MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 16



“Dan kamu tahu nama lengkapku, Terang Azzahra?”


Seminggu sudah Noah mengatakannya, namun kalimat menjadi permen karet basi yang menempel di sepatu Terang. Selalu ada saat si sepatu melangkah ke mana saja. Terang merasa bahwa ia pun sangat aneh, bagaimana bisa ia mengatakan nama Noah tanpa kelu di lidah.


Maheswara Noah Saverio, kupikir itu nama yang susah. Terang menggelengkan kepala.


Terang menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan lain agar bisa melupakan kalimat pendek itu. Ada kalanya ia bisa melupakan, tetapi layaknya permen karet yang menempel, ia selalu mengingatnya bahwa ada hal mengganjal di sepatunya. Belum lagi kini, Terang sudah terbiasa melihat Noah keluar dari kamarnya hanya mengenakan boxer dengan kaus tanpa lengan.


Noah yang menguap lebar sambil mengangkat kedua tangan dan mempertontonkan ketiaknya yang penuh bulu. Noah dengan rambut—yang sekarang dipotong pendek—acak-acakkan dengan mata yang masih menempel. Noah yang keluar dengan headset masih menggantung di leher setelah semalaman main games, kemudian pergi ke warung burjo untuk membeli mie goreng dan segelas milo hangat ditambah sedikit susu lagi agar manis.


Namun suatu kali, Terang juga pernah melihat Noah keluar dengan rapi. Mengenakan jeans, jaket hitam bergaris putih di depan, dan rambut klimis bergel dan disisir rapi.


Mereka berdua jarang sekali menyapa, karena Terang tak pernah ingin menyapa duluan. Kecuali Noahlah yang sengaja menyapa dengan hal-hal yang tidak penting. Misalnya, dia selalu bilang bahwa Terang selalu tampil sedikit lebih tua ketika mengenakan kain batik lebar yang menutupi seluruh kakinya. Untungnya, Bunda tidak pernah mendengar itu.


Terang merasa Noah seperti selalu ada di ‘lingkarannya’. Bahkan di tempat-tempat yang tak terduga. Hari ini Sabtu, Terang tak ada kegiatan apa-apa sebenarnya. Namun, pagi tadi mendadak Kayla datang dan memintanya untuk menemaninya creambath di salon yang terletak di Jalan Kaliurang. Terang sebenarnya sangat malas, tetapi Kayla janji akan membayarinya juga. Jadi Terang mantap mengiyakan.


“Creambath ya Mbak, berdua,” kata Kayla kepada petugas.


“Oke Mbak Kayla. Kayak biasa, kan? Cokelat?” tanya petugas yang sepertinya sudah hafal dengan permintaan Kayla. “Tapi antri dulu ya Mbak, lagi full. Mas-nya yang itu sudah mau selesai kok,” ujar si petugas sambil menunjuk seorang cowok yang sedang di creambath.


Spontan Kayla dan Terang menoleh. Bertepatan dengan itu, Noah pun menoleh. Mata ketiganya membelalak. Sejam setelah itu, Noah mentraktir Terang dan Kayla makan Mr. Burger sebagai uang tutup mulut.


# # #


Noah seperti langit senja yang berada di antara cerahnya siang dan gelapnya malam. Ia bisa terlihat sangat menyebalkan seperti mengomentari hal yang tidak penting, atau bisa juga ia sangat muram. Atau ia juga bisa sangat aneh karena tertangkap tangan sedang creambath.


“Kepalaku pusing kalau main games kelamaan, creambath bikin kepala nyut-nyutan jadi enak,” katanya kemarin lusa, berkilah.


Pagi ini, saat Terang tergesa-gesa keluar dari kamar dan mulutnya masih tersumpal roti, dia melihat Noah ada di dekat sepedanya. Noah menyapa dan menawarinya untuk bareng ke kampus. Terang menolak, tentu saja. Noah bilang bahwa jam pertama adalah Bahan Teknik yang akan mengadakan kuis terakhir sebelum ujian semesteran. Dia juga berkata jika Terang naik sepeda probabilitas Terang untuk tidak mengikuti ujian adalah 100%.


