MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 24



Sisa liburan, Terang menghabiskan waktu untuk membaca Norwegian Wood. Dia tidak bisa berhenti sejenak saja untuk tidak membacanya. Tokoh favoritnya tentu saja Midori yang periang dan apa adanya. Dia membenci Naomi yang sangat aneh dan misterius. Dia sedikit banyak menemukan Watanabe dalam diri Noah. Dia jarang membaca novel, tetapi dia sepertinya suka pada novel itu. Sebatas suka saja, tidak sampai jatuh cinta. Terang hanya butuh waktu tiga hari untuk membacanya. Ia bawa novel itu ke mana pun ia pergi. Buku itu bahkan selalu ada setiap ia menggantikan Bunda di warung burjo. Di hari ketiga, ia merasa kepalanya sangat pusing karena ia kekurangan waktu tidur.


Terang memang selalu sakit kepala. Sakit yang berdenyut-denyut di bagian belakang. Seperti migren yang parah. Darah rendah yang sangat menyebalkan membuat perutnya harus selalu kenyang agar tidak pusing. Terang masih tetap saja belajar, menghafal vocabulary, atau membaca diktat kuliah meskipun kepalanya berdenyut sakit. Baginya, itu bukan penghalang.


Setelah ia tiba di kalimat terakhir Norwegian Wood, dia mendadak ingin segera bertemu dengan Noah.


Saat semua orang sibuk KRS-an, Noah belum juga muncul di kampus. Beberapa mahasiswa yang masih ada di Bandung atau Jakarta atau di luar Jogja memang kadang menitipkan KRS-nya kepada teman-temannya di Jogja. Jadi Terang pikir, Noah pasti melakukan hal yang sama. Ada sebersit tanda tanya di hatinya, mengapa Noah tidak menitipkan padanya? Lalu Terang membuang pertanyaan itu, karena itu membuatnya tak nyaman. Meskipun dia masih juga bertanya-tanya, apakah Noah bisa mengambil 24 SKS penuh semester ini, atau berapa IP-nya semester lalu.


Terang tentu saja ia sangat rikuh untuk mengirim SMS duluan, hanya untuk sekedar menanyakan ‘kapan kamu pulang’ atau ‘apakah kamu sudah KRS’. Sehari sebelum hari pertama kuliah, Terang tidak bisa tidur. Karena ia terlalu antusias untuk menghadapi semester ketiganya dengan IPK tahun lalu yang nyaris sempurna. Ia ingin sekali belajar Teknik Industri semakin dalam, karena di semester ini dia untuk pertama kalinya belajar Perancangan Produk dan Sistem Produksi. Jadi dia sangat antusias hingga tak bisa tidur cepat, padahal Bunda telah memberikan dispensasi untuk tidak jaga warung burjo. Meskipun alasan lain, karena dia ingin segera bertemu Noah. Namun, Noah belum terlihat di kamarnya. Kamarnya masih menutup.


# # #


 


 


Terang melihat langit di depan kampus di hari pertama masuk kuliah setelah libur semester. Ia teringat dengan lukisan langit Noah. Maukah kamu menemaniku menonton di hari pertama masuk kuliah? Dia mencoba untuk tidak terlalu berharap, karena kadang itu akan berakhir menyakitkan. Meski pun dia memang berharap.


Tadi malam, Janaka mengiriminya SMS. Menawarinya untuk menonton bersama sepulang kuliah. Terang membalas bahwa dia sudah ada janji.


Kabari aku secepatnya jika kamu berubah pikiran, tulis Janaka kemudian.


Kadang mimpi-mimpi kita itu tak terwujud karena suatu hal. Bisa karena usaha, atau karena memang Tuhan sedang tak mengijinkan.


Noah bisa saja melukis langit dengan mimpinya untuk pergi mengajak nonton. Namun, siang itu Terang yang sedang ada di depan papan mading melihat Noah sedang berdiri di samping mobil Jazz warna merah metalik. Dia bukan bicara dengan ibunya seperti beberapa waktu lalu, namun seorang wanita muda. Dari jauh, kulitnya terlihat putih bersih. Dia berambut panjang yang sedikit bergelombang.


