MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 29



Tiga hari kemudian, saat hari Sabtu yang tidak terlalu padat, Noah sedang duduk di dekat penjual jus di dekat kosan Maleo yang selalu ‘dikerubungi’ oleh lebah (dalam arti yang sebenarnya). Ia memutuskan untuk keluar dari kamar Maleo. Sahabatnya itu sedang pergi bersama gebetan barunya—yang entah sudah ganti yang keberapa. Noah ditemani oleh Gema yang baru balik dari kampus.


“Aku baru sadar, kamu suka minuman bwarna merah muda ***,” kata Gema saat Noah memesan jus strawberry yang dicampur yogurt. Mereka berdua berjalan menjauhi penjual jus yang dipenuhi lebah-lebah yang berdengung. Kendati lebah-lebah itu tidak pergi, banyak orang yang datang ke sana. Ini tempat favorit Noah. Jusnya tidak kebanyakan air, segar dan murah. “Kamu sedang patah hati, kan?” tanya Gema, langkahnya terhenti.


Noah ikutan berhenti, menatap Gema dengan pertanyaan di keningnya. “Apa yang kamu pikirkan? Kamu terlalu setres karena ujian tengah semester empat? Lihatlah aku, aku tak pernah setres memikirkan ujian.”


“Apa yang terjadi?” tanya Gema. “Aku tahu kamu sedang ada masalah. Katakan, aku akan mendengarnya. Bukankah kita sekarang telah menjadi teman dekat. Kamu ndak ingin bercerita denganku?”


Noah tertawa kecil. “Mendadak lo jadi romantis. Gue masih suka perempuan.”


Gema menoyor kepala Noah. “Otakmu sudah konslet rupanya ***.” Dia menoyor kepala Noah lagi. “Terang, kan?” Noah memicingkan matanya. “Ini semua karena gadis berpakaian kuning menyala yang sudah menyita perhatian sejak semester lalu.” Noah memicingkan mata, tapi Gema terlalu cerdik. “Kuharap itu jawaban ‘iya’. Apa yang terjadi?”


Noah duduk di teras depan kosnya. Dia menyeruput minumannya hingga menyisakan suara ‘srooot srooot’ begitu keras. Dia meremas gelas plastik sisa jusnya. “Ayahnya menikah dengan nyokap gue.”


Gema terdiam sesaat. “Nyokap?”


“Mamiku.”


“Serius?” mata Gema membelalak. Dia menutup mulutnya. “Ini nggak bercanda tho, Le?” Noah tak menjawab. Lalu Gema berkata, ”Aku jadi paham mengapa dua minggu ini kowe jadi orang gila.”


Noah menceritakan apa yang terjadi. Kalimat pertama yang ia ucapkan adalah ‘Aku mencintainya. Aku menemukan hidupku.’ Kemudian disusul dengan semua detail tentang perasaannya. Bahwa dari semua wanita yang telah ia temui di Teknik Industri, Terang adalah satu-satunya yang bisa membuatnya ingin pergi ke kampus. Noah seperti menemukan nyawa. “Dia bikin gue melayang. Lo pernah jatuh cinta, kan? Ini benar-benar gila. Gue belum pernah merasakannya.”


Noah lalu melanjutkan ceritanya, peristiwa di rumah sakit. Ia berkata, “Saat itu, gue benar-benar merasakan dua hal sekaligus. Gue jatuh cinta, tetapi gue juga benci ayahnya. Ayahnya merebut semuanya dari gue, tetapi puterinya telah membuat hidup gue kembali.”


“Kowe kecewa?”


“Tentu.”


“Mau mendengarkan apa pesan ayahku saat ulang tahun tujuh belasku?”


Noah ragu untuk mengangguk.


“Ayahku masih menganut ajaran bahwa kedewasaan seseorang dimulai saat berumur 17 tahun. Jadi, beliau terang-terangan mengijinkanku untuk nonton bokep malam itu. Walaupun kamu tahulah, kita sudah nonton dari SMP. Kamu pasti juga seperti itu. Atau jangan-jangan sejak SD?” Gema tertawa. Lanjutnya, “Kata beliau, aku boleh jatuh cinta atau berpacaran. Saat itu aku memang sedang mencintai teman SMA-ku, namun aku ndak pernah punya keberanian mengatakannya. Teman SMA-ku itu wanita tercantik dan orang berada, sementara ayahku hanyalah petani di daerah Gresik dan ibuku penjual jamu di pasar. Ayahku kemudian tahu kalau aku mencintai wanita itu karena melihat foto cewek itu ada wallpaper komputerku.”


