MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 7



Noah mendorong pintu besi yang ada tempelan kertas berlaminating dengan tulisan ‘Masih Ada Kamar’. Vespanya memasuki gerbang pintu kos itu yang hanya muat untuk satu motor. Setelah berhasil masuk, Noah melihat delapan pintu kamar kos yang saling berhadapan. Di sisi kanan ada empat pintu, sementara di sisi kiri empat pintu. Mereka dipisahkan oleh parkiran motor tanpa atap. Di depan masing-masing pintu, terlihat baju-baju yang dijemur oleh pemiliknya, menggantung, menari-nari diayun oleh angin sore yang mulai kencang. Hidungnya mencium pewangi pakaian yang bercampur dengan bau tanah. Di kamar paling ujung, ada satu pintu lagi. Entah itu kamar kosan atau apa. Noah berpikir bahwa itu adalah kamar penjaganya. Di sebelahnya, ada bangunan rumah dua lantai menyendiri. Ada gerbang yang membatasi antara komplek kosan dengan halaman belakang rumah itu.


Vespa Noah parkir di depan pintu bertulis ‘Dunia Gema’. Di depan pintu sudah berserak sepatu-sepatu lusuh lengkap dengan kaus kaki yang sudah tidak berwarna putih. Kini ia dipaksa mencium bau sepatu itu yang membuatnya ingin segera masuk ke kamar. Kamar itu lebih sempit dari perkiraannya. Cukup untuk satu kasur satu orang di lantai, almari kecil, dan meja TV. Ada galon air di pojok ruangan belum terbuka.


“Akhirnya datang juga, Noah. Kupikir ndak bakal ke sini karena mendung.” Gema berseru dari balik laptopnya. Kulitnya tampak mengkilap terkena sinar dari luar saat Noah membuka pintu.


Noah tak menanggapi. Ia segera bergabung dengan tiga temannya yang lain. Masing-masing telah sibuk dengan tugas masing-masing. Bu Rini memberi tugas untuk membaca paper bahasa inggris, kemudian paper itu dibuat presentasi. Setiap kelompok terdiri dari lima orang sesuai yang telah ditentukan asisten dosen. Kelompok Noah dipimpin oleh Gema dan mendapatkan paper berjudul Usability.


Dari lima orang, mungkin hanya Gema dan Arifin yang bekerja. Mereka membaca, lalu menerjemahkan, dan terakhir Gerry akan mengetik dan membahasakan ulang. Noah sendiri berharap dia mendapatkan tugas yang lebih mudah. Misalnya, dia cukup menyediakan laptop dan mencetak tugas sebelum dikumpul. Tetapi tugas itu sudah diambil oleh Maleo.


“Noah, lo kan jago urusan editing ya. Kemampuan artistik seorang fotografer dan editor foto pastilah bagus. Jadi, lo pasti jago dong bikin presentasi,” kata Gerry kepada Noah.


Yang lain mengamininya. Dengan suaranya yang lantang dan kasar, Gema meminta Noah membuat presentasi. Noah pasrah tak bisa membantah.


“Noah, aku baru inget kalau kamu bisa motret. Ah, kebetulan sekali. Panitia Ultah TI lagi kekurangan personel fotografer. Janaka, ketuane, minta tolong aku buat nyari personel. Kamu bisa bantu ndak?” tanya Gema.


“Nggak, gue nggak jago. Pasti yang lain banyak yang lebih jago,” bantah Noah.


Gema merangkul pundak Noah. “Ah, ngerendah kamu. Kamu pikir kamu bisa nipu kami, Noah? Aku pernah ngelihat hasil fotomu, dan kamu selalu membawa kamera di tasmu. Jadi, kamu pasti bisa motret.” Gema mengerlingkan mata.


“Nggak, lo salah. Gue nggak jago.”


“Hanya motret, Noah. Fotografer pasti suka jika diminta motret.” Gema mencoba meyakinkan.


“Gue amatir.”


