
Setelah ujian mid selesai, Terang meminta ijin kepada Bunda untuk pergi ke rumah Lik Giyono di Parangtritis. Lik Giyono adalah adik Bunda. Bunda mengijinkan asalkan dengan satu syarat, harus bersama Janaka. Janaka tinggal di sana, lebih tepatnya sepuluh meter dari rumah Lik Giyono.
Janaka adalah sahabat kecil Terang. Ia menemukan gadis itu sedang menangis seorang diri di gumuk pasir, di antara desiran pasir yang berbisik-bisik, beberapa tahun lalu.
Gumuk pasir ada di belakang rumah Lik Giyono, membentang luas sepanjang pantai Parangkusumo hingga pantai Depok. Saat pertama kali melihatnya, Terang seperti berada di Timur Tengah. Gumuk itu sangat tenang dan indah. Di sisi utara, pemandangan terlihat lebih hijau karena rentetan pohon jambu monyet yang rindang. Sangat kontras dengan warna Gumuk yang putih. Di dekat pantai, ribuan Rumput Lari saling kejar mengejar.
Terang menangis seorang diri, memegangi Rumput Lari yang sudah mengering. Matanya sembab dan suaranya serak. Janaka datang sore itu membawa bola. Rambutnya yang hitam dan lurus tampak berkibar-kibar diterpa angin sore.
“Dengarkan,” ujar Janaka, seolah tak mengerti jika gadis kecil di depannya sedang menangis. “Apa kamu nggak denger suara itu? Sungguh tenang dan syahdu. Coba kamu dengarkan baik-baik.” Dia menempelkan tangan kanannya di telinga kanan. Seolah ada suara yang tiba-tiba menjadi jernih ketika ia melakukan itu.
Terang kecil mengusap matanya. Ada bulir-bulir pasir menempel di pipinya. Terang ragu mengangkat tangan kanannya, perlahan ia menempelkannya di daun telinga. Campuran antara deburan ombak, angin sore, dan pasir yang berbisik-bisik. Mereka saling bergumul di udara.
“Bukankah sangat indah?” tanya Janaka yang duduk di samping Terang.
Terang mengangguk. Ada seulas senyum yang mengukir di bibir mungilnya.
“Aku suka bajumu.” Janaka menatap baju batik bermotif parang yang dikenakan Terang. “Kamu anak baru di sini? Aku jarang lihat.”
Terang mengangguk. “Aku baru pindah dari Jakarta minggu lalu,” ujarnya lirih. “Namaku Terang.”
“Terang, seharusnya kamu nggak boleh nangis.” Janaka tersenyum. Rambutnya yang halus berkibaran di udara. “Namamu Terang, bukankah itu nama yang ceria.”
Bunda juga pernah bilang bahwa Terang harus menjadi sosok perempuan yang ceria dan tangguh. Dia harus bisa mandiri meski pun tidak ada orang yang peduli. Meskipun ayahnya telah pergi saat ia baru saja lulus dari Taman Kanak-Kanak. Malam-malam setelah kepergian ayah merupakan masa-masa yang sulit. Bunda sering menangis seorang diri. Terang hanya bisa melihatnya dari balik tirai kamarnya, menyaksikan tubuh Bunda tergoncang di atas sofa ruang tamu.
Setahun lebih Bunda seperti kehilangan nyawa hidupnya. Ia terombang-ambing di kapal yang tak berkemudi. Tetangga-tetangga mulai rese, karena Bunda dikira janda penggoda suami-suami orang. Suatu malam Bunda tidak pulang-pulang, Terang di kontrakan sendirian. Hujan deras. Pukul satu malam Bunda pulang diantar oleh seorang lelaki, tetangga kami yang sudah beristri. Katanya Bunda kebanyakan minum alkohol. Istri lelaki itu tahu. *******, kata-kata yang terlalu sering kemudian terdengar.
Bunda semakin terpuruk. Kami pindah rumah. Suatu malam, Bunda menangis seorang diri dalam sujudnya. Ia meminta maaf karena telah menelantarkan hidupnya sendiri, dan hidup Terang. Sejak malam itu, Bunda tak pernah menangis lagi. Beliau melanjutkan hidupnya. Terang hendak berumur delapan tahun. Terang merindukan ayahnya, kemudian ia sering menangis.
“Kamu nggak boleh nangis. Kamu jangan pernah nangis. Seperti namamu, Terang, kamu harus selalu terang. Bunda sayang kamu, bunda sayang kamu, Terang.” Bunda memeluk Terang, menciumi rambut gadis kecil itu.
Beliau kemudian menjual semua barang-barang miliknya, kemudian memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta, ikut dengan saudara.
