MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 38



Pukul delapan malam, vespa Noah merapat ke parkiran depan lobi JTMI. Sebulan yang lalu jam seperti sekarang, parkiran depan dipenuhi motor-motor yang diparkir rapi. Lampu lobi menyala semua. Mahasiswa duduk menyebar. Di depan pintu masuk ada sekelompok orang yang berdiskusi, ada yang duduk di dekat tangga, ada juga yang lesehan di depan loket Tata Usaha, ada yang menyendiri di pojokan mendengarkan radio sambil mengerjakan tugas, lantai dua tak kalah penuh. Namun, malam ini semuanya disihir menjadi kosong.


Saat Noah dan Terang masuk ke lobi hanya ada bapak penjaga yang sedang tidur di kursi panjang di depan loket TU. Televisi yang menempel di dinding masih menyala.


Noah mengajak Terang ke lantai dua yang suasananya gelap.


“Kita mau ke mana? Di atas gelap bukannya?” tanya Terang, sedikit was-was.


Noah masih memegang tangan Terang dengan erat. “Kita akan naik pesawat, Terang.”


Terang tak mengerti dengan ucapan Noah, tapi dia menurut saja. Saat sudah berada di lantai dua, lampu menyala. Di tengah ruangan ada kursi-kursi yang ditata rapi. Ada plang tulisan Singapore Airline. Yang mengherankan ada Gema yang sedang duduk di sana, lengkap dengan pakaian pilot. Dia mengucapkan selamat datang lalu meminta Noah dan Terang untuk duduk karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas.


“Apa ini?” tanya Terang.


“Kamu pernah mendapat pelajaran ‘Simulasi’ kan di mata kuliah Pengantar Teknik Industri-nya Pak Bagyo?”


Noah menarik tangan Terang, masuk ke badan ‘pesawat’. Noah mengambil sesuatu dari dalam sakunya, sebuah tiket. Terang belum pernah melihat tiket pesawat, karena dia memang belum pernah naik pesawat. Tapi, kertas di tangan Noah memang seperti tiket pesawat yang dicetak di kertas putih.


“Kita di kursi 22A dan 22B. Kamu mau yang dekat jendela atau gang?” tanya Noah kepada Terang. Terang mengangkat bahu. “Silakan duduk di dekat jendela.” Noah meminta Terang untuk duduk terlebih dahulu, gadis itu menurut saja.


Setelah mereka duduk, terdengar suara deru pesawat. Entah dari mana asal suaranya. Mungkin speaker khusus yang disiapkan atau entahlah, Terang mencari-cari asal suara itu tapi tidak ketemu.


“Duduklah yang tenang. Kita perlu berdoa sepertinya. Perjalanan akan sangat jauh, kita membelah setengah bumi. Nanti kita akan transit ke Tokyo, lalu ke LA. Dari LA baru naik penerbangan lokal ke Atlanta.”


Terdengar suara Kapten Gema yang menginforkasikan bahwa pesawat akan segera take off sebentar lagi. Kemudian deru pesawat semakin keras. Laptop di depan kursi Terang menyala, menampilkan petunjuk keselamatan di dalam pesawat. Suara deru pesawat semakin keras. Setelah beberapa saat, Kapten Gema menginformasikan bahwa pesawat telah di Tokyo, kemudian terbang kembali ke LA, dan ke Bandara Internasional Hartsfield-Jackson, Atlanta.


“Welcome to Atlanta,” kata Gema sedikit membungkuk.


Noah mengajak Terang untuk keluar dari ‘pesawat’. Mereka berjalan menjauhi pesawat, menuju ruangan M6—dalam artian yang sebenarnya. Di depan ruangan sudah ada Kayla yang sedang berdiri dengan pakaian dingin berupa mantel tebal warna cokelat berbulu-bulu, sepatu boots tinggi, dan penutup kepala yang lembut.


“Welcome to Georgia Tech.” Kayla tersenyum sambil menunjuk  plang besar bertuliskan GT University.


Terang menahan tawa dan senyum. Dia menutup mulutnya. Kayla pergi, Noah dan Terang masuk ke dalam ruangan. Kursi-kursi tidak berubah sama sekali. Namun, proyektor menyala, menyorot ke layar putih. Di depan kelas, Terang melihat Maleo sedang mengoperasikan laptop.


“Selamat datang di ruang kelas Master of Industrial Engineering, Georgia Tech University,” kata Maleo. “Duduklah. Saya ingin mengajak kalian mengikuti kuliah hari ini.”


