
Terang jarang melihat Noah di kampus. Sebenarnya, ia tak selalu ingin mencarinya. Buat apa ia mencarinya? Ia pernah bertanya pada dirinya sendiri. Jadi ia bersikap seolah-olah malam itu tak terjadi apa-apa. Hanya hujan sekilas di musim kemarau. Namun, ketika kelas-kelas perkuliahan di mulai, Terang sering melihat ke arah pintu masuk berharap ada wajah Noah yang muncul dari pintu cokelat. Noah sudah tidak pernah terlambat lagi mengumpulkan tugas. Namun, dia jarang hadir di kampus. Noah seperti tukang bakso malang yang datang di sore hari, ada saat tak diharap, namun dicari ketika tak datang.
Setelah malam itu, Noah seperti ditelan langit yang mendung. Di kelas, Noah selalu datang terlambat dan dia selalu duduk jauh dari Terang. Dia kemudian pergi awal ketika kelas sudah selesai.
Terang hanya ingin bertemu sekali. Setidaknya, ia harus mengembalikan jaket yang ia pinjam. Terang ingin sekali bertemu Noah. Tetapi, ia hanya bisa memandangnya dari jauh. Padahal di tasnya sudah ada jaket Noah yang sudah dicuci wangi. Mengapa sulit sekali hanya untuk sekedar menyapa dan menyerahkan jaketnya.
Hari-hari berlalu, kelas-kelas perkuliahan berganti satu persatu. Tugas demi tugas kembali menyerbu. Catatan kuliah satu persatu memenuhi binder Terang. Tetapi Terang tetap belum mengembalikan jaket Noah.
Bara sudah pindah dari kosan Lik Ilham sehari setelah peristiwa malam itu, satu hal yang sangat Terang syukuri. Di kampus, lelaki itu juga sudah jarang terlihat seperti Noah. Mungkin ia malu dengan perbuatannya sendiri. Bukankah sanksi sosial lebih menyeramkan?
Pada 24 Mei 2008, pemerintah menaikkan harga BBM menjadi Rp. 6.000 yang menimbulkan beberapa reaksi dari masyarakat. Kenaikan ini dipicu oleh tingkat inflasi yang mencapai sekitar satu persen. Pada tanggal itu pun, Noah belum terlihat aktif di kampus. Dia hanya sesekali datang. Namun, pada tanggal 1 Juni 2008, dimana saat itu sedang ada insiden Monas yang sangat brutal dan menimbulkan beberapa kerusakan, Terang melihat Noah lagi untuk pertama kalinya setelah berhari-hari ditelan larva Gunung Merapi.
Ia menemukan Noah hanya mengenakan celana pendek dan kaus oblong tanpa lengan. Rambutnya sudah tidak terlihat panjang dan berantakan. Rambut itu dipotong pendek. Meskipun pagi ini masih tampak seperti sarang burung, namun Terang yakin Noah baru memotongnya kemarin atau kemarinnya lagi. Headset warna hitam melingkar di kepala dan menempel di telinganya.
Noah ada di kos-kosan Lik Ilham.
# # #
Noah menatap Terang yang berdiri di depannya. Ia melihat Terang tampak terkejut. Gadis itu berpenampilan sederhana. Kaus putih, celana pendek selutut, sandal Swalow bergaris biru, dan rambut yang dikucir kuda seperti biasa.
Noah melepas headset yang terpasang di telinganya.
“Noah masih terlihat menarik, kan, meskipun belum tidur?” Noah terkekeh lirih. Tadi malam, ia main games di komputernya hingga pagi. Ia berhenti saat perutnya mulai seperti anak-anak TK yang menjerit kelaparan. Maka ia keluar dan menemukan Terang di depan kamarnya.
Baru dua hari lalu ia pindah ke sini, setelah ia merencanakannya seminggu lalu. Pilihannya adalah tepat. Pertama, ia ingin lebih dekat pergi ke kampus, jadi bangun telatpun ia tak takut akan terlambat di kelas-kelas pagi. Kedua, karena ada Terang di sini. Meskipun baru hari ini ia melihat Terang.
Ketiga, karena ia tak ingin dilacak oleh maminya. Alasan ketiga sebenarnya yang paling penting.
Pagi setelah ia mengantarkan Terang malam itu, maminya sudah ada di kamar kosannya. Seorang diri. Kamarnya tiba-tiba sudah sangat rapi. Beberapa minggu mereka berdua sudah tidak pernah saling memberi kabar. Mami dan suaminya baru pulang dari New York untuk urusan bisnis dan juga liburan. Mussa ikut serta bersama mereka. Bagi Noah, itu sangat menyenangkan karena maminya tidak akan menganggu dengan peraturan-peraturannya yang sangat menyebalkan.
