
Hari minggu, Noah keluar dari ‘gua’-nya pada pukul sebelas siang lalu menuju ke arah Jalan Prawirotaman. Seharusnya ia masih bisa tidur karena ia baru balik pukul tiga pagi, tetapi maminya berulang kali menelepon dan ia terpaksa bangun. Tiga puluh menit perjalanan, Noah berhenti di sebuah restoran berbentuk rumah Joglo yang penuh oleh mobil dan motor. Ada plang nama ‘Gudeg Manggar Yu Sarmi’ terpasang di tempok warna putih. Banyak bule yang keluar masuk ke rumah makan itu. Noah memarkirkan vespanya di bawah pohon kelapa pendek yang berbuah kuning. Mobil Alphard warna hitam di sampingnya, dan ia tahu bahwa itu adalah mobil yang digunakan oleh maminya.
Noah disambut oleh Nindi yang berdiri dengan tubuh tegang menatap pelayan bertubuh kecil di depannya. Suaminya ada di sampingnya dengan wajah tak kalah tegang. Sementara Mussa duduk begitu saja sambil memegang PSP, tanpa menghiraukan kedua orang tuanya. Suasana di dalam restoran tampak penuh. Tak ada meja yang tersisa.
“Kita sudah memesannya, suamiku ini...” mami menunjuk suaminya. “sudah reservasi kemarin. Kita tidak mau tahu, kita harus mendapatkan meja itu. Atau jika tidak, aku akan melaporkanmu pada manajer di sini.”
Pelayan bertubuh kecil itu meringsut takut. Kemudian datang dua orang, yang satu diduga manager restoran itu, dan yang satu seorang wanita, mungkin PIC operasional hari itu. Ketiganya tampak menunduk-nunduk di depan mami dan suaminya. Baskara beberapa kali menimpali perkataan istrinya. Dia berulang kali bilang ‘aku sudah memesannya’, ‘aku sudah memastikannya’.
Noah duduk di samping Mussa, lalu mengacak rambut adiknya. Dia memencet tombol R di PSP, lalu memencet tombol L. Mussa mencoba mengelak, tapi Noah semakin menggodanya. “Apakah kamu tidak merindukanku?” Noah menjepit hidung Mussa dengan telunjuk dan jari tengahnya. Mussa hanya mengangkat bahunya, lalu tersenyum kecil dan ia kembali sibuk dengan mainannya.
Akhirnya mereka mendapatkan meja setelah perdebatan yang panjang. Nindi membanting tas LV barunya di kursi, lalu mendaratkan pantatnya yang berlapis kain lembut di kursi. “Jangan kamu ulangi lagi hal kecil seperti ini,” dia melirik suaminya. “Setiap di Jogja, sepertinya kamu selalu tidak konsen dengan semua hal, bahkan hal kecil.”
Baskara diam, menarik serbet warna putih lalu meletakkannya di pahanya. Dia menyeruput air putih di depannya.
Mami memandang suaminya. “Jangan sekali pun aku mengetahui bahwa kamu menemui mantan istri, atau bahkan anakmu. Aku sudah memperingatkan beberapa kali.”
Noah sengaja meletakkan garpu dengan kasar, agar menimbulkan suara. Ia berkata, “Aku nggak punya waktu banyak. Jika sudah selesai, aku akan membawa Mussa sekarang.” Dia mengelap mulutnya dengan tisu.
Tiga hari lalu, Nindi menghubungi Noah dan mengatakan bahwa Mussa akan tinggal selama liburan tengah semester. Nindi memang tidak pernah bisa menolak permintaan Mussa. Siang ini, Noah sebenarnya sangat enggan untuk bertemu dengan maminya, terutama suaminya. Bertemu dengan Baskara hanya akan mengingatkan pada Terang.
Noah tak ijin saat pergi ke toilet, dia masuk ke dalam kamar mandi. Dia duduk begitu saja di atas koslet tertutup. Dia cukup lama di situ, saat ia keluar dia melihat Baskara sedang mencuci tangan. Noah tak menyapanya, dia mencuci tangannya juga tanpa menghiraukan suami maminya itu.
“Aku nggak menceritakan apapun pada mamimu, kuharap kamu melakukan hal yang sama, Noah,” ucap Baskara sambil memandang Noah.
Noah selesai mencuci tangannya, lalu mengeringkannya di alat pengering. “Not my bussiness.”
# # #
Pada waktu yang sama, Terang sedang membantu Bunda melayani mahasiswa-mahasiswa yang memesan makan siang. Hari minggu adalah hari yang sibuk di warung burjo. Terang sedang tidak ada jadwal untuk mengajar di LBB, jadi ia membantu Bunda. Toh, dia sedang tidak ada kegiatan apa-apa. Mereka berdua baru bisa bernafas sekitar pukul tiga sore hingga menjelang maghrib. Saat itu, warung benar-benar kosong. Bunda duduk mengistirahatkan tubuhnya, lalu Terang ada di sampingnya sambil memijit pundak Bunda.
“Hari ini kamu nggak ngajar?” tanya Bunda. Terang menggeleng. “Lagi nggak pengen pergi dengan siapa pun hari ini?”
