MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 8



Terang duduk di kursi belajar sambil memandang kertas gambar A3-nya yang masih kosong. Kamarnya sudah kembali rapi pasca tragedi hujan badai tiga hari lalu.


“Aku harus beneran tidur di sini, Rang?” tanya Kayla yang sedang berbaring di tempat tidur. Kepalanya menatap langit-langit yang sudah tidak bocor lagi. Kemarin Lik Ilham, pemilik kos yang juga teman Bunda, menyuruh orang untuk membenarkannya. “Lihat kasurmu ini, menyedihkan dan bau.”


“Aku sudah kasih pinjem dua novel dan DVD korea untukmu. Ada di tas. Ambil saja. Masalah kasur, ada pengharum ruangan. Jangan protes. Kamu harus menemaniku malam ini.”


“Kamu nyogok?”


Terang menatap Kayla dengan muka memelas. “Apa kamu tega membiarkan sahabatmu ini tidak ngumpulin tugas dan dapat nilai E, dan ia gagal dapat beasiswa S2 ke luar negeri, lalu cita-citanya menjadi dosen kandas begitu saja. Bunda akan terlantar karena warungnya harus dikembalikan ke pemiliknya. Kamu tega melihat itu?”


Kayla melongo memandang temannya. “Kamu sangat...berlebihan.”


“Kamu malaikatku malam ini,” Terang tersenyum sok manis. “Jadi, selesaikan episode-episode drama koreamu yang penuh drama seperti hidupmu.” Terang tahu kelemahan Kayla. Novel dan drama korea. Sementara Terang, dia tak suka keduaya. Dia hanya sesekali saja jika ada yang benar-benar membuatnya tertarik. Dia lebih suka mendengar musik, atau membaca text book kuliah.


“Atau kamu berniat membantuku?” Tanya Terang. Kayla menggeleng sambil menjawab, tentu saja tidak. Terang pasrah, lalu menyumpal telinganya dengan earphone. Terdengar Pure Saturday sedang memainkan lagu ‘Langit Terbuka Luas Mengapa Tidak Pikiranku’.


Terang terpekur memandang kertas A3-nya. Astaga mengapa harus lusa mengumpulkannya. Sementara hari ini, ia baru akan mengerjakan tugas itu. Semangat. Semangat. Semangat. Terang berteriak di hati. Dia kemudian menirukan Suar mengeja lirik. Meskipun sang vokalis sudah diganti oleh Satria, tapi Terang tetap mencintai suara Suar. Lagu yang ia dengar memberi asupan semangat malam ini.


Setelah hampir satu setengah jam, Terang menelungkupkan kepalanya di atas meja. Kepalanya berdenyut seperti biasa, ketika ia mulai terlalu lama ada di depan meja belajar. Kebiasaan yang sejak SMA selalu hadir, dan sebenarnya ia khawatir akan hal itu.


Terang memijit-mijit kepalanya yang berdenyut pelan. “Jangan kamu pikirkan, ini sudah biasa. Aku hanya perlu istirahat sebentar. Coba kamu lihat...” Terang tersenyum lebar. “Aku tetap bisa tersenyum. Sakit kepala ini bentar aja. Aku hanya perlu minum air putih yang banyak, nanti juga sembuh sendiri seperti biasa.”


“Apa kamu perlu break sebentar buat ngumpulin semangat? Kita bisa ke warung ibumu dan memesan mie goreng. Itu ide yang buruk karena aku sedang diet dan ini sudah hampir jam sepuluh, tapi karena ini demi semangatmu, aku rela.”


“Sepertinya itu ide yang bagus. Mie goreng dengan cabai hijau yang banyak,” kata Terang. Lalu Kayla menjawab, “Itu ide yang buruk. Besok kita ada Kuis Matematika 2. Aku nggak ingin sakit perut.” Terang berkata, “Kuisnya siang, kamu ingat?” Kayla melanjutkan ucapannya, “Itu tetap ide yang buruk.”


“Terserah. Aku butuh semangat. Kupikir makanan pedas dan panas bisa membangkitkan semangat. Kecuali aku di SMS oleh pangeran dari Surga, mungkin aku bisa lupa.”


Tit. Tit. Ponsel Terang berbunyi. Terang mengambil ponsel itu dan membuka pesan yang masuk. Dari nomer yang tak ada di daftar ponselnya. Semangat, kata pesan itu.


Apakah Mas Bara belum jera juga? Kayla bertanya dari siapa, dan Terang hanya menggeleng kecil sambil melempar ponsel Nokianya ke kasur.


# # #


Sudah setengah jam pesan Noah tidak ada tanggapan. Tadi ia sempat ragu untuk mengirimkannya atau tidak. Ia sudah mengetiknya, lalu menghapusnya. Ia mengetiknya lagi, dan tanpa sengaja dia memenjet tombol ‘KIRIM’ di Blackberry-nya. Pesan itu terkirim dan tak dibalas Terang sampai sekarang. Ia menatap layar Blackberrynya. Maleo sudah mengechat berulang kali. Kamu masih disitu, Nyet? Jadi main dota nggak nih? Pukul 02.10. Pesan itu juga belum dibalas. Noah membanting Blackberrynya ke atas kasur. Ia menyambar jaket yang menggelantung di belakang pintu kamar, lalu mengambil vespanya di garasi. Angin malam  menemaninya menuju Warnet 00.01 di Jalan Kaliurang.


# # #