MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 22



Ucapan Noah tentang ‘belajar menjadi dosen’ itu bukan gurauan semata. Terang baru menyadarinya. Noah meminta penjelasan beberapa mata kuliah setiap akan ada kuis. Intensitasnya semakin rapat saat ujian akhir tinggal dua minggu lagi.


Pertama, dia meminjam buku catatan Terang, lalu memfotokopinya.


Sebenarnya bukan dia yang memfotokopi, tetapi Maleo. Maleo pun menyetujui karena dia membutuhkannya juga. Maleo memfotokopi dengan baik dan rapi dalam jumlah puluhan. Maleo pun menawarkan itu kepada mahasiswa-mahasiswa lain yang memiliki nasib yang sama: ‘tidak pernah mencatat’ dan ‘mending fotokopi saja’. Itu adalah bisnis yang menjanjikan. Catatan Terang dilengkapi oleh jawaban-jawaban soal ujian tahun lalu yang kadang muncul kembali di tahun berikutnya, jawaban kuis, dan jawaban-jawaban kecil dari pertanyaan dosen di kelas. Maleo juga meminjam catatan dari ‘si rajin mencatat’ dari kelas B karena masing-masing kelas memiliki satu orang yang dengan tekun memperhatikan dosen. Semua catatan itu menjadi diktat bekal ujian akhir semester tebal dan terlengkap seangkatan.


Kedua, Noah meminta Terang untuk mengajar layaknya dosen di depan kelas. Misalnya, mengajar Pengantar Teknik Industri. Dia menjelaskan dari awal tentang ‘Apa itu teknik industri?, Bagaimana dia terbentuk di dunia ini? Apa manfaatnya? Mengapa harus ada? Apa bedanya dengan ilmu teknik lain? Bagaimana dengan teori simulasi? Dan sebagainya. Dan itu sangat detail. Ada sesi tanya jawab, ada sesi memberi soal.


“Ini nggak gratis, Anak Muda,” kata Terang.


“Noah akan traktir setelah ujian berakhir. Sekarang lakukan pekerjaanmu dengan baik, Ibu Dosen.”


Saat minggu tenang ujian, diharapkan mahasiswa memanfaatkan waktu itu untuk menenangkan diri. Namun kenyataannya, mereka justru tidak tenang. Mereka sibuk meminjam catatan, atau membeli dari orang-orang seperti Maleo, bergerilya soal-soal. Mahasiswa-mahasiswa mulai sibuk memenuhi kembali lobi-lobi kampus dan pelataran KPTU. Buku-buku tebal berserakan di mana-mana, juga kertas-kertas fotokopi. Mereka membentuk lingkaran-lingkaran kecil, saling mengajari satu sama lain. Mereka sibuk mencorat-coret catatan. Ada juga yang hanya duduk-duduk saja sambil sesekali membaca, mencoba memahami. Namun ternyata materinya cukup susah, sehingga ada yang bengong saja. Bahkan ada juga yang menyerah dan memilih untuk kembali ke kosan. Biasanya mereka belajar hingga larut malam. Jam operasional di selasar fakultas hingga tengah malam.


Terang pun melakukan hal yang sama. Dia pergi ke KPTU bersama Kayla. Lalu bergabung dengan yang lain. Noah memilih pergi ke kosan Maleo dan belajar bersama di sana. Tetapi malam harinya, dia meminta Terang untuk tetap mengajarinya di atas balkon kosan.


Saat ujian terakhir selesai, mereka biasanya melakukan selebrasi. Pergi ke tempat wisata, makan, ke pantai, atau melakukan hal-hal yang mereka suka. Noah menepati janjinya untuk mentraktir Terang sore hari setelah ujian selesai.


# # #


 


 


“Tempatnya ada di ujung gang, dekat Fakultas Teknik UNY. Lo bisa nanya, jangan dungu,” kata Noah, berbicara pada orang di ponselnya.


Noah menepati janji untuk mentraktir Terang. Namun, kali ini dia meminta ijin Terang untuk mengajak Maleo. “Dia suka masakan pedas juga. Dan aku nggak pengen melihatnya menggoda cewek-cewek dari fakultas lain. Itu menjijikkan.”


Akhirnya Maleo berhasil menemukan Mas Kobis.


“Pantas aja gue susah menemukannya, tempat ini benar-benar tak terlihat,” kata Maleo memeriksa Warung Mas Kobis. “Kita sudah lama di UGM, tapi nggak tahu ada tempat ini.”


Noah tak acuh. “Lo mau mesan apa? Yang spesial ayam geprek sambal bawang. Sambal bawangnya bisa mesen mau cabai berapa,” ungkap Noah pada Maleo. Lalu dia menoleh ke arah Terang. “Kamu mesan yang biasa, kan?” tanya Noah pada Terang. Terang mengangguk.


“Yang biasa?” Maleo mengernyitkan kening. Menatap Noah, lalu menatap Terang. Terang menggeleng.


“Lo nggak usah banyak bacot ya, Nyet.” Noah menatap Maleo tajam.


Tak lama, tiga piring nasi, tiga ayam gebrek, satu sambal bawang cabangi 3, satu sambal bawang cabai 50, dan satu sambal bawang cabai 25 ada di depan mereka. Noah sendiri  memesan ati ampela geprek sambal satu. Itu buatnya sudah pedas.


“Sejak kapan lo suka pedas?” tanya Maleo. Dia sudah nambah dua piring nasi dan satu sambal bawang cabang 10. Mukanya sudah merah, tetapi dia masih sangat lahap.


