
Waktu berlari, seperti rumput lari tertiup angin di sore hari di pinggiran pantai. Mereka berkejaran, tak mempedulikan orang-orang sibuk di sekitarnya. Setengah dari semester lima telah dilalui tanpa jeda waktu untuk mengambil nafas. Terang seperti terkapah-kapah setiap harinya. Kuliah, praktikum, ke ruangan Pak Andi, memeriksa nilai sebagai tugas asdos, pergi ke LBB untuk mengajar. Begitu terus berulang. Untuk pertama kalinya ia menganggap ujian tengah semester sebagai jeda untuknya bernafas dan mengisi tenaga kembali.
Sore ini, Kayla mendatangi rumahnya dan mengajak ke Gramedia. Terang jarang ke Gramedia untuk membeli buku-buku baru. Ia lebih sering pergi ke toko buku bekas di depan SMA 6 atau ke Pasar Beringharjo. Tapi sore ini, Kayla meminta untuk ditemani. Sebenarnya, Terang sangat menyukai saat pergi ke Gramedia di Jalan Sudirman. Toko buku yang berdiri di samping perempatan itu tampak megah diantara bangunan yang lain. Rak-rak buku sudah terlihat dari luar, ditata rapi. Buku-buku tebal yang sangat menggiurkan untuk dilahap. Saat masuk, dia menyukai bau buku baru yang mendadak menyeruak ke hidung. Segala penjuru pandangan terlihat buku-buku tertata rapi. Lalu mereka naik ke lantai dua, Kayla menyepi di deretan novel-novel terbaru. Sementara Terang berkelana dari satu rak ke rak lain.
Kemudian dia melihat Noah. Berdiri dengan sweater tebal pas badan dan warna hitam yang tampak halus jika diraba. Pria itu sedang membaca buku. Ada headset yang melingkar di telinganya. Untuk kali pertama, Terang melihat Noah di toko buku dengan muka yang serius tapi tetap lucu. Bibir merah yang sedikit mengerucut membuatnya tampak jenaka.
Terang hampir saja ingin mendekati Noah. Dia sudah dua langkah ke depan, lalu dia berhenti ketika melihat seorang wanita berambut hitam panjang mendekati Noah. Wanita itu menepuk bahu Noah, kemudian Noah menoleh dan oh tidak...bibir merahnya tampak tersenyum. Terang sebenarnya tak menginginkan bibir itu tersenyum. Namun Noah tersenyum. Mendadak Terang ingin lenyap ke bumi.
Tidak, jangan melihatku. Dada Terang berdentum-dentum keras. Ia terkapai-kapai ke rak buku yang ada di dekatnya, tapi rak itu seakan terasa jauh. Jadi dia memutuskan untuk berbalik. Tidak, aku tak ingin kamu melihatku.
“Terang.” Kayla memanggilnya, suaranya samar terdengar bercampur dengan lagu khas Gramedia. Tapi cukup untuk memanggil Noah agar menoleh.
Kayla mendekat, Terang menutup mata sedikit.
“Terang.” Kali ini suara Noah yang memanggil.
Dada Terang semakin tak karuan bunyinya. Seperti rebana yang dipukul cepat untuk mengakhiri sebuah lagu.
Noah mendekat bersama wanita yang bersamanya. Terang baru melihat bahwa wanita itu lebih putih dari yang ia kira. Saking putihnya, pipinya tampak sedikit memerah. Wanita itu tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih.
“Kenalkan, ini Permata.”
Terang lalu berkata dalam hati, dia memang seperti permata.
Lanjut Noah. “Kamu pernah melihatnya di parkiran. Kamu ingat, kan?”
Tentu saja aku mengingatnya.
Terang kali ini benar-benar ingin terperosok ke dasar sumur yang digambarkan di Norwegian Wood. Dia ingin menghilang, sekarang. Dadanya bergemuruh. Ia membenci suasana ini. Untung Kayla mengakhiri pertemuan dengan cara yang cukup mujarab. “Kita udah beli buku, ingin bayar ke kasir. Kita bisa duluan, ya.”
Terang lalu menarik nafas panjang ketika kakinya menjauh dari Noah. Di depan kasir, Kayla menyenggol lengannya. Terang bertanya, “Apa?”
“Kamu cemburu melihat Noah dengan wanita itu?”
