
Mengapa dia tidak ingin berbicara denganku? Terang membatin dalam hati untuk kesekian ribu kali sejak seminggu lalu. Pertanyaan yang tak ingin ia utarakan kepada siapapun, karena ingin ia simpan dan ia akan tanyakan langsung kepada Noah. Siang ini dia tidak bisa mengatakannya langsung. Pertanyaan itu muncul kembali di kepalanya, berputar-putar seperti laron di waktu hujan yang mengerubungi kerlip lampu. Namun, dia memilih diam karena melihat keadaan Noah.
“Bagaimana kamu bisa datang?” tanyanya, tanpa melihat langsung ke arah Terang.
Aku merindukanmu, tentu saja. Begitu kira-kira yang ingin Terang katakan. Mulutnya membeku. Di depannya, Noah sedang duduk di kursi roda dengan selang infus yang terpasang di hidungnya, rambut yang tertutup kupluk warna hitam. Ia memandang kosong keluar, melewati tirai berwarna putih yang sedikit berkibar karena AC. Mukanya putih pucat, bibirnya kering. Tulang pipinya terlihat membuat lesun pipinya justru seperti kempot.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Terang pelan-pelan.
“Apakah kamu merindukanku?” Noah menoleh ke arah Terang. “Aku senang kamu datang. Aku sangat merindukanmu, tapi aku sebenarnya tak ingin kamu melihat keadaanku yang sangat menyedihkan ini.”
Noah memutar kursi rodanya. Dia kembali bertanya, bagaimana Terang bisa sampai ke rumah Kakek di Bogor. Terang hanya melirik ke arah ayahnya yang berdiri di dekat pintu sebagai jawaban. Baskara mengangguk kecil, lalu pergi berlalu meninggalkan suara sepatu yang berbenturan dengan lantai kayu.
Terang nanti akan berterima kasih pada ayahnya, dia akan bicara. Meski pun ia sendiri ragu apakah bisa mengucapkannya atau tidak. Seminggu lalu ayahnya datang, seperti biasa menemuinya. Terang menolak, tentu saja. Lalu Baskara bilang bahwa istrinya sedang pergi ke luar negeri seminggu.
“Aku bisa mengajakmu pergi ke Bogor. Anggap saja ini hadiah karena aku tak pernah memberimu hadiah.” Baskara menatap puterinya di kantin Teknik. “Dan juga permintaan maafku, Puteriku.”
Terang berpikir semalaman, lalu ia bilang kepada Bunda ketika beliau menghampirinya di atap rumah.
“Apakah kamu tahu bahwa dulu Kakek tidak menyetujui Bunda menikah dengan ayah?” tanya Bunda setelah keheningan yang lama, saat Terang menceritakan tawaran ayahnya.
Terang menoleh. “Kakek? Kakek Parangtritis?”
Bunda mengangguk. “Tidak pernah ada yang menyetujui pernikahan kami, kecuali Nenek. Bapak ayahmu bilang bahwa Bunda bukan orang berpendidikan karena hanya lulusan SMA, sementara Kakek bilang bahwa ayahmu hanyalah seorang sales mobil. Tapi kami terpaksa menikah karena Nenek mendukung Bunda.”
Terang menyandarkan kepalanya ke pundak Bunda. Langit begitu syahdu dengan hiasan bintang-bintang.
“Saat Bunda bercerai dengan ayahmu, kakek menyalahkan Bunda berulang kali. Semua keluarga bilang bahwa Bunda sangat bebal karena tidak mendengarkan. Tapi itulah kekuatan cinta, Puteriku. Ketika kamu mencintai seseorang, kamu tidak akan pernah melihat kekurangan-kekurangan. Karena kamu yakin, karena kamu percaya. Bunda yakin akan bahagia dengan ayahmu, Bunda sangat percaya. Jika kemudian kami berpisah, Bunda menerima konsekuensi itu.