“Aku baru saja pulang dari tempat Kayla, Bun.”
“Ah iya iya.” Bunda menyenderkan tubuhnya ke kursi. “Kamu sedang ada masalah?”
Terang menatap Bunda, lalu menggeleng.
“Anak Bunda yang satu ini nggak pernah pandai berbohong.” Bunda kali ini tersenyum. “Lagi bertengkar sama Noah?”
Kali ini Bunda tidak membicarakan sumur, tapi langsung orangnya. Terang sedikit terkejut. “Dia baik-baik saja.”
“Jadi benar, kalian baik-baik saja?”
Terang tidak menjawab.
Bunda memandang puteri semata wayangnya lebih hangat. “Dengarkan Bunda. Bunda nggak tahu sejauh apa hubungan kalian, tetapi jujur saja Bunda sangat menyukai Noah. Sama halnya ketika Bunda menyukai Janaka dan Kayla. Bunda bisa melihat orang-orang yang memang baik. Sejak dulu Bunda memang menginginkan anak laki-laki. Jadi saat melihat Noah, Bunda sudah menganggapnya sebagai anak laki-laki Bunda. Jadi, apakah pantas kedua anak Bunda bertengkar karena hal kecil. Bersikaplah dewasa.”
“Apakah dia menyakitimu?”
Terang menggeleng.
“Jadi, mengapa bertengkar? Dia bikin kesalahan?”
Terang kembali menggeleng. “Ayahlah yang membuat kesalahan. Dia memang selalu membuat kesalahan sejak dulu.,” ucapnya lirih, nada suaranya parau.
“Ayah?”
“Ya, ayah. Karena dia menikah dengan maminya Noah.”
Semua peristiwa saat Terang kecil berkelebat dengan cepat. Bunda yang menangis tiap malam, ia yang meringkuk seorang diri.
Mata Bunda membulat, lalu ia berkata spontan. “Menikah dengan mami Noah?” intonasi suaranya naik.
“Ya, aku tahu itu saat ayah datang menjengukku di rumah sakit kemarin. Saat itu sedang ada Noah, dan aku tahu untuk pertama kalinya. Padahal aku selalu cerita pada Noah bahwa aku membencinya sejak ia meninggalkan Bunda.” Terang menatap sendu wajah Bunda. “Yang lebih menyakitkan, Noah ternyata mengetahuinya. Dia menyembunyikannya dariku.”
“Astaga Terang, Bunda nggak pernah mengajarimu untuk membenci ayahmu. Dan apa katamu tadi, kamu memanggil ayahmu dengan ‘dia’, itu tidak sopan.” Saat mengatakan kalimat ini, nada Bunda tidak tinggi. Malah justru terdengar lembut. Bunda membelai rambut Terang dengan lembut.
“Aku nggak pengen memanggilnya ayah lagi.”
“Terang, Bunda nggak pernah mengajarimu seperti ini.” Kali ini suara Bunda lebih tinggi. “Dengarkan Bunda, Nak. Bunda dan ayah sudah berpisah sangat lama, sangat lama. Dulu ayah memang menjadi orang yang satu-satunya bisa membuat Bunda jatuh cinta. Bunda sangat mencintai ayah sepenuh hati, itu dulu. Sudah lama sekali. Sekarang kami berdua sudah memiliki hidup masing-masing, ayahmu telah menikah lagi. Dia berhak bahagia dan kamu tidak berhak menghakiminya.”
“Dia meninggalkan kita. Bunda ingat, kan?”
“Siapa yang ingin hidup sengsara, Terang. Mungkin dulu ayah telah menemukan kebahagiaan lain, dan saat itu mami Noahlah yang bisa memberikannya.”
“Dia egois dan sangat materialistis.”
“Bersikaplah dewasa, Nak. Siapa yang nggak ingin hidup bahagia. Kebahagiaan itu berasal dari bermacam-macam alasan. Bunda bahagia hidup sederhana seperti ini, tetapi ayahmu tidak. Itu bukan egois, itu sangat realistis. Setelah sekian lama Bunda berpisah dengan ayahmu, Bunda kemudian menyadarinya. Saat kita mencintai seseorang, jangan pernah untuk mengekangnya dalam hidup kita.”
Terang menyeka air matanya. “Jadi, Bunda sudah memaafkan ayah?”
“Sudah cukup lama Bunda melakukannya. Kuharap kamu juga melakukannya.” Bunda kembali tersenyum manis. “Jadi, kamu pun harus memaafkan Noah. Dia nggak tahu apa-apa, mungkin dia juga kecewa sepertimu. Ini bukan salah kalian. Berbaikanlah padanya.”
Terang memajukan bibirnya. “Aku bukan orang yang meminta maaf untuk pertama kali, apalagi dengan seorang laki-laki.”
“Astaga, mengapa anak Bunda jadi seperti ini? Kuharap Noah mau kembali ke kosan kita setelah kamu minta maaf.”
“Tidak akan, Bun. Aku nggak akan minta maaf dahuluan.” Terang kembali cemberut. “Tapi, apa kata Bunda tadi. Kembali? Apakah Noah pindah?”
# # #