“Dia melarangnya?”


Gema tertawa. “Tentu saja dia mendukung puteranya yang tampan ini.” Gema menempuk-nepuk dadanya. “Tapi aku takut, aku takut kalau aku akan ditolak karena status keluarga kami yang tidak setara dengannya. Aku kemudian bercerita pada ayah. Bisa tebak apa yang beliau katakan padaku?”


Noah menggeleng kecil sambil menyimpan senyum mengejek.


Gema mengubah mimik wajahnya, terlihat serius. “Beliau berkata ‘Saat kamu mencintai seseorang, jangan pernah memikirkan kepentingan-kepentingan orang lain. Cintailah dia karena dia, bukan karena kepentingan orang lain atau keadaan. Jangan sampai apa dan siapa mematahkan cintamu, kecuali DIA yang menciptakan cinta itu yang kemudian menghilangkannya’. Setelah mendengar itu, aku menembak teman SMA-ku itu.”


“Diterima?”


“Tentu saja ditolak.” Gema tertawa. “Tapi setidaknya aku sudah memberanikan diri untuk bilang, apapun hasilnya aku sangat lega.” Gema tersenyum kecil. “Tapi....” Dia menggantung kalimatnya, lalu ia melanjutkannya sambil menepuk pundak Noah. “...aku berpikir ayahku benar.”


Langit sore telah berubah hitam warnanya.


Gema berdiri dari duduknya. “Aku balik dulu, sudah mau maghrib ternyata. Kamu mau ikut nge-games ke 00.01? Aku kira kamu akan sendirian di kamar karena Maleo sedang ‘menipu’ adik angkatan dengan wajah manis dan kata puitisnya itu.”


“Malam ini?” tanya Noah. Gema mengangguk. Noah akhirnya menyetujuinya. “Kalo besok aku skip dulu.”


Gema mengangguk-anggukkan kepala. “Baiklah kalau besok kamu ada kegiatan. Jangan sampai aku mendengar ada berita seorang mahasiswa gantung diri karena sedang ada masalah hati.” Dia tertawa. “Oh iya, kamu jadi pindah ke kos ini lagi?”


Noah mengangguk. “Beberapa barang sudah kupindah, tinggal beberapa. Besok kuambil.”


“Sudah bilang sama Terang?”


Noah menggeleng. “Aku bakal menjauh bentar buat berpikir.”


“Lalu siapa yang bakal ngajarin kamu ujian akhir semester ini?”


“Ada sahabat-sahabat baikku, Gema dan Maleo.” Dia merangkul pundak Gema.


“Maleo? Kukira dia justru akan mengajarimu jurus untuk merayu wanita.”


“Bukankah itu yang kubutuhkan sekarang?”


# # #


 


 


Kayla tidak pernah menyukai band indie itu. Namun, ia setia menemani Terang untuk menonton meskipun selama pertunjukan keduanya tak satu pun tahu lirik-lirik lagunya. Kayla justru membaca novel tebal yang sengaja ia bawa. Terang tak peduli.


Ia hanya peduli dengan Satria ‘Iyo’ yang dengan semangat mengajaknya bernyanyi. Ia bernyanyi tanpa henti, seolah ingin mengusir hawa-hawa yang kurang mengenakkan di hatinya. Jadi ia bernyanyi keras-keras, mengeluarkan energi negatif yang selama beberapa hari ini menyergap.


Pukul setengah sepuluh keduanya sudah keluar dari kawasan Kota Baru dan menuju angkringan Kali Code untuk mengobrol dan memesan wedhang ronde. Angkringan yang terletak di pinggiran Kali Code itu mulai ramai saat menuju tengah malam.


Terang tak membahas konser tadi karena ia tahu Kayla tak menyukainya. Kayla justru bercerita tentang novel yang ia baca dan drama korea terbaru. “Kamu nggak mendengarkanku?” tanya Kayla saat menyadari Terang justru melamun di tempatnya. “Aish, percuma saja dari tadi aku menceritakan ini semua.” Kayla pura-pura cemberut. “Mikirin apa sih?”


Terang menggeleng.


