
Mereka berdua kemudian menyusuri tepi pantai. Langit sudah agak menghitam. Matahari sebentar lagi menghilang di garis batas. Terang menari-nari setiap ada ombak yang menggulung kakinya yang putih dan kecil. Sementara Noah justru menghindarinya. Terang kadang berlari dan berharap Noah mengejar, tetapi Noah tetap berjalan. Lalu, Terang menarik tangan Noah sambil tertawa.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Noah.
Saat ini, Terang sedang berdiri di tengah Ombak sambil memandang ke barat. Tangan kanannya mengambang di udara, telunjuknya melukis sesuatu di langit. Seperti sebuah gambar, atau sebuah lukisan.
Noah menjejeri Terang yang tak berkomentar apa-apa. “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya lagi. Kali ini Terang menoleh.
“Aku melukis langit,” jawab Terang pendek. Kemudian ia melihat langit lagi, dan melukis dengan telunjuk.
“Apa?”
“Melukis langit. Aku melukis impianku di langit. Dulu waktu kecil aku selalu melakukannya. Bunda yang mengajariku di atas kontrakan kami di Tanjung Priok. Aku menyukainya. Ayo lakukanlah bersamaku di sini. Kamu cukup melukis langit dengan impianmu. Misalnya, kamu ingin menjadi seorang fotografer, jadi tulis saja ‘aku ingin menjadi fotografer’. Itu semangat dan sugesti. Setiap aku merasa lelah dan ingin kalah dengan cita-citaku, aku selalu memandang langit. Apa yang kulukis seperti muncul di sana.”
“Permainan anak-anak.” Noah tak tertarik, lalu dia melangkah maju menyambut gulungan ombak kecil. Terang menarik tangannya.
“Cobalah.”
Noah menyerah, dia ikutan memandang ke langit. Sore ini, dia melukis langit untuk pertama kalinya.
“Apa yang kamu lukis?” tanya Terang.
“Sesuatu.”
“Ceritakan.”
Noah menggeleng. “Tak perlu tahu.” Dia melanjutkan lukisannya.
“Ayolah, aku ingin tahu. Kalau aku, aku melukis cita-citaku. Aku ingin menjadi dosen,” Terang bangga menceritakan cita-citanya. “Kamu, apa yang kamu lukis Noah?”
“Kebahagiaan,” jawab Noah.
Terang memandang Noah. “Dasar aneh. Aku kan jelas, aku ingin menjadi dosen. Jadi aku menulis di atas langit ‘AKU INGIN MENJADI DOSEN’ besar-besar. Kamu menulis kebahagiaan? Itu masih terlalu umum. Harus lebih spesifik.”
“Ini sudah cukup,” ucap Noah. “Kamu mau jadi dosen?” tanyanya. “Bagaimana jika kamu berlatih menjadi dosen dengan mengajariku? Kamu tahu kan IP-ku masih di bawah 3?”
“Kamu sendiri kan yang bilang bahwa kamu nggak berminat di TI. Jadi itu tidak masalah.”
“Ajari aku. Tanpa banyak tanya.”
“Tak akan.”
“Ayolah, kamu harus memulai belajar mengajari mahasiswa sungguhan seperti ini.”
Terang diam. Memandang Noah. “Kamu sungguh-sungguh?”
“Apa aku terlihat bercanda?”
Senja sudah menghilang, berganti dengan malam. Tapi mereka berdua masih di tepi pantai. Dua kapal pencari ikan telah mendarat. Itu adalah peristiwa yang sangat heroik. Kapal itu datang dengan gagah berani, melawan ombak yang mendadak besar. Ada kapal motor kecil yang mencoba untuk menarik menggunakan tali, namun selalu gagal. Beberapa kali dua kapal itu harus kembali ke tengah, menunggu ombak kembali tenang. Saat sudah berada di tepi pantai, orang-orang datang membantu. Menarik kapal dengan tali tambang besar.
Noah dan Terang duduk di tepian pantai. Angin mulai menghantam tulang. Rembulan setengah di ujung lautan. Malam itu, bintang melukis langit dengan kerlipnya. Indah.
Noah memainkan pasir di depannya. Membuat gunung kecil yang kemudian ia hancurkan sendiri, lalu ia bangun kembali. “Nggak pernah.”
“Apa yang kamu lakukan jika kamu tahu bahwa umurmu nggak akan lama lagi? Misalnya, kamu divonis akan hidup sebulan lagi.”
Noah menghentikan aktivitasnya, memandang Terang. “Aku pikir kamu bisa bertanya hal yang lain, Terang. Atau lebih baik kita pulang, Bunda pasti sudah menunggu.”
“Jawab dulu pertanyaanku. Apa susahnya sih? Anggap aja ini cuma permainan. Bukankah hidup hanyalah sebuah permainan dan kita pemainnya? Mungkin di luar sana, ada orang yang sedang mengamati kita, dan kita adalah sebuah simulasi, atau mungkin permainan games seperti yang sering kamu mainkan,”
Noah menerawang ke atas langit. Menatap kerlip bintang. “Mungkin aku akan menyendiri, menghabiskan sisa waktuku untuk menyesali hidupku yang sudah-sudah.”
“Menyesali?”
“Ah, sudahlah, aku nggak tahu. Bisa saja aku akan main games terus selama sebulan sebelum aku mati. Agar aku nggak menjadi hantu penasaran.” Noah tertawa.
Terang menonjok lengan Noah. “Aku serius, Bodoh.”
“Aku nggak tahu. Kalo kamu?”
“Aku?” tanya Terang, yang tak memerlukan jawaban. Dia memandang kosong di depan. Ombak yang bergulung di lautan, tampak gelap. Pantulan cahaya bintang dan bulan yang memudar di atasnya. “Aku akan membahagiakan orang-orang di sekitarku. Aku akan melakukan yang terbaik selama yang aku bisa, sampai mati.” Terang menghela nafas. “Aku ingin membahagiakan Bunda.”
Mendadak hening. Noah tak menanggapi. Hanya deburan ombak yang menjadi latar. Kemudian Noah berkata, “Ada pembicaraan yang lebih menyenangkan dari itu?”
“Hais, itu adalah pembicaraan yang menyenangkan.”
“Lebih baik kita pulang sekarang, aku haus.”
Keduanya lalu berdiri, berjalan ke arah rumah Lik Giyono.
“Noah, katanya kamu ada syarat saat kemarin aku mengajakmu ke sini. Kamu ingat?”
Noah menghela nafas kecil. “Oh itu. Ya, aku ingat. Temani aku motret besok,” katanya dengan lirih.
“Motret?”
“Apakah telingamu tuli?”
“Baiklah, aku akan mengajakmu naik sepeda ke Depok. Kita lewat Pantai Parangkusumo ke barat. Ada jalan beraspal di antara gumuk pasir dan pantai yang pemandangannya indah. Kita motret di sana. Kamu memerlukan model?” Terang mengerlingkan mata.
Noah memandang Terang, sok menyelidik. “Tidak jika itu kamu.”
“Aish, kamu pasti akan kecewa karena menolakku. Tapi kamu akan mengajariku memotret, kan?”
# # #