Dia seperti permata, dan dia memang Permata.


# # #


 


 


Janaka sedang di lantai dua dan duduk di bangku sambil menatap lurus ke laptopnya. Dia sedang browsing tentang lomba kewirausahaan yang diadakan oleh salah satu penyedia jasa layanan komunikasi di Indonesia. Ponsel di samping laptopnya berdering. Ada SMS masuk.


Apakah tawaran nontonnya masih berlaku? Janaka tersenyum melihat SMS dari Terang.


# # #


 


 


Noah selalu berpikir bahwa semua orang bisa saja menjadi joker, hanya dengan satu hari saja. Satu hari penuh kekacauan, hari yang benar-benar buruk yang menyebabkan orang tersebut kehilangan kontrol dan bertindak di luar akal sehat. Joker bahkan mengorbankan dirinya sendiri. Sekali lagi, dia tidak punya tujuan. Kecuali, sakit jiwanya sendiri.


Noah tidak peduli dengan film favoritnya. Ia cuek ketika di layar bioskop terjadi baku hantam, adegan tembakkan, darah muncrat tanpa arah, dan satu lagi ketika Joker tersenyum mengejek Batman yang kalah di pertengahan film. Di kehidupan nyata Joker terlihat kacau melihat Terang sedang tertawa mengambil popcorn dari tangan Janaka.


Noah tidak pernah sedrama sore itu. Namun, siluet dua tubuh yang duduk dua baris di depannya tampak jelas, muncul karena backlight dari layar yang kadang menyala Terang.


Noah mengutuk dirinya sendiri yang menyetujui usul Maleo dan Gema untuk pergi menonton setelah ia mendengar bahwa Terang akan pergi menonton juga. Noah tak pernah tahu bahwa Terang akan menonton dengan Janaka.


Ada satu adegan ketika Batman berdiri di puncak sebuah gedung tinggi, menatap langit seorang diri. Noah jadi ingat tentang langit. Lalu percakapan di atap rumah. Melukis langit. Lalu, menonton bersama.


Ini kacau, pikirnya.


# # #


 


 


Terang mencoba untuk menikmati kegantengan Christian Bale, walaupun jelas-jelas pria seperti Batman bukan tipenya. Hidupnya terlalu gelap dan hitam, terlalu menyeramkan memiliki hidup penuh kesendirian dengan segala fasilitas yang ia punya. Terang justru sangat tertarik dengan kehidupan Joker yang tampak begitu menyenangkan, penuh tawa, meskipun ia menyimpan kesakitan di dalam dirinya. Tetapi, itu tampak lebih menyenangkan. Berpura-pura bahagia itu lebih menyenangkan daripada hidup penuh dengan kehitaman dan kesendirian.


Langit kadang saja membolak-balikkan keinginan kita. Ketika kita tak mengharap hujan turun, justru gemuruh petir menyambar dan badai hujan datang. Saat terang mulai menyadari bahwa kehidupan Christian Bale sangat menyedihkan, ia justru dikelilingi oleh seorang Noah yang juga tak kalah gelap dan menyeramkan.


Sore ini, dia sengaja mengambil popcorn dari tangan Janaka padahal ada popcorn di pangkuannya. Ia tersenyum lebar, lalu sok berkomentar tentang cara Joker tertawa kepada Janaka. Dia tahu itu sangat tidak pantas dan sangat memuakkan. Namun, ia melakukannya. Ia hanya tahu kalau Noah ada di belakang kursinya bersama teman-teman yang lain.


Pertanyaan siapa wanita yang bersama Noah tadi bersalip-salipan dengan konsentrasinya menonton film.


Ia berharap Noah melihatnya, dan Noah pasti melihatnya. Terang menginginkan itu.


# # #