ke figura foto besar di atas tempat tidurnya. Foto black and white menggambarkan seorang anak kecil yang bermain bola seorang diri. Ia ambil saat ia masih tinggal di Bogor. Foto pertamanya yang dipuji oleh Kakek. Di samping foto itu, ada poster tokoh favoritnya Batman. Di sampingnya lagi ada foto hasil karyanya yang mendapatkan kehormatan dipajang di pameran fotografi di Jepang satu setengah tahun lalu. Foto yang membuatnya harus berbohong pada maminya tentang caranya untuk bisa masuk ke UGM. Maminya percaya saja.
Pintu kamar terbuka. Maminya berhenti berbicara. Noah bersyukur. Tak ada suara lagi, kecuali dari sound komputernya. Matanya menyapu tubuh pria yang masuk ke kamarnya.
“Oh sayang, dari mana saja?” tanya Mami.
Mussa berteriak dari kursinya. “Papi, mana Es Krim titipan Mussa?”
Orang itu menjawab, tentu saja. Noah mendengar maminya mengomel dari kamar mandi karena mendengar kata-kata ‘es krim’. Tentu saja, Mussa tidak boleh meminum es krim.
“Biarkan saja, sesekali.”
“Jangan terlalu memanjakan anak,” kata Nindi menimpali ucapan suaminya. “Mussa berikan es krimnya ke Mami.” Mussa cemberut, tapi kemudian menyerahkan es krim kepada maminya.
Baskara berdiri di depan Noah. “Untukmu.” Ia menyerahkan sebungkus es krim kepada Noah.
Noah hanya memandangnya sekilas, lalu membuang muka.
# # #