
Waktu maraton saat kita bahagia, dan menjelma menjadi ulat bulu berjalan saat kita merasa dalam tekanan.
Bagi Noah, semester tiga berjalan tanpa hambatan. Mungkin yang terlalu menyusahkan adalah mata kuliah Ekonomika dan Tekno Ekonomika. Ia benci berurusan dengan uang-uang. Namun setidaknya dia sudah tidak berurusan dengan nama-nama bahan yang membuatnya otaknya mendidih. Ia sejujurnya merindukan mata kuliah Logika Pemrograman, dan ternyata ia sangat menyukainya. Itu adalah satu-satunya mata kuliah yang memiliki nilai A.
Di semester tiga, dia memiliki mainan baru yaitu praktikum simulasi. Ia menyukai saat memainkan logika untuk menciptakan simulasi produksi suatu barang. Berapa jumlah Raw Material yang harus ia siapkan untuk satu bulan produksi, menghitung inventory, dan on hand. Lebih menyenangkan daripada harus memikirkan tentang uang. Karena ia membenci uang. Itu saja. Uang membatasi segalanya.
Kehidupan kampus dimulai dengan pesta demokrasi pemilihan ketua HMTI dan pengurusnya untuk periode 2008-2009. Gema dan Janaka bersaing ketat, tetapi Janaka lebih beruntung merebut hati semua angkatan. Dia akhirnya menang.
Semester itu, Noah melewati dengan pergi ke Bantul bersama Terang saat Idul Adha. Ia tidak pulang ke Jakarta, tentu saja karena ia malas bertemu dengan mami dan suaminya. Namun, dia tetap merindukan Mussa. Jadi saat sebelum ujian semester, dia menyempatkan pulang hanya untuk bertemu Mussa. Meski pun hanya sehari.
Noah untuk kali pertama juga melihat Jogja Java Carnival pada bulan Oktober 2008, puncak ulang tahun kota Yogyakarta. Pawai kebudayaan itu digelar di Jalan Malioboro yang berlangsung sangat meriah. Noah pergi bersama Terang. Gadis itu sangat gembira melihat arak-arakkan, dia jingkrak-jingkrak tidak karuan. Sementara Noah lebih memilih untuk mengabadikan momen itu ke dalam lensa kameranya.
Ujian semester berlalu lebih menyenangkan karena Terang dengan intens mengajari Noah seperti semester lalu. Mereka sering belajar di atas atap sambil menikmati senja. Lagu Pure Saturday menemani mereka.
Semester itu menyenangkan. Dia bahagia bisa melihat Terang setiap pagi, lalu berangkat kuliah bersama. Dia kemudian bisa hafal kebiasaan gadis itu setiap pagi, gadis itu di atas atap sambil menghafal vocabulary, ditemani tumbler pemberiannya yang berisi kopi. Noah menemaninya, meski pun hanya duduk saja tanpa melakukan apa-apa. Itu sudah membuatnya bahagia. Tapi, dia tak pernah bilang bahwa setiap ia duduk di samping gadis itu, mendadak perutnya kram dan ada ribuan bintang-bintang di hatinya. Ia memilih diam saja, dan ia rasa itu bodoh. Ia tak pernah mengalaminya, pada gadis mana pun. Kecuali pada Terang saat ini.
# # #
Terang tahu bahwa sepedanya memang sangat bermasalah, namun dia masih mempertahankannya. Toh, dia juga lebih sering pergi ke kampus bersama Noah sekarang. Tapi pagi itu, Noah sedang enggan untuk pergi ke kampus dan Terang memutuskan untuk berangkat dengan sepedanya lagi. Pagi ini, semuanya berkonspirasi untuk menjadikan hari ini buruk. Ini karena darah rendahnya.
Tadi malam, ia telat makan karena sibuk membaca materi Sistem Produksi yang diberikan minggu lalu. Dia sudah meminjam buku diktat tebal di perpustakaan dan memutuskan untuk membacanya. Dia lupa makan hingga tengah malam, lalu memutuskan untuk tidur sebentar sebelum dia menggantikan Bunda jaga warung.
“Kamu nggak perlu menggantikan Bunda. Tidurlah. Bunda tahu kamu dari tadi sibuk membaca.”
