MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 45



Sehari sebelum pemakaman Noah, Baskara menghubungi Terang dan bilang bahwa dia akan menyiapkan tiket untuknya dan Bunda secara diam-diam. “Aku tak bermaksud apa-apa, tapi aku tahu kamu ingin datang.”


Bunda setuju untuk pergi ke Jakarta.


Malam sebelum keberangkatannya ke Jakarta, Terang menangis. Dia teringat semua hal tentang Noah. Dia menangis karena di detik terakhir kepergian Noah, dia tak ada di samping lelaki itu.


Noah dimakamkan di Bogor, dekat dengan makam kakek dan ayahnya. Suasana sore itu terasa sejuk, tak hujan seperti sore sebelumnya. Langit cerah mengantarkan tubuh Noah yang menyatu dengan tanah. Bunga-bunga kamboja berwara putih semburat kuning berhamburan di rumput. Wanginya bercampur dengan wangi tanah sehabis hujan, menyengat hidung, tapi mendamaikan. Orang-orang menabur bunga.


Terang melihat Gema dan Maleo di sana. Terang tak bisa mendekat, begitu kata Baskara. Gadis itu mengangguk kecil. Ia tahu ia tak perlu ada di sekitar sana. Ia tak ingin ada keributan lain, atau bahkan pengusiran. Jadi dia berdiam diri, jauh dari kerumunan orang berpakaian hitam-hitam. Tepat di balik pohon rindang berbatang tebal dan besar. Bunda berdiri di sampingnya, memeluk erat.


Terang tak menangis, dia hanya memandang kosong ke depan. Satu persatu orang mulai pergi. Lalu kosong tak ada siapa-siapa. Tampak gundukan tanah cokelat basah, bunga aneka warna menutupi bagian atasnya. Dia belum bisa membaca apa yang tertulis di papan. Tulisan putih itu tak terbaca. Meskipun ia tak ingin membacanya.


Setelah benar-benar tidak ada sanak keluarga, Bunda mengajak Terang untuk mendekat. Selama setapak demi setapak mendekat ke pemakaman Noah, Terang melihat lompatan-lompatan kenangan di depannya. Dia masih belum yakin orang yang berada di balik gundukan tanah basah itu adalah Noah. Pasti bukan, pasti bukan dia.


Tulisan putih itu terbaca. Noah Maheswara Saverio. Memang dia.


Bunda jongkok di samping Noah, Terang mengikutinya. Bunda lalu memejamkan mata, memanjatkan doa. Setelah selesai, dia menepuk pundak Terang. “Aku akan membiarkanmu sendiri.” Terang mengangguk.


# # #


 


 


Terang membaca sekali lagi tulisan di depannya.


Noah...Noah Maheswara Saverio. Kemudian dia menangis, dia mengutuki dirinya sendiri. Dadanya terguncang-guncang. “Mengapa kamu meninggalkanku?” suaranya terdengar parau. “Bukankah kita telah melukis langit dan bersama-sama akan mewujudkannya?.”


Terang teringat dengan permintaan Noah. Pertama, jangan melupakanku. Kedua, jadilah seperti Santiago. Ketiga, bernyanyilah. Detik itu juga dia bernyanyi di tengah suaranya yang serak.


“Kini kamu benar-benar bersama alam, kini kamu bebas Noah. Kamu tak lagi sendiri, kan? Kamu tak membutuhkan lagi headset tanpa lagu agar damai. Ada alam yang akan bernyanyi untukmu, nyanyian kedamaian. Apakah kamu akan merindukanku, Bodoh?” Isak tangisnya terdengar berat. Tangannya mengarah ke atas, lalu dia menulis di langit nama Noah. Kalimat denan huruf besar. “Aku tak akan melupakanmu.”


# # #


 


 


Terang berjalan ke arah Bunda yang sedang mengobrol dengan ayah di samping Lexus putih. Daun-daun kering berguguran, suaranya berisik saat ia menginjaknya.


“Ayahmu mengajak makan siang sebelum mengantarkan kita ke bandara. Apakah...”


Terang mengangguk sebelum Bunda mengakhiri ucapannya. Tak ada yang bicara. Baskara membuka pintu untuk mantan istrinya. Terang langsung membuka pintu tengah tanpa diminta.


