
Noah selalu yakin semua orang bisa saja menjadi Joker, hanya dalam satu hari saja. Ia mengacaukan dirinya sendiri, dan ia tahu ia kacau. Itulah yang membuat Joker berbeda dengan villain manapun, karena ia tahu ia kacau. Ia mungkin tak punya suatu tujuan tentang kekacauannya. Itupulalah yang membuatnya menjadi sangat sosiopat, orang dengan gangguan kepribadian dan anti sosial yang sangat tinggi. Untungnya, kekacauan Noah tidak berujung pada kekurangan hati nurani dan tindakan kriminal yang membahayakan. Ia hanya menjadi mummi di kosan Maleo selama berhari-hari. Kekurangan asupan nasi, digantikan oleh mie goreng atau bahkan hanya segelas jus strawberry kegemarannya. Ia membentuk goa dari selimut tebal di kosan Maleo. Satu-satunya bentuk penghiburan adalah permainan Dota setiap malam.
Pada hari ketujuh setelah ia bertengkar dengan Terang, Maleo memaksa Noah keluar dari goanya dan pergi kuliah. Maleo tetap menjaga agar Noah tidak berbuat kriminal atau melakukan pencurian bank seperti yang dilakukan Joker. Meskipun pada kenyataannya, orang yang sedang bermasalah dengan hati, tidak berniat untuk melakukan apapun.
Joker selalu punya feeling yang kuat dengan Batman. Ia benar-benar sangat terobsesi pada villainnya itu. Bahkan dalam satu adegan dia bilang kepada Batman, ‘jauh di dalam hati, kita saling menyayangi’. Jika itu terjadi delapan hari yang lalu, Batman akan membalas dengan ya aku tahu itu, dan aku menyayangimu juga. Namun, ini terjadi sekarang. Tentu saja Batman akan membalas dengan tidak ada hal di muka bumi ini yang aku benci melebihi kau, Joker. Persetan dengan hidupmu.
Noah merasa sekarang ia menjadi Joker, dan Teranglah Batman yang sesungguhnya. Saat bertemu di kampus, Noah tidak mengklarifikasi apapun karena gadis itu benar-benar menunjukkan kebencian yang mendalam. Ia berubah menjadi Batman yang kelam.
Waktu dia mencoba untuk berbicara, Terang menolak. Gadis itu membisu. Noah berusaha untuk membantu saat Terang kesusahan berjalan mengenakan tongkat penyangga. Namun, Terang bilang bahwa dia bisa berjalan sendiri.
“Tolong, bicaralah. Aku seharusnya juga marah karena ini tidak adil bagiku.”
“Mengapa nggak kamu lakukan?” tanya Terang, wajahnya merah. Mata itu tak lagi menyenangkan seperti biasa. Tetapi ia berubah menjadi seperti Batman yang misterius.
Noah kembali menjadi Joker. Ia ingin tertawa sendiri, berteriak dalam kegetiran, tetapi juga ingin sekali mengoyak-oyak Batman. Karena ia membenci dirinya sendiri.
Pada hari kesembilan, Noah memutuskan untuk tidak ke kampus lagi. Dia kembali masuk ke dalam gua hitamnya, sambil meringkuk. Maleo sangat prihatin, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Melayani orang yang jatuh cinta dan patah hati adalah sia-sia. Jatuh cinta melihat *** kucing seperti cokelat, patah hati melihat *** kucing berubah menjadi kotoran sapi yang bau.
Maleo akhirnya tak mempedulikan Noah yang meringkuk menyedihkan di kasur. Dia menyumpal telinganya dengan headset tak bersuara. Seperti biasa, dia berharap akan merasakan kedamaian, ia merasa akan tersesat di Bimasakti, ke bintang yang lebih jauh dari Matahari sekali pun. Namun, ia justru mendengar dentingan intro ‘Kosong; perlahan. Kemudian, suara vokalis Pure Saturday menyesap perlahan-lahan. Seperti menertawai dirinya. Suara itu berubah menjadi suara Terang. Yang juga menertawainya.