“Aku baru kenal kamu hampir dua tahun, tapi aku sudah mulai paham kebiasaan seorang Terang Azzahra yang nggak bisa diam. Kamu itu orang yang nggak pernah bisa menyembunyikan perasaanmu, Zahra.” Kayla menatap Terang sambil memicingkan matanya. “Noah, right?”


Kali ini Terang mengangguk. Lalu dia menceritakan semua detail yang ia sembunyikan di dalam gua hatinya berhari-hari. Kali ini, gua itu meledak karena bom atom berkekuatan sedang namun cukup menghancurkan dinding-dindingnya.


“Astaga Terang, kamu jatuh cinta?” tanya Kayla, tangannya menutup mulut. “Dan...kamu kecewa karena mengetahui Noah sekarang memiliki hubungan dengan ayahmu?”


“Aku nggak tahu apa yang kurasakan. Tapi, ada sesuatu yang menyumbat hatiku.”


“Kamu sudah bicara sama Noah?”


Terang menggeleng. “Kemarin aku pengen nyelesain ini semua. Aku datang menemuinya, dia sedang dalam keadaan sangat buruk. Sangat buruk.” Terang mengambil nafas. “Dia seperti mendekam di dalam gua, nggak pernah keluar dari kamar kos Maleo, dan dia mulai berbicara yang aneh. Dia mencengkeram bahuku, dan itu sakit.”


“Dia juga kecewa.”


“Tapi tak seharusnya ia melakukan itu.”


“Coba dengarkan aku,” Kayla memutar pundak Terang agar lurus terhadapnya. “Kamu ingat dengan Agung?”


“Agung Arsitektur?” tanya Terang lirih. Kayla mengangguk. “Bagaimana aku bisa lupa dengan laki-laki ala Korea itu yang berhasil membuat seorang Kayla menangis tujuh hari tujuh malam. Kamu selalu bertengkar dengannya di awal semester.”


“Ya, dulu aku seperti itu. Tapi tunggu dulu, aku nggak menangis tujuh hari tujuh malam ya. Enak aja. Cukup sehari, dan aku akan lupa saat sudah ada drama Korea dan juga novel terbaru. Aku akan lupa secepat itu, percayalah. Tapi aku yakin, kamu nggak bisa seperti itu.” Kayla tersenyum lebar. “Poinnya adalah ketika dulu aku sering bertengkar dengan Agung, aku selalu membiarkannya masuk ke dalam gua untuk berpikir. Aku benar-benar membiarkannya karena aku tahu dia akan kembali. Karena ketika aku mencoba masuk ke guanya, dia justru memberontak. Saat dia keluar, aku akan menyambutnya dengan senyum. Kami bicara setelah itu, lalu kami berbaikan.” Dia menghela nafas. “Iya, aku tahu nasihat ini buruk karena aku sudah putus darinya.”


“Tidak, itu benar.”


“Aku tidak tahu, apakah kamu sekarang cinta Noah atau nggak. Tapi, aku tahu ada rasa kecewa dalam dirimu yang membuatmu marah. Tapi, saat Noah masuk ke dalam guanya dan kamu justru menambah rasa bersalahnya, itu sangat fatal. Dia pasti akan menarik diri dalam lingkaranmu.”


“Aku hanya marah dengan diriku sendiri dan keadaan.”


“Begitulah kita, selalu menyalahkan dirinya sendiri dan keadaan. Dan orang-orang seperti Agung, atau Noah, atau semua makhluk berburung satu di dunia ini, tidak akan pernah suka jika mereka diminta untuk membaca pikiran kita, Gadis Kecil.”


“Jadi?”


“Bicaralah baik-baik.”


Dua orang pengamen—Terang yakin mereka adalah mahasiswa—menyanyikan lagu Yogyakarta-nya Kla Project di angkringan paling ujung, tetapi suaranya tetap kedengaran hingga ke tempat Terang. Harum sate usus yang dibakar tercium, bercampur dengan kopi dan asap rokok.


“Kamu mencintainya?” tanya Kayla. Terang mengangkat bahu. “Jadi, ini bukan Janaka?”


“Apa maksudnya?”


“Yang kamu sukai? “


Terang terdiam .”Aku belum menentukan pilihan.”


“Tapi bukan Janaka, kan?”


“Dia tidak pernah bilang kepadaku, bagaimana aku bisa tahu?” Terang sedikit kesal dengan pertanyaan itu. Satu masalah belum selesai, ia tak ingin memikirkan masalah yang lain.


# # #