
Saat mata kuliah Pengantar Ergonomi Industri di minggu berikutnya, Noah duduk sebaris dengan Terang di belakang. Gadis itu berjarak lima kursi dengannya. Bu Rini di depan sedang menerangkan tentang peranan ergonomi di perusahaan. Noah tidak ingin mendengarkan, tentu saja. Dia juga sudah bosan memainkan PSP-nya. Jadi iseng dia memperhatikan Terang yang sejak tadi terkantuk-kantuk di mejanya.
Noah melihat Terang menguap. Sepuluh kali, Noah menghitungnya. Mata gadis itu seperti berair. Menurut Noah, tatapan gadis itu kosong. Pasti pikiran gadis itu sedang tidak ada di sini, bisa saja sedang menari-nari di langit. Saat masuk tadi, gadis itu tampak bersemangat mengobrol dengan teman di sebelahnya. Namun saat kelas dimulai, Terang justru seperti orang yang sedang tidak bergairah.
Noah melihat wajah gadis itu yang berkulit lembut. Bukan jenis kulit yang putih, namun perpaduan antara putih dan cokelat yang terlihat bersih meskipun sedikit berjerawat. Bulu matanya yang lentik menutupi matanya yang sendu.
Noah beberapa kali melihat gadis itu menguap dan seperti tidak konsentrasi. Noah beranggapan gadis itu tidak memperhatikan apa yang dibicarakan oleh dosen-dosen di depan. Namun ternyata anggapannya keliru. Suatu kali, Pak Bagyo, guru pengantar Teknik Industri yang tidak bisa diajak kompromi untuk urusan tugas kuliah, melempar satu pertanyaan kecil.
“Bisakah kalian menggambarkan keberadaan Teknik Industri di hadapan ilmu lainnya?”
Beberapa orang mulai berargumen sendiri-sendiri. Pak Bagyo hanya mengucap kata ‘kurang sedikit lagi’, atau ‘penjelasanmu cukup bagus, tapi bukan itu’. Belum ada yang bisa menjadi air manis pembuka puasa bapak dosen.
Setelah tidak ada siapa pun yang berbicara, Terang mengangkat tangan. Noah yang kebetulan satu baris di sampingnya ikutan menoleh saat Pak Bagyo memanggil nama Terang.
“Program studi Teknik Industri itu sangat unik. Digambarkan dengan unik pula. Ada sebuah wadah yang berisi bola-bola program studi atau jurusan. Ada bola teknik elektro, bola teknik mesin, ekonomi, psikologi, manajemen, dan bola-bola lainnya. Bola-bola itu mengisi wadah yang diibaratkan sebagai sebuah universitas. Taukah kalian di mana Teknik Industri berada? Teknik Industri adalah udaranya,” ucap Terang. Nada suaranya jelas, senyum mengembang di bibir, seolah sejak awal dia terus memberi perhatian pada Pak Bagyo.
Pak Bagyo tersenyum kecil. Sepertinya ia tak hanya menemukan es teh manis, namun sup buah dengan sirup warna merah untuk buka puasa. Lanjut Terang, “Saya membaca Industrial Engineering: Introduction di perpustakaan.”
“Itu buku cetakan lama, penjelasannya ada di halaman 15. Hanya ada satu di perpustakaan kita. Kurasa kamu membacanya dengan baik.”
Noah mendengus. Dia mengantuk, tapi tetap bisa konsentrasi. Sementara dirinya, dia sedikitpun tidak berminat untuk mengetahui Peranan Teknik Industri di Indonesia. Atau dengan sangat pintarnya membaca Industrial Engineering: Introduction.
Dan barusan, dia melakukan hal yang sama. Bu Rini bertanya, dan dia menjawab dengan suara tenang.
“Tepat sekali,” kata Bu Rini.
Noah memandangnya heran.
Tadi Noah melihat di papan mading bahwa nilai paper Terang mendekati sempurna, 97. Sementara dirinya hanya menerima angka 62 untuk upah menyalin dan memadupadankan artikel di internet. Cih, mengapa aku jadi peduli apa yang ia dapatkan.
# # #
Setelah kelas Pengantar Teknik Industri, Noah duduk di lobi kampus, menunggu Maleo untuk bermain futsal. Di lobi itu terlihat loket administrasi JTMI—tempat mahasiswa mengambil kartu ujian, membayar, mendaftar wisuda, serta urusan administrasi lain, beberapa bangku panjang yang ditata di tengah lobi.
