MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 3



Tempat favorit Noah di kampus adalah gang sempit antara kantin dan ruang Laboratorium Sistem Produksi. Gang itu beratap ternit yang catnya mulai mengelupas dan sedikit berlumut. Tak ada yang menyukai tempat itu. Ada banyak tumpukan kursi kayu yang rusak di ujung lorong dan meja-meja panjang yang biasa Noah gunakan untuk tidur. Semua orang bisa melihat gang itu, tetapi tak ada yang mau ke sana.


Noah sedang duduk di kursi, tidak lagi di lantai seperti waktu seminggu sebelumnya. Di depannya ada kertas putih yang terisi tulisan ilalang yang digoyang angin sore.


“Kamu suka banget yah bikin orang lain susah?” tanya Terang yang sudah berdiri di samping Terang. “Tugasmu? LAGI....” Ia sengaja memperjelas kata ‘lagi’.


Noah tak menjawab dan kembali melanjutkan memindahkan kalimat ‘Thermoplastics dapat mencair melalui proses pemanasan dan dapat diubah bentuk melalui pencetakan...’ menjadi rumput-rumput kering di kertasnya. Sebelum ia selesai menulis kalimatnya, kertas di depannya sudah beralih tangan ke Terang. Noah sontak berdiri karena kertasnya direbut.


“Sudah terlambat. Lain kali, aku nggak peduli kamu ngumpulin tugas atau enggak. Astaga, kuharap orang lain saja yang ngumpulin tugas kamu. Dan kuharap ada orang lain yang bisa nemuin kamu di sini.” Dia menyunggingkan senyum yang dipaksakan. Kemudian ia pergi.


Noah membanting Pilot birunya hingga kepalanya copot dan melontar ke dinding. Dia merebahkan tubuhnya di meja, menerawang langit-langit yang tampak kacau catnya. Dia berharap tidak dicari lagi, bahkan oleh siapa pun. Terutama gadis itu yang namanya bertolak belakang dengan wajahnya.


Namanya Terang, harusnya dia bisa lebih cerah, menyenangkan, atau....Noah menggeleng. Mengapa ia mendadak memuat pikiran-pikiran tidak penting seperti itu?


Cukup dua kali dicari olehnya. Pertemuan dengannya tak ubahnya seperti seruan alam untuk meyakinkan bahwa orang-orang yang rajin kuliah itu sangat menyebalkan. Ia benar-benar tidak ingin berurusan dengannya lagi. Namun sepertinya alam punya seruan-seruan doa sendiri. Kadang hal yang kita tentang justru akan diamini oleh semesta.


Dua hari kemudian, semuanya terjadi saat pengumpulan tugas Mekanika Teknik.


Noah sudah dua kali absen kelas Mekanika Tekniknya Pak Waziz. Asdos sudah memperingatkan bahwa jika sudah tiga kali tidak mengumpulkan tugas mingguan, maka jangan harap minimal ada nilai C di lembar nilai akhir semester nanti.


Semester ini, Noah hanya bisa mengambil 18 SKS dari 24 SKS karena IP semester lalu di bawah 2.75. Jika dari 18 SKS itu ada nilai C di dalamnya, semester depan pasti dia tidak bisa mengambil SKS lebih. Perang dingin pasti terjadi. Maminya akan membuatnya terusik sepanjang libur semester.


Pengumpulan tugas Pak Waziz pukul 15.00. Hanya ada satu nama yang harus ia cari: Terang. Dia pun berpikir, mungkin dosen-dosen dan asdos hanya mengenal gadis itu. Mengapa harus gadis itu? Mengapa ia harus mencarinya?


Sejam sudah ia mencari. Noah tak menemukan orang yang mengerti ke mana perginya Terang. Dia hampir saja meremas kertas tugas Mekanika Tekniknya di lobi kampus, saat seorang gadis—mungkin dia satu angkatan dengannya, tetapi dia tak mengenalnya, mungkin dia pernah mendengar namanya, tapi sungguh dia lupa—yang duduk di sampingnya sambil membaca, sepertinya novel remaja, menutup novelnya dan berbicara dengan ponselnya.


“Astaga Terang, kamu masih belajar TOEFL di Perpustakaan?”


# # #


 


 


“Ternyata di sini,” kata Noah. Saat mengucapkannya, rahang pipinya terlihat tampak menonjol. Bukan karena kurus, namun karena memang ia memiliki garis rahang panjang dan terlihat. Rahang itu masih bisa menampakkan lesung pipinya yang samar terihat. Matanya menyalak, jenis mata yang mengintimidasi orang yang melihatnya.


Terang mendongak saat mendengar suara berat yang ia kenal. Sok bersikap tak acuh.


Terang melihat Noah dengan tatapan berani. Cowok itu berdiri menjulang di samping meja. Mungkin saat ia berdiri, ia pasti hanya akan melihat lengannya yang kokoh dan tebal, atau terpaku pada dagunya yang sedikit terbelah. Baru kali ini dia bisa benar-benar memperhatikan Noah dengan sadar. Terang baru menyadari bahwa alis itu sangat tebal dan panjang. Menaungi matanya yang sedikit sipit dan terlihat sangat cokelat. Terang juga baru tahu bahwa muka Noah sangat bersih, tanpa jerawat. Terang seperti melihat perpaduan antara orang China, atau Korea, dengan orang asli Indonesia.