Terang menolak karena ia melihat Bunda sudah setiap malam bekerja keras untuk dirinya. Bahkan Bunda tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Mungkin nanti saat Terang sudah menjadi orang tua dan memiliki anak, ia akan melakukan hal yang sama. Kelelahan yang menyenangkan, kadang-kadang kita menginginkan kelelahan itu.
Dia memeluk Bundanya. “Aku merindukan mie goreng buatan Bunda, pakai cabai 5 pasti enak.”
“Kamu memeluk Bunda karena menginginkan mie goreng? Itu namanya penyogokan terselubung. Tunggu sebentar, Bunda akan memasak untukmu.” Bunda mengambil panci dan bersiap menanak air. “Ke mana Noah, sejak kemarin nggak terlihat? Biasanya malam-malam selalu memesan nasi goreng, tapi sudah tiga hari ini tidak. Sakit?”
“Main games kayaknya.” Terang melirik Bunda. “Kenapa Bunda mendadak jadi perhatian sama dia?”
“Sudah sejak lama Bunda menginginkan anak laki-laki. Kamu tahu itu.”
“Ehhh, Bunda cukup memiliki aku. Itu cukup.” Terang protes, pura-pura melotot. “Aku akan cemburu jika Bunda memiliki orang lain, selain aku.” Terang mengecup pipi Bundanya. “Bunda, apakah kamu punya obat sakit kepala?”
“Mengapa? Darah rendahmu kumat lagi?”
“Sepertinya. Aku terlalu lama membaca.”
“Kamu terlalu terobsesi pada cita-citamu. Itu bagus, tapi juga buruk. Bagus karena Bunda bangga melihatmu sangat fokus, tapi buruk karena Bunda melihatmu nggak perhatian sama kesehatan.”
“Aku nggak pernah berniat mengecewakan Bunda, sedikit pun.”
“Bunda akan buatkan teh, duduklah.”
Sakit kepala itu tetap ada, hingga pagi. Padahal Bunda sudah memberinya obat dan juga memijit kepalanya. Tetapi, saat bangun pagi, Terang merasakan kepalanya berdenyut-denyut. Perutnya rasanya mual tidak karuan. Terang menekan pelipisnya sambil naik sepeda untuk meredam sakit kepalanya. Terang kemudian merasakan ada bom yang meledak di kepala. Semuanya kemudian gelap. Ia tak tahu, ada sedan yang melaju kencang dari arah yang berlawanan.
# # #
Saat Terang terbangun di suatu pagi, dia sudah tidak naik sepeda dan tidak ada di kamarnya. Semuanya putih. Dia benci ruangan ini. Dia benci bau-bau yang perlahan masuk ke hidungnya. Ia merasakan kakinya sangat ngilu, lalu dia tahu bahwa kakinya tak bisa digerakkan seperti biasa. Mula-mula dia menduga bahwa sekarang dia sudah ada di surga, namun anggapan itu menguap saat ia melihat Bunda tertidur di kursi. Tirai putih di sampingnya terkuak sedikit dan dia bisa melihat sepasang suami istri sedang berbicara pada seorang anak kecil yang tidur di ranjang. Di pojokan ruangan, segerombolan keluarga sedang duduk lesehan di atas tikar sambil mengobrol dan tertawa-tawa.
Bunda terbangun karena terganggu oleh suara-suara di ruangan itu. Bunda tampak pucat, tetapi saat ia melihat wajah Terang, cahaya di wajahnya kembali menyala. Bunda berlari keluar dan datang kembali bersama seorang perawat cantik.
Perawat itu bernama Dytha, terlihat dari nametag yang menempel di dada kirinya, memeriksa Terang dengan hati-hati.
Terang merasakan kepala berdenyut-denyut. Ia mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Bunda bilang bahwa Terang sudah dua hari tidak sadarkan diri.
“Untung saja orang yang menabrakmu orang baik, dia membawamu kemari. Sungguh, Bunda nggak bisa makan saat ada temanmu datang ke rumah dan bilang kalo kamu kecelakaan. Bunda benar-benar khawatir.”
