
Satu minggu kemudian, saat perkuliahan mulai kembali menyapa.
Sore hari yang cerah, tumben sekali Noah menunggu Terang menyelesaikan praktikum Desain Produk. Dia duduk di atas vespanya. Telinganya tersumpal headset. Tak ada yang tahu apakah headset itu mengeluarkan suara, atau tidak. Yang jelas, Noah tak bergeming di atas vespanya. Terang selesai praktikum beberapa menit sebelum pukul lima.
“Kamu menungguku?” tanya Terang saat melihat Noah ada di depan lab.
“Aku hari ini nggak ingin kehilangan kamu sedikit pun.”
“Kamu mengatakan itu seperti ingin meninggalkanku.”
“Apa kita bisa makan dulu?”
“Tentu saja, aku sangat lapar.”
“Apakah darah rendahmu kumat lagi?”
Terang menggeleng. “Tidak. Rasa rinduku yang sedang kumat.”
Vespa Noah menuju Mas Kobis, mereka makan berdua saja. Setelah menghabiskan tiga ayam dan tiga nasi, Noah mengantarkan Terang pulang.
Di depan rumah Noah terparkir Alphard warna hitam yang tampak bersih, sampai jika ada debu yang ada di situ pastilah si debu akan terpeleset dengan sendirinya.
# # #
Terang tak pernah melihat mami Noah sedekat ini. Di lihat dari dekat, wanita itu sangat cantik. Wanita itu sedang duduk di kursi di kamar tamu Lik Ilham. Duduk dengan sangat anggun, kakinya menyilang dan tangannya memegang tas kecil di pangkuan. Dia mengenakan gaun warna merah marun yang sangat pas di badannya. Rambutnya disasak ke atas, seperti menara pisa namun tidak miring. Alisnya ramping, menculat ke kiri dan ke kanan dengan simetris. Matanya berkilat hitam, membesarkan matanya yang sipit. Pipinya yang tirus disapu warna merah muda. Di sampingnya, ada Baskara dengan stelan jas hitam yang halus.
Lik Ilham dan Bunda duduk berseberangan, tanpa berkata apa-apa. Ada kopi yang sudah dingin dan kue kering yang belum juga berkurang di meja.
“Mami pikir apa yang mami lihat di Facebook Mussa itu salah, Noah. Mengapa kamu berani-beraninya mengkhianati mami seperti ini?”
Noah menggertakkan giginya, tangannya mengepal. Terang memegang tangan itu, memintanya untuk menggenggam agar tidak mengeras.
Mami menoleh ke Baskara. “Lihatlah kelakuan kedua anakmu itu. Menjijikkan sekali.”
“Aku bukan anaknya.” Noah berkata dengan lantang.
“Noah.” Mami terpekik. Lalu dia tersedu di lengan suaminya.
Nindi menatap suaminya. “Berkatalah sesuatu. Jangan diam saja. Larang anakmu itu untuk menjauhi Noah sekarang juga. Aku sudah bilang padamu bahwa semua masa lalumu adalah masa lalu yang harus dikubur.”
Baskara menatap istrinya tanpa kata. “Sudahlah, sebaiknya kita pergi.”
“Pergi bagaimana? Bicaralah pada mantan istrimu. Minta dia agar puterinya menjauhi Noah.” Mami mengucapkan kalimat itu seolah tak ada siapa pun di ruangan itu.
Bunda seperti memberi isyarat pada Baskara. “Pergilah, kamu selesaikan masalah keluargamu. Aku akan bicara pada Terang.”
“Kita langsung selesaikan saja di sini. Noah...” Mami menoleh pada Noah. “mami larang kamu untuk pacaran, atau mendekati, atau hanya bertemu dengan dia.” Mami menunjuk Terang. Matanya menyalak bak seekor anjing yang sedang ingin menangkap ayam.
“Dia punya nama,” kata Noah kecil. “Dan mami tak berhak melarangku.”
“Noah,” mami terpekik. “Mami menyayangimu, mami ingin yang terbaik untukmu.”
“Mami tak pernah tahu.”
“Kita balik ke Jakarta, mami akan memindahkanmu ke Singapura. Sekalian untuk mencari pengobatanmu. Mami ingin dokter yang terbaik.”
Noah seperti terkejut saat mami mengatakan kalimat itu. Dia menoleh ke arah Terang. Gadis itu membeku di tempatnya. Noah mengepal tangannya erat-erat. Seakan dia ingin memukul sesuatu. Ada lukisan berfigura di sampingnya. Dia menghantamkan tangannya ke lukisan itu. Kacanya pecah berderai.
Terang menjerit di tempat. Bunda dan Lik Ilham sontak berdiri. Noah kemudian pergi.
# # #
Terang menatap Bunda, lalu memeluknya. Bunda mengelus rambut panjang Terang yang tidak dikucir. Beliau menatap Lik Ilham, kemudian Lik Ilham mengangguk. Lik Ilham pergi, membiarkan anak dan ibu itu bicara.
“Dan kamu mencintainya?”
Terang ingin menyangkal pernyataan Bunda, tapi hatinya terus menerus memberontak. Dia mengangguk keras untuk memberikan jawaban.
“Astaga, Puteriku.”