Maleo sebagai teman SMA Noah angkat bicara. “Kalian tahu nggak sih, Noah itu masuk ke UGM gara-gara menang lomba foto,” kata Maleo. Yang lain menggelengkan kepada. Dia mengambil laptop berlogo apel dari tangan Noah. “Ini lihat...” Dia memperlihatkan wallpaper laptop itu ke teman-teman yang lain. Sebuah foto hitam putih dengan tulisan Noah di pojokkan. “Kalian pikir ini foto nggak keren? Ini keren.”


“Itu keren,” kata Gema meyakinkan. “Bukankah itu keren?” tanya Gema, melirik ke yang lain.


Lanjut Maleo, “Noah dapat penghargaan di Jepang. Best Human Interest Photography di pameran fotografi internasional. Jadinya dia bisa dapat tiket masuk ke kelas A di Teknik Industri UGM. Dia nggak mungkin kan masuk kelas C, bareng anak UM atau SNMPTN?”


“Lo terlalu banyak omong, Playboy.” Noah menoyor kepala Maleo. Tapi dalam hati dia membenarkan perkataan Maleo. Noah tak mungkin masuk kelas B karena semua orang di sana adalah 50 orang terpilih yang mengikuti Ujian Masuk. Mungkin dari 5000 orang peminat. Kelas A dihuni orang-orang yang datang karena undangan dari universitas. Kebanyakan karena mereka 10 besar di SMA, dan menang kejuaraan seni, olahraga, atau keilmuan. Meskipun ia selalu bilang pada maminya, bahwa ia masuk karena ikut tes khusus.


Maleo tersenyum. “Ini adalah masterpiece.” Maleo mengangkat laptop Noah. “Gimana kalo kita jual, itu akan jadi duit.” Semua orang menoyor kepala Maleo yang selalu memikirkan keuntungan.


Noah tidak bisa membantah akhirnya. “Tapi ada satu syarat,” kata Noah. Semua mata menatapnya. “Jangan pernah nyebut lomba foto itu lagi, atau menyinggungnya. Itu sudah lama, dan  gue udah lupa.”


Semua setuju.


Langit bergemuruh. Hujan tumpah dari mendung yang bergerombol. Airnya menghitamkan tanah dan berloncatan berwarna cokelat. Suara hujan terdengar bersahutan, tampias airnya menembus kamar Gema. Gema terpaksa menutup pintu kamar, membuat ruangan kecil itu menjadi seperti gua bercahaya putih dari laptop. Noah bertugas mengumpulkan sepatu-sepatu di luar, menyelamatkannya dari hujan yang menggila sore itu.


“Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan kamarku?” teriak seorang gadis dari kejauhan. Suaranya nyaring dan masih bisa mengalahkan hujan.


Noah menoleh dan melihat seorang lelaki seumuran suami maminya berlari, keluar dari gerbang rumah dua lantai. Dia membawa payung menuju warung burjo.


“Kenapa bisa bocor kayak gini, sih?” suara gadis itu terdengar lagi.


Noah berdiri, kepalanya  seperti angsa yang sedang mencari sesuatu. Di sana ia melihatnya. Terang sedang berusaha menyelamatkan benda-benda di rumahnya dari air yang memaksa masuk karena genteng yang bocor. Rambutnya sudah basah, lembek, dan tidak mengembang. Baru kali ini, Noah melihat rambut itu tidak dikuncir seperti biasanya. Gadis itu terlihat sangat heboh, ia panik tapi kadang-kadang menjerit tertawa.


Noah mengamati dari jauh, tak ada niat untuk berlari dan membantu. Langit semakin ganas menumpahkan air. Lelaki yang tadi membawa payung kembali lagi, kali ini bersama seorang ibu-ibu. Mereka berlari menuju kamar Terang. Terang masih terlihat sibuk menyelamatkan benda-benda di kamarnya. Kadang ia tertawa, kadang menjerit.