Noah tak menjawab.


“Ini enak,” kata Maleo.


“Mau nambah?” tanya Noah.


Tak perlu mendapat jawaban, Noah memesan lagi. Terang pun ikutan nambah satu ayam geprek dan satu sambal bawang kali ini  cabai 10 saja.


Saat Noah minta ijin untuk mengangkat telepon—tidak ada yang tahu dari siapa—Maleo langsung menghentikan makannya dan merapatkan diri ke Terang.


“Kalian sudah jadian?” tanya Maleo.


Terang memandang Maleo dengan senyum. Terang menggeleng. “Kami teman,” jawabnya pendek dan disambut dengan nada kecewa ‘ahhhhh’ dari Maleo.


“Gue kira lo pacarny. Dia jarang sekali pacaran. Tidak, gue kira bukan jarang pacaran. Tapi dia jarang berpacaran serius. Satu-satunya orang yang pernah ia cintai Cuma Permata. Hidupnya suka menyendiri dan sangat menyedihkan. Kita sendiri prihatin padanya,” kata Maleo, yang membuat kalimatnya terasa hiperbola.


Siapa tadi, Permata? Per...ma...ta...


“Jadi, lo harus siap-siap patah hati. Dia nggak pernah serius, kecuali mungkin dengan Permata dan itu kisah yang lama sejak SMA. Dia memang nggak pernah benar-benar serius,” ujar Maleo.


Permata lagi? Terang mulai kabur dengan arah pembicaraan Maleo.


“Dia juga sangat galak dan kasar,” sambung Maleo.


“Sekarang dia punya pacar?” tanya Terang, tak tahan untuk menanyakan ini.


“Lo bukan pacarnya?”


Terang menggeleng untuk kedua kalinya. “Kami hanya temenan. Dia baik. Dia juga kadang memberi tumpangan. Dia suka mentraktir seperti ini karena aku sudah membantunya belajar untuk ujian. Kemarin aku juga diajari memotret olehnya,”


“Iya memotret. Mengapa?”


“Pakai kamera dia?”


“Tentu saja, aku nggak punya kamera” jawab Terang. “Ada yang salah?”


“Lihat ini,” kata Maleo.


Tak berapa lama, Noah masuk lagi. Dia duduk di depan piringnya. Terang memperhatikan Maleo yang mencuci tangannya, mengelapnya dengan tisu, lalu dengan hati-hati mengambil kamera yang ada di atas tas Noah.


“Gue pinjam bentar,” kata Maleo saat Noah melihatnya dengan mata membelalak.


“Letakkan,” kata Noah.


“Sebentar aja,”


“Letakkan gue bilang....”


“Seben...”


“Mau gue cekik?”


Maleo berangsur meletakkan kamera Noah. Dia bilang kepada Terang bahwa ‘Barang Keramat itu tidak boleh ada yang menyentuh’ dengan suara lirih.


Terang menoleh ke arah Noah yang masih melahap ati ampela gepreknya. Ia teringat waktu di Pantai Depok, Noah dengan sadar memberikan kameranya. Dia tidak hanya memberikan kamera, tetapi juga mengajari teknik-teknik sederhana.


Jadi mungkin, Maleo salah.


Langit sudah mulai gelap saat mereka selesai makan.


“Noah, kita akan pergi ke suatu tempat lagi?” tanya Maleo.


Noah menggeleng. “Terlalu gelap, pergilah pulang.”


“Lo bilang apa sih, ini masih jam tujuh. Kayak anak gadis aja.”


# # #


 


 


Terang melirik Noah sekilas. Apa yang ia katakan tadi? Terlalu gelap, pergilah pulang. Mungkin  Maleo tidak tahu makna dari kalimat itu, tetapi Terang jelas tahu. Dia tidak hanya tahu, tetapi hafal. Karena kalimat itu yang menemaninya saat ia belajar. Salah satu kalimat yang ia suka dari lirik lagunya Pure Saturday.


“Kamu udah hafal?” tanya Terang kepada Noah saat dia diantar pulang.


“Apa?”


“Terlalu gelap, pergilah pulang.”


“Oh itu,” suara Noah mengambang di udara malam. “ya, kurasa lagu itu bagus. Aku menyukainya.”


“Jadi kamu sudah denger berapa lagu?” teriak Terang.


“Kamu nggak harus berteriak seperti itu,” kata Noah. Lanjutnya, “Sebagian, aku sudah mendengarkannya. Tetapi hanya ada beberapa lagu yang kusuka.”


“Biar kutebak,” kata Terang, kali ini lebih kalem (itu menurutnya) meskipun sebenarnya masih saja sedikit berteriak (ini menurut Noah). “Kosong, tentu saja. Dan mungkin....ehm...,” dia sedikit berpikir, “Sajak Melawan Waktu,” ujar Terang percaya diri.


Noah menghempaskan nafas melalui hidung agak keras, seolah ia menjadi maling yang terperangkap oleh polisi daerah. “Kamu bakat jadi cenayang,”


Di sisa perjalanan mereka, Terang bernyanyi sendiri lirih-lirih. Meresapi setiap kata yang tertulis di liriknya ‘Kosong’. Saat tiba di reff, Noah menimpali tanpa suara. Hanya mulutnya saja yang membuka dan menutup tanpa timbul suara.


Jalan panjang semakin lapang / Hanya dahan kering yang terpanggang / Tak ada teman telah terpencar / Namun waktu terus berputar.


# # #