
Terang merasa malam berlari sprint. Tak mempedulikan dirinya yang masih menyelesaikan tugas Bahan Teknik minggu ini yang terasa sangat banyak. Esok paginya, Terang harus bangun pagi-pagi. Kelas Fisika pukul tujuh dan Pak Jamasri tentu tidak membiarkan mahasiswanya telat untuk mengikuti kuis. Terang mengayuh sepedanya tak berdaya menyusuri jalanan Pogung.
Jogja terasa sangat dingin, namun kering. Angin pancaroba menerbangkan debu-debu yang mencoba melesat masuk dan ingin meledakkan hidung dan paru-parunya. Jarak dari Pogung ke Fakultas Teknik terasa jauh, padahal biasanya hanya ditempuh 10 menit naik sepeda. Jalan Kesehatan di depan fakultas yang menurun terjal tak membantu banyak. Terang masih sangat ngos-ngosan. Mukanya mengantuk. Rambutnya berkibar seperti layang-layang di Pantai Parangtritis yang terlepas dari tali.
Sepeda Terang belok masuk ke komplek Fakultas Teknik yang terletak di sebelah barat Jalan Kaliurang, berderet dengan Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito. Fakultas Teknik adalah kawasan kampus yang ‘menyendiri’. Jika kita masuk dari Jalan Kesehatan, kita bisa langsung melihat tugu kebanggaan warga teknik, Tugu Teknik, yang berdiri megah di tengah-tengah. Tugu itu menyambut Terang dengan semangatnya, seolah menggertak rasa kantuk yang menggelayut di belakang punggung. Di belakang tugu, tampak kecil dari kejauhan adalah gedung KPTU.
Terang membelokkan sepedanya ke kiri, menuju Jurusan Teknik Mesin dan Industri (JTMI). Gedung JTMI berada di pojok selatan Fakultas Teknik. Tempat parkir JTMI berupa halaman luas yang berpaving blok dan hanya beberapa tempat yang diberi atap seng. Selebihnya hanyalah halaman biasa. Jika hujan motor atau mobil yang parkir di sana akan kehujanan. Di tepi sebelah barat ada mushola kecil yang berdiri sendiri.
Jalanan agak naik untuk sampai ke parkiran. Setelah gerbang pintu masuk, kita akan menemukan pos penjaga parkir—atau mahasiswa JTMI menyebutnya cakruk. Cakruk sebenarnya tempat penjaga parkir berada, namun kadang dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk nongkrong dan mengobrol. Tempat itu berupa bangunan segi empat berukuran 2 meter kali 2 meter. Di dalamnya ada kursi panjang yang biasanya digunakan untuk duduk penjaga parkir.
“Kukira kamu udah berangkat, Terang?” teriak seseorang dari dalam Cakruk.
Terang yang sedang menerima karcis dari petugas hanya menoleh sekilas, lalu tersenyum. Ia tahu siapa yang menyapanya tadi. Tapi ia lebih baik tidak berlama-lama di sana. Bara melempar senyum dan Terang hanya diam saja. Sikapnya itu mengundang derai tawa teman-teman Bara.
Terang tak menghiraukan.
Langkahnya lebar-lebar. Untung saja, ia menggunakan rok pendek selutut yang diberikan Bunda kemarin. Rok batik itu sangat cantik. Dipadukan dengan kemeja batik berlengan pendek. Namun, ia tetap ingin menggantinya dengan jeans nanti.
Kelas Pak Jamasri belum mulai. Terang masih bisa mengumpulkan tugas ke asisten dosen yang duduk di meja terdepan. Dia juga masih sempat mengganti pakaiannya dengan jeans dan polo.
Kayla sudah ada di dalam kelas, duduk di belakang. Di sampingnya ada tas yang sengaja ia letakkan agar kursi itu tidak diduduki orang lain. Seperti biasa, ia menyisakan kursi favorit untuk Terang.
Tapi, mengapa ada Noah di samping kursi kosong itu?
# # #
Noah melihat Terang mengambil tempat duduk tiga baris di depannya. Terang menarik kursi kayu dengan empat kaki dari alumunium yang menimbulkan bunyi berisik. Dia terlihat menggeser tempat duduk, lalu meminta Kayla untuk pindah.
Noah memandang orang-orang di sekitar yang tampak asyik dengan dunia mereka masing-masing. Pak Jamasri belum juga masuk, padahal sudah jam tujuh lebih lima menit. Beberapa mahasiswa TI dan TM mulai masuk. Untuk mata kuliah-mata kuliah dasar, seperti fisika, kimia, matematika, mahasiswa TI dan TM memang satu kelas.
Teknik Industri memang belum memiliki gedung sendiri. Sejak berdiri di tahun 1998, ia masih bergabung dengan Teknik Mesin dan menjadi satu jurusan. Gedungnya pun bisa terbilang cukup lama. Hal ini bisa terlihat dari lantainya yang masih terbuat dari ubin kotak berwarna abu-abu, kursi-kursi kelas yang terbuat dari kayu, dan papan tulis yang masih menggunakan kapur. Ruang-ruang kelas diberi nama menggunakan huruf depan kata Mesin, yaitu M, dan dimulai dari M1, M2, dan M3 yang berada di lantai satu, serta M4, M5, dan M6 yang berada di lantai 2.