Bunda hanya ingin bilang bahwa ketika kamu mencintai seseorang, pikirkan dirimu sendiri. Apakah kamu yakin? Jika kamu telah yakin akan bahagia, jangan mendengarkan orang lain. Bahagiamu adalah kamu yang tahu.
Mencintai itu sama seperti pekerjaan, begitu Kakek berkata. Yang kamu yakini adalah yang kamu anggap benar. Yang kamu anggap benar tentu saja belum tentu benar. Teruslah belajar.”
Bunda mengijinkan Terang pergi ke Bogor menemui Noah. Tadi pagi-pagi, ayahnya datang menjemput seorang diri. Dia memesankan pesawat kelas bisnis. Mereka dijemput mobil Alphard hitam yang mengkilat.
Di sinilah Terang sekarang, di kamar Noah yang temaram.
“Kamu cantik hari ini.” Noah tersenyum melihat Terang yang memakai rok batik buatan Bunda. “Tumben tidak pakai jeans dan baju polo warna kuning. Tapi aku lebih senang melihatmu seperti ini. Tidak, sebenarnya aku senang melihatmu memakai baju apa pun. Kamu tetap cantik.”
Terang mendadak menangis, sambil menahan tawa. “Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, Bodoh.”
“Apakah kamu ingin memelukku?” Noah merentangkan kedua tangannya. Tanpa diminta, Terang menghambur memeluk Noah dengan erat.
# # #
Sore hari. Noah meminta Terang untuk membawanya jalan-jalan ke halaman belakang rumah kakek. Halaman itu lebih mirip hutan kecil yang dipenuhi pohon-pohon sedang berbatang kurus tapi rindang. Di tengah hutan, ada jalan conblock warna merah bata. Terang mendorong kursi roda Terang hati-hati. Sejauh mata memandang adalah warna hijau. Angin semilir menyejukkan kulit, memberi sensasi dingin. Hidung mencium bau tanah semalam yang terkena hujan. Suara daun-daun bergesekan, bersahutan dengan bunyi burung-burung.
“Kakek suka sekali halaman belakangnya, maka beliau membiarkannya seperti ini. Beliau akan lari-lari kecil di pagi hari, atau mencari inspirasi. Sebagai seorang dosen yang selalu membaca buku, dia mungkin membutuhkan nutrisi untuk penyegaran kepalanya.”
“Dia dosen?”
“Iya, di IPB. Apakah aku belum menceritakannya?” Terang menggeleng. “Dia suka sekali belajar, sepertimu. Waktu dulu awal-awal aku mengenalmu, aku seperti melihat kakek versi cewek. Selalu belajar di perpustakaan, mengajar di LBB, menjawab pertanyaan dosen, membawa buku-buku tebal, tapi tetap energik dan penuh semangat. Itulah mengapa aku mencintamu, Terang.”
Terang menghentikan kursi roda, dia kemudian duduk di kursi yang terbuat dari batang-batang pohon di pinggir jalan. “Kamu terlalu berlebihan mengatakan aku seperti itu.”
Noah tertawa. “Aku serius. Kamu yang penuh semangat, seperti suntikan energi sendiri untukku. Apakah kamu bisa membantuku untuk duduk di sampingmu?”
Terang mengangguk. Keduanya lalu duduk berdampingan di kursi kayu. Noah mengeluarkan earphone, lalu memasangnya di telinga kirinya. Kemudian earphone kanan ia pasangkan di telinga kanan Terang. Setelah itu, dia menyandarkan kepalanya di pundak Terang. “Sore ini, aku hanya ingin seperti ini.” Dia memejamkan mata.
Terang menempelkan kepalanya di kepala Noah. Ia ikutan memejamkan mata. Tak ada lagu. Yang ada hanya suara batang-batang kering bergesekan, dedaunan, angin, burung. Sangat damai. Mereka terdiam cukup lama.
Terang membuka mata. “Ngomong-ngomong, aku telah selesai membacanya.”
“Suka?” Mata Noah masih terpejam.
