
Noah keluar dari ‘mantan’ kamarnya sambil membawa satu kardus berisi beberapa pakaiannya. Rasanya ia menjadi orang yang kalah perang karena pergi dari tempat ini. Seperti Watanabe yang terjebak oleh kenangan yang telah terjadi bertahun-tahun lamanya, kini Noah mengalami hal yang sama. Jadi ia berpikir yang dialami oleh Watanabe adalah hal yang lumrah. Saat pikiran-pikiran kembali terkoneksi oleh kenangan-kenangan.
Noah berdiri di ambang pintu. Melihat kamar Terang yang temaram di samping deretan kamar mandi yang menyala terang. Ada seseorang yang mandi di salah satunya. Ia teringat pernah bersembunyi di dekat kamar mandi itu.
Gadis itu selalu saja menarik. Gadis itu selalu saja bisa tertawa apa pun masalah yang sedang ia hadapi. Senyum yang selalu saja bisa membuat darahnya berhenti, membeku, lalu semua syarafnya mendadak tidak bekerja. Pikirannya mengambang di udara, karena semuanya penuh oleh nama Terang.
Noah memasang headset di telinga. Dia menarik kamera yang menggantung di leher, lalu membidikan ke arah kamar Terang yang tertutup. Kakinya melangkah mendekat ke arah kamar itu. Mungkin ia tak akan sering lagi melihatnya. Mungkin saja. Jadi dia berdiri di sana. Ia ingin mengingat-ingat sebisa mungkin yang ia ingat. Kemudian ia menaiki anak tangga di samping kamar Terang, menuju atap.
Dia melihat Terang di sana. Sedang duduk sambil membaca buku dan mendengarkan sesuatu. Kamera Noah segera awas, membidik Terang dari belakang. Suara cekrek-nya membuat Terang menoleh.
“Jadi kamu sudah terbiasa nggak mendengarkan musik dengan earphone?” tanya Noah.
Terang terkejut melihat kedatangan Noah, tetapi gadis itu tidak berkomentar apa-apa. Noah mengambil tempat di samping kanan Terang, kakinya menjuntai di udara.
Keduanya saling menatap.
“Kamu mendengarkan sesuatu?” tanya Noah.
Terang mengangguk. “Kamu?”
Noah ikutan mengangguk.
“Coba untuk ulangi apa yang terjadi. Harap 'kan datang lagi. Semua yang pernah terlalui,” ujar mereka kompak. Terang terdiam, Noah tersenyum.
“Apakah kita bisa seperti kemarin?” tanya Noah.
Gadis di depan Noah tidak menjawab, membuat Noah bertanya lagi.
Kata Terang, “Ini sangat tidak mudah untukku, Noah.” Dia menghela nafas panjang sambil menatap Noah. Binar sinar yang biasanya menyala, tampak meredup. “Aku akan memaafkanmu, tapi maaf...” Dia mengatur nafasnya, terlihat sekali ada sesuatu yang menyesakkan di dalam paru-parunya. “Aku nggak bisa seperti kemarin lagi.”
“Apa maksudmu?”
“Aku nggak bisa membiarkan diriku jatuh cinta terlalu dalam padamu,”
“Jangan bercanda.”
“Aku sedang serius.”
“Kamu masih marah?”
Terang mengukir senyum kecil, lalu ia berkata mantap. “Aku tak pernah membenci dan marah padamu. Tapi...sungguh aku nggak bisa menerima kamu dan mamimu yang telah merebut kebahagianku dulu.”
Langit kemudian bergemuruh dan menangis. Hal ini dalam arti yang sebenarnya. Mendung memang tertutup malam, tetapi ia tak bisa menahan gelayut hujan yang ingin turun. Jadi hujan turun, disusul oleh angin. Terang menarik kakinya yang mengambang di udara, lalu ia meninggalkan Noah yang masih berdiam diri.
Noah membiarkan air membasahi tubuhnya dengan cepat. Saat ia menyadari air itu juga ikut membasahi kameranya, dia berdiri dengan cepat dan menuruni tangga.
Hujan bercampur angin menyapu benda-benda.