Noah menarik nafas, kembali ke kamar Gema. Menutup perlahan pintu kamar.


Sore itu, untuk kedua kalinya Noah tersenyum melihat Terang setelah kejadian menyanyi di toilet waktu itu. Meskipun saat ia melihatnya, ada bekas luka di hatinya yang sedikit membuka.


# # #


 


 


Terang pasrah duduk lemas di depan rumah. Hujan telah reda dan menyisakan genangan di rumah kecilnya. Tidak ada lagi suara bertabrakan antara air dan genteng.


“Ini sangat buruk,” ia berucap, pasrah. Kulitnya membeku. “Mungkin aku harus nyanyi biar air ini nggak masuk ke rumah.”


Kursi sofa yang sudah terlihat busa cokelatnya tampak basah. Air terus menetes dan ditampung di ember berwarna biru di tengah ruangan. Kamarnya lebih buruk. Ia mungkin tak akan bisa tidur malam ini karena kasurnya basah. Ia yakin tidak akan berubah kering meskipun telah dijemur dua hari. Susah payah, Terang mengepel lantai dengan kain-kain bekas yang masih kering.


Bunda dibantu oleh Lik Halim sedang membersihkan warung yang juga tergenang air. Beberapa alat masaknya basah.


Sore itu benar-benar kacau. Di depan rumah, tepat di tali jemuran pakaian, membentang kertas A0 dan beberapa kertas A3. Kertas-kertas itu telah berubah. Setengah mencair. Air terus menetes, berwarna hitam. Gambar di atasnya sudah tidak lagi terlihat. Tintanya mengekor seperti Sungai Ciliwung yang menghitam.


Terang melihat tugas menggambar tekniknya yang harus dikumpulkan minggu depan dengan nanar. Tugas itu ia kerjakan dengan sepenuh hati setiap sore di KPTU bersama Kayla, sebelum ia mengajar di LBB. Ia menggambarnya dengan teliti satu persatu. Ada 5 tugas di kertas A3 yang harus digambar manual, dan tugas menggambar di program komputer yang harus dicetak di kertas A0.


Tugasnya baru selesai kemarin, dan ia baru saja mencetakknya di kertas A0. Ia meletakkannya di meja belajar. Terang tak pernah menyangka bahwa hujan akan menembus kamarnya sore ini. Airnya menghanyutkan gambar tekniknya. Juga peralatan gambarnya yang ia beli dengan susah payah, menyisihkan gaji mengajarnya.


“Ada yang bisa kubantu?”


Terang mendongak. Hidungnya yang kecil dan panjang tampak mengembang. Pipinya yang berjerawat tampak basah dan memerah.


“Sepertinya ini buruk.” Bara memegang kertas tugas Menggambar Teknik yang basah. “Dulu aku seminggu ngerjain ini. Bahkan sempat ngulang dua kali. Tapi aku sangat puas karena bisa dapat nilai A untuk 4 SKS itu. Ini tugas mid semester, kan? Kamu harus tahu bahwa tugas akhir semester nanti lebih gila.” Bara tampak berapi-api menceritakan tugasnya dulu waktu Semester 2. “Jadi kupikir, ini buruk. Kamu harus mengulangnya?”


Terang tak menjawab. Ia berpikir bahwa lelaki di depannya kini semakin menambah suasana buruk sore ini.


“Sepertinya Mas Bara ke sini untuk membantuku, bukan untuk menambah penderitaanku, kan?” sidir Terang.


“Tentu saja. Ada yang bisa kubantu?” tanya Bara dengan mata berbinar, seperti mata ikan mas koi yang hendak keluar dari kelopaknya.


Terang menarik nafas panjang, ia bangkit berdiri. Mengapa harus ada dia di saat suasana sedang menyebalkan seperti sekarang. “Mas Bara bisa bantu dengan pergi dari sini. Aku benar-benar sedang ingin sendirian.”