Noah tidak melihat kamera-kameranya di almari. Ia juga tidak melihat komputernya di meja. Di atas kasur, Noah menemukan lembar KRS yang menampilkan IP-nya semester lalu dan beberapa tugasnya yang buruk. Maminya marah dengan semua nilai-nilai Noah.
“Jadi sekarang peduli? Dari kemarin ke mana saja?” Noah masih ingat dia mengucapkan itu dengan tubuh yang bergetar. Semua peristiwa waktu kecilnya berkelebat di depannya. Saat ia menangis seorang diri di sudut kamar, dan maminya bahkan tidak peduli. Saat ia merindukan kehangatan, namun justru maminya lebih memilih pergi dengan pacar barunya. Saat dengan lantang maminya bilang bahwa lebih baik Noah tinggal dengan kakeknya di Bogor.
Noah tak pernah meminta apa pun. Tak pernah. Sejak saat itu, ia seperti telah kehilangan semuanya.
Maminya menangis, lalu ia berteriak-teriak menyalahkan suaminya karena telah memberikan pengaruh buruk pada Noah saat kecil. Noah benci itu. Dia membanting gelas yang ada di dekatnya.
Di tengah emosi yang memuncak, Ninda mengatakan sesuatu yang tak pernah Noah dengar sebelumnya. Seperti bola yang terlepas dari kaki kiper, kata-kata itu meluncur tanpa ditutup-tutupi. Bahwa ternyata papinya sakit hati karena melihat maminya bersama orang lain. Bahwa papinya ke Bandung bukan untuk rapat perusahaan, namun menenangkan diri. Dengan terang-terangan Nindi bilang bahwa ia muak dengan suaminya yang terlalu misterius dan menyendiri.
Noah mematung. Dia membiarkan pipinya basah oleh air mata. Matanya memerah, perih. Ada ribuan bawang merah yang menghujani kelopak matanya. Kepalan tangannya mengeras perlahan. Kemudian ia jongkok di lantai memandangi maminya yang menangis.
Maminya perlahan tenang. Lalu ia menatap Noah.
“Noah, dengarkan mami. Mami sangat menyayangimu. Semua yang mami lakukan demi kamu. Mami hanya ingin kamu kuliah dengan baik. Apa itu sulit?”
Dengan marah, Noah melepas Simcard di Blackberrynya. Lalu mematahkannya berkali-kali dengan emosi. Dia memasukkan beberapa baju ke dalam tas, lalu pergi dari kosannya. Secara random dia menginap di tempat teman-teman kuliahnya. Dia pergi ke warnet selama berhari-hari untuk melepaskan semua emosi di tubuhnya.
Minggu lalu, dia teringat bahwa ada kamar kosong di kos-kosan tempat Terang. Dia memutuskan pindah ke sana.
# # #
“Kamu terlihat buruk sekali,” ujar Terang. “Dan aku tidak melihatmu di kampus beberapa hari ini.”
“Jadi kamu mencariku?” Noah tertawa jahil.
Terang membuang muka, seolah ingin menyangkal bahwa apa yang dikatakan Noah adalah salah. Kemudian ia teringat akan jaket Noah yang masih ada di kamarnya.
“Tunggu di sini.” Terang berlari ke kamarnya, mengambil jaket Noah yang terlipat rapi di atas meja belajar. Terang sempat menciumnya sebentar, memastikan bahwa jaket itu masih wangi. Ia kembali menemui Noah. “Jaketmu. Aku mencarimu karena ini.”
Noah menerima dengan muka tak percaya. Dia merentangkan jaketnya, lalu menciumnya. “Dicuci, kan?” tanyanya dengan muka berbinar.
“Bunda yang nyuci.” Terang berbohong.
“Tega bener nyuruh bunda,”
“Terserah apa katamu, Maheswara Noah Saverio,”
“Dan kamu tahu nama lengkapku, Terang Azzahra?”
# # #
Mata Terang membelalak, mirip seperti mata kucing di malam hari yang menyala terang. Apa kataku tadi? Aku hafal namanya. Sejak kapan aku hafal namanya? Apakah aku terlalu sering melihat buku absen dia dan mencari namanya, lalu melihat tanda tangannya yang sangat aneh dan tampak sekali digambar oleh beberapa orang. Dasar mahasiswa tukang titip absen. Jadi sejak kapan aku menghafal namanya?
“Dan kamu tahu nama lengkapku, Terang Azzahra?” Noah menarik alis kirinya ke atas.
Dan sejak kapan dia tahu nama lengkapku?
# # #