Peraturan sang dosen Bahan Teknik. Pertama, mahasiswa harus mengerjakan semua tugasnya setiap minggu. Kedua, ika tidak ingin melihat maksimal nilai C ada di KRS, maka jangan pernah meninggalkan kuisnya sekalipun. Ikut atau tidak ikut kuis tergantung dari jarum jam di tangan si Bapak Dosen.


Jika diperhitungkan dengan sangat akurat, Terang akan sampai di kampus dengan sangat tepat jika: Pertama, Dia mengendarai sepedanya dengan kecepatan paling tinggi. Kedua, kalimat pertama didukung oleh kondisi sepedanya yang baik-baik saja.


Beberapa hari ini, rantai sepedanya bisa lepas lima kali saat perjalanan dari Pogung ke kampus. Jika pernyataan No. 1 dikurangi dengan waktu memperbaiki rantai sepeda masing-masing dua menit, maka dia akan telat. Namun, dua hari lalu Terang sudah membawa sepedanya ke bengkel. Jadi pernyataan itu ditolak.


Noah mengeluarkan vespan tanpa mempedulikan lagi. Terang masih beranggapan bahwa dia akan baik-baik saja sampai kampus. Namun, ia lupa dengan pernyataan ini: ‘Saat kita tergesa-gesa, atau sedang dikejar sesuatu, ada saja halangan yang menghadang.’ Seperti, saat kita hampir telat mengumpulkan tugas karena mesin foto kopi tiba-tiba ngadat.


Dan, itu terjadi. Rantai sepeda Terang lepas ketika keluar dari pintu gerbang.


# # #


Noah tersenyum sepanjang jalan, vespanya meluncur mulus di Jalan Kesehatan dan berbelok memasuki komplek Fakultas Teknik. Terang duduk dengan gusar, berpegangan pada kursi belakang.


“Bagaimana, bukankah lebih menyenangkan naik vespa seperti ini?” tanya Noah saat vespanya memasuki gerbang Teknik. Tugu Teknik sudah terlihat.


Terang melirik jam tangan, masih ada waktu 15 menit. “Kamu bisa diem kan ya nyetirnya, Noah? Jangan bersikap kurang ajar. Aku menyimpan rahasia terbesarmu, Noah yang suka Creambath.” Terang tertawa penuh kemenangan.


“Silakan saja, Noah juga megang rahasiamu. Kamu pernah nangis sepanjang jalan sambil memelukku.”


“Itu tidak mungkin.”


“Noah sudah meramalkan pagi ini bahwa kamu akan naik vespaku,”


“Kamu terlalu optimis, Anak Muda.”


“Tentu saja. Dan mungkin, kamu akan naik vespa terus bersamaku setiap hari. Tenang, vespa ini sudah terbiasa membawamu setelah malam itu. Kamu nggak ingat kalo nangis sepanjang jalan pulang, lalu memelukku.”


“Aku tidak memeluk pinggangmu.”


“Bahkan kamu mengingat bahwa kamu memeluk pinggangku.”


“Itu kebetulan karena....karena aku sangat sedih.”


“Jadi benar kan kamu memelukku?”


Terang mencubit pinggang Noah, membuat laki-laki itu lepas kontrol. Vespanya oleng saat menuruni jalan di lingkar selatan Fakultas Teknik. “Bisa kan nggak mencubitku, hah?”


Terang justru melakukannya lagi. Noah maju ke depan, duduk di ujung depan jok vespanya. Terang tertawa melihat tingkah Noah.


Hari-hari berikutnya, Noah selalu ada di depan gerbang saat Terang keluar dengan muka masam karena melihat keadaan sepedanya yang memprihatinkan. Tetapi Terang tak pernah mau bilang kepada Bunda. Ia tak pernah mau melakukan itu. Jadi, gadis itu terpaksa tidak menolak ajakan Noah.


Noah juga ada saat Terang hendak pulang sore hari, tetapi Terang selalu diantar oleh Janaka. Suatu hari, Janaka sedang tidak bisa mengantarkannya. Kayla juga tidak bisa karena harus kumpul Departemen Persma. Jadi Terang terpaksa menerima tawaran Noah. Terang menjadi terlalu sering mengisi kekosongan jok belakang vespa Noah. Terutama setiap pagi.


# # #