
PROLOG
Aku tidak pernah melihat bom, tetapi hari ini aku merasakannya meledak di kepalaku. Ia menjalar perlahan ke seluruh organ tubuh melalui pembuluh darah. Tangan. Kaki. Otak. Pembuluh nadi. Paru-paru. Hati. Pankreas.
Jari-jari yang membeku. Jantung. Ginjalku.
Tulisan itu ditujukan untuknya. Dia sengaja datang ke coffee shop sore ini, memesan segelas double expresso, dan kemudian membaca kisah itu.
“Sejak kapan dia bisa nulis kayak gini?” ucapnya dalam hati.
Apakah kamu tahu, ada ribuan kunang-kunang yang berlari, lalu berputar-putar saja di kepala, mengerubungi kisahku padanya yang terasa pahit sejak awal. Ini tidak adil. Namun, aku tidak pernah menyesal pernah mencintainya.
Bom di kepalaku semakin membunuh semua mimpi-mimpi yang kubangun perlahan, setelah sebelumnya aku merasa bahwa hidupku akan berhenti.
Jadi semua ini dimulai dengan kepahitan hidup. Kepahitan pertama terjadi karena aku sadar, mimpiku akan berhenti. Yang kedua, karena aku mencintainya. Aku benar-benar mencintainya. Meski pun sejak awal aku tahu, aku mungkin tak bisa memilikinya.
Mencintainya membuatku terasing. Dan juga merasakan kepahitan.
BAGIAN 1
Yogyakarta, 2008
Semua tampak hitam dan putih. Jika ada warna lain, gadis itu melihat garis merah melintang dan membagi sama rata tas kamera yang tergeletak di lantai conblock, serta minuman warna merah muda yang tinggal setengah. Terang mencoba mendekat, ia mencium keringat yang menyengat bercampur dengan bau apak racikan antara kayu basah, conblock berembun, dan lumut dinding gang.
Terang sebenarnya tak ingin berurusan dengannya. Seminggu yang lalu, semuanya bermula di kelas Bahan Teknik, di minggu pertama kelas itu. Seusai kelas, bapak dosen yang bertubuh kurus dengan kemeja kebesaran berdiri di depan kelas—sebenarnya dia terus menerus berdiri sepanjang kelas, di tempat yang sama—mengumumkan satu hal. Terang, sebagai penghuni pojok kelas yang kebetulan nomer mahasiswanya ada di urutan pertama di kelas itu, mendapatkan amanat untuk mengumpulkan tugas seminggu kemudian.
Maksud dari mengumpulkan tugas itu adalah tidak ada satu pun yang lalai. Jika ada satu orang saja yang tidak mengumpulkan, maka satu angkatan akan mendapatkan hukuman tugas tambahan. Itu masalahnya.
“Apa?” cowok di depan Terang berbicara, seperti menggertak namun pelan, alis matanya yang memanjang bertemu di tengah. Dia tidak tersenyum.
Siang ini, Terang tak bisa menemukan cowok di depannya ini, di hari pengumpulan tugas Bahan Teknik. Mendadak satu angkatan merasa terancam oleh satu kutu yang menyelip di tumpukan jerami basah. Kemudian dia melihat cowok itu menyusup masuk ke gang di antara kantin dan laboratorium Sistem Produksi.
Laki-laki di depannya menjelma menjadi ikan sapu-sapu di dasar kolam. Terang terpaksa jongkok, meletakkan Kamus Bahasa Inggrisnya yang berat di dekat kaki laki-laki itu. Bau keringat yang bercampur wangi maskulin terasa menyengat, namun sebenarnya Terang suka. Dia meraih tas tipis di samping tas kamera tanpa meminta persetujuan yang punya. Sekali buka, dia menemukan selembar kertas yang sudah penuh dengan tulisan berantakan. Tugas Bahan Teknik. Di bawahnya ada tugas lain, tampak seperti fotokopian tugas mahasiswa lain. Terang mengenal nama yang tertulis di sana. Maleo, anak kelas A. Terang sendiri kelas A, dan menurut info lelaki di depannya pun kelas A.
Sebelum dia berurusan macam-macam dengannya, Terang kembali mengambil kamusnya. “Kamu....kamu hampir saja dibunuh satu angkatan.”