Terang menutup mulutnya, masih tak bisa bicara dengan apa yang dilihatnya.


Lampu mendadak meredup. Layar menampilkan wallpaper kampus Georgia Tech. Layar kemudian menghitam dan ada tanda loading video di tengahnya. Kemudian muncul wajah seorang pria dengan rambut yang sedikit menutup telinga di layar. Pria itu memakai mantel warna merah panjang, lehernya tertutupi, dan dia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Terang mengenal orang itu karena beberapa minggu lalu dia mengirim email kepadanya.


“Halo Terang dan Noah, aku adalah Satria. Saat ini, aku berada tepat di depan Georgia Tech. Apakah kalian sudah siap untuk tur singkat hari ini?” Mas Satria tersenyum sambil menunjuk tulisan GT di belakangnya.


Mas Satria kemudian mengajak jalan-jalan keliling universitas. Dia menjelaskan satu-satu ruangan di sana. “Saat kamu nanti di sini, kamu pasti akan menyukainya. Apakah kamu sudah siap untuk ke fakultas kita?”


Mas Satria menjadi tour guide yang cakap. Tak ada yang terlewat untuk dijelaskan. Kantin, perpustakaan, bahkan bangku yang biasa ia gunakan untuk belajar. Video itu diambil dengan sangat baik dan diedit dengan sangat baik pula.


Setelah tour panjang keliling universitas, aplikasi pemutar video menutup. Kali ini aplikasi skype yang menyala. Video buffering, kemudian muncul wajah Mas Satria di sana.


“Hai, pasti di situ sudah malam sekali. Oh tunggu, kalian sedang ada di ruangan mana?” Mas Satria mendekatkan wajahnya ke layar. “Aku bisa menebaknya, apakah itu M6? Ruangan terluas di JTMI, bukan? Aku masih ingat pernah diminta berdiri di depan kelas di ruangan itu saat kelas Bahan Teknik.” Dia tertawa lepas. Semua orang ikut tertawa.


“Halo Mas Satria, terima kasih telah membuat video tour panjang tadi.”


“Aku meminta temanku untuk mengambil gambarnya, lalu mengirimkannya ke Maleo.”


“Jam berapa di sana?”


“Sekarang? Sudah hampir jam sepuluh pagi. Aku sangat senang sekali bisa menjelaskan secara singkat tentang GT.” Mas Satria menoleh ke arah Terang. “Terang, apakah tour tadi cukup menjelaskan semuanya. Apakah kamu jadi tertarik ke sini, atau kamu justru tidak mau? Jika kamu memang berniat ke sini, aku sudah mengirimkan beberapa trik di email. Kamu sudah membacanya?”


Terang mengangguk. Ada air yang menggenang di sudut matanya. Tangannya menyapu kedua matanya. Lalu dia memukul lengan Noah. “Kamu....ini....aku benar-benar terharu, Noah.” Dia mengalihkan pandangan ke Mas Satria. “Aku benar-benar ingin ke situ. Apakah aku bisa?”


“Mengapa bertanya padaku? Bertanyalah padamu sendiri,” ujar Mas Satria.


“Kamu sudah melukisnya di langit, apakah kamu tidak percaya lukisan langit akan mengabulkannya?” tanya Noah.


“Hai kalian, sepertinya aku harus pergi ke perpustakaan sekarang. Aku ada janji untuk mengerjakan paper. Nanti aku akan lebih sering diskusi denganmu, Terang. Maaf ya aku buru-buru, tapi aku selalu bisa dikontak kok. See you.” Lalu layar menjadi hitam.


  Noah berdiri, melangkah ke depan Terang. “Aku belum bisa membawamu ke GT, jadi kubuat ini. Kuharap kamu nanti akan mewujudkannya sendiri dengan usahamu.”


Terang mengangguk. “Ini sudah cukup, Noah. Ini sudah cukup.” Dia memeluk tubuh Noah dengan erat. “Aku sangat menyayangimu.”