“Aku sangat suka. Aku tahu mengapa kakek memintamu untuk membaca ‘The Old Man and The Sea’.”
“Aku seperti melihat seorang Santiago di diri kakek. Beliau dulu dari keluarga yang tidak beruntung, sangat diremehkan, kemudian berusaha keras untuk membuktikan kepada orang-orang yang meremehkannya.”
“Dan kamu adalah anak kecil yang menemaninya mencari ikan di laut?”
“Tentu saja.” Noah tertawa.
“Noah, kamu selalu menceritakan kakekmu, ayah dari ayahmu. Bagaimana dengan kakek dan nenekmu dari ibumu?”
“Aku tidak terlalu mengenal mereka. Mereka meninggal saat aku belum lahir. Kudengar mereka adalah bisnisman yang hebat, keahlian yang kemudian menular pada mami.”
“Tapi sejujurnya, aku sangat tidak suka dengan Santiago yang selalu hidup sendirian di tengah laut. Dia bahkan suka bicara sendiri pada burung, ikan, laut. Itu menyedihkan.”
“Itu karena keadaan, Terang. Kehidupan yang membuatnya seperti itu. Apakah kamu tidak melihatnya padaku?” Noah menatap lurus ke arah Terang. Dia kemudian terbatuk. Lalu dia merapatkan jaketnya.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Terang sedikit khawatir. Noah mengangguk kecil. “Kita sebaiknya kembali ke rumah, udara mulai sangat dingin.”
“Terang...” Noah memandang Terang.
Terang mematung di depan Noah. “Mengapa kamu memandangku seperti itu?”
“Aku tahu, hidupku tak akan lama.”
“Dengarkan aku.” Noah menarik nafas panjang. “Dengarkan aku kali ini. Aku tahu hidupku tak akan lama lagi. Cuci darah seminggu sekali, tubuh yang semakin kurus, kemoterapi yang membuat satu persatu rambutku rontok. Tapi aku tak ingin kehilangan semangat seperti Santiago di hari kedelapan puluh limanya yang belum mendapatkan ikan.”
Terang jongkok di hadapan Noah. Matanya memanas.
“Jadi berjanjilah tiga hal padaku. Lukislah di langit untukku sekarang.” Dia memegang pipi Terang. “Pertama, jangan lupakan aku.”
“Kamu mengutip Notwegian Wood. Aku tahu kalimat itu.”
Noah menutup mulut Terang dengan telunjuknya yang putih kurus. “Dengarkan aku saja, lalu menggambarlah.”
Terang mengangguk, lalu mengarahkan tangannya ke langit.
“Pertama, jangan lupakan aku. Meski pun aku nanti tak bisa melihatmu lulus, lalu S2, dan jadi dosen. Kuharap kamu tak akan melupakanku.”
“Noah, aku tak suka ini.” Mata Terang memanas.
“Kedua, jadilah seperti Santiago. Yang terus semangat mengejar apa yang kamu impikan. Jangan dengarkan orang-orang tentang mimpimu, kamu yang tahu mimpimu. Aku kembali menemukan cahayaku setelah bertemu denganmu. Bahkan ‘The Old Man and The Sea’ belum menyadarkanku untuk tetap semangat meski pun aku tahu hidupku tak lama lagi. Tapi kamu bisa menyadarkanku.”
Noah menarik nafas, Terang menatapnya dengan mata penuh air. Seperti danau tenang yang memantulkan cahaya matahari. Lanjut Noah, “Teruslah melukis langitmu, Terang. Lalu wujudkan. Selamanya mimpi hanya akan menggantung di langit jika kamu tidak mewujudkannya. Tapi setidaknya jika kamu melukisnya, kamu akan melihatnya setiap hari. Jadi, melukislah tentang aku.”
Noah kembali menarik nafas. “Ketiga, bernyanyilah untukku. Sekarang. Aku ingin mendengarkan terakhir kali.”
