
Terang memiliki semangat tersendiri semester ini. Bukankah begitu seharusnya hidup di dunia, ada hal yang akan kita tuju. Sesuatu yang mengairahkan seluruh tubuh untuk mengejarnya. Dia membayangkan akan terbang menggunakan pesawat sejauh setengah lingkaran bumi. Perjalanan pertama ke bumi Columbus sekaligus perjalanan udara pertamanya. Semuanya begitu nyata setiap malam saat ia memandang bintang-bintang di langit. Sampai detik ini, ia masih ragu apakah bisa ke universitas itu dengan mendapatkan beasiswa penuh. Mengingat jika harus pergi dengan biaya sendiri, ia tak akan bisa.
Kegiatannya penuh setiap hari, bahkan saat hari Sabtu. Terang bersyukur dia tidak perlu menggantikan Bunda lagi di warung burjo. Hal itu memberinya waktu yang cukup untuk beristirahat, lebih banyak berlatih, mempertajam bahasa inggrisnya, banyak membaca materi kuliah. Atau ia lebih memilih istirahat lebih lama saat malam karena pagi hingga sore hari dia terlalu lelah berada di kampus.
Praktikum kampus langsung menerjang di minggu pertama. Kadang ia harus pulang pukul sebelas malam jika ada tugas kelompok yang belum selesai.
Bagi Terang, praktikum lebih mematikan capeknya daripada menggambar teknik yang harus memindahkan gambar ke kertas A3, atau menghafal bahan-bahan teknik. Praktikum Sistem Produksi, Praktikum Simulasi, Praktikum Ergonomi, Praktikum Desain Produk. Namuan, semuanya ia lakukan dengan senang hati, karena ia ingat dengan cita-citanya. Lukisannya di langit.
“Aku lebih suka simulasi, lebih seru saja bermain dengan komputer,” kata Noah suatu sore setelah mereka janjian untuk bertemu. Mereka memang jarang bertemu setelah masing-masing sibuk dengan kegiatannya.
Sore itu, Noah juga menunjukkan beberapa album foto di facebook yang disetting private. Isinya adalah hasil foto-foto jepretannya dengan disertai caption. Foto yang berwarna hitam dan putih.
“Kamu hanya membaca karya Haruki Murakami satu saja, tapi ketahuilah metafora yang kamu pilih untuk caption fotomu sangat Murakami sekali,” kata Terang. “Aku nggak tahu kamu bisa seindah itu berkata-kata.” Dia menscroll foto hingga ke bawah. Semua foto-fotonya hitam putih. “Tak ada fotoku di sana?”
“Aku nggak pengen membagi kecantikanmu dengan yang lain.” Noah memperlihatkan satu foto, sebuah tangan yang memegang rumput lari. “Ini tanganmu. Siapa bilang aku nggak memfotomu.” Dia terkekeh.
Selain harus menghadapi praktikum, Terang juga harus membagi waktunya antara mengajar di LBB dan membantu Pak Andi. Biasanya Pak Andi akan memintanya datang saat sore hari, jadi Terang mengambil kelas di LBB malam harinya. Untung saja pihak LBB sangat fleksibel jadi dia bisa memilih beberapa jadwal yang tidak ada praktikum.
Ternyata mengobrol dengan Pak Andi tidak hanya mengobrol tentang proyek, pekerjaan, atau perkuliahan. Terang kira, semua dosen seperti bapak-bapak dosen eksak yang menyeramkan.Tapi beliau sangat menyenangkan. Beliau senang bercerita tentang masa-masa kuliahnya hingga memperoleh gelar Phd. Kadang ia bercerita tentang makanan favoritnya, atau anak-anaknya. Ruangan kecil Pak Andi berukuran empat kali empat, dipenuhi oleh tiga meja yang masing-masing ada komputernya, sebuah printer warna, kertas-kertas tugas dari mahasiswa, dan almari yang penuh dengan buku-buku kuliah. Harum bunga lavender menyeruak setiap kita masuk. Menenangkan. Pak Andi mengijinkan Terang untuk membaca buku-buku beliau. Sebagian besar adalah buku tentang Sistem Produksi dan Supply Chain Management.
Sore itu, Terang sedang membuat laporan keuangan proyek dan Hendra diminta untuk merekap nilai ujian tengah semester angkatan 2009. Sudah hampir maghrib saat seorang office boy masuk membawa tiga cangkir kopi dan pisang goreng.
“Kalian akan lembur sepertinya.” Beliau tersenyum, lalu meminta Terang dan Hendra berhenti bekerja sejenak untuk istirahat. Beliau lalu bercerita kembali. Sepertinya memang beliau suka bercerita. Jadi Hendra dan Terang mendengarkan saja.
Ketika giliran mereka diminta satu persatu untuk bercerita tentang hidup mereka, Terang memilih untuk bercerita tentang keinginannya kuliah S2 ke Universitas GT. Ia meminta Pak Andi memberikan tips-tips memperoleh beasiswa penuh ke luar negeri.