Lik Ilham berlari dari dalam rumahnya, melewati Noah yang berteduh di depan kamar Terang. “Apakah kamu bisa membantuku?” tanya Lik Ilham tanpa menunggu jawaban dari Noah. Noah mengikuti Lik Ilham berlari keluar gerbang, menuju warung burjo yang atapnya telah porak-poranda. Spanduk di depan warung sudah menyingkap ke atas. Air hujan membanjiri warung.
# # #
“Ayo, dimakan. Mumpung masih anget. Kalian pasti kedinginan setelah membereskan warung. Mengapa tiba-tiba ada angin dan hujan seperti tadi?” kata Bunda sambil membagikan mie kepada Noah dan Lik Ilham.
Keempatnya lalu menyantap mie rebus. Bunda malah tertawa-tawa menceritakan kejadian heroik tadi. Saat ini, warung burjo seperti baru saja terkena angin tornado. Mirip seperti sarang burung di atas pohon yang tersapu hujan.
Noah sudah berganti dengan baju Lik Ilham yang sedikit kebesaran. Rambutnya tertutup handuk kecil yang sedikit basah. Dia menikmati mie rebus sambil menelepon Mussa yang sendirian di kamar kosannya.
“Mussa baik-baik saja, kan?” terdengar jawaban dari seberang. “Pergilah ke kamar Kak Maleo jika kamu takut. Kak Noah akan pulang sebentar lagi.”
Terang melirik Noah yang bibirnya mulai memerah. Noah terlihat kepedasan. Lucu sekali, mulutnya menahan pedas tapi sambil berbicara terus kepada adiknya.
Bunda sibuk merapikan ruang tamunya yang kecil. “Oh, untung saja benda ini tidak kenapa-kenapa,” dia mengelus mesin jahitnya yang sudah berbulan-bulan sudah tidak bisa digunakan. Melihat itu, Terang merasa sedih dan juga senang. Sedih karena Bunda sangat mencintai mesin itu, tapi juga senang karena berarti dia tidak akan menjadi kelinci percobaan baju-baju Bunda.
“Mengapa kamu tidak menjualnya saja?” tanya Lik Ilham. “Aku sudah berulang kali bilang bahwa aku akan membelikan yang baru.”
“Aku kan sudah bilang, aku masih mencintainya.” Bunda melirik jahil ke arah Lik Ilham dan Lik Ilham pura-pura cemberut.
Noah yang masih berbicara dengan adiknya. Noah mendadak mendongak, lalu mendapati Terang sedang mengamatinya. Terang membuang muka, lalu Noah tersenyum kecil.
“Saya harus balik,” kata Noah. “Bunda, terima kasih mienya. Tapi aku nggak pengen membiarkan Mussa ketakutan di kosan. Besok saya akan ke sini lagi untuk bantu-bantu membereskan warung.”
# # #
Pagi hari di kemudian hari, Noah benar-benar datang. Dia membantu Lik Ilham memperbaiki warung Bunda. Mereka mengganti atap seng yang terbang. Terang hanya melihat dari gerbang, tanpa bersimpati sedikit pun. Ia malah pergi mengajar di LBB. Warung itu jadi saat sore hari. Bunda, Noah, dan Lik Ilham tampak berkelakar di warung saat Terang pulang. Noah menghilang beberapa saat, lalu datang kembali bersama Mussa. Mussa kemudian menjadi pusat perhatian semua orang.
“Adikmu sangat tampan,” kata Bunda sambil mengelus rambut hitam Mussa. Mussa mengerucutkan mulutnya. Bunda terkesiap sebentar, lalu tersenyum kecil. “Kebiasaanmu sangat lucu, Mussa.” Bunda tertawa, matanya tampak bersinar dan sedikit basah.
Saat Mussa sedang sibuk dengan Bunda dan Lik Ilham, Terang mendekati Noah yang duduk di atas vespanya. “Jangan pernah memanfaatkan Bunda untuk kembali meraih simpatiku, Saverio.”
“Sangat picik.”
“Cih,” bibir Terang manyun.
Mussa mendekati mereka. “Kak Terang, jalan-jalan yuk.”
“Apa?” tanya Terang.
“Jalan-jalan,” kata Mussa dengan senyuman manis. “Aku sedang liburan di sini lima hari,”
Terang melirik Noah. “Dan kamu juga memanfaatkan adikmu?”
“Dia adikmu juga,” kata Noah dengan alis mata yang terangkat satu.
# # #