MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 44



Pagi itu semuanya tampak biasa saja. Sama seperti kemarin saat Terang datang ke rumah ini. Sepi, sunyi. Dia menginap sehari sebelum sore ini harus bertolak kembali ke Jogja. Noah masih terlelap di tempat tidur saat dia datang melihat. Tubuh Noah yang terbungkus oleh selimut berwarna gelap tampak gepeng. Terang cukup lama memandang Noah yang tertidur, seolah pagi ini adalah kali terakhir dia memandangnya.


Terang tak menyadari bahwa ini adalah yang terakhir.


Kira-kira pukul sepuluh, ayah menelepon. Suaranya tampak gugup. Dia sedang keluar sebentar.


“Dia ada di luar. Dia tak memberi tahu apa-apa, maafkan ayah telat memberitahumu.” Belum selesai kalimat itu, pintu kamar tamu di buka oleh seseorang. Para asisten rumah tangga berhamburan ke depan.


Terang keluar dari kamar Noah dan bertemu dengan Nindi yang tampak terkejut. Terang sangat tidak tahu apa yang kemudian terjadi. Nindi masuk ke kamar Noah. Noah terbangun dan juga ikutan terkejut ada maminya di kamar.


Terang kaku di tempatnya. Dia menutup telinganya saat Nindi berbicara sangat keras di kamar Noah. Noah ikutan berteriak. Nindi menangis. Dia menghubungi suaminya, marah-marah. “Aku tak akan membiarkan semua orang dari masa lalumu masuk ke hidupku, aku sudah mengatakannya.” Dia berteriak-teriak, lalu membanting ponselnya.


Nindi keluar kamar, mendorong tubuh Terang ke belakang. Terang terjengkang ke belakang.


“Mami, apa yang kamu lakukan?” Noah keluar kamar dengan tertatih, membawa infusnya yang menggantung. Dia menghambur ke arah Terang. “Kamu baik-baik saja?”


“Noah...apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu tak pernah membuat mami bahagia?”


Nindi ambruk di tempat, tangisnya keras mengguncang.


“Apakah mami juga pernah membuatku bahagia?” Noah menatap maminya dengan mata memerah. Dia merasakan kepalanya berdenyut kencang. Dia sedang tidak ingin bertengkar hari ini. Dia justru ingin menangis, ingat dengan pesan kakeknya. Cintailah mamimu, bagaimana pun dia yang melahirkanmu, kan?


Noah menoleh ke arah Terang. “Pergilah, aku mohon.”


# # #


Seminggu sudah Noah tidak ada kabar. Terang berharap ada seseorang yang memberitahu keadaan Noah. Setelah pertengkaran itu, Terang tidak tahu apa yang kemudian terjadi. Dia diantar oleh supir ke Bandara. Sepanjang jalan dia menangis.


Facebook Mussa tidak aktif. Ayahnya tidak bisa dihubungi. Di hari Rabu, sebelum ia pergi berangkat ke LBB untuk mengajar, ayahnya menelepon.  “Dia baik-baik saja. Sekarang ada di Singapura untuk pengobatan yang lebih intensif. Dokter tidak mengijinkan lagi untuk dirawat di rumah karena setelah kejadian itu, kondisinya terus drop. Tapi dia sekarang baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, dia ditangani dokter terbaik.”


“Apakah aku bisa berbicara dengannya?”


“Tidak. Nindi mengisolasinya dari telepon. Dia juga belum bisa bicara banyak.”


# # #


 


 


Dua minggu setelahnya.


Hari ini adalah hari terakhir ujian akhir semester lima. Terang lega karena ia melewati semeste lima dengan baik. Praktikum mendapat nilai A, itu sangat baik setelah apa yang ia perjuangkan selama ini. Baik waktu ataupun tenaga. Semua orang bergembira. Tadi malam, Terang bermimpi bertemu dengan Noah. Noah memakai pakaian putih. Ada cahaya Terang yang menyelimutinya.


“Aku merindukanmu,” begitu kata Noah sambil memeluk Terang.


“Aku sangat merindukanmu.” Terang memperat pelukannya.


“Jangan melupakanku. Dan teruslah mengejar mimpimu.”


Saat ia terbangun pukul dua pagi, Terang tak melihat Noah. Terang duduk di tempat tidurnya dengan nafas tersengal-sengal. Keringat membajiri tubuhnya.


Terang mengecek ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Ada 20 missed call dari ayahnya. Dan beberapa pesan singkat. Jantung Terang mencelos. Ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu pada Noah. Ia memejamkan mata, tak ingin membaca pesan ayahnya.


Apakah kamu tidur? Hubungi aku setelah kamu membaca ini.


Dada Terang mendadak sesak. Jantungnya berdebar sangat keras.


Dia sudah pergi. Kuharap kamu bersabar. Hubungi ayah segera.


# # #