Dia tak ingin mendengarkannya untuk sekarang. Karena ia akan kembali mengingat. Dan mengingat adalah hal yang paling menyakitkan saat sedang dalam masalah perasaan. Jadi dia membuang headset, lalu menutup telinganya. Berharap suara itu hilang.
Hingga kemudian dia jatuh sakit di dalam guanya.
# # #
Bunda tiba-tiba membahas tentang sumur pada malam keempat belas setelah Terang tak melihat Noah. Kata Bunda, Lik Giyono punya sumur yang dalam di rumahnya. Airnya sangat dingin dan Bunda rindu untuk mandi di sana. Bunda pengen ke Bantul. Kangen katanya. Sejak Terang di rumah sakit sampai sekarang Bunda belum pulang lagi ke Parangtritis.
Pembahasan tentang sumur itu kemudian menyeruakkan satu per satu hal tentang Noah. Terang sedang tak ingin membahasnya. Namun seperti yang ia selalu yakini, saat ia berusaha menyangkal di dalam hati, alam justru berseru sebaliknya. Sepertinya alam menolak setiap energi negatif apa pun. Seperti saat ia tak ingin berurusan dengan Noah saat tragedi pengumpulan tugas dulu, ia justru sering berususan dengannya. Alam mengabulkan energi-energi positif, seperti kekuatan-kekuatan mimpi, keinginan positif untuk maju, tetapi bisa saja alam menolak saat keyakinan itu untuk mencelakai seseorang.
Jadi dia tak ingin membicarakan tentang sumur, meskipun Bunda berbicara terus tentang sumur. Kemudian saat malam hari, Terang menemani Bunda di warung. Bunda mengeluh tentang mesin jahitnya yang mulai tidak berfungsi dengan baik. Dia menyarankan untuk menjual mesin tua itu, tetapi Bunda menolak.
Terang bilang bahwa mesin itu sama rusaknya dengan ayah. Bunda justru tersenyum lalu berkata, “Bunda pernah mencintai lelaki rusak itu, dan karenanya sekarang ada kamu. Bunda nggak pernah menyesal”.
Terang terdiam, tetapi ia tetap membenci ayah. Sama seperti sekarang saat Terang membenci Noah.
“Mengapa Noah nggak pernah kelihatan, Bunda bisa minta tolong untuk memperbaiki mesin jahit,” kata Bunda, kemudian ada ‘Noah’ lagi di antara mereka.
Terang sedang tak ingin membahas, lalu menyarankan Bunda untuk tetap menjualnya. Saat ia ke dapur untuk mengambil air minum, dia melihat tumbler pemberian Noah. Ia mengurungkan niat untuk minum.
Ketika ia ke kamar, dia melihat Norwegian Wood diantara tumpukan buku kuliahnya, lalu dia membuangnya ke kolong tempat tidur. Tetapi dia kemudian mengambilnya, lalu menaruhnya di meja. Dia mengumpat pada buku itu, kepada sumur yang ada di dalamnya. Mengapa ia bisa tersesat dalam sumur itu, buku itu, lalu pada nama itu? Ia paham mengapa Murakami mengawali ceritanya dengan kejadian di pesawat, musik Norwegian Wood yang mengingatkan Watanabe pada Naoko, dan kenangan-kenangan yang tiba-tiba muncul bersamaan dengan semua elemen yang mendukung. Karena ternyata ingatan memang sesuatu yang aneh, begitu Murakami mengatakannya. Terang kini menyetujuinya.
Terang kemudian keluar lagi, duduk di depan rumah. Gema masuk halaman kos sambil membawa motornya.
“Dari mana, Gema?” tanya Terang, basa-basi.
Orang Suroboyo itu menjawab. “Dari tempat Maleo, ternyata ada Noah di sana. Sedang sakit pula. Pantas dia ndak pernah kelihatan di kampus tho.” Dia menaruh sepeda motornya di tempat parkiran. “Kamu sudah tahu dia sakit, kan?”
Astaga, Noah lagi. Pikir, Terang. Tapi apa dia bilang, Noah sakit?
# # #