MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 21



“Apakah ini tidak terlalu pagi?” kata Noah dari dalam kamarnya. Ia melirik jam dinding. Masih pukul 4.30.


Terang menggedor-gedor kamar Noah, yaitu salah satu kamar losmen dari Pak Lik Giyono. Lik Giyono memang memiliki beberapa kamar yang disewakan untuk pengunjung Pantar Parangtritis yang ingin menginap. Jika ada tamu yang datang, beliau suka meminta tamu tersebut menempati salah satu kamar itu.


Noah membuka pintu, ia masih ada dalam selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Udara pagi di Parangtritis benar-benar seperti air di botol kaca yang ada di dalam almari es.


Terang sudah berdiri di kamar Noah. Noah baru menyadari bahwa gadis itu benar-benar suka terobsesi oleh sesuatu. Jika dia sudah menginginkan sesuatu, dia akan mengejarnya. Dia teringat dulu, gadis itu bisa menemukan dirinya yang belum mengumpulkan tugas dan memburunya. Gadis itu akan mengejar, sampai dapat. Tak terkecuali pagi ini.


Setelah kemarin mereka membuat kesepakatan sederhana tentang arti ‘waktu bangun pagi yang sesungguhnya untuk berburu sunrise’, Terang membuat Noah harus bangun awal pagi ini. Noah menyesal saat ia keceplosan bilang bahwa waktu yang pas untuk mengambil foto adalah saat pagi atau sore hari. Terang jadi punya ide sedikit gila (gila karena tadi malam Noah baru bisa tidur pukul 2 malam dan dia harus bangun jam 4.30 shubuh.).


“Cepat bangun, aku ingin belajar motret.” Terang tersenyum lebar. Noah pun kalah.


 


 


Dua sepeda sudah melaju pelan menyusuri jalan beraspal di barat Pantai Parangkusumo. Pantai itu sejajar dengan Pantai Parangtritis. Di kanan kiri jalan ditumbuhi pohon Cemara Udang yang belum terlalu tinggi. Udara segar menyusup ke paru-paru. Di kanan jalan, gumuk pasir membentang luas. Angin berbisik lirih di telinga. Sementara di sisi selatan, mereka bisa melihat hamparan pantai dan lautan. Langit timur sayup-sayup mulai berganti warna jingga.


“Noah, kamu bisa melakukan ini?” Terang melepas pegangannya dari stir sepeda, melajukan sepedanya dengan kencang menyusul Noah.


Noah yang melihatnya mengutuk gadis itu agar jatuh dengan suara kencang. Dia pun menyusul gadis itu dengan kecepatan penuh. Dia berhasil mendahuluinya.


Mereka berdua berhenti di jalan tak beraspal di dekat Pantai Depok, tepatnya ada di antara jalan beraspal dan pantai. Jalan itu membelah tanaman-tanaman Rumput Lari yang mengering. (Nantinya, jalan itu menjadi Landasan Pacu Aeromodeling yang digunakan untuk kompetisi). Dari tempat itu, mereka bisa melihat matahari terbit dengan sempurna.


Noah berdiri sambil sesekali mengarahkan kamera. Sementara itu, Terang justru mengejar Rumput Lari hingga dapat. Terang tertawa penuh gembira, lalu mengambil rumput itu dan mengacungkannya tinggi-tinggi.


“Coba kulihat,” kata Terang sambil merebut kamera dari tangan Noah. Noah membiarkan gadis itu melihat hasil jepretan lanscapenya. “Ehm, awalnya kupikir orang-orang salah menilaimu. Ternyata mereka benar. Ini benar-benar indah.” Terang melihat semua hasil jepretan foto Noah pagi itu. “Mengapa kamu suka motret?”


Noah duduk di atas gundukan batu sambil melihat ombak yang bergulung di lautan lepas. Pertanyaan itu seperti pertanyaan kakeknya dulu waktu kecil, saat ia diajari kali pertama oleh beliau. “Karena aku bisa mengingat setiap detail kejadian yang kusuka dalam foto.”


“Jadi misalnya, kamu akan mengingat tanaman rumput lari ini ketika suatu saat kamu melihat foto ini?” Terang menyodorkan layar kamera ke Noah. Di frame ada dua rumput lari kering yang berkejaran di aspal.