Noah membelai rambut gadis itu. “Aku sangat beruntung punya sahabat-sahabat yang baik. Aku tak mungkin diijinkan untuk masuk ke ruangan ini jika tidak ada Gema, si ketua angkatan, yang sering mengobrol dengan penjaga kampus dan dialah yang meminta ijin tentu saja. Ada Maleo, meskipun dia berotak bisnis, dia yang membantu mengedit video keren tadi. Dia adalah Maestro dalam hal percintaan yang jadi panutan.” Noah tertawa kecil. “Dan Kayla, dia adalah sahabatmu yang baik. Dia yang punya ide brilian ini. Dia adalah calon marketing yang hebat. Aku tahu Gema mencintainya, jadi aku mengajak Kayla agar Gema bisa mendekatinya setelah ini.”


“Gimana cara kamu bisa menghubungi Mas Satria?”


“Aku mengiriminya email. Begini aku bilang.” Dia berdiri, berbicara seolah-olah ada Satria di depannya. “‘Mas Satria, aku sedang jatuh cinta. Dan aku sedang ingin membahagiakan orang yang kucintai. Kudengar kamu masih single, jadi jika kamu mau membantuku, aku akan mendoakanmu agar segera punya pasangan’.”


“Dia percaya pada doamu?”


“Tentu saja.” Noah kembali duduk. “Apakah aku boleh meminta sesuatu padamu?” tanyanya. Terang mengangguk kecil. “Bernyanyilah untukku sekarang.”


Mata Terang melebar. “Apa?”


“Menyanyilah. Aku ingin kamu bernyanyi. Aku tidak akan menutupi telingaku dengan headset karena aku sedang ingin mendengarmu bernyanyi.”


“Apa yang ingin kamu dengarkan?”


“Kosong.”


“Coba untuk ulangi apa yang terjadi. Harap `kan datang lagi. Semua yang pernah terlalui. Bersama alam menempuh malam. Walau tak pernah ada kesempatan. Terjebak dalam jerat mengikat. Namun tekad nyatakan bebas....”


Noah ikutan bernyanyi. “Jalan panjang semakin lapang. Hanya dahan kering yang terpanggang. Tak ada teman telah terpencar. Namun waktu terus berputar. Peduli apa terjadi. Terus berlari tak terhenti. Untuk raih harapan. Di dalam tangis atau tawa.”


Saat lagu telah selesai dinyanyikan, Noah berdiri tepat di depan Terang. Hanya berjarak beberapa centi saja. Tangannya mengulur ke depan, menelungkup kedua pipi Terang.


“Terang, aku ingin mengatakan sesuatu.” Noah menelan ludah, tampak tenggorokannya bergerak turun. “Aku punya dua berita untukmu, baik dan buruk. Berita apa yang ingin kamu dengarkan terlebih dahulu?”


# # #


 


 


“Aku punya dua berita untukmu.” Terang mengerjapkan matanya. Lesung pipit Noah menyembul sedikit. “Berita apa yang ingin kamu dengarkan terlebih dahulu? Dua-duanya sama-sama penting. Pilihlah salah satu.”


Terang menelan ludah. “Aku...tak tahu.” Dia membuang muka, lalu kembali menatap Noah yang tak bergeming. “Apakah kamu sengaja mempersiapkan semua ini, membuatku bahagia dari pagi, hanya untuk mengatakan dua berita ini?” Terang menggeleng lemah. “Aku tak ingin mendengarkan dua-duanya, Noah.”


“Pilihlah, atau aku yang akan memilihkannya untukmu.”


“Aku tak akan memilih.” Terang menutup telinganya.


Noah memegang bahu Terang. “Baiklah jika ini maumu, aku akan mulai dengan berita buruk.”


Terang masih menutupi telinganya.


“Saat aku pulang ke Jakarta kemarin, aku pergi ke rumah kakek di Bogor. Kamu sendiri yang bilang bahwa waktu itu adalah waktu terlamaku di Jakarta. Aku sebenarnya di Bogor cukup lama. Aku melepas kangen dengan kakek. Aku membersihkan makamnya yang sudah ditumbuhi oleh rumput-rumput. Aku tidur cukup lama di kamarnya, berbicara dengan kakek seolah kakek ada di sana. Banyak hal yang kuceritakan pada kakek, salah satunya adalah tentangmu.”


“Tentangku?”


Noah mengangguk. “Aku bilang bahwa aku sedang jatuh cinta pada seorang gadis yang sangat cantik. Gadis yang membuatku lebih bersemangat lagi untuk pergi ke kampus, atau sekedar menghirup udara di pagi hari. Semangat yang sempat hilang setelah kakekku tidak ada, tapi sejak aku mengenal gadis itu di suatu pagi, ketika ia menggangguku dengan pengumpulan tugas, aku seperti menemukan nyawaku.