Tak lama, Lik Ilham datang membawa bubur ayam untuk Bunda. “Bundamu baru mau makan, susah sekali membujuknya. Dia hanya duduk di sampingmu sambil meratap tak jelas. Kutanya saja, apakah dia mau ikutan terbaring di kasur sebelahmu jika nggak makan.” Lik Ilham menemani Bunda duduk di sofa, melihat Bunda makan.
“Ke mana Noah? Sudah pulang?” tanya Lik Ilham kepada Bunda.
“Aku menyuruhnya pulang. Aku khawatir dia akan berbaring di ranjang sebelah jika terus-terusan begadang,” kata Bunda.
“Bertiga kalian akan sangat menyusahkanku,” kata Lik Ilham sambil tertawa.
# # #
Pada pukul 18.48, Noah datang saat Bunda dan Lik Ilham keluar mencari makan malam. Dia sendirian, membawa tas besar berisi laptop. Sweater hitam dengan model kebesaran membenamkan tubuhnya yang tinggi. Di telinganya tersumpal headset, Terang yakin bahwa tidak ada suara di headset itu. Dia habis mencukur rambutnya..
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Noah.
“Kamu lebih menyenangkan dengan potongan seperti itu.” Terang selalu suka setiap lelaki yang habis bercukur. Siapa pun itu. “Kamu bawa apa untuk menghiburku?”
Dia mengacungkan kamera DSLR yang ia ambil dari tas. “Aku hanya membawa benda ini, salah satu anak kesayanganku. Tadi aku motret. Mau melihat hasilnya?” tanyanya.
Terang mengangguk. Noah mendekat, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Terang. Dia memperlihatkan satu persatu foto hasil jepretannya.
“Semuanya suram, tidak ada yang tersenyum?” tanya Terang.
Noah mengamati hasil jepretannya. “Ada, tentu saja ada.” Dia kembali memperlihatkan kameranya. “Seorang pengamen yang tetap semangat di siang hari, dia tersenyum.”
“Di kameramu, ada foto-foto saat acara ulang tahun kemarin?” tanya Terang.
Noah sedikit berpikir sejenak. Lalu dia menggeleng. “Sepertinya memorinya sudah kuganti di kamera satunya lagi. Nanti akan aku tunjukkan,”
“Oke, apa lagi yang kamu bawa untuk menghiburku?”
“Laptop, untuk bermain games.”
Terang terkekeh. “Selain itu.”
“Aku jelas nggak bawa buku catatan kuliah karena aku bukan tipe orang yang seperti itu. Nanti mungkin Kayla yang akan membawakannya. Tapi Noah bawa ini...” Noah mengeluarkan buku tebal berisi soal-soal latihan TOEFL dari dalam tasnya. “Aku pengen bawa Norwegian Wood, tapi aku pasti kelelahan kalo harus membacakannya. Jadi aku membawa soal-soal ini.
“Tidak, aku yang akan membacanya untukmu. Kamu akan menjawab. Ini untuk mengusir kebosanan. Aku akan membantumu untuk lolos ke GT.” Dia menatap yakin, seolah dia memang akan benar-benar membantu. “Atau mending aku nyanyi saja?”
“Itu bukan ide yang lebih baik.”
“Coba dengarkan dulu.”
“Aku bosan mendengarkan lagu Kosong. Aku lagi nggak pengen denger.”
“Dengarkan,” katanya. Dia mendekatkan mukanya ke arah Terang. “/Bila saat nanti kau milikku / Kuyakin cintamu / Takkan terbagi, takkan berpaling / Karena kutahu engkau begitu.”
Terang tertawa kecil. “Suaramu buruk. Kuharap orang-orang di sekitar kita nggak akan pingsan mendengarnya.”
Noah menghentikan suaranya. “Kalau begitu, nyanyikan untukku.”
“Apa?”
“Bernyanyilah untukku. Suaramu lebih bagus.”
Terang menghela nafas. “Baiklah.” Lalu dia bernyanyi lirih, dan hanya Noah yang mendengarnya.
