
Malam hari setelah menonton.
Terang sedang tak ingin diganggu oleh siapa pun. Ia meminta ijin kepada Bunda untuk pergi ke warnet. Ia tidak bilang bahwa dia mencari bahan untuk tugas kuliah, karena dia tidak mau berbohong. Tetapi, memang ada sesuatu yang akan dicari.
Ada satu artikel di salah satu portal berita tanah air, bahwa 64% wanita sangat rajin untuk stalking social media orang yang menarik baginya. Yang lebih menyeramkan, 48% wanita lainnya bahkan sampai mendalami profil orang yang menarik itu dan memastikan bahwa tidak ada wanita lain yang mendekatinya. Terang termasuk 48% itu.
Terang mengambil nafas perlahan sambil menggigit bibir bawahnya. Dia membuka browser, lalu perlahan ia mengetik ‘facebook.com’. Masuk ke akunnya, tanpa ragu ia mencari profil Maheswara Noah Saverio. Halaman Facebook Noah dipenuhi oleh foto-foto hasil jepretannya yang kebanyakan hitam putih. Foto-foto yang kebanyakan memotret aktivitas manusia. Ada yang sedang duduk, ada yang naik sepeda. Foto yang paling atas adalah seorang bapak yang sedang naik sepeda di jalan lurus di Pantai Depok.
Foto-foto yang sangat cantik, dalam arti foto itu indah untuk dilihat bahkan oleh orang yang tidak mengerti foto sekalipun seperti Terang. Foto yang penuh tafsir. Guratan senyuman sang bapak yang menutupi bulir keringat yang menetes dari sela-sela rambutnya yang memutih, menggambarkan semangat yang tak kenal putus. Otot-otot tangannya yang cokelat mengkilap, kakinya yang kecil tapi terlihat kuat. Dari mana dia? Atau kemana dia? Mengapa dia terlihat bahagia, padahal mukanya terlihat sangat lelah?
Ada 49 komentar di foto itu. Di komentar paling terakhir, Terang melihat nama Permata Hati yang ikut berkomentar pendek.
Fotonya keren.
Noah membalasnya. Bukankah selalu selalu seperti itu.
Terang menelan ludah, dia menutup tab browser, namun kembali membukanya. Dengan cepat ia melihat profil Permata yang ternyata tidak dikunci sehingga dia tidak perlu meminta ijin untuk menjadi teman. Halamannya penuh dengan foto-foto dia bersama teman-teman di fakultas kedokteran; di pelataran kampus, di dalam laboratorium, di dalam kelas. Dia yang berjalan seorang diri mengenakan jas putih bersih. Terang menggigit bibir karena dulu ia pernah ingin mengenakan jas itu.
Permata yang memiliki rambut panjang lurus dan hitam. Kulitnya putih bersinar diterpa cahaya matahari, tanpa jerawat. Dia memiliki mata yang besar dan indah. Hidungnya kecil dan ramping. Intinya, dia cantik. Dia calon dokter muda. Dia tentu saja pintar.
Foto-fotonya penuh dengan komentar dari teman-temannya, terutama laki-laki. Dia juga sering menulis status-status penuh dengan rima yang indah. Sederhana tapi indah.
Pagi ini hatiku bagai melati. Terang tak tahu apa artinya, tapi buatnya itu indah. Dia yang terbiasa dengan buku-buku dan diklat kuliah, yang terbiasa membaca jurnal review, mengakui bahwa kalimat sederhana itu indah.
Status terakhirnya membuat hati Terang mencelos. Melihatmu, seperti membuka waktu.
Siapa ‘mu’ yang Permata maksud? Noahkah? Ah, mengapa ini menjadi sangat sulit.
Noah komentar di status itu. Melihatku? Permata membalasnya. Siapa lag?.
Terang tak tahu mengapa dia menjadi gusar. Dia memutuskan untuk meninggalkan warnet dan pergi ke kosan Kayla. Ketika ia datang, Kayla sedang tiduran sambil membaca novel. Dia tidak ingin menganggu, dia hanya butuh teman saja. Jadi dia memutuskan untuk tiduran di kamar Kayla yang penuh dengan poster boyband korea. Wangi lavender menyambut Terang.
“Kayla, kamu pernah iri sama seseorang nggak sih. Yang lebih cantik dari kamu?” tanya Terang.
“Ehm...nggak pernah.” Dia masih sibuk membaca.
“Lebih segalanya?”
“Apa yang terjadi?” Kayla memandang Terang. “Ada seseorang yang sedang menggoda Janaka.”
“Tentu saja bukan tentang Janaka.”
“Bukan tentang Janaka?” Kayla memicingkan mata. “Jadi...” Dia menggantungkan kalimatnya. “apakah aku kehilangan banyak cerita?”