Kursi-kursi lobi belum menjadi batu nisan di jam lima sore. Masih banyak yang duduk di lantai lobi sambil menghadap layar komputer. Noah pikir mereka mengerjakan tugas, tetapi sebagian besar ternyata bermain facebook (tahun 2008, facebook sedang menjadi social media terkeren saat itu). Ada juga yang hanya duduk sambil menunggu hasil unduhan film.
“Maaf, ini punyamu?” tanya seorang mahasiswi kepada Noah. Mahasiswi itu menunjuk binder di samping Noah. Noah melirik sekilas, melihat stiker nama yang ia kenal. Dia mengangguk, lalu mengambilnya tanpa mengucapkan apa-apa.
Binder itu berisi catatan-catatan kuliah yang rapi. Di halaman pertama, terselip tugas Fisika 1 untuk besok yang telah ditulis dengan rapi. Di kertas bagian atas, tertulis dengan pulpen gel warna hitam pekat nama pemilik tugas dan binder itu : Terang Azzahra.
# # #
“Catatan kuliahku hilang.” Terang menelungkupkan kedua telapak tangannya di muka. Ia pikir hari ini adalah hari paling sial baginya. Pagi tadi ia berangkat dengan rok panjang buatan ibunya seperti biasa. Lagi-lagi rok itu masuk ke rantai sepedanya yang sudah karatan. Rantai itu lepas dan terpaksa ia harus memperbaikinya susah payah.
“Ketinggalan kali di toilet pas tadi kamu ganti baju,” ujar Kayla.
“Nggak mungkin, tadi di kelas masih ada kok. Duh, di mana yah.”
Sesampainya di kampus tadi pagi, Terang menyadari bahwa ia lupa memeriksa tugas-tugas anak didikannya di Lembaga Belajar Bersama (LBB). Alhasil dia duduk selonjoran di lobi kampus untuk memeriksanya. Sepertinya ia meninggalkan bindernya di sana. Terang menutup mulutnya, “Ada tugas Fisika 1 lagi untuk besok.”
“Dan kabar buruknya, aku belum nyalin tugasmu.” Kayla tersenyum jahil. “So, baiknya kita cari contekan, paralel kita cari catatanmu.”
“Aku nggak biasa nyalin tugas. Kamu tahu itu.” Terang menjerit kecil.
“Urgent, Rang.” Kayla meninggikan suaranya. “Atau baiknya kamu nyanyi aja biar bisa ketemu itu catatan,”
“Kamu pikir buku catatanku akan ketemu kalau aku nyanyi.”
“Kamu pikir enggak?”
“Dasar gila.” Keduanya lalu tertawa.
# # #
Stop, sebaiknya kamu jangan menyanyi lagi.
Noah tadi hampir saja masuk ke dalam toilet laki-laki saat mendengar percakapan di toilet perempuan. Suara yang ia kenal. Jadi, dia berhenti. Pintu toilet terbuka dan suara itu menggema sampai keluar. Kaki Noah mengambang di udara. Apakah kamu memang terlahir serba bisa?
Noah mungkin bisa menerima jika Terang cerdas untuk urusan semua mata kuliah. Gadis itu bisa menjawab pertanyaan Bapak Dosen di kelas Bahan Teknik saat ia dengan sial mendapat kesempatan untuk maju ke depan kelas. Tadi dia bisa menyebutkan dengan lengkap teori Ergonomi Industri diajarkan oleh Bu Rini minggu lalu. Noah pikir seorang pun belum menghafalnya, tentu saja.
Tapi menyanyi? Tidak semua orang bisa menyanyi. Tidak semua bisa menempatkan nada dengan baik. Namun Tuhan ternyata adil. Suara Terang benar-benar seperti bisa memecahkan piring-piring yang dibawa oleh Uda-uda di Rumah Makan Padang. Tidak, Noah pikir lebih buruk lagi. Suaranya bisa menyaingi letusan Gunung Merapi, atau membuat tsunami di Samudera Hindia.
Noah tertawa. Seperti memperoleh lotere sore itu. Tidak ada yang sempurna, Gadis Aneh. Ia kemudian menjauh dari toilet.
# # #