Sepanjang perjalanan, Terang lebih banyak diam. Bunda dan Baskara terlihat bercakap-cakap. Beberapa kali mereka tertawa kecil bersama. Pemandangan yang sebenarnya sudah lama menghilang dari mata Terang. Terang lebih banyak memandang jalanan di sepanjang tol. Beberapa kali mereka terkena macet, terutama di daerah cawang. Mobil Lexus melanju ke arah Ancol, masuk ke kawasan wisata itu dan berhenti di rumah makan seafood Bandar Djakarta, di pinggiran pantai. Saat mereka masuk, suasana tak terlalu rama. Ada organ tunggal dengan penyanyi wanita yang bersuara tidak terlalu bagus.


Baskara tersenyum. “Aku bisa mengatasinya.”


Bunda memegang punggung tangan Terang. “Kamu baik-baik saja?”


Terang mengangguk, meskipun ia sendiri ragu.


“Kamu ingin memesan sesuatu?” tanya Baskara. “Kepiting di sini enak. Aku tahu kalian anak pantai, tapi kalian harus mencobanya. Aku sangat menyukainya.”


“Pesankan satu untukku,” kata Bunda, tersenyum.


“Terang?”


Belum ada jawaban. Terang masih meneliti satu persatu menu makanannya. Dia teringat kebiasaan Noah saat melihat menu. “Menu apa yang spesial?” Suara itu terdengar khas. Bahkan Terang bisa mendengarnya sekarang. “Aku pesan yang jarang di pesan orang.”


“Terang, kamu sudah menentukan pilihan?” Bunda menyentuh punggung tangan puterinya, membuat puterinya sedikit tersentak terkejut.


“Ya, aku sudah menentukannya. Aku memesan...” Terang menatap Bunda dan Baskara bergantian. “sesuatu yang jarang dipesan orang.” Bunda dan Baskara saling melirik. Lanjut Terang. “Apa saja.” Dia menutup buku menu. “Buatkan aku jus strawberry. Apakah ada yogurt di sini? Campurkan jika ada,” ucapnya kepada pelayan pria yang melayani mereka.


“Kebetulan di sini tidak ada yogurt.”


Terang menatap pelayan itu tanpa ekspresi. “Jus strawberry, tanpa yogurt.”


Selama makan, Terang hanya terus menerus melamun. Beberapa kali Bunda mencoba untuk mengajaknya membahas suatu topik, tapi dia tak bergeming. Alhasil Bunda lebih mengobrol dengan Baskara. Terang beberapa kali hanya melirik arah Bunda dan ayahnya. Keduanya kadang tersenyum lepas. Dua-duanya kini sudah memiliki pasangan, pernah punya konfik yang dalam, tapi sore ini mereka tampak seperti tak ada apa-apa. Saat dua kepiting telah datang, Bunda dan Baskara melahapnya. Terang memilih untuk menyesap jus strawberry dan ikan kembung yang dimasak rica-rica.


Dua jam sebelum take off, Baskara mengantarkan mereka ke Terminal 2 Soekarno Hatta.


“Terima kasih sudah mengajak kami berdua makan,” kata Bunda.


“Dengan senang hati. Nanti kalau ke Jakarta bareng Terang dan Ilham, kabari aku.”


“Begitu juga jika kamu ke Jogja. Tapi mungkin...tidak, istrimu tidak mungkin mau.” Bunda tertawa. Baskara ikutan tertawa. Seolah itu adalah lelucon sore yang patut untuk ditertawakan. “Kita pamit dulu, Mas. Sampai bertemu.”


Terang memilih untuk diam di pesawat. Dia menyumpal telinganya dengan earphone, lalu mendengarkan lagu Kosong berulang kali. Matanya menatap awan yang bergelombang.


“Kamu butuh pundak, Bunda?” tanya Bunda.


Terang mengangguk. Dia menenggelamkan kepalanya di pundak Bunda. Perlahan-lahan lagu yang ia dengarkan memudar. Suaranya berubah menjadi suara Noah yang memanggilnya. Dia kemudian menangis di sisa perjalanannya.