“Kurasa aku cemburu.” Terang menggigit bibir, tapi ia tak berniat cerita apa-apa.
# # #
Seminggu setelah menonton. Sabtu sore yang cerah.
Noah naik ke atap rumah, menemui Terang yang sedang duduk sambil mendengarkan sesuatu melalui earphone. Di tangan gadis itu ada buku latihan TOEFL tebal. Saat Noah datang, Terang sedang memejamkan mata. Langit Jogja di ufuk barat tampak cerah.
Noah mengambil duduk di samping Terang, lalu dia mencopot earphone di telinga kanan Terang dan memasangnya untuk dirinya sendiri.
Terang menoleh. Noah menyodorkan tangannya yang memegang tumbler ukuran sedang bertuliskan nama TERANG di depan muka gadis itu. “Untukmu. Sebagai permintaan maaf.” Terang mengernyitkan kening, tak mengerti. “Aku benar-benar lupa kemarin, dan kupikir itu tidak baik. Terimalah.”
Terang masih dengan kebisuan.
“Ini bukan oleh-oleh dari Jakarta, tetapi aku mencarinya di Ambarukmo Plaza. Ini spesial kupesan atas namamu karena aku yakin kamu nggak mau melihat nama Noah di situ.” Noah diam sejenak karena Terang tak menanggapinya. Lanjut Noah, “Noah tahu kamu sering begadang, jadi ini akan menemanimu begadang,” kata Noah masih dengan muka menatap ke depan dan salah satu telinganya tersumpal headset. Ia tak mendengar apa-apa.
Terang melepas paksa headset dari telinga Noah, lalu memasangnya di telinga kanannya. Ia tak berkomentar karena ia tak tahu harus berkomentar apa. Jadi ia memilih diam. Sore ini ia tiba-tiba tidak banyak bicara.
“Kamu tahu, seminggu ini Noah nggak berani menyapamu.” Dia memperlambat tempo bicaranya. “Karena Noah salah, jadi aku lebih baik menghindar. Tapi ternyata itu sangat menyakitkan.” Noah menyunggingkan senyum. “Apakah Noah sudah cukup gombal?”
Terang melepas tawa kecil, lalu menoleh. “Sungguh nggak pantas.” Dia merebut tumbler dari tangan Noah. “Ini belum apa-apa dibandingkan dengan ingkar janjimu. Aku sangat kecewa. Tapi ini bagus, aku suka.” Terang menyunggingkan senyum lebar.
Noah ikutan menoleh, “Tapi aku melihatmu tertawa dengan Janaka saat di bioskop, jadi aku anggap kamu nggak terlalu kecewa.”
“Kamu juga tertawa saat bersama Permata, jadi kuanggap kamu memang lupa dengan janjimu. Dan ingat, aku tidak tertawa. Aku hanya tersenyum.”
“Kamu tahu Permata?”
“Ah, apa?” Terang merasa seperti seorang anak kecil yang sedang ketahuan memakan es krim diam-diam. “Itu...dia temannya temanku,” ia berbohong. “Aku melihatnya di kampus kemarin bersamamu.” Terang terkekeh untuk menyembunyikan mukanya yang terlihat memerah. Bodoh, pikirnya.
“Jadi kamu tahu kalau dia mantan pacarku?”
“Apa?”
Permata itu mantan pacarnya?
Terang lalu melupakan tentang Permata, meskipun sebenarnya dia ingin sekali bertanya. Dia memilih menceritakan tentang Midori dan mengapa ia sangat menyukainya. Midori seperti dirinya yang sangat ceria. “Aku tahu mengapa kamu menyukai Norwegian Wood. Karena kamu melihat Watanabe seperti dirimu.”
“Aku suka semangatnya. Aku menyukai cara Murakami mengakhiri ceritanya yang tidak selesai, kuanggap buku itu memang tidak selesai. Ada banyak anggapan dari pembaca, dan Murakami sengaja melakukannya. Aku ingin hidupku seperti itu, tidak pernah berakhir. Aku ingin orang-orang tidak merasa kehilangan diriku. Aku suka cara Murakami mengakhiri tokoh-tokohnya. Seharusnya memang seperti itulah hidup.”
“Aku tidak percaya kamu mengatakan kalimat panjang itu, Noah.”
Noah tertawa, lalu mengacak rambut Terang. “Kamu pikir Noah hanya main games?” tanya Noah. “Ngomong-ngomong tentang games, sebenarnya aku jadi pengen cerita tentang kakek kesayanganku. Aku pernah mengatakannya, tapi aku belum mengatakan semuanya.”
“Katakan sekarang, sebagai salah satu penebus rasa bersalahmu.”