Terang mulai terbiasa menahan tangis yang menyesakkan di dada. Tetapi sore itu, hari pertama saat ia tiba di Yogyakarta, ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Dia melihat Bunda tetap tegar, tapi ada gurat kesedihan yang tersimpan. Bunda kemudian membantu Pak Lik Giyono menjual ikan dan kain di Parangtritis. Kadang, dia jadi buruh angkut juga di Pantai Depok. Tapi Bunda selalu tersenyum dan bersemangat.
Senyum yang selalu melunturkan tangisan Terang. Meskipun Terang masih saja menangis sendirian. Seperti saat ditemukan oleh Janaka. Terang dan Janaka menjadi sahabat sejak sore itu.
Bagi Terang, Janaka adalah rival bicaranya yang tangguh. Sebenarnya Janaka satu angkatan di atas Terang. Dia cerdas, dialah yang meminjami Terang buku-buku ensiklopedia. Di rumah Janaka banyak sekali buku-buku ilmu pengetahuannya yang sangat menarik. Ayahnya setiap bulan selalu membawakannya dari kota. Meskipun beda sekolah saat SMP, tetapi mereka tetap bersama. Janaka sekolah SMP di Jogja, sedangkan Terang di Bantul. Waktu SMP, Terang mengikuti kelas Akselerasi. Dan ketika SMA, dia satu sekolah dengan Janaka meskipun beda kelas.
Mereka suka berdebat mengapa Rumput Lari di Gumuk Pasir bisa saling mengejar dan hidup bersama-sama. Mengapa langit malam di Pantai Parangtritis sangat indah? Apa yang bisa didengarkan di pantai saat sore hari selain lagu Didi Kempot yang selalu diputar oleh penjaga pantai melalui pengeras suara? Terang menganggap bahwa musik indie itu keren, dan Janaka menyetujuinya. Atau mengapa Maslow harus susah payah merangkum kebutuhan manusia menjadi piramida kebutuhan, sementara orang-orang mungkin saja tidak peduli.
Pagi itu Terang dan Janaka berangkat berdua ke Parangtritis menggunakan Vario milik Janaka. Dua hari Terang tinggal di rumah Pak Lik Giyono. Dia membantu Pak Lik berjualan pakaian dan es kelapa di Parantritis. Bunda juga dulu membantunya. Tetapi saat Terang kelas 4 SD, Bunda mulai mencari kerja ke kota. Menjadi penjahit pakaian dalam wanita di Bantul Kota. Namun, saat Terang lulus SMA, pabrik garmen tempat Bunda bekerja bangkrut.
Minggu sore Terang dan Janaka pulang dengan membawa semangat baru. Sepanjang Jalan Parangtritis yang panjang mengular, mereka tertawa. Langit sore menemani perjalanan mereka ke kota kembali.
Minggu depan mereka akan berhadapan dengan kesibukan lain, menyiapkan acara ulang tahun Teknik Industri. Terang pun ikut menjadi panitia, meskipun dia hanya diminta untuk membantu di seksi konsumsi. Janaka sendiri menjadi seksi acara.
Langit sore tampak begitu romantis. Burung-burung mulai terbang rendah pulang kembali ke anak-anak mereka, atau sarang mereka. Terang percaya bahwa setiap orang punya daya insting masing-masing, seperti halnya burung yang memiliki insting tentang cuaca, tempat tinggal, dan anak-anak mereka. Atau seperti pekerja-pekerja pabrik yang bersepeda dari Bantul Selatan ke pusat kota. Mereka bersepeda tanpa kerut di bibir, mereka tersenyum sambil berkelakar di jalanan. Mereka tak pernah melihat jam saat di jalan. Insting mereka yang memberitahu, kapankah matahari akan muncul atau tenggelam.
Terang mendadak kepikiran Noah, terlintas begitu saja. Ia seperti akan bertemu dengannya, atau ada topik yang akan membawanya bertemu dengannya.
Noah? Insting Terang ternyata nyata.
“Dia ikut di Departemen apa? Aku nggak pernah lihat waktu pelantikan kemarin.”
“Sepertinya dia nggak ikut HMTI. Orangnya kan memang agak misterius dan nggak suka kumpul gitu, kan? Tapi Gema berhasil membujuknya.”
Sisa perjalanan menuju Pogung Kidul, Terang justru memikirkan Noah. Anak itu mengapa selalu ada di lingkaranku.
# # #
Noah tak mengharapkan liburan mid semester kali ini. Ia tak menginginkan balik ke Jakarta, meskipun puluhan kali maminya menelepon dan puluhan kali pula ia berkata bahwa ada kegiatan di kampus yang tak bisa ia tinggalkan. Akhirnya Mussa yang menelepon. Mussa bilang bahwa dia ingin main games bersama, tetapi Noah menjawab bahwa mereka masih bisa online bersama.
“Mussa rindu Kak Noah, Mussa pengen menjambak rambut Kak Noah agar bangun tiap pagi,” ucap Mussa di telepon. Noah bilang bahwa sebulan lalu mereka baru saja bertemu.