# # #


 


 


Noah merapatkan tubuhnya di dinding kamar mandi. Hujan membuat kantung kemihnya penuh. Terpaksa ia menerobos hujan. Ternyata toilet ada di sebelah kamar Terang.


Noah mendengar langkah Terang keluar dari kamarnya setelah berhasil mengusir Bara. Gadis itu keluar dari gerbang pintu menuju warung burjo.


Noah terpekur. Hati-hati ia keluar dari kamar mandi. Pandangan matanya berhenti pada kertas lebar yang menari-nari. Lalu beralih pada peralatan gambar yang masih basah di lantai. Beberapa tipe pensil dari 4H, 2H, HB, 2B tergeletak begitu saja. Ujungnya sudah tumpul. Penggaris beberapa ukuran. Kertas gambar A3 yang sudah kotor karena air.


Heh, gadis bodoh. Harusnya kamu membeli Tabung Gambar untuk menyimpan tugasmu.


# # #


 


 


Sehari kemudian. Terang menemukan kotak plastik kedap air berisi peralatan gambar yang lengkap dan beberapa peralatan lain. Kotak itu dibungkus tas kertas warna hitam dan menggelantung di sepedanya di parkiran kampus.


Peralatan gambarnya benar-benar lengkap. Ia tak hanya menemukan pensil gambar berbagai jenis, tetapi juga Drawing Pen dari ukuran 0.03 hingga 0.7, pensil warna, penggaris berbagai bentuk; 30 cm, 15 cm, penggaris siku, penghapus, peraut pensil, pensil mekanik lengkap dengan isinya dari berbagai merek, sketchbook ukuran A3, dan tabung gambar.


Terang melihat ke kiri dan ke kanan. Mushola kampus masih ramai, beberapa mahasiswa tampak duduk di meja batu alam berwarna hitam. Di depan papan mading bergerombol mahasiswa lain, tertawa lepas. Salah satunya adalah Bara. Saraf ingatannya tersambung cepat. Sore kemarin. Bara. Hujan. Dan peralatan gambarnya.


Tanpa perlu berpikir apapun, Terang berjalan ke arah Bara. “Mas Bara salah naruh barang di sepedaku.” Terang menyodorkan tas hitam di tangannya ke arah Bara. Bara melihat dengan tatapan menyelidik. Alisnya naik ke atas.


“Apa maksudnya, Terang? Apa ini?”


Terang meraih tangan Bara dan menyerahkan kertas hitam kepadanya. “Peralatan gambarku masih bisa digunakan. Mas Bara ndak perlu membelikannya seperti ini.” Terang menyunggingkan senyumnya. “Tapi, terima kasih. Aku terharu.”


# # #


 


 


Di atas vespanya, Noah melihat Terang berjalan menuju papan mading. Langkahnya lebar. Tangan Terang memegang tas hitam berisi peralatan gambar dan memberikannya pada Bara. Noah yang memberikan tas itu.


Sepulang dari tempat Gema kemarin, Noah mengendarai vespanya seorang diri ke bundaran UGM. Suasana malam sehabis hujan tampak menentramkan. Noah menyandarkan vespanya di dekat bunderan. Tangannya sibuk memotret. Ia berpikir bahwa dengan melakukan hal yang ia suka ia bisa melupakan gambaran keadaan Terang sore tadi. Namun ternyata tidak.


Gadis itu begitu sangat kehilangan peralatan gambarnya. Tanpa pikir panjang, ia memasukkan kameranya ke dalam tas, mengendarai vespanya ke Jalan Sudirman menuju Toko Gramedia. Ia memasukkan peralatan gambar terbaik dan terlengkap ke tas belanjaan. Menyerahkannya kepada kasir dan membayangkan Terang akan tersenyum senang ketika menerimanya.


Noah lupa berpikir bahwa Terang bisa saja membuangnya karena ia merasa tak memiliki alat gambar itu. Atau menyerahkan pada orang yang salah.


Noah membuang muka, lalu menjalankan vespanya keluar dari parkiran JTMI.


# # #