“Kemarin aku pulang karena aku ingin mengunjungi kakek. Noah udah lama kangen.” Noah kembali menatap kosong ke depan. Lahan di depannya mulai kosong, dan pembangunan jembatan sudah perlahan dimulai. “Jadi aku pergi ke Bogor, ke makamnya.” Noah mengambil nafas panjang, ada sumbatan kecil di dadanya. “Kakek adalah pribadi yang sangat baik. Selain mengajariku foto, dia satu-satunya orang di rumah yang ngijinin Noah main games. Dia bahkan lebih menyarankan aku untuk main games, daripada main ke luar, main futsal, atau pergi. Kata beliau, ketika aku bermain games aku akan diam di rumah sambil menemani beliau.”
“Kamu sangat beruntung,”
“Kakek jugalah yang mengenalkanku pada Murakami. Karena dia sangat menyukai novel-novel sastra dunia. Dia punya banyak buku di rumah. Kakek pernah mengajakku untuk terus membaca, tetapi aku selalu ketiduran. Suatu hari, aku membaca The Old Man and The Sea dari Hemingway, dan aku hanya sampai di halaman kedua, lalu tidur. Maklum, saat itu aku masih kelas satu SMP.”
“Jadi kakekmu sudah tahu hobimu bukan membaca, tapi main games? Beliau mengarahkan bakatmu itu ke arah yang benar.” Terang mencibir.
“Tentu saja. Sekali-kali kamu harus main games untuk melatih strategi. Aku pernah bilang kan, aku bisa bahasa inggris dengan lancar karena main games.”
“Aku nggak pernah mengatakan itu buruk. Jadi bagaimana kamu bisa membaca Norwegian Wood?”
“Suatu hari aku melihat novel itu dan melihat judulnya seperti judul lagu Beatles, jadi aku membacanya. Saat aku membaca Norwegian Wood, aku tidak bisa berhenti. Aku terus membaca dan membaca tanpa henti. Aku jatuh cinta, dan sejak saat itu aku hanya membaca novel itu saja. Tak ada yang lain.” Noah mengakhiri ceritanya. Lanjutnya, “sekarang giliranmu bercerita. Ceritakan apa saja. Oh ya, mungkin bisa kamu mulai dengan mengapa kamu belajar TOEFL?”
“Karena aku ingin S2 dan S3 ke luar negeri. Mungkin Eropa, atau bahkan Amerika.”
“Spesifik?” kata Noah, meniru gaya bicara Terang saat mengatakan ‘spesifik’ padanya, saat ia melukis langit.
“Georgia Tech.”
Langit sudah mulai menghitam. Lukisan langit senja yang romantis mulai berganti dengan semburat kehitaman perlahan-lahan.
“Maafkan aku,” kata Noah kemudian setelah obrolan panjang mereka. “Tak akan kuulangi perbuatanku kemarin,”
Terang membalasnya dengan senyum. “Hari ini kamu banyak bicara.”
“Noah...hanya banyak bicara bila bersamamu.”
Pada akhir pekan, Noah kemudian mengajak Terang untuk menonton film sebagai bentuk permintaan maaf. Mereka tidak menonton di bioskop. Wifi di JTMI sangat kencang, apalagi di lantai 2, dekat dengan laboratorium Simulasi. Jadi Noah mengajak Terang duduk di lantai, di depan lab Simulasi untuk mengunduh film.
“Aku kemarin tidak nggak konsen ketika melihatnya, jadi aku pengen nonton lagi,” kata Noah memperlihatkan status unduhan Batman and The Dark Knight yang sudah 89%.
Terang mengambil headset dari telinga kiri Noah. “Ini tidak ada musiknya?”
“Tentu saja ada. Bukannya justru sekarang kamu yang mendengarkan tanpa musik?”
“Sekarang headset-mu ada musiknya?”
“Dengarkan!” Noah menyerahkan headset kepada Terang.
“Kosong.”
Terang bernyanyi, Noah diam mendengarkan.
Setelah film terdownload sempurna, mereka menonton bersama.
Terang terus menyanyikan lagu itu.
Hari minggu, mereka berdua pergi bersama ke Sunmor (Sunday Morning) di lembah UGM menggunakan vespa Noah. Dia bernyanyi sepanjang jalan. Terang dengan sengaja menelepon Noah pagi-pagi agar bangun. Namun ternyata, Noah sudah bangun dan tampak mengobrol dengan Bunda di Warung Burjo.
Di Sunmor, Terang dengan sengaja memberikan uang sepuluh ribu pada pengamen (sebenarnya anak-anak kampus juga) dan meminta lagu Kosong-nya Pure Saturday.
/ Terus berlari tak terhenti / Untuk raih harapan / Di dalam tangis atau tawa / Terlalu gelap / Pergilah pulang //
Noah bernyanyi dalam hati saat mendengarkannya. Saat menyanyi, Ia lupa bahwa ayah gadis itu kini menjadi ayah tirinya.
# # #