
Sudah sebulan Noah meninggalkan Terang. Terang mengisolasi dirinya sendiri di kamar. Dia lebih sering mendengarkan musik, membaca buku, atau melamun.
Noah selalu hadir di dalam mimpinya. Dia memakai baju putih, di belakangnya bertaburan cahaya. Sama seperti mimpinya yang terakhir sebelum Noah pergi. Kali ini, Noah tidak bicara apa-apa. Dia hanya tersenyum. Senyum khasnya yang menampakkan lesung pipinya yang tidak terlalu ketara. Terang kemudian terbangun, terengah, lalu dia menangis.
Semua hal menjadi melankolis. Terang semakin sering mendengarkar Pure Saturday, karena setiap kali ia mendengar Kosong, ia teringat dengan Noah. Teringat bahwa mereka pernah bernyanyi bersama. Terang membaca ulang ‘Norwegian Wood’ dan ‘The Old Man and The Sea’. Setiap huruf di novel itu kembali meremajakan semua ingatan tentang Noah. Dia belum bisa menghilangkan itu. Ia memandangi tumbler pemberian Noah lebih dalam.
Suatu sore, Kayla datang ke rumahnya dan mengajaknya pergi makan.
“Lihat tubuhmu kurus kering gitu. Tadi Bunda bilang, aku diminta ngajak kamu makan. Makan yuk, aku lapar nih.”
“Aku lagi malas ke mana-mana.”
“Udah cepatan.” Kayla menarik tangan Terang dari tempat tidur.
# # #
“Kok di sini?” Terang menatap Warung Makan Mas Kobis di depannya.
Kayla menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. “Astaga, aku lupa. Ya udah makan di tempat lain saja yuk.” Kayla sudah menstarter motor maticnya kembali sambil mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena lupa kenanan Noah dan Teran di Mas Kobis.
“Udah di sini aja.” Tanpa mempedulikan Kayla yang sudah memasang helm, Terang sudah berjalan duluan. Namun kemudian dia berhenti.
Kayla menghampirinya. “Ada apa?”
Terang menggeleng perlahan. Matanya terpejam. Bayangan Noah berlompatan. Noah yang tidak pernah memesan menu yang standar, bibirnya yang mendadak menjadi warna merah muda karena kepedesan, dia yang selalu mendengarkannya bercerita.
“Kita pulang saja,” kata Kayla, merengkuh lengan Terang.
Terang menggeleng. “Apakah kamu mau menemaniku ke suatu tempat?”
# # #
Rumput Lari berkejaran di atas pasir. Pantai Depok tampak tenang, nelayan-nelayan belum juga terlihat. Padahal matahari hampir saja menghilang. Terang dan Kayla duduk di antara jutaan pasir yang terhampar. Selama hampir tiga puluh menit tak ada percakapan. Kayla membiarkan sahabatnya larut dalam pikirannya sendiri.
“Kamu tahu, aku pertama kali melukis langit dengannya di sini,” ucap Terang seperti menyetel musik di pemakaman yang sepi.
Kayla menoleh. “Melukis apa katamu? Langit?”
Terang tersenyum sedikit. “Ya, melukis langit. Aku menyebutnya seperti itu. Kita menggambar impian kita di langit sambil berdoa bahwa mimpi itu akan jadi nyata. Kita meletakkan mimpi kita di langit yang setiap saat bisa kita pandang.” Dia mengarahkan tangannya ke langit, lalu menulis sesuatu. “Si bodoh, misterius, dan pengganggu itu percaya saja dengan hal itu. Dia pun melakukannya.”
Ada Rumput Lari yang berjalan pelan di depan mereka karena terpaan angin. Kayla mengambilnya, lalu memutar-mutarnya. “Mimpi itu dikejar, ditangkap. Seperti ini,” ujarnya sambil menunjukkan rumput lari itu kepada Terang. “Tapi, jangan pernah membiarkan apapun menghalangi mimpi yang kamu kejar, kamu tangkap, kamu yakini itu. Termasuk kehilangan seseorang. Kamu harus bangkit kembali, Terang.”
Terang mengangguk. “Tentu, tentu saja. Aku hanya terlalu melankolis karena kehilangan dia. Dia sudah berpesan padaku tiga hal.” Kayla menoleh, serius. Lanjut Terang, “Pertama, aku tidak boleh melupakannya. Aku mana bisa melupakannya. Kedua, aku harus tetap menjadi orang yang penuh semangat menggapai cita-citaku. Ketiga, aku harus bernyanyi untuknya.” Di akhir kalimatnya dia tersenyum.
“Dia benar-benar menjadi sangat romantis.”
