
Delapan hari setelah kepergian Noah, Terang masih ada di kamarnya. Dia hanya keluar untuk kuliah atau jika Pak Andi sedang memanggil karena ada kerjaan. Dia bahkan meminta temannya untuk menggantikan mengajar di LBB. Noah menghilang. Kali ini, tidak lagi terperosok di dasar sumur, namun tenggelam di dasar samudera saat Santiago mencari ikan. Tak ada yang tahu. Maleo dan Gema tak bisa memberi jawaban yang menggembirakan. Di hari kesembilan setelah kepergian Noah, Terang menemui Permata.
Permata ternyata gadis yang menyenangkan. Mereka bertemu di kantin UGM di Bulaksumur, di samping Radio Swaragama. Kantin itu berupa tenda-tenda semi permanen.
“Dia selalu menceritakanmu.” Begitu kalimat yang Permata ulang-ulang ketika ia menceritakan Noah. “Aku iri padamu.” Inilah kalimat kedua yang ia ucapkan beberapa kali.
Permata menjelaskan tentang penyakit Noah yang kemungkinan sembuhnya sangat sedikit. “Untuk saat ini, dia benar-benar hanya membutuhkan keajaiban, Terang.”
Terang semakin tak ingin bertemu siapa-siapa.
Bunda cukup khawatir dengan keadaan puterinya. Beberapa kali dia masuk ke kamar Terang, dan Terang masih melakukan hal yang sama. Tidur dengan bantal yang membenamkan kepalanya.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Bunda suatu sore melihat Terang yang hanya mendekam di kamarnya. Terang mengangguk. Lanjut Bunda, “Mau Bunda buatkan susu hangat?”
Terang menggeleng. “Aku hanya ingin mendengarkan musik.” Lalu dia memasng earphone-nya. Hanya ada satu lagu yang ia dengar. Kosong. Itu yang menggambarkan perasaannya saat ini.
Kayla datang, tapi juga tak memberikan efek apa-apa. Ketika sebulan Noah tidak lagi ke kampus dan tidak bisa dihubungi, Terang terpaksa menarik nafas panjang, lalu membuang mp3-nya ke kolong tempat tidur karena lagunya Kosong justru mengingatkannya pada Noah. Ia kembali kuliah dengan senyum, meskipun sedikit sekali.
Suatu malam dia menginap di rumah Kayla. Bunda yang meminta karena khawatir dengan keadaan Terang. “Kamu mungkin membutuhkan teman mengobrol.” Meskipun Terang sendiri tahu, menginap di Kayla tidak akan mengubah apa-apa. Tapi ia tetap melakukannya.
Kamar Kayla sangatlah berbeda dengan kamarnya. Untuk keadaan yang sedang tidak normal seperti sekarang, Terang merasakan kedamaian dalam kamar itu. Ketika kali pertama masuk, hidung Terang langsung disambut oleh wangi aroma vanila. Lampunya sedikit temaram berwarna kuning. Kasurnya empuk ditutupi oleh selimut berwarna biru muda. Di belakang tempat tidurnya ada gambar sebelas pria korea dengan pakaian super modis. Terang tak satu pun mengenal orang-orang itu.
Kayla sedang tiduran di kasur sambil menikmati novel. Terang meminjam laptop untuk browsing-browsing tidak jelas. Dia sedang tidak ingin membaca apa pun, jadi dia membuka Facebook. Di home sedang banyak status-status yang tak ingin ia baca, jadi dia memilih untuk mencari nama Noah, lalu pergi ke dinding halamannya.
Noah sudah lama tidak mengupdate dinding Facebooknya. Terakhir yang ia post adalah gambar foto seorang bapak-bapak yang sedang mengendarai sepeda di nol kilometer. Foto yang diambil saat liburan bersama Terang dan Mussa. Foto itu dibanjiri oleh komentar-komentar. Noah hanya membalas dengan satu kalimat pendek ‘terima kasih’.
Terang tak menemukan Noah memasang status apa pun. Yang ia temui hanya pertanyaan Maleo di dinding paling atas. Hi Man, where are u. Nomer lo ganti, Bro? Tak ada balasan. Terang menelan ludah. Semua orang kehilangan Noah, tak hanya dirinya. Ia memang sempat menanyakan kabar Noah pada Gema, tapi pria Surabaya itu juga tidak tahu.
Tanda notifikasi Facebook menyala merah, ada seseorang yang meminta Terang menambahkannya ke dalam daftar pertemanan. Gadis itu mengklik notifikasi, halaman Facebook langsung berpindah ke halaman dinding peminta pertemanan. Nama Mussa Mahasura Saverio ada di sana. Terang mengeklik tombol terima. Saat muncul pemberitahuan bahwa mereka sudah berteman, ada chat dari Mussa. Setelah berbasa-basi tentang mengapa Mussa bisa menemukan Facebooknya—dia menemukan dari Facebook Noah—Terang tak tahan untuk bertanya pada adik-nya itu.
Dia baik-baik saja. Begitu kata adik-nya. Untuk ukuran anak yang berumur sepuluh tahun, dia sudah pandai untuk diajak kongkalikong.
Mussa si Jenius : Seminggu sekali aku ke rumah Kakek di Bogor. Kak Mussa menginginkan tinggal di sana.
Terang Seterang Matahari : Kapan dia berobat?
Mussa si Jenius : Mami telah menyiapkan semuanya, dokter terbaik, perawat terbaik, dan semuanya. Mami sibuk, papi juga. Tapi mereka datang tiga hari sekali, oh tidak kadang lebih.
Terang Seterang Matahari : Apakah dia baik-baik saja?
Mussa si Jenius : Kak Noah seperti biasa, suka menyendiri. Tapi dia baik-baik saja. Aku selalu main games dengannya setiap datang. Di kamarnya penuh dengan komputer.
Terang Seterang Matahari : Komputer?
Terang Seterang Matahari : belum.
Mussa si Jenius : Aku belum berhasil mencuri alamat blognya.
Terang Seterang Matahari : Apa lagi yang sering ia lakukan?”
Mussa lama tidak membalas chat Terang.
Mussa si Jenius : Sorry. Aku dari toilet.
Mussa si Jenius : Dia suka skype-an dengan teman-temannya.
Terang Seterang Matahari : Mussa, apakah kamu punya ID Skype?
Mussa si Jenius : Tentu saja. Mussa si Jenius.
# # #
Akhir pekan, Terang sudah janjian dengan Mussa untuk skype-an. Tidak ada rencana apa-apa. Terang hanya ingin mengobrol dengan Noah. Di dadanya sudah membuncah perasaan rindu. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan. Tentang kuliah, kegiatannya bersama Pak Andi, balasan email dari Mas Satria yang panjang tentang cerita-ceritanya selama ada di Atlanta, tentang Praktikum yang tinggal beberapa pertemuan, info konser Pure Saturday di Jogja, juga tentang dirinya yang telah membaca ‘The Old Man and The Sea’—dan ia menyukainya. Terang ingin menceritakan itu semua.
Terang Seterang Matahari : Kamu sudah bilang bahwa aku ingin berbicara dengannya.
Mussa si Jenius : Iya, tapi dia menolak.
# # #