Noah tak terbiasa masuk kelas pagi, kecuali seperti sekarang. Mata kuliah Fisika 1 selalu ada kuis di awal pertemuan. Dia malas bercakap-cakap untuk mengusir kebosanan. Dia memilih mendengarkan Mp3 sambil memainkan Pilotnya. Beberapa kali Pilotnya terjatuh. Saat ia untuk kali terakhir mengambil, matanya menangkap binder teman sebelahnya. Ada stiker logo di binder itu yang sangat familiar, seperti yang tertempel di binder Terang.
“Lo satu sekolah dengan dia?” Noah bertanya dengan orang di sebelahnya sambil menunjuk Terang dengan dagunya.
“Terang maksudmu?” Noah mengangguk. “Tentu aja. Aku satu sekolah saat SMA.” Laki-laki di samping Noah tersenyum kecil. “Kurasa dia adalah salah satu orang jenius di sini, nggak beda jauh pas SMA dulu. Dulu dia selalu masuk sepuluh besar. Kamu tahu, dia masuk ke UGM dengan jalur khusus karena nilainya yang sempurna waktu SMA. Dia nggak bayar uang masuk dan uang semesteran hingga lulus nanti. Kupikir Tuhan adil ya, karena yang kutahu hidupnya nggak terlalu baik. Ibunya bekerja sendiri untuk dirinya. Jadi penjaga warung burjo di Pogung Kidul. Dia selalu bantuin ibunya hingga pagi, makanya setiap di kelas dia selalu ngantuk.” Kemudian laki-laki itu sedikit mendekat ke arah Noah. Noah mengernyitkan kening yang membuat kedua alisnya menyatu. “Gosip yang beredar saat SMA, dia sudah ditinggal ayahnya dari kecil.”
Noah sebenarnya tak mengharapkan penjelasan sebanyak itu. Namun, laki-laki di sampingnya ternyata adalah tipe orang dengan mulut yang tak berhenti bicara sebelum semua hal ia ceritakan dengan berlebihan. Noah harus menyumpal kembali telinganya dengan headset untuk menyetop percakapan itu.
Noah melihat Terang menguap.
Binder di depan Noah terbuka satu persatu. Berhenti di kertas yang berisi vocabulary. Lalu ia membuka kembali halaman selanjutnya, masih dengan isi yang sama. Noah tertawa kecil. Kertas terus berbalik. Sampai di halaman kusut di tengah-tengah.
Noah tak pernah menyangka ada orang lain yang juga mengalami hal yang sama dengannya. Ia pikir, di dunia ini hanya dia yang mengalami itu.
Ayah, aku merindukanmu. Noah mengeja tulisan itu. Sambil membayangkan Terang yang mengucapkannya. Ayahmu menikah dengan mamiku. Cih, Noah membuang muka. Ada rasa gemuruh di dadanya yang mencuat saat mengingat apa yang telah terjadi.
Terang maju ke depan. Ia menyelesaikan soal yang diberikan tak lebih dari dua menit.
# # #
Sore harinya.
Musim apa sebenarnya sekarang? Ini masih bulan April. Terang melihat mendung bergumul di langit, menutup kecerahan sore itu. Kelas terakhirnya berakhir pukul setengah tiga.
Terang menuju ke tempar parkir dengan gamang. Dia melewati papan mading. Di depannya, ada Noah yang sedang melihat pengumuman di sana. Dia melewatinya begitu saja.
# # #
PENGUMPULAN TUGAS MENGGAMBAR TEKNIK.
Tinggal tiga hari lagi. Noah masih ingat bahwa dia belum mencari contekan untuk tugas kali ini. Tugas itu harus dicetak di kertas gambar tipis berukuran A0. Tugas pertengahan semester yang harus dikumpulkan sebelum ujian Mid.
Suara gemuruh di langit menyadarkan Noah bahwa ia harus segera pulang. Ia menuruni anak tangga menuju tempat parkir. Saat itulah, ia melihat Terang sedang ada di samping sepeda. Gadis itu tampak kesusahan memasukkan kamus tebal ke dalam tasnya.
Noah berhenti.
Gadis itu belum juga berhasil memasukkan bukunya ke tas. Mungkin di dalam tasnya penuh terjejal buku-buku paket lainnya. Akhirnya Terang berhasil. Ia menuntun sepedanya keluar dari tempat parkir.
Seseorang menepuk pundak Noah. Noah menoleh dan melihat tubuh tinggi tegap dengan muka sedikit gelap ada di sampingnya.
“Kowe ndak lupa to kalo hari ini ada kumpul kelompok Ergonomi di kosanku?” tanya Gema.
“Hari ini kayaknya mau hujan, Kawan. Nggak bisa diganti besok aja atau...”
“Jangan banyak tingkah lah, ***. Opo aku harus ngikutin saranmu dan mengabaikan saran tiga teman kelompok kita yang lain?” tanya Gema dengan logat Surabaya-nya yang kental. Ia tampak bersemangat, semua ditubuhnya bergerak, kecuali rambut ikalnya yang dipotong pendek seperti bonsai di pot.
Noah pasrah. Langit semakin diganduli oleh awan hitam. Belum ada rintik hujan.
“Di mana kosan lo?”
“Di Pogung Kidul. Nanti ku-SMS alamat kosanku, ***,” ujar Gema sambil jalan meninggalkan Noah.
Noah tak tahu bahwa sore ini ia akan kembali bertemu kembali dengan Terang.
# # #