“Aku akan ingat bahwa ada gadis bodoh yang lepas tangan dari kemudi sepeda dan tidak memikirkan keselamatan dirinya dan orang lain,” jawab Noah.


Terang menyipitkan mata. “Aishh, kamu terlalu kaku untuk hal-hal seperti itu,” Terang menggeser-geser tombol dan melihat foto lagi. “Semua fotomu komposisinya bagus, ya. Kamu bisa mengajariku?”


Noah berdiri dari duduk, lalu membuat tanda kotak di depannya dengan ibu jari dan jari telunjuk kedua tangannya. “Komposisi, menurutku hal utama dalam foto lanscape. Ada dua tipe orang dalam memotret. Orang yang hanya ingin memotret, dan orang yang mencintai motret. Yang nomer satu, dia yang hanya ingin memotret saja, dia bisa, tetapi tidak maksimal. Yang nomer dua, lebih ekstrem. Sama seperti pekerjaan lain, dia memerlukan dedikasi yang tinggi. Dia membutuhkan waktu belajar yang lebih banyak dari orang-orang di sekitarnya, agar dia bisa disebut pro. Karena dia menyukainya, dia tidak mempedulikan waktunya terbuang untuknya belajar. Dengan kata lain, dia mencurahkan hidupnya. Orang pertama, mungkin dia tahu tentang exposure, white balance, komposisi, diafragma, dan lain sebagainya. Tetapi, dia hanya sekedar tahu, tanpa memperdalam. Yang kedua, dia sangat paham di luar kepala. Memotret tidak lagi menggunakan teknik, tapi rasa. Puncak dari kecintaan orang kedua, adalah ketika orang-orang mulai menganggap hasil karyanya ‘ada’ dan menghasilkan. Itu menurutku, orang lain boleh tidak setuju.”


Terang terperangah dengan penjelasan Noah yang panjang lebar. “Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kamu katakan padaku.”


“Noah mengutipnya dari kakekku,” kata Noah kemudian.


“Sini, ke marilah. Noah akan mengajarimu sebagai tipe orang pertama,” kata Terang.


“Mengapa orang pertama? Aku pengen jadi orang kedua yang bisa mencintai kamera?”


Naoh tertawa. “Kamu pikir belajar motret hanya bisa sehari. Dengarkan aku, kamu lebih pantas untuk jadi seorang pengajar karena kamu menyukainya,”


Pagi itu, Noah mengajari Terang memotret sederhana.


“Noah, apakah semua fotomu ada di facebook? Kurasa kamu harus membagikannya ke orang-orang. Atau kamu bikin blog.”


Noah hanya menaikkan alisnya, tanpa menjawab.


Matahari sudah tinggi dan bayangan mereka sudah mulai memanjang.


Selalu ada saja akhir sedih untuk cerita bahagia. Saat langit mulai cerah, burung-burung terbang indah di sana, serta Rumput Lari saling menangkap satu sama lain, sementara nelayan-nelayan mulai beradu ombak mencari ikan, Terang seperti diserang sekumpulan binatang-binatang kecil di kepalanya. Dia memejamkan mata, dan binatang-binatang itu berputar cepat. Dia membuka mata dan semua pandangan di depannya mengabur.


Sepeda Terang kehilangan keseimbangan. Dia terjatuh pingsan.


# # #


 


 


“Terang, Terang. Bangunlah,” suara panik Noah menyadarkan Terang perlahan-lahan. Untung saja, lokasi jatuhnya Terang tidak jauh dari warung kecil. Mereka berdua ditolong oleh seorang laki-laki penjual nasi goreng. Terang diberi teh hangat dan minyak gosok.


“Aku kenapa?” tanya Terang.


Noah menghela nafas panjang. “Apa yang terjadi?”


“Aku hanya pusing mendadak. Kurasa ini karena darah rendah, kita lupa belum sarapan tadi. Aku sudah biasa.”


“Apanya yang sudah biasa? Kamu membuat Noah khawatir,” Noah membentak.


Terang tersenyum. “Tenanglah, aku baik-baik saja. Aku hanya lapar.”


Noah duduk dengan nafas terengah-engah di kursi. “Kamu benar-benar....membuatku khawatir, Gadis Aneh.”


# # #