# # #
Noah tentu saja datang setiap malam dan bersembunyi dari satpam-satpam penjaga yang memeriksa ruangan. Dia memberi satpam-satpam penjaga secangkir kopi sambil mengobrol di pos. Sejak saat itu, dia bebas ada di ruangan Terang sambil membawa laptop. Bunda tidur di kursi, dan Noahlah yang menemani Terang. Saat Terang tertidur, Noah membuka laptop untuk bermain games offline.
Anak kecil yang dirawat di samping Terang sudah pulang, tetapi keluarga berisik di ujung masih tetap ada. Janaka datang beberapa kali, setiap sore sepulang dari kuliah dan pulang sebelum maghrib tiba. Kayla juga datang membawakan buku-buku catatan kuliah.
Hari ini adalah hari kelima, dan Terang sudah diperbolehkan pulang. Tentu saja Terang masih harus duduk di kursi roda karena kakinya masih belum terlalu pulih. Bunda dan Lik Ilham sedang mengurus administrasi, dan Terang yakin Lik Ilhamlah yang bertanggung jawab membayar semuanya. Meskipun Terang juga yakin Bunda akan keras kepala menolaknya. Noah datang dan menemani selama Terang ditinggal oleh Bunda. Dia tentu saja membolos dari kuliah siang.
“Ini tentang kesetiaan dan kuliah masih bisa dikhianati,” ujarnya. “Aku ingin menjadi saksi kebebasanmu hari ini dari keluarga itu,” kata Noah sambil melirik segerombolan keluarga yang duduk di lantai. Dia tertawa. Terang juga tertawa.
“Terima kasih selalu ada,” kata Terang.
“Tentu saja, kamu harus mengucapkan itu,” kata Noah. Lanjutnya, “Terlalu gelap...pergilah pulang.” Noah mengutip lagu Pure Saturday.
“Terlalu gelap...pergilah pulang.
Keduanya saling memandang dan memberi senyuman.
Pintu ruangan terbuka, suaranya mengusik Terang dan Noah. Mereka sontak menoleh ke pintu. Berharap ada wajah Bunda dan Lik Ilham di balik sana. Lalu Terang terdiam.
Begitu juga Noah.
# # #
Noah memandang bergantian antara Terang dan Baskara yang kini ada di ruangan bersamanya. Dia tak begitu yakin awalnya, namun sekarang dia menyadari bahwa kedua orang di depannya benar-benar mirip.
“Kamu mengenalnya?” tanya Terang saat mendengar Baskara menyebut nama Noah.
Noah ingin sekali menggeleng, namun dia justru mengangguk pelan. “Dia...” Noah menggigit bibir bawahnya.
“Aku ayah tirinya, Terang.”
# # #
Terang menelan ludah yang mendadak menjadi jamu temulawak. Terang tak pernah berpikir bahwa ayahnya mengenal Noah, tetapi saat ayahnya memanggil nama Noah dengan benar, Terang ingin menyangkalnya.
“Aku pernah menceritakannya padamu,” kata Noah.
“Kamu nggak pernah bilang kalo yang kamu ceritakan adalah ayahku.”
“Kalian teman deket rupanya,” kata Baskara.
“Mengapa ayah datang?” tanya Terang, menatap ayahnya dengan mata berair.
“Aku mendapatkan kabar dari Bundamu bahwa kamu masuk rumah sakit. Tentu saja ayah ingin menjengukmu.”
“Tak perlu,” kata Terang. Dia memejamkan mata. “Kalian berdua bisa keluar dari sini sekarang.”
“Terang...” panggil Noah pelan.
“Aku ingin kalian pergi,” ucap Terang setengah memohon, sambil berteriak kecil.
Baskara membalikkan tubuh, lalu melangkah pergi meninggalkan Noah dan Terang. Sepi. Bahkan gerombolan keluarga di pojokkan ikut terdiam mendengar ribut-ribut tadi.
“Jadi kamu sudah tahu selama ini?” tanya Terang pada Noah yang masih membeku di tempatnya.
“Maaf, aku tak bermaksud merahasiakannya darimu. Tapi...”
“Kamu sengaja menyembunyikannya?”
“Aku tak berniat seperti itu. Karena aku mencintaimu.”
“Pergilah.”
“Aku...”
“Pergilah,” teriak Terang. “Kumohon...” Kali ini dia menangis.
# # #