“Enggak. Sama sekali tidak.”
“Aku melihat kamu cemburu.”
“Kamu salah.”
“Sungguh?” tanyanya sambil menyerahkan sejumlah uang ke petugas kasir.
“Tentu saja, Drama Queen.”
“Tapi kulihat kamu cemburu.”
Terang mengutuk Kayla dalam hati. Ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Dia lupa membawa earphone, jadi dia tidak bisa menyumpal telinganya lalu mengenyahkan Kayla & lagu khas Gramedia yang mendadak berisik sore ini.
“Kamu cemburu?”
“Tidak, aku tidak cemburu, Kayla. Sudah berhentilah bertanya kepadaku seperti itu.”
# # #
Noah melirik Terang yang sedang berdiri di depan kasir. Entah apa yang sedang dibicarakan dengan Kayla, tapi gadis itu seperti ingin segera pergi.
“Apakah kamu sudah selesai?” tanya Permata kepada Noah. Gadis itu membuat Noah tersentak kaget. “Kamu sedang melamun rupanya?” dia mengikuti arah mata Noah dan menangkap Terang. “Selesaikanlah, aku akan menunggu.” Dia menoleh ke arah kasir, memandang tubuh Terang. “Aku sungguh nggak percaya akan kalah dengan gadis itu. Kukira kamu hanya akan bertahan denganku.” kata Permata sambil pergi. Lalu dia berhenti dan menoleh ke arah Noah. “Aku menunggu di buku-buku kesehatan, ya.” Tanpa menunggu jawaban Noah, dia kemudian pergi.
Noah mengambil ponsel dari saku jeansnya, lalu menekan angka 9 cukup lama. Dia menunggu sekian detik sampai akhirnya Terang berbicara di seberang. “Apa kamu menungguku menelepon?” tanyanya.
“Apa yang kamu beli?”
“Tidak ada.”
“Jadi, mengapa kamu ke Gramedia?”
“Kayla yang beli.”
“Sungguh, jangan menjawab seperti itu. Noah benci kamu kayak gini.”
“Lalu?”
“Tidak ada lalu, Terang Azzahra. Bersikaplah ceria seperti biasa.”
“Aku harus pergi.”
“Tunggu. Noah hanya ingin bertanya.”
“Baik. Apa?”
“Kamu cemburu?”
Ada jeda beberapa detik, sampai Terang menjawabnya. “Tidak. Sama sekali tidak. Lagian, aku tak berhak.”
“Tak berhak?” Terdengar Noah membuang nafas panjang. “Aku nggak suka kalimat itu.”
“Aku baik.”
“Jadi mengapa kamu bersikap seperti itu.”
“Aku lelah setelah ujian.”
“Tidak, itu bukan kamu. Selelah apapun kamu, kamu akan biasa saja. Kamu tidak cemburu, sungguh?”
“Sudah kubilang tidak. Aku benar-benar nggak berhak. Kayla sudah selesai membayar, aku harus pergi.”
“Baiklah. Ini pertanyaan terakhirku.” Noah menghela nafas pendek. “Akhir pekan, kuharap kamu tidak sibuk. Aku akan menepati janjiku untuk mengajakmu jalan-jalan. Nanti kujemput pukul enam pagi. Tenang saja, aku akan bangun sepagi itu. Aku janji padamu. Peraturannya hanya satu, seperti yang kamu lakukan dulu padaku, kamu nggak boleh banyak bertanya.”
# # #
Kamu cemburu? Mengapa dia bertanya seperti itu? Astaga, dia benar-benar menyebalkan hari ini. Tenang meracau dalam hati.
“Mikirin apa sih?” tanya Kayla sambil memasang helm di kepalanya. “Noah dan Permata lagi, kukira mereka hanya...”
“Tidak ada. Ayo, jalan. Jangan banyak bertanya.”
Kayla tak membantah, lalu menjalankan motornya keluar dari Gramedia.
“Tenang saja, aku akan bangun sepagi itu. Aku janji padamu.” Aku tak peduli, Noah. Aku tak peduli. Lalu apa katanya, aku tak boleh banyak bertanya? Aku tak akan bertanya apa-apa. Mengapa dia mencontohku saat dulu kuajak dia ke Bantul pertama kalinya?
Apa sih cantiknya gadis tadi? Terang mengumpat dalam hati.
# # #