Sejam yang lalu, ide itu tercetus begitu saja saat Terang menghitung satu persatu tugas teman-temannya. Ada satu nama yang belum ada di tumpukan tugas Mekanika Teknik. Jika ini tugas Bahan Teknik, ia bisa saja bilang ke Gema—ketua angkatan—untuk mengerahkan semua orang agar mencari Noah. Tapi karena ini Mekanika Teknik, dan tidak ada hukuman angkatan jika ada satu orang yang tidak mengumpulkan, Terang tak peduli.


Terang sengaja pergi ke perpustakaan dengan Janaka untuk belajar TOEFL bersama. Dengan sangat sengaja sembunyi.


Terang tak berpikir cowok itu akan mencarinya. Ia tak pernah melihatnya di kelas—sejak dua kali Noah tidak mengumpulkan tugas mendadak Terang jadi penasaran dengan kehadiran Noah di kelas. Benar saja, Noah hanya ada di kelas-kelas tertentu selama lima hari kuliah.


Sekarang Noah berdiri di depannya. Terang menatap wajahnya dengan muka heran. Potongan rambut laki-laki itu jelas bukan seperti anak teknik. Model rambut panjang menutupi telinga. Bagaimana ia menyembunyikan rambut itu dari petugas-petugas Tata Usaha saat ujian? Bahkan seharusnya dia juga tidak bisa masuk ke kelas dosen mana pun.


Noah meletakkan tugasnya. Tanpa perlu mengucapkan apapun, dia pergi begitu saja.


Terang memandang kertas bertuliskan nama ‘Maheswara Noah Saverio’. Ditulis dengan Pilot biru yang acak-acakkan.


Mungkin suatu saat nanti, aku juga akan menghadapi sendiri. Punya mahasiswa seperti dia. Suatu hari nanti, pasti akan ada yang seperti dia. Semoga ini terakhir kalinya, dia mencariku, atau aku mencarinya. Ini sudah cukup.


# # #


 


 


Seminggu kemudian banyak yang terjadi di kampus. Ada perekrutan panitia Ulang Tahun Teknik Industri yang kesepuluh di bulan April. Satu dua orang mendadak ke kampus menggunakan masker karena musim sakit batuk telah hadir. Tanah menjadi kering dan debu-debu berterbangan. Papan mading diganti dengan yang baru dan diletakkan di lorong tanpa dinding beratap semen dan menghubungkan antara parkiran motor dan lobi kampus. Di kanan kiri jalan itu ada papan-papan mading dan papan pengumuman dari HMTI dan KMTM—Kelurga Mahasiswa Teknik Mesin—yang berderet dari ujung ke ujung.


Hari Senin minggu berikutnya, Terang berdiri di depan papan mading bersama kerumunan teman-temannya. Berebut mencari nomer mahasiswa mereka untuk mengetahui pengumuman nilai tugas Bahan Teknik. Hanya mata kuliah ini yang mengumumkan nilai tugas makalah, hanya mata kuliah ini pula yang membuat remidial tugas.


“Dapat nilai berapa?” tanya Kayla, teman seangkatan Terang. Kayla lebih tinggi dari Terang sehingga dia dengan leluasa bisa melihat nilai. Dia memiliki rambut bergelombang yang lembut. “Sebutin nomer mahasiswamu.”


Terang tentu saja sudah melihat nilainya. Tetapi ia masih saja mematung di sana, matanya sibuk menyelidik satu persatu nomer mahasiswa yang tertempel di papan mading. 251001...251001... Terang mengingatnya dengan mudah. Itu nomer Noah. Ia sendiri tak mengerti mengapa ia mencarinya. Mungkin ia hanya penasaran dengan nilai laki-laki itu. Nomer mahasiswa Noah ada di baris-baris terakhir. Dia berhasil tidak remidial. Astaga, pasti dia sudah lihai menyalin dari internet. Terang tersenyum kecil.


“Ngapain senyum-senyum?”


Suara itu seperti kantuk, datang mendadak. Terang menoleh dan matanya menangkap wajah Bara ada di sampingnya. Bara adalah adalah kakak angkatannya di Teknik Industri.


“Kita bisa pulang bareng? Kamu inget kan kosanku masih satu atap dengan rumahmu? Jadi kupikir, kita bisa pulang bareng. Atau kamu mau nemenin ke Koperasi UGM, aku pengen beli beberapa alat tulis?” tanya Bara tak berhenti, alisnya sengaja dinaikkan. Terang menjawab bahwa dia akan pergi ke tempat les. “Aku bisa nganterin kamu.”


“Aku bawa sepeda, lagian ada Kayla. Kita tidak mungkin kan bertiga di satu motor?” Terang menjawab sambil tersenyum. “Permisi ya Mas, kita duluan.” Terang menarik tangan Kayla, meninggalkan Bara tanpa ada perlawanan.


# # #