# # #
Noah meneguk duapertiga botol air mineralnya. Akhir-akhir ini dia memang merasa sering haus. Air itu menjalari kerongkongan, lalu masuk ke usus-ususnya yang seperti sungai tak berair, dan akhirnya memenuhi ginjalnya.
Kenapa bisa ia menemukanku di sini? Dia membenarkan letak tubuhnya yang menggelendot di dinding luar kantin.
Dia hampir saja marah saat mengetahui tasnya dibuka tanpa meminta ijin. Untung saja, tasnya hanya berisi baju kuliah kusut dan celana jeans yang sudah tidak dicuci satu minggu.
Sehabis makan siang tadi, ia diajak futsal teman kos di Empire. Baru sejam mengejar bola, ia teringat bahwa ada tugas Bahan Teknik yang harus dikumpulkan hari ini. Jika bukan karena harus berhadapan dengan teman-temannya satu angkatan, ia sungguh tak peduli. Jadi ia mengendarai Vespanya membelah Jalan Kaliurang dan segera ke kampus, mengopi tugas dari Maleo, teman SMA-nya, dan duduk sendirian di dekat kantin menyalin tugas. Tubuhnya masih basah oleh keringat dan kakinya masih terbungkus oleh sepatu futsal.
Noah tak menyangka gadis itu akan menemukannya.
Setengah tahun di kampus ini tak membuatnya cepat mengenal gadis itu. Setidaknya ia pernah melihatnya, tapi ia tak memperhatikan dengan saksama. Gadis yang aneh. Rambut yang dikucir kuda. Pakaian dan tas warna terang yang menyilaukan mata. Muka sedikit berjerawat. Apakah ia tidak pernah mencuci mukanya? Atau dia terlalu sibuk memikirkan diktat-diktat tebal yang ia bawa?
Di kelas selanjutnya, Noah berniat tidak masuk dan akan menelepon salah satu teman angkatannya untuk meniru tanda tangannya di absen masuk.
“Kamu...kamu hampir saja dibunuh satu angkatan,” Noah mendengus. Kata-kata gadis itu membunuh niatnya perlahan. Ia bukan tipe orang yang ingin mencari masalah dengan hal-hal sepele ini. Terpaksa ia masuk ke kelas Bahan Teknik dan bersiap mendengar bapak dosen dengan kemeja kebesarannya tertawa mengejek saat pertama masuk ke kelas. Lalu sepanjang pengajaran, ia akan menyeringai mencibir saat anak didiknya tidak bisa menjawab pertanyaannya.
Noah melihat gadis itu masuk ruangan M1. Noah mengambil tempat satu baris dengannya berjarak sekitar 10 kursi di barisan belakang. Anak rajin mengapa duduk di belakang, hah? tanya Noah dalam hati sebelum ia menyumpal telinganya dengan headset.
Dosen baru saja masuk dengan tawanya yang aneh menyapa semua siswa. Beliau mengucapkan selamat karena kami lolos dari tugas menyebalkan. Orang-orang mulai mendengar suara aneh si dosen yang tertawa kecil. Sebenarnya hanya tiga perempat saja yang melakukannya.
Sebentar lagi saatnya penyiksaan, bapak dosen akan memanggil 3 nama untuk maju ke depan dan menerima pertanyaan tentang mata kuliahnya yang beliau ajarkan minggu lalu. Noah berharap namanya akan dilewati oleh dosen itu. Ia bahkan lupa apa yang sudah diajarkan.
Noah melirik gadis itu. Gadis itu pasti termasuk bagian tiga perempat kelas yang mendengarkan. Tetapi ternyata tidak. Dia justru menelungkupkan muka ke meja. Mukanya menghadap ke arah Noah.
Noah mencoba berpaling, tetapi ia seperti melihat seseorang yang ia kenal di wajah gadis itu. Matanya. Hidungnya. Noah mencoba mengingat siapa kira-kira orang yang mirip dengan gadis itu. Tetapi yang terlintas adalah wajah orang itu, orang yang sangat ia hindari. Bahkan cenderung ia benci.
Mungkin mereka memiliki sifat yang sama: sama-sama pengganggu. Gadis itu mengganggu ketenangannya tadi. Orang itu...orang itu juga pengganggu. Pengganggu hubungan Papi dan Maminya.
# # #