Aku bilang pada kakek bahwa apapun yang terjadi nantinya, aku akan berusaha untuk selalu bersama gadis itu, sampai waktu yang harus memisahkan kita. Meskipun saat itu, aku pun sadar, apakah itu mungkin? Aku bilang pada kakek bahwa ayah gadis itu kini telah menjadi ayahku. Kami secara tidak langsung menjadi saudara jauh.”


Noah menunduk. “Tapi aku tidak peduli, Terang.”


Terang memegang punggung tangan Noah yang terasa hangat. “Kita akan baik-baik saja, percayalah.”


Noah menggeleng. “Tidak, ini tidak akan baik-baik saja.” Noah menatap Terang sangat dalam. “Aku mungkin belum pernah mengatakan padamu, bahwa mami tidak pernah menyukai masa lalu suaminya. Semua hal yang berhubungan dengan masa lalu suaminya tidak boleh ada di kehidupannya. Aku tidak pernah tahu bahwa mami sebenci itu dengan kamu dan Bunda.”


Terang menutup mulutnya.


“Mussa mengunggah foto-foto kita saat kita di Museum Ullen Sentalu, juga waktu di Kali Kuning, dan di Jejamuran ke Facebook,. Aku pernah mengatakan padamu bahwa kamu dan Mussa memiliki garis wajah yang sama. Yang membedakan hanyalah garis mata kalian. Mussa mewarisi garis mata mami yang sipit.” Noah sedikit tertawa. “Kupikir mami memiki bakat menjadi detektif. Dia melihat foto-foto di Facebook Mussa, langsung berpikir bahwa gadis yang bersama Mussa adalah puteri suaminya yang belasan tahun lalu ditinggal.”


Terang menelan ludah, menggelengkan kepala. Dia menarik diri, mundur beberapa langkah ke belakang.


“Kamu jangan pergi dariku, Terang. Meskipun mami tidak merestui hubungan kita, atau seluruh dunia menolak cinta kita, aku akan tetap bersamamu. Tetap ada di sampingmu. Begitu kan janjiku padamu.”


“Kamu bertengkar dengan mami?” tanya Terang.


Noah mengangguk. “Tenang saja, aku sudah sering bertengkar dengannya. Aku pasti sudah akan pergi jika tidak...jika tidak sudah berjanji dengan kakek bahwa aku harus menyayangi mami, menuruti kemauannya. Namun kali ini, aku tidak bisa memegang janjiku pada kakek.”


Terang menunduk. Ini terlihat sangat buruk. Ia tak pernah berpikir bahwa hal ini akan terjadi. Saat ia benar-benar jatuh cinta pada Noah, ia menganggap Noah adalah orang lain. Bukan anak tiri dari ayahnya. Bukan saudara jauhnya.


Noah merentangkan tangannya, meminta Terang untuk mendekat. Ke dadanya. Terang mendekat, lalu memeluk erat tubuh Noah.


“Berjanjilah untuk selalu bersamaku.” kata Terang.


“Aku akan selalu berusaha seperti itu.”


“Berjanjilah untuk tidak berbohong, tidak merahasiakan apapun dariku.”


“Tentu saja.”


Terang merapatkan pelukannya. “Jadi apa berita baiknya?”


Noah melonggarkan pelukannya. “Apakah kamu ingin mendengarnya?”


Terang mengangguk.


“Berita baiknya, aku akan mencintaimu. Selalu. Sudah kulukis di langit bahwa aku akan mencintaimu. Selalu.”


Terang semakin mempererat pelukannya. Ia tak ingin melepaskan Noah. Umpama menggenggam pasir, semakin erat ia menggenggam maka semakin banyak pasir yang terbuang. Semakin Terang memperat pelukannya, Terang seperti akan kehilangan Noah.  Ternyata Noah tak hanya membawa dua berita. Ternyata Noah tak hanya berbohong tentang novel yang ia baca.


Noah tersenyum, sangat manis. Terang bisa memandang semua wajahnya dengan sempurna. Mata, hidungnya yang langsing, rahangnya yang kuat, rambutnya yang hitam, lekukan di dagunya, bibirnya yang tampak lebih merah muda.


Terang melihat lesung pipinya lebih ketara, kulitnya lebih putih dari biasanya. Malam ini, Terang baru menyadari bahwa ini kali terakhir ia melihat lesung pipi Noah.


# # #