“Aku tahu kamu akan bisa melewati semua ini. Aku tahu kamu,” Kayla memeluk Terang erat. Ponsel di celana jeansnya bergetar. Dia mengambilnya, lalu menoleh ke arah Terang. “Aku harus mengangkatnya.”
Terang mengangguk.
Kayla sedikit menjauh, tapi suaranya masih terdengar samar.
“Ya aku sedang menemani Terang....Tidak, nanti aku kembali. Kapan kamu balik ke Jogja? Jangan lama-lama di Surabaya. Jangan lupa pesananku Almond Crispy Cheese.” Dia sedikit berjalan menjauh lagi. “Aku juga kangen kamu.” Lalu dia menutup teleponnya dan berputar ke arah Terang.
Terang menyipitkan matanya. “Ada yang kamu sembunyikan, Kayla?”
Kayla menyembunyikan senyumnya, lalu dia duduk di samping Terang. “Tentu saja tidak.”
“Kamu yakin, Saudara Kayla Putri?”
“Baiklah. Aku tak bisa berbohong padamu.” Kayla menatap matahari yang berangsur turun. “Aku jadian dengan Gema tepat satu bulan yang lalu. Kupikir aku akan menceritakan padamu kemarin-kemarin, tapi aku pasti dibilang bodoh karena menceritakan hal itu.”
Terang menutup mulutnya. “Astaga Kayla, selamat,” dia memeluk erat Kayla. “Kukira kamu tidak menyukai orang Suroboyo itu karena tentu saja jauh dari Oppa-oppamu itu.” Terang sedikit menyindir. “Dia berbeda dengan anak Arsitektur mantanmu yang sangat Korean Style itu.”
Kayla tertawa. “Ini semua gara-gara Noahmu.”
“Noah?”
“Tentu saja. Ini gara-gara dia.” Kayla pura-pura cemburut. “Sewaktu dia di Bogor kemarin, dia setiap hari menerorku. Selalu. Dia menanyakan apakah Tuan Puteri Terang Azzahra yang seterang Matahari baik-baik saja, bagaimana kesehatannya, apakah dia masih mengajar di tempat Pak Andi, apakah dia selalu bisa ke LBB, bagaimana sepedanya, apakah rantainya sudah baik-baik saja? Dia jadi kayak pacarku yang menghubungiku terus.”
Mata Terang membelalak. “Dia melakukan itu?”
“Tentu saja. Dia cerewet sekali. Lalu aku bilang, kamu tidak pernah secerewet ini. Lalu dia menjawab bahwa ‘aku sangat khawatir padanya’.” Kayla menirukan gaya suara Noah. “Aku bilang bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan si Terang, kamu yang justru harus dikhawatirkan. Dan dia tertawa. Kemudian dia bertanya apakah aku menyukai Gema karena katanya Gema tergila-gila kepadaku. Aku tahu itu, karena orang Suroboyo itu tiap hari menjadi sangat perhatian dan selalu nangkring di depan kosanku untuk menjemputku meskipun aku menolaknya. Tentu saja aku menolaknya, karena dia tidak seperti Oppa-oppaku. Tapi...”
“Kamu mulai jatuh cinta?”
Kayla mengangguk. “Aneh memang, tapi entahlah. Aku jadi sangat simpatik dengan usahanya. Aku mengira dia sangat romantis. Dia pernah membawakanku bunga mawar banyak sekali, malam hari. Kupikir itu idenya, ternyata tidak. Itu adalah saran dari si Playboy Maleo.” Kayla tertawa. “Tapi aku mendadak luluh karena untuk mengantarkan bunga itu, dia sampai hujan-hujanan dan sehari setelahnya dia sakit. Cinta meman aneh.”
“Jadi, apa yang dikatakan Noah padamu?”
“Dia bilang bahwa...” Kayla mengubah suaranya agar mirip dengan Noah. “Kayla, kamu jangan gengsi jika memang benar mencintai Gema. Saat kamu mencintai seseorang, jangan pernah memikirkan kepentingan-kepentingan orang lain. Cintailah dia karena dia, bukan karena kepentingan orang lain atau keadaan. Jangan sampai apa dan siapa mematahkan cintamu, kecuali DIA yang menciptakan cinta itu yang kemudian menghilangkannya’.”
“Dia mengatakan itu?”
“Tentu saja, meskipun kemudian aku tahu bahwa itu kalimat Gema untuknya. Noah memang ajaib. Tapi gara-gara Noahlah, aku menerima Gema kemudian.” Kayla menoleh ke arah Terang. “Kamu beruntung memiliki Noah, Terang.”
“Tentu saja.” Dia menekan bibir bawahnya. “Aku beruntung pernah memilikinya.”
Kayla lalu memeluk Terang yang menangis detik itu juga.
# # #