Noah menyayangi adiknya, adik tirinya. Meski pun dulu ia sempat meresa kesal karena kehadiran Mussa.
Saat itu ia masih berumur enam tahun ketika kehilangan papinya. Kecelakaan di Jalan Tol Cipularang telah merengut nyawa papi dan teman kantornya ketika mereka selesai pulang meeting dari Bandung. Noah ingat bahwa papinya berjanji akan membawakan kamera sebagai hadiah ulang tahun. Sebagai penebus dosa karena di hari ulang tahunnya, papi tidak bisa hadir. Tepat setelah tiga hari papinya di Bandung, hari itu adalah hari Sabtu, papinya menelepon dan bilang bahwa ia telah menemukan kamera yang beliau janjikan.
Noah sudah bisa membayangkan ia akan pergi ke Bogor bersama papinya untuk belajar memotret. Kakeknya adalah memiliki hobi fotografi dan beliau berkontribusi di salah satu harian surat kabar ternama di ibu kota. Bakat itu menurun ke papi dan Noah.
Noah menunggu sore itu. Hingga malam, kemudian pagi. Papinya tidak pernah pulang membawa kamera yang dijanjikan. Siang hari, maminya pergi entah ke mana, dan Noah dititipkan ke rumah tantenya di Kelapa Gading. Sore harinya, Noah mengetahui bahwa papinya telah meninggal karena kecelakaan dan akan segera dikuburkan.
Noah ingin menangis, tetapi yang ada hanyalah kekosongan. Ia masih bisa merasakan bayangan papi yang mengecup kening setiap pagi untuk mengajaknya lari pagi. Atau ketika papi mengajaknya memotret di Bogor, atau di Kota Tua. Noah luruh, tubuhnya seperti tersedot ke bumi sore itu. Ketika ia melihat tubuh papi menyatu dengan bumi dan satu persatu tanah menutupinya, ia baru tersadar bahwa ia kehilangan papinya.
Setahun sudah papi pergi, tetapi ia masih tak bisa menerimanya. Ia tak bisa merasakan apa-apa. Tubuhnya kering. Satu setengah tahun kepergian papi, mami menikah lagi dengan seorang pria. Pasca pernikahan itu, hidup Noah terasa sangat kosong. Ia merindukan papi, ia tak ingin sosok itu tergantikan.
Saat di pelaminan, Noah melihat maminya tersenyum. Ia berpikir, hidupnya pasti akan segera berubah. Maminya mulai meninggalkannya. Ia sibuk dengan suami baru dan pekerjaannya. Setahun pernikahan, maminya hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki. Noah semakin kosong. Ia memilih untuk tinggal bersama kakeknya di Bogor dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di sana. Dia mengisi kekosongan hidupnya dengan pergi memotret bersama kakeknya, mengendarai vespa tua milik kakeknya menjelajahi kota Bogor, menemani Kakeknya ketika malam hari Kakeknya menulis diary. Kakeknyalah yang mengajarinya tentang fotografi.
Saat kelas satu SMA, kakeknya meninggal. Noah seperti kehilangan jiwanya setengah. Ia harus kembali tinggal bersama dengan mami dan suaminya. Ia terasing. Tinggal di rumah tak lebih baik dari bermalam di penjara. Ia akan memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan suami maminya. Rumahnya sunyi. Suara Dota yang menggema dari soundsystem komputer tak membunuh sedikit pun kesunyian itu.
Rumahnya terasa kosong meskipun ada Mussa. Mussa kecil yang lucu sangat menyayangi Noah. Tetapi Noah belum bisa menerimanya sebagai bagian dari hidupnya. Hingga suatu sore, Mussa terjatuh dari sepeda dan menangis. Noah tak tega melihat itu dan menolongnya. Malam hari, sepulang kerja maminya memarahi Noah karena menganggap tak becus menemani adiknya. Mami menyalahkan Noah yang justru bermain kamera, tanpa mempedulikan adiknya.
“Mau jadi apa? Fotografer seperti papimu yang tidak berguna itu?” Untuk kali pertama, Noah melihat mami membanting kamera hadiah dari kakeknya.
Noah tidak membantah. Dia hanya diam, namun tangannya mengepal kencang.
Mussa bilang kepada maminya bahwa sore itu dia bandel ingin naik sepeda keliling komplek, padahal Noah sudah melarangnya. Sejak saat itu, dia menyayangi Mussa.
Satu persatu hari Noah lewati dengan dunia yang selalu sepi, padahal sekelilingnya penuh kegaduhan. Maminya yang selalu marah-marah, suaminya yang pasif.
Noah tidak ingin ke Jakarta. Dengan alasan apa pun. Karena ia punya alasan sendiri mengapa harus tetap ada di Yogyakarta. Setidaknya, untuk mengisi kekosongan hari-harinya.
# # #