Terang tak tahan untuk menangis. Matanya panas, meski pun udara sangat dingin sore itu. “Noah, hentikan ucapanmu. Kamu akan baik-baik. Kita akan bersama-sama mewujudkan lukisan-lukisan langit kita.” Dia mulai terisak, suaranya samar.
“Aku sudah meraihnya. Aku tetap memotret, aku bahkan kini punya blog khusus untuk foto-fotoku.”
“Tapi aku belum menghadiri pameran tunggalmu.”
“Aku akan melakukannya, kamu akan menghadirinya.”
“Apakah kamu sudah meraih semua mimpimu?”
Noah mengangguk. “Tentu saja. Tentu saja. Ini karena kamu, perkataanmu tentang ‘perbuatan yang harus kita lakukan sebelum kita meninggal’. Hanya ada satu hal yang belum kulakukan.”
Terang mengerjapkan matanya. “Apa?”
“Menciummu.” Noah menatap Terang lembut. Dia membelai rambut gadis itu yang ditiup angin. Tanpa meminta ijin, Noah mencium bibir lembut Terang yang sedikit memerah. Lama ia membiarkan bibirnya menyatu. Terang memejamkan mata. Merasakan bibir Noah yang menyapu bibirnya. Dia merasakan Noah menarik diri, perlahan dia membuka mata.
“Maaf, mungkin mulutku sedikit bau.” Noah sedikit tertawa.
Terang ikutan tertawa. “Apakah aku terlihat peduli?” Dia kembali mencium Noah. Pelan dan lembut. Giliran dia yang melepaskan ciuman itu. “Mengapa kamu selalu penuh rahasia, Noah? Mengapa kamu suka berbohong padaku?” tanyanya pelan. “Sesederhana kamu bilang bahwa ‘Norwegian Wood’ adalah satu-satunya novel yang kamu suka, tapi ternyata kamu membaca ‘The Old Man and The Sea’. Itu saja.”
“Karena aku mencintaimu. Aku tak ingin kamu khawatir, Sayang.”
“Jadi mengapa harus seperti ini?”
“Apakah aku boleh menciummu lagi?”
# # #
Terang mendorong kursi roda Noah. Angin semilir berhembus menerbangkan dedaunan kering.
“Terang, apakah kamu tahu bahwa salah satu hal mengapa aku mencintaimu karena suaramu yang merdu.”
“Aku sedang tak ingin menyanyi hari ini, Noah.”
“Aku pernah mendengar seorang wanita yang menyanyi sangat buruk di kamar mandi. Kukira itu kamu, tapi ternyata itu Kayla.”
“Kayla?”
“Ya, waktu itu kamu sedang setres karena buku catatanmu hilang.”
“Dan ternyata kamu yang mengambilnya.”
“Kukira yang nyanyi di kamar mandi itu kamu, tapi ternyata bukan. Saat aku mendengar suaramu di acara Ultah TI, aku jadi jatuh cinta. Jadi kabulkan permintaanku yang ketiga. Nyanyikan lagu yang kamu nyanyikan waktu itu. Terakhir kali.”
“Noah, aku tak suka kalimat terakhirmu.”
“Bernyanyilah, aku tak ingin mendengar kalimat lain.”
Terang kemudian bernyanyi.
Kuyakin dalam hatiku / Kau satu yang ku perlu / Kurasa hanya dirimu / Yang membuatku rindu //
Noah memejamkan mata, merasakan suara lembut Terang yang menggerogoti gendang telinganya. Membuat hatinya sangat nyaman. Suaranya yang merasuk ke pembuluh darahnya, melebar ke jantung, paru-paru, lalu masuk ke ginjalnya yang hanya satu.
Ia melupakan penyakit yang kini menjangkitinya, melupakan saat-saat harus menjalani cuci darah. Melupakan kesendiriannya selama ini.
Ia mendengarkan Terang. Karena ini terakhir kalinya ia bisa mendengarkannya.
# # #