“Terang, aku ingat,” kata beliau, tangannya mencomot pisang goreng dari piring. “Kakak angkatanmu ada yang masih melanjutkan S3 di Universitas GT. Kamu mungkin tidak terlalu mengenalnya. Namanya Satria, angkatan 2002 atau 2003 saya kurang tahu pasti.” Beliau berkata sambil mulutnya mencecap pisang goreng yang manis gurih. Lanjutnya, “Aku masih kontak-kontakan dengan dia lewat email atau facebook. Kamu bisa tanya-tanya ke dia tentang cara mendapatkan beasiswa di sana, atau mungkin kehidupan di sana. Dia pasti senang ada wanita yang mau bertanya kepadanya, karena dia masih single.” Pak Andi tertawa renyah, serenyah pisang goreng sore itu.
Hendra yang keturunan chinese ikutan tertawa, hingga matanya menyipit dan tidak terlihat. Terlihat sangat lucu.
Terang menerima kertas bertuliskan nama email Mas Satria, begitu Terang kemudian memanggilnya.
Malam hari sebelum ia pulang ke rumah, dia mampir ke warnet. Untuk hal yang berhubungan dengan cita-cintanya, dia selalu antusias. Dia masuk ke salah satu bilik di warnet, lalu dengan cepat membuka email yahoo-nya. Dia menulis surat untuk Mas Satria.
Kepada : satria.pamungkas1212@yahoo.com
Subject : Tanya tentang beasiswa
Salam kenal ya Mas Satria. Perkenalkan saya Terang, saya adik angkatan Mas Satria di TI, angkatan 2007. Saya mendapatkan kontak Mas Satria dari Pak Andi Sudiarso. Dan menurut Pak Andi, Mas Satria saat ini sedang kuliah S2 di GT.
Saya nanti berniat untuk melanjutkan studi S2 di GT nanti ketika lulus. Saya menginginkan informasi tentang beasiswa di sana. Apakah Mas Satria berkenan untuk membantu menginformasikan?
Oh iya, ini ID YM saya : seterang.matahari@yahoo.com
Demikian perkenalan singkat ini. Terima kasih.
Salam,
Terang Azzahra.
Setelah mengirim email, Terang membuka facebook dan iseng mencari nama Satria Pamungkas. Ada beberapa kakak angkatan bahkan teman seangkatannya yang menjadi mutual friends Mas Satri. Foto profile-nya sedang berada di depan sebuah papan bertuliskan huruf kapital GT. Mas Satria berambut hitam sedikit panjang dibelah pinggir, dia berkulit sedikit cokelat, matanya sedikit belo. Dilihat dari postur tubuhnya dia lebih pendek dari Noah, tapi sedikit lebih berisi.
Halaman facebooknya tidak dikunci, sehingga Terang menggunakan keahlian kaum Venus dengan sempurna: stalking. Mas Satria juga sering membagi tulisan blog pribadinya di dinding facebooknya. Terang membuka link ke blog itu. Semuanya tulisannya adalah tentang Teknik Industri. Dia menulis tentang teori ketidakpastian, manajemen resiko proyek, supply chain management, dia kadang juga menulis pendapatnya tentang topik-topik yang sedang hangat di dunia teknik industri. Namun yang terbanyak adalah tentang operation research. Blognya riuh oleh komen-komen penikmat Teknik Industri.
Mas Satria juga membagi album foto yang semuanya berisi foto jalan-jalan. Tampak dia sedang mendaki gunung Kerinci bersama teman-temannya. Dia juga snorkling di salah satu kepulauan di Karimun Jawa. Atau ketika dia dengan bangga foto di depan tugu Nol Kilometer. Pantas saja kulitnya sedikit cokelat.
Selain itu, halaman facebooknya juga penuh oleh foto-foto Mas Satria di kampus Georgia Tech. Lorong-lorong kampus yang khas. Perpustakaan. Suasana kota Atlanta di semua musim dan waktu. Terang menarik nafas, seolah foto-foto itu menarik dirinya untuk segera ke sana. Ia membayangkan udara yang ia hirup, lantai marmer di kampus, bau buku-buku di perpustakaan, langit yang biru, gedung-gedung yang megah.
Terang keluar dari halaman facebook. Dia meraih Nokianya, lalu mengetik SMS untuk Noah.
Aku sangat bersemangat hari ini. Ada kenalan Pak Andi di Universitas GT. Aku bisa bertanya beasiswa kepadanya.
Noah tak langsung membalas. Saat Terang sedang membayar di kasir, ponselnya berbunyi. SMS dari Noah.
Kamu akan selalu melakukan yang terbaik. Aku tahu itu. Tapi jangan terlalu banyak mengobrol